Bukan Kisah Cinderella (9)

Bukan Kisah Cinderella (9)

0

Dear diary…

Saudara sepupuku yang masih duduk di bangku SD sedang cakit cacar. Padahal, ia sedang ada ujian di sekolahnya. Aku dan Mama menjenguknya dan aku tidak diperbolehkan masuk ke kamarnya. Sempat protes, tapi Mama tetap melarangku masuk. Hhh… Ya, sudah. Nurut saja apa kata Mama.

Soal cacar, sebenarnya aku sudah pernah kena. Tapi, bukan saat seusia sepupuku yang sakit ini. Saat itu, aku masih kuliah. Lupa semester berapa, yang pasti saat itu aku sedang ujian akhir semester. Awalnya ketularan gara-gara teman sekampus ada yang sakit cacar. Pas di rumah, malamnya itu entah kenapa badanku panasnya tinggi. Tidak bisa tidur sama sekali karena kepala juga pusing. Dicek keesokan harinya, muncul bercak merah di kulitku. Aku sempat kebingungan, akhirnya tanya Papa dan Mama. Katanya, aku kena cacar. Heee…?

Setauku cacar hanya menyerang anak-anak. Tapi, Papa meluruskan hal itu. Cacar kalau saat kecil tidak kena, bisa jadi setelah dewasa kenanya. Dan, itu terjadi pada diriku. Usia kuliah baru kena. Seingatku, Kakakku ya pernah kena dan saat itu ia masih SD. Well…, memang lebih baik kenanya saat kecil. Serius.

Cacarku saat itu sempat ada yang pecah. Huhuhu!!! Karena sempat tergaruk ketika sedang tidur. Padahal sudah berusaha untuk tak menggaruknya walau ingin. Sempat dilarang mandi oleh Mama selama beberapa hari. Ugh! Hampir juga tidak diizinkan untuk keluar rumah, padahal itu aku sedang ujian. Yang benar saja!

Nekat, aku tetap pergi ke kampus untuk ujian, meskipun rasanya sudah hampir pingsan saat mengerjakan soal. Antara pusing, panas dan sumpek mikir jawaban. Untunglah, bertahan hingga selesai mengerjakan soal ujiannya. Saat itu Papa yang mengantarkanku ke kampus, walau dengan beradu argument sebelumnya. Kedua orang tuaku sebenarnya tidak memberi izin aku ke kampus dengan alasan aku masih sakit. Lha, itu ‘kan ujian akhir, kalau nilai semesterku jeblok ‘kan nggak lucu. Makanya aku ngotot untuk tetap masuk ujian.

Oh, ya. Karena Mama melarangku mandi, saat pergi ke kampus mau tak mau aku pakai bedak tabur untuk kamuflase. Hahaha. Bahkan, kusemprotkan parfum banyak-banyak. Mengingat itu jadi malu sendiri. Nah, aku sudah kena cacar saat di bangku kuliah, masa iya sekarang menjenguk saudara sepupuku malah tidak boleh? Entah alasan Mama apa, mungkin takut aku ketularan lagi kali, ya?

Ngomong soal sakit, pernah nih ada 2 temanku sakit hampir berbarengan. Yang satu sakit typhus dan satunya lagi karena kena mium. Keduanya dirawat di rumah sakit yang berbeda. Aku dan teman-temanku yang lain menjenguk mereka berbeda hari. Yang pertama kami jenguk yang sakit typhus. Dia anak luar pulau, jadi orang tuanya tidak menjagainya di rumah sakit. Hanya ada beberapa temannya saja yang menjenguk, termasuk kami. Apa-apa ia bereskan sendiri, bahkan sempat menitip dibelikan barang sebelum aku pergi menjenguknya. Tidak ada saudaranya di kota ini.

Esoknya, kami menjenguk teman yang kena mium itu. Saat itu ia belum dioperasi. Tapi, ada Mamanya yang menjaganya. Bahkan, disuapi saat makan. Benar-benar pemandangan yang kontras dengan temanku yang sakit typhus. Teman-temannya yang menjenguknya juga silih berganti. Jadi tidak enak juga membandingkannya dengan temanku yang satunya.

Ah, masih soal rumah sakit. Anak kantorku ya pernah masuk rumah sakit dalam keadaan satu kantor sama sekali tak mengetahuinya. Ceritanya, pagi saat hendak ke kantor, ia kecelakaan dan kena kepalanya. Pingsan saat itu juga karena pendarahan di otak. Di hari yang sama, kami di kantor tak tahu menahu alasan dia tidak ke kantor. Sampai keesokan harinya, orang tuanya datang membawa surat dokter ke kantor. Mengatakan kalau anaknya sampai saat itu belum sadar. Sempat geger satu kantor saat tahu. Akhirnya, dengan rasa solidaritas, kami semua mengumpulkan dana seadanya. Dan, beberapa dari kami menjenguk anak kantorku itu ke rumah sakit tempat ia dirawat. Karena letaknya agak di pinggir kota, hanya beberapa saja yang menjenguknya. Lagipula, pulang kantor sudah malam, ada yang tidak bawa kendaraan sendiri jadinya agak ribet.

Pesanku sih, hati-hati saja berkendara. Jangan ugal-ugalan saat sepi ataupun macet. Yang rugi diri sendiri kalau sudah kecelakaan. Oh, gara-gara pendarahan di otak itu ia tidak siuman hingga hampir seminggu. Ngeri juga.

Baca:
Bukan Kisah Cinderella (1)
Bukan Kisah Cinderella (2)
Bukan Kisah Cinderella (3)
Bukan Kisah Cinderella (4)
Bukan Kisah Cinderella (5)
Bukan Kisah Cinderella (6)
Bukan Kisah Cinderella (7)
Bukan Kisah Cinderella (8)
Bukan Kisah Cinderella (10)

Share.

About Author

Seseorang yang menyukai art, desain 'n editing.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage