Ada Apa Diantara Kamu dan Dia? (Part 1)

Ada Apa Diantara Kamu dan Dia? (Part 1)

3

Suatu siang yang terik di salah satu kabupaten Daerah Istimewa Yogyakarta, Aku mendengar suara ponselku berdering beberapa kali. Kesibukan yang menjerat diri seolah tak membiarkanku meraih ponsel dan menjawab telpon. Ku lirik jam dinding menunjukkan pukul 12.45 menit, yang menandakan waktuku tinggal 15 menit lagi untuk mempersiapkan acara lomba bersih desa bersama teman KKN dan juga segenap masyarakat di desa tersebut.

“Vita, ayo berangkat ke balai dusun. Pemuda sudah banyak yang kumpul.” Kata Andi, ketua KKN kelompokku yang pendiam dari luar kamar.

“Iya!” Aku menyahut panggilannya sambil meraih ponselku di atas meja rias dan memasukkannya ke dalam saku jas alamamter universitas kebanggaanku.

Tak lama saat di perjalanan, ponselku kembali berdering dan kurasakan getaran ponsel di sakuku. Dengan sigap aku mengambil dan kulihat nama seseorang yang kurindukan di seberang sana. Maklum, KKN memang kegiatan yang sangat menguras tenaga, waktu, pikiran dan perasaan, sehingga aku sedikit teralihkan dari seseorang yang jauh di sana, Mas Agus.

Sambil jalan tergesa-gesa menuju ke balai dusun, ku sempatkan menjawab panggilan itu dengan setengah berlari.

“Halo, Assalamu’alaikum Mas.”

“Wa’alaikumsalam.” Jawab seseorang di seberang sana. Namun suara yang kudengar kali ini bukan suara yang ku kenal selama hampir 4 tahun bersamanya. Bahkan suara itu bisa dikatakan sangat berbeda. Suara yang lembut, riang, dan manja tak seperti suara seorang laki-laki yang ku kenal.

“Maaf, ini siapa? Aku lagi sibuk, telpon lagi nanti sore aja ya?” Sambungku kepada entah siapa yang menelpon memakai ponsel Mas Agus.

“Ini Aku, masa kamu lupa. Aku temen SMA mu dulu.” Seketika itu aku mulai mengurangi kecepatanku berjalan menuju balai dusun. Teman KKN ku yang lain tak menyadarinya hingga aku sedikit tertinggal oleh mereka. Aku mencoba mengingat teman-teman SMA ku yang memiliki suara itu, namun tak juga kuingat meski Aku sudah berusaha mengingatnya. “Vita, ayo buruan!” Teriak Icha teman KKN yang sangat dekat denganku. Seketika itu pula lamunan dan usahaku mengingat si pemiliki suara itupun buyar. “Aku tutup telponnya, tolong sampaikan sama Mas Agus, nanti setelah acara selesai aku akan meneponnya. Assalamu’alaikum.” Kuakhiri telpon sepihak karena memang acara ini penting untuk kelompok KKN ku.

Kulanjutkan perjalanan menuju balai dusun dengan teman-teman dan dengan cepat aku melupakan siapa yang menelponku karena ketua KKN dan Pak Dukuh memintaku sebagai penerima tamu. Acara berjalan dengan lancar, dan diteruskan bersih-bersih hingga berbincang-bincang dengan pemuda desa. Waktu menunjukkan pukul 17.05, dimana semua teman KKN ku bersantai di teras depan posko untuk melepas lelah setelah berhari-hari mempersiapkan lomba bersih desa tersebut.

Tiba-tiba Aku ingat telpon seorang wanita yang memakai nomor Mas Agus tadi siang. Segera kuambil ponsel di dalam kamar dan Aku sengaja menuju halaman belakang rumah yang sepi dan sejuk, lalu Aku menelpon Mas Agus.

“Assalamu’alaikum.” Suara Mas Agus yang terdengar keras dan tertahan.

“Wa’alaikumsalam Mas, tadi siapa yang telpon?” Tanyaku penasaran dan tanpa basa-basi.

“Kamu sudah gak sibuk, kok bisa telpon?” Jawaban darinya tidak menjawab pertanyaanku dan aku semakin penasaran dibuatnya.

“Sudah, acaranya lancar dan sudah selesai. Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, siapa cewek yang telpon Aku pake nomer kamu tadi?” Kuteruskan interogasiku padanya demi menuruti rasa penasaran di dalam hati.

“Silvi, teman SMA mu katanya. Masa kamu gak ingat? Kebangetan banget, katanya kamu teman baiknya dulu di SMA.” Mas Agus menyebutkan nama yang sangat kukenal. Aku sempat merasa bersalah karena sudah melupakan sahabat SMAku itu.

“Maklum kan Mas, tadi Aku sibuk dan tergesa-gesa jadi Aku gak fokus. Lagian juga kami lama gak saling berhubungan setelah lulus SMA.” Jawabku membela diri.

Aku memang kehilangan komunikasi hampir dengan semua teman-temanku SMA karena Mas Agus sering sekali menyuruhku ganti nomor. Mas Agus bisa dibilang membatasi komunikasiku dengan semua teman-teman agar hubugan kami langgeng. Alasan itu yang membuatnya memintaku ganti nomor berkali-kali selama Aku menjalin hubungan denganya.

“Kamu itu ngeles terus kalau dikasih tahu.” Balasnya dengan nada ketus dan terdengar malas berbicara panjang lebar denganku.

“Kenapa kamu bisa ketemu Silvi dan kenapa dia telpon Aku dengan Hp mu?” Aku mulai bertanya dengan nada yang sedikit emosi.

“Tadi Aku ketemu dia pas lagi ada acara di PMI, dia titip salam buat kamu. Aku telpon kamu tapi gak kamu angkat. Hp ku tak kasih dia, biar dia sendiri yang telpon kamu.” Jawabnya dengan enteng.

Aku semakin penasaran, Mas Agus yang tidak pernah sembarangan membiarkan ponselnya dipinjam tapi dengan alasan sepele seperti itu dia meminjamkan ponselnya kepada orang lain. Bahkan jika kami bertemu, Mas Agus sangat jarang mengeluarkan ponselnya, apalagi meminjamkannya padaku. Percakapan kami diakhiri dengan saling beradu argumen dan menyisakan kemarahan dalam diri kami masing-masing. Ya, hanya karena teman SMA ku itu, kami bertengkar.

Mulai sejak itu, baik Aku maupun Mas Agus sangat jarang menjalin komunikasi hingga masa KKN ku berakhir. Rasa penasaranku tentang Mas Agus dan Silvi belum juga hilang meski sudah dua minggu lamanya.

Bersambung……

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage