Arif Malas Ngaji

Arif Malas Ngaji

0

Hari menjelang sore, yang biasanya adalah jadwal Arif belajar ngaji, namun kali ini ia agak malas-malasan,

“Ayo Rif…sekarang waktunya belajar ngaji” desak ayah Arif, Pak Ridho

“Duh ayah,…saya takut ” Arif membuat ayahnya heran.

“Apa!?, kok takut belajar ngaji?” Ridho agak jengkel.

Setelah lama didesak untuk berbicara apa alasan kemalasan itu, dengan rasa berat hati dan khawatir kena marah akhirnya Arif harus bicara, sementara Ridho pasti ingin melihat anaknya menjadi orang sholeh dan bertakwa serta bermanfaat bagi agama.

“Begini Ayah, Aku takut nanti kalau jago ngaji dan menjadi ustad terkenal, terus saya punya banyak massa, menjadi pemimpin, maka dengan begitu banyak godaan, trus aku khawatir dan sangat takut menjadikan agama sebagai barang dagangan, padahal agama untuk mengajak orang rasional lalu mengusahakan dirinya menjadi Abdullah alias Hamba Allah” Ridho makin heran dengan argumentasi anaknya,

seumuran seperti itu kok pikirannya sudah jauh begitu, baca Qur’an saja belum kelar apalagi mengkaji tafsir saja belum sampai ke sana kok sudah berpikiran begitu, Ada apa ya?, kok anak-anak sekarang sudah pada aneh-aneh, gumang Ridho dalam hati.

Oh, mungkin saja ia rajin baca berita di internet, lah kan anak-anak biasanya doyang main game kalau lagi online, ngak mungkin ahh. Ridho masih saja terus keheranan, mencoba mencari tahu.

“Ayah, aku ngak ingin terlihat sok sholeh, sok alim dan pokoknya sok paling Ustad-lah, namun ternyata hidupnya penuh kemewahan” belum saja kopi diseruput Ridho, kopi itu keluar dari mulutnya kembali akibat kaget.

“Kenapa ayah?!,” tanya Ridho prihatin. Ridho belum sempat menjawab.

“Ayah sih ngak bismillah kalau mau minum kopi” Arif polos menyalahkan ayahnya yang keselek karena kaget mendengar argumentasi nakal Arif.

Setelah menarik nafas panjang dan minum sedikit air mineral, barulah terasa lega,

“Baiklah nak, kalau kamu takut begitu, lantas mau ngapain saja?, keluyuran?, hura-hura?, atau main game seharian sampai tua?, padahal kita lihat tiap hari begitu banyak perubahan dan begitu mudahnya manusia larut dalam dosa. Kan ayah sudah jelaskan bahwa hidup ini sementara, coba lihat tetangga yang baru saja sedari pagi tersenyum melintas di depan rumah kita, keesokan harinya sudah tiada, kematian itu pasti nak, dan kita butuh bekal untuk menuju ke alam akhirat.” Arif berusaha mencerna keterangan Ridho.

“Tapi, bukan begitu Ayah, Arif cuma tidak ingin berbuat dosa aja, kan lebih baik mencegah daripada mengobati” Arif masih ngotot dengan argumentasinya, nampaknya seperti pembenaran diri.

“Aduh,…itu kan menurut kamu, dan menurut kamu belum tentu benar, menurut kamu baik belum tentu baik sebenarnya. Dan kalimat lebih baik mencegah itu kamu gunakan dalam hal ini, kelihatan banget kamu sedang mencari pembenaran. Iya kan?”

“Duh…ayah jangan nuduh gitu deh, sumpah !, aku cuma ngak mau jadi ustad dan membodohi masyarakat nanti, aku pengen jadi yang lain sajalah” Arif tetap bersikeras.

“Memangnya siapa yang memintamu jadi ustad nanti?, apakah ayah memaksamu menjadi ustad?” tanya Ridho.

“Tapi ayah kan setiap hari menyuruh Arif mengaji, apakah itu bukan akan menjadi ustad nanti?”

Yaelah…tidak selamanya orang yang belajar mengaji itu akan menjadi Ustad, mengaji tujuannya bukan jadi Ustad, tapi menjadi hamba Allah yang paling bertakwa, entah nanti jadi dokter, pengacara, arsitek, ahli komputer, Tentara, Polisi, apalagi menjadi Pengusaha besar yang usahanya dari Sabang sampai Marauke, tetap sangat dianjurkan bisa mengaji kalau mau selamat dunia akhirat, karena Al-Qur’an itu petunjuk, dengan petunjuk niscaya ngak tersesat, tanpa petunjuk kita hanya meraba-raba sampai linglung, maka mempelajari Qur’an adalah usaha mendekatkan diri pada Allah, menjadi hamba Allah dan menuju hidup akhirat yang lebih baik”  Arif mengangguk.

“Tapi…please Ayah, saya takut, mending ajarin saya ilmu ekonomi atau masukin saja di sekolah ekonomi yang terbaik, sehingga kelak kalau kaya saya bisa membantu orang-orang miskin dan tidak menjual agama, atau ajarin Arif bagaimana agar bisa kuat nantinya melawan godaan-godaan itu dan termasuk godaan dari dalam diri, ajarin bagaimana makna dan praktek ke-arif-an itu ayah” Arif tak kehabisan akal mengajukan argumentasinya, dalam hati Ridho bergumang,

Inilah pengaruh informasi yang bebas, anak seumuran ini sudah banyak informasi yang cukup merepotkan, atau memang benar kata orang bijak yaitu ajarin anakmu sesuai zamannya, tapi bagaimana menghadapi anak seperti ini?.

Sembari tarik nafas lagi dan geleng-geleng kepala, Ridho mendekati Arif yang begitu kritis, membelai lembut kepalanya, sementara mulutnya terlintas doa dan menempelkan bibirnya ke kepala Arif dengan penuh kasih sayang.

Astagfirullah…ya Allah…anugerahilah pemahaman agama yang baik kepada anak ini, izinkanlah anak ini mengecap wahyu-wahyu Mu yang tertuang dalam al Qur’an suci ini… 

Ridho kembali berusaha membujuknya,

“Nak, jangan apatis gitu dong, belajar ngaji tidak sekedar melafazkannya, melagukannya, menjagokan hafalannya, namun mengaji itu juga adalah pelajaran dari semua perihal, insya Allah kita hidup dengan pedoman al Qur’an, mengaji tidak hanya saat ini tapi selama hidup kita, tiada hari tanpa mengaji. makna-maknanya kita resapi dan amalkan, sehingga kelak kalau sudah menjadi pemimpin tidak menjadikan agama sebagai barang dagangan, karena kita telah mendapatkan pemahaman yang sesuai antara lafaz dan maknanya, insya Allah nak, selama kita hidup, kita wajib selalu belajar, jangan puas dengan lafaz, hafalan, dan pokoknya apapun nanti profesimu berpeganglah teguh pada petunjuk Allah, karena al-Qur’an ini sangat istimewa maka mempelajarinya pun tak pernah berhenti, kalam Allah yang luar biasa. Bisa dimengerti nak?”

Tatapan Arif dan pikirannya saling kejar-kejaran, makna-makna liar yang melayang-layang berusaha digenggamnya,

Beberapa menit mereka terdiam, lalu kemudian Ridho melanjutkan,

“Dan yang terpenting nak, selama belajar al Qur’an janganlah tergesa-gesa memvonis orang yang berbeda tafsiran, jangan suka memvonis apa yang menurutmu belum cocok, intinya wajib terus belajar dan menghormati orang lain, karena perbedaan adalah cara Tuhan mengajari kita bagaimana lemahnya manusia yang beragam ini, sementara Allah adalah Tuhan yang Ahad dan multak tak ada yang menyamai-Nya, sehingga kita yang beragam ini atau relatif harus tahu diri, dan kita jangan berlaku sok hakim agama, yang seenaknya ingin menghukum orang-orang yang berbeda.” Arif hanya mengangguk-angguk saja, Ridho tarik nafas sebentar lagi, lalu melanjutkan,

“Nak, dengar-dengar nih, kalau ngak lancar ngaji maka kelak akan dipersulit kalau mau menikah nanti.” Arif dan Ayahnya saling bertatapan dan meledakkan tawanya…

“Hahaha…” suasana rileks kembali bertandan.

“Bercanda nak, pokoknya jangan jadikan mengaji untuk tujuan lain kecuali yang kita tuju adalah Allah SWT, jadikan nabi dan penerus beliau atau khalifah Ilahi sebagai Nahkoda tempat melabuh ke kampung yang paling indah di alam nanti”.

Suasana pun menjadi cair dan kembali cerah,

“Ayah, boleh minta sesuatu untuk bulan depan?” pinta Arif.

“Apa tuh nak?, ” mungkin Ridho mengira Arif minta coklat atau mainan, tapi…

“Ayah, Arif ingin Umroh dan Ziarah ke makam wali-wali Allah, maukah ayah membiayai perjalanan saya atau kita bareng aja, gimana?” dalam lubuk hati paling dalam Ridho kaget,

“Duhh…mahal ngak sih biayanya?, cukup ngak sih duitnya?”. dengan berusaha mencari argumen Ridho akan menyanggupi tapi memberikannya syarat.

“Boleh saja nak, tapi syaratnya tentu harus dilengkapi”

“Apa itu ayah?” Arif penasaran.

“Arif wajib menghafal 30 juz, dan tiap malam tentunya sering tahajjud dan shubuhnya tidak sering terlewat, terus puasa senin kamis, gimana?”.

Arif tidak kehabisan akal,

Duh ayah…kalau begitu artinya Arif menghafal Quran bukan tujuan karena Allah tapi karena pengen dapat bonus bisa umroh dan ziarah dong, bukan begitu ayah?”

Lagi-lagi ayahnya hampir-hampir kehabisan akal, “Iya ya nak, gini aja deh, pokoknya kalau duitnya sudah cukup, kita akan berangkat, pokoknya jangan khawatir nak, insya Allah, kita berdoa dan terus belajar, ingat nak, dalam Qur’an itu banyak kisah-kisah tentang wali-wali Allah, kalau Arif memahaminya insya Allah saat perjalanan umroh dan ziarah nanti, akan semakin mengerti. Semoga semakin membuat kita bertakwa dan memohon semoga kita termasuk hamba Allah yang shaleh”

Aamiin…yaa Rabbil Alamin” Arif meng-amin-kan.

Ayah dan anak saling berpelukan erat penuh kasih sayang.

Share.

About Author

Salto (salam Toleran)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage