A la Dutch

A la Dutch

0

 

Indonesia, 13 September 2017

Hari ini, Diana dengan senang hati berkeliling-keliling dalam rumah dan menikmati semua pekerjaan sepele yang harus dilakukannya. Memasak air panas untuk teh Dilmah kesukaannya, menyikat kamar mandi sampai ke semua sudut-sudut dan menyiram kamar mandi dengan air panas dari keran, semuanya bersih dan hatinya puas. Diana kemudian mengumpulkan pakaian kotor, memisah-misahkan sesuai jenis kain dan warna, mencuci semua pakaian itu dengan mesin cuci, dengan tahapan-tahapan yang begitu teratur. Dia mencintai kesempurnaan, yang diajarkan Hermosa kepadanya, hampir lima belas tahun yang lalu.

“Seumur hidupku, aku telah melihat puluhan wanita Indonesia mencuci dengan mesin cuci, dan mencampur semuanya menjadi satu. Baju berwarna cerah dengan baju gelap, bahkan dengan baju berwarna putih. Kaos katun yang lembut juga dicuci menjadi satu dengan celana jins yang berat dan kasar.” Hermosa memandang Diana dengan mata hijaunya yang bersungguh-sungguh. “Kamu tahu kan kalau itu akan membuat baju-bajumu gampang rusak dan warnanya menjadi pudar?”

Terkadang Diana merasa mata hijau milik Hermosa itu mata boneka atau mata buatan. Terlalu bening dan tajam menyilaukan…Diana tidak terbiasa dengan mata berwarna. Dia berasal dari pegunungan yang sejuk dan hangat di salah satu desa terpencil di Indonesia. Semua orang yang dikenalnya memiliki bola mata hitam kecoklatan…

Diana menggeleng, “Kami tidak punya mesin cuci di rumah,”

Hermosa sempat terdiam dan cepat-cepat menjawab, “Kalau begitu, belajarlah dari sekarang. Besok-besok kamu bisa punya.”

Diana benar-benar belajar, sekarang dia membuka simpul tali guling, menarik keluar beberapa lembar atasan-atasan dari kain katun yang dingin, dan menjemurnya dengan hati-hati. Sebelumnya, Diana memasukkan baju-baju itu ke dalam sarung guling kemudian mencucinya dengan mesin cuci, agar tidak saling menguntal satu sama lain jika mesin sedang mengeringkan. Lagi-lagi, Hermosa yang berbagi rahasia.

Dan lagi-lagi, bayangan negeri antah berantah kembali memenuhi pandangan matanya.

“Diana, harusnya kamu tetap tinggal di sini. Jangan pulang, kami suka kamu di sini. Jangan ke mana-mana…” kata Jon suatu saat, sambil mengumpulkan semua botol-botol wine kosong. Pesta mabuk-mabukan dari rombongan tamu barusan menghabiskan puluhan botol bir, belasan botol wine, dan delapan keranjang besar kerupuk udang dan dua mangkuk sambal.

Diana hanya terdiam atau tersenyum atau entahlah, dia memang gadis yang aneh ketika itu, dan menjadi semakin aneh sekarang ini.

“Diana, teman kerja yang lain  bukannya membantu tapi begitu merepotkan. Pertama datang mereka langsung minum segelas bir dingin dan lanjut dengan makan siang gratis, merokok dulu, secangkir kopi, barulah mereka meminyaki rambut dan menyiram ketiak dengan sebotol parfum.” Jon berpanjang-panjang mengeluh. Diana tertawa mendengarnya.

“Kalau begitu Jon, lakukan hal yang sama!” Diana masih tertawa, sambil tangannya terus memoles puluhan gelas wine, harus betul-betul kinclong dan tanpa noda air. Kalau tidak, Hermosa akan datang dan berteriak dengan sumpah serapah konyol yang menjadi kebiasaan nenek moyangnya.

Jon memberengut jengkel, “Diana, jangan menertawakanku! Aku serius! Kamu berbeda, kamu datang ke sini dalam keadaan sudah siap kerja. Aku bahkan jarang melihat kamu meletakkan tas dulu. Sebenarnya apa yang kamu lakukan di apartemenmu sebelum ke sini, heh?” cecar Jon, mata birunya berpendar-pendar, ada bayangan lampu panjang-panjang miring di bola matanya. Ah, mata berwarna lagi.

“Rahasiaku Jon, yang pasti tidak menarik,” Diana sekarang bergerak ke  kotak coklat, memeriksa isinya. Kalau hampir habis, dia harus memesan sekotak lagi. Jangan sampai tamu yang memesan kopi tidak kebagian coklat.

“Kamu bahkan tidak berkencan?” Jon menunduk hampir separuh tinggi badannya, memiringkan kepalanya ke kanan, mencari wajah Diana yang sibuk menghitung coklat. Tangan kanan Diana terangkat cepat, mendorong wajah Jon ke samping.

“Jangan konyol Jon,”

Gantian Jon yang tertawa senang, “Aku tahu, semuanya gagal!”

“Eh?” Diana melotot, matanya indah sekaligus kejam, dia bukan perempuan lemah, mungkin malah sadis.

“Ya, kamu ke sini dengan cinta yang gagal. Semuanya gagal, dan tidak ada yang kamu anggap akan berhasil untuk berikutnya. Kamu menggagalkan semuanya.” Jon masih tersenyum-senyum santai. “Remco contohnya, setiap kali dia ke sini, memilih untuk duduk di meja yang sama dengan pandangan langsung ke pintu service. Yang pasti bukan aku yang ditunggunya, bukan pula Hermosa yang sudah tua dan menjadi cerewet itu, iya kan?”

Diana menutup kotak coklat, sebelumnya mengambil sebuah coklat berbentuk kerang yang berisi rum yang manis dan keras, dengan tangannya yang kecil dan kuat, menjulur ke atas, berusaha menggampai lelaki sejangkung tiang di depannya.

Jon tergelak keras, berdua mereka tergelak di pantry restaurant. Diana baru saja menyumpal mulut Jon dengan coklat, “Diamlah Jon, ini saatnya wanita Indonesia yang akan menjajahmu!”

Diana tertawa sendiri, mengingat-ingat yang telah lalu, ketika Diana masih bekerja paruh waktu di restoran Indonesia di Leeuwarden.

Diana mencium kedua belah pipi Jon, dan sekali lagi, untuk yang ketiga kalinya… a la Dutch. Diana mengucapkan perpisahan dan melambai dari jauh. Diana bukan pemilik mimpi-mimpi itu, yang terpikat dengan kehidupan romantis a la Dutch. Cinta Diana hanya pada tanah airnya yang kaya matahari.

 

 

Share.

About Author

Suka makan dan suka menulis. Sangat senang jika bisa mendapat masukan langsung dari pembaca seword. Please tell me your dreams...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage