Berdoalah Untuk Anies-Sandi

Berdoalah Untuk Anies-Sandi

7

foto: http://news.liputan6.com

Ada seorang kawan yang mempertanyakan mengenai sikap saya atas kekalahan Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 ini. Menurut dia, pernyataan saya di sejumlah media sosial tidak menunjukkan bahwa saya adalah pendukung Ahok, dia berpendapat bahwa saya justru seperti tidak suka dengan para pendukung Ahok.

“Kau ini sebenarnya benar pendukung Ahok atau tidak? Kok sepertinya kau nggak sedih Ahok kalah, malah sepertinya nyindir para pendukung Ahok yang tidak suka sama Anies?”

Mendapat pertanyaan tersebut saya langsung tertawa. Saya tidak buru-buru menjawab, saya justru balik bertanya kepada dia.

“Sebentar, kau ini nanya, karena merasa tersindir sama aku, atau karena kau ragu kalau aku mendukung Ahok dalam pilkada kemarin?” tanya saya.

“Dua-duanya,” jawab dia dengan tegas.

“Oke, sebelum aku jawab lebih lanjut, aku tanya lagi. Memangnya kalau jadi pendukung Ahok itu, sikap yang semestinya harus bagaimana. Bukannya memberikan hak suara saja sudah cukup ya?” tanya saya lagi.

Dia agak ragu menjawab, tapi masih berusaha untuk terus berargumen. “Ya, tapi sikapmu itu nggak jelas, nggak menunjukkan bahwa kau pendukung Ahok,” jawab dia.

Haha… Untungnya saya bukan tipikal orang sumbu pendek. Kalau nggak, mungkin tersinggung juga sama omongan si kawan ini yang meragukan saya sebagai pendukung Ahok. Saya merasa dia perlu tahu apa alasan saya terkait sikap saya tersebut.

“Oke aku jawab. Kalau kau tanyakan apakah benar aku mendukung Ahok, itu sudah jelas. Buat aku pilihannya terlalu mudah. Jelas buat aku Ahok lebih baik, dan menurut aku pantas dia kembali menjabat sebagai Gubernur DKI. Kinerjanya sudah terlihat, sudah bisa dirasakan dan  dibanggakan. Kalau ditanya apa buktinya aku mendukung Ahok, ya memilih dia pada saat Pilkada kemarin adalah bukti dukungan yang paling tepat.

Kalau berkoar-koar mendambakan dia, sanjung puji, tapi nggak milih, ya itu bukan gayaku. Sejak awal, aku memang memosisikan diri sebagai warga Jakarta yang mendukung, yang menggunakan hak suaranya untuk mendukung Ahok. Juga mengkritik dia secara proporsional saat dia menjabat. Aku bukan pecinta fanatik yang menempatkan Ahok sebagai satu-satunya pujaan yang digilai dengan sangat. Menyanjung-nyanjung dia, menganggap dia suci atau mendewakan dia.

Jadi kalau ditanya kenapa respon ku nggak menunjukkan mendukung Ahok, ya aku merasa memang tidak ada yang perlu ditunjukkan secara berlebihan, tapi diwujudkan dengan memberikan hak suara. Sesekali juga aku memberikan penjelasan kepada beberapa orang mengenai alasanku kenapa aku memilih Ahok.

Karena aku tidak mendewakan Ahok, aku juga tidak merasa perlu menunjukkan kesedihan membabi buta seperti beberapa orang yang fanatik Ahok. Kesedihan itu masih bisa disalurkan dengan berharap bahwa setelah kekalahan Ahok ini, Indonesia, khususnya Jakarta bisa lebih kondusif. Kemudian bangsa ini bisa fokus terhadap banyak hal lain di luar Jakarta.

Aku juga berharap tidak ada lagi kemarahan yang dipolitisir oleh orang-orang tertentu. Lalu dengan ini juga aku berharap agar Ahok lebih mudah dimaafkan. Aku juga yakin bahwa ini bukan akhir bagi Ahok, apalagi bagi Jakarta. Karena aku percaya bahwa Ahok punya kapasitas, maka dia akan tetap mendapat bagiannya dalam negeri ini.

Aku juga yakin bahwa mendukung Ahok tidak berarti harus menyerang warga Jakarta dengan mengatai mereka bodoh karena tidak memiliki pemahaman politik yang baik, dimana mereka tidak memilih seseorang berdasarkan kinerjanya, justru termakan dengan isu SARA. Aku rasa aku tidak pantas berkata demikian, karena menyerang warga Jakarta berarti menyerang diriku sendiri, karena aku adalah warga Jakarta juga toh. Lagipula aku yakin bahwa selain isu SARA ada faktor lain yang membuat Ahok kalah dalam Pilkada ini.

Tentunya juga mendukung Ahok tidak boleh mengubah kita menjadi pembenci Anies karena menganggap dia adalah musuh Ahok, atau menganggap dia terlibat dalam upaya membenci Ahok. Banyak aku lihat para pendukung Ahok yang menyerang Anies, menagih janjinya, atau menyindir program-programnya yang mungkin kita anggap tidak masuk akal.

Tidak ada yang salah dengan itu semua kalau Anies sudah menjabat dan menjalankan pemerintahan DKI. Nah inikan persoalannya Anies belum memimpin, berilah dia kesempatan dulu untuk membuktikan janjinya. Kalau aku membenci Anies sebegitunya, lalu apa bedanya aku dengan para pembenci Ahok yang membenci dia membabi buta.

Ini adalah bagian dari demokrasi, kita harus bisa menerima siapapun yang terpilih melalui sistem pemilihan yang sudah ditetapkan pemerintah. Meskipun orang yang terpilih bukanlah orang yang kita harapkan. Lewat pembelajaran demokrasi ini aku hanya ingin kita sama-sama membantu menurunkan tensi panas Pilkada dengan tidak saling serang atau sindir antar kubu pendukung ataupun kontra Ahok. Mungkin sikapku ini salah diartikan dan dianggap kalau aku menyindir para pendukung Ahok.”

Kawan saya itu sempat diam tanpa kata. Sampai akhirnya dia mengeluarkan pernyataan yang menurut saya juga terbilang lucu.

“Tapi Ahok adalah pemimpin yang takut akan Tuhan. Mau jadi apa Jakarta ini kalau tidak dipimpin oleh orang seperti Ahok. Belum lagi akan adanya kemungkinan-kemungkinan ormas-ormas radikal yang akan mengganggu keamanan serta kenyamanan warga Jakarta,” kata dia.

Atas pendapatnya itu, saya balik melontarkan pernyataan kepada kawan ini.

“Kawanku yang baik. Apakah kau keberatan, apakah kau marah ketika kemarin ada orang atau kelompok tertentu yang menggunakan alasan keagamaan sebagai dasar untuk menolak Ahok sebagai pemimpin DKI?”

“Jelas aku marah, jelas aku keberatan. Justru itu yang bikin aku kesal dalam Pilkada ini,” jawab dia.

“Lalu jika kita juga tidak mau dipimpin oleh Anies karena menganggap Tuhan hanya berkenan kepada Ahok saja, apa bedanya kita dengan mereka? Lagipula, kalau kita percaya bahwa Tuhan selalu memiliki rencana terbaik bagi yang percaya pada Dia, berarti kita juga harus percaya bahwa Tuhan bisa pakai siapa saja sebagai alatnya, termasuk gubernur terpilih saat ini.

Masa iya kita membatasi kemampuan Tuhan, seolah-olah Tuhan hanya bisa bekerja dan menyatakan kuasa-Nya melalui Ahok saja, dan tidak bisa bekerja jika Anies yang memimpin. Semestinya berdoalah untuk Anies dan Sandi, supaya Tuhan memberkati dan mengasihi mereka, dan dengan berkat yang mereka dapat dari Tuhan, mereka bisa memberkati warga Jakarta, memberkati kota yang kita cintai ini.

Berdoalah bagi kota ini, bagi bangsa ini, agar tidak ada lagi serangan-serangan yang bisa memecah belah, dan tentu kita pun harus membantu menyejukkan suasana dengan tidak lagi mengeluarkan pernyataan-pernyataan bernuansa SARA.”

Sulit memang untuk membagikan pemahaman kepada seseorang yang merasa bahwa apa yang ia pahami adalah yang paling benar. Meski tidak lagi melontarkan pertanyaan, dia sepertinya masih belum bisa menerima apa yang saya sampaikan.

“Ya sudahlah, aku juga tidak ada menyerang atau menyindir Anies. Tapi ya sudah aku masih belum bisa terima aja dipimpin sama dia,” kata dia.

Aku berusaha sesederhana mungkin memberikan penjelasan kepada kawan ini. Semoga dia mau menerima.

“Kalau ada yang mengatakan bahwa pemilih cagub nomor 2 nggak boleh menagih janji dari cagub nomor 3, itu bukan demokrasi namanya. Karena setelah terpilih, Anies tidak hanya menjadi gubernur untuk pemilihnya saja, ia adalah gubernur bagi setiap orang yang terdaftar sebagai warga Jakarta.

Begitu juga sebaliknya, kalau ada yang tidak mau dipimpin oleh gubernur terpilih, dan tidak terima akan semua kebijakannya karena merasa tidak memilih dia, itu pun bukan demokrasi namanya. Proses pemilihan ini diatur dalam undang-undang, dan hasil dari pemilihan ini pun sah berdasarkan undang-undang.

Siapapun, baik pemilih calon nomor 2 ataupun nomor 3, bahkan mereka yang golput sekalipun harus tunduk pada ketentuan itu, suka atau tidak suka, mau tidak mau. Justru sebenarnya ini adalah kesempatan menyenangkan bagi kontra Anies untuk berdiri sebagai oposisi yang bisa melihat lebih detil akan kinerja pemimpin kita dan mengkritisinya dengan proporsional.”

Setelah apa yang saya sampaikan ini, kawan ini tak lagi memberikan respon apapun. Ya semoga saja dia bisa memahami ini, bahwa Pilkada DKI 2017 sudah selesai. Seperti yang ditunjukkan Ahok, bahwa meski dia kalah dalam Pilkada, diserang dengan tudingan dan berbagai kecaman, dicerca, dimaki, didemo ratusan ribu orang mungkin jutaan, tapi dia tidak marah, dia lapang dada. Semestinya para pendukungnya pun bisa mengambil teladan dari apa yang ditunjukkan Ahok.

Share.

About Author

Mencoba menjadi abadi dengan cara menulis

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage