Bulan Kuning 7

Bulan Kuning 7

0

Adalah Stefani Hasri, wanita karir yang tidak pernah akur denganku. Setiap kali bekerja sama dengannya, aku harus menahan emosi dan memperkuat kesabaranku. Walau ia tergolong wanita yang ketus dan sedikit angkuh, aku akui bahwa ia punya kecerdasan dan kecekatan yang luar biasa. Terbukti, setelah bekerja sama dengannya di bagian periklanan, produk perusahaan tempatku bekerja, laris manis. Iklan yang ditayangkan di media masa mampu menarik perhatian pembeli dan menjadi iklan yang paling diminati.

Aku katakan ia sebagai wanita yang mengerikan karena kerja kerasnya yang tidak aku temui ada dalam diri rekan sekerjaku, bahkan atasanku sendiri. Ia rela tidak tidur sampai tiga hari demi menyelesaikan proyek pekerjaannya, demi kepuasan pelanggan, begitu tambahnya. Tekad kuatnya memang terbukti. Hampir tidak ada satu perusahaanpun yang tidak mengenalnya.

Kenapa ia katakan aku wanita yang membosankan? Satu-satunya jawaban adalah karena aku tidak menyukainya. Titik. Dan aku tidak mau terlarut dalam memikirkan jawaban yang lain. Apalagi memikirkan sifatnya yang super gila kerja itu. Mungkin, hanya aku satu-satunya yang tidak menyukainya diantara partner yang pernah bekerja sama dengannya. Di saat ada acara makan malam yang ramah dan terbuka setelah mengerjakan proyek periklanan, ia akan mengundang siapa saja yang turut dalam proyek itu sementara aku tidak pernah hadir satu kali pun. Itulah sebab utama ia mengatakan aku wanita yang membosankan.

Aku punya alasan sendiri kenapa aku tidak mau menghadiri undangannya. Dan ia tahu betul dengan alasanku. Itu membuatku semakin tidak menyukainya.

Ia berkata waktu itu dengan kiasannya yang tidak masuk akal, “Jika bulan menjadi kuning, kau bisa apa? Dan jika bulan menjadi biru, kau bisa apa?” Ketusnya seperti tidak bisa dihilangkan dari jati dirinya.

Aku jawab, “Bila bulan menjadi kuning, aku bisa menunggu. Tapi, bila bulan menjadi biru, aku bisa….” aku terhenti sebentar. “….Aku bisa melepaskan.”

Ia terhenyak sejenak. Lalu, “Well, kau benar,” sambil mengangkat gelas atas jawabanku.

Berani-beraninya dia datang ke ruanganku sambil membawa satu botol wine dan dua gelas kosong. Jelas-jelas aku tidak minum wine. Ia tahu itu. Satu gelas yang sudah diisinya masih tergeletak di atas mejaku. Aku belum menyentuhnya.

“And now, the moon is yellow.” Ia memandang langit dari balik kaca ruanganku sambil meneguk wine lalu tersenyum ke arahku.

Purnama. Itulah satu kata yang hendak dikatakannya padaku. Tapi, aku tidak peduli. Aku ingin ia cepat pergi dari ruanganku.

Berjalan mendekatiku, ia masih dalam keadaan tersenyum. “Kenapa kau tidak katakan yang sebenarnya… to him?”

Aku bisa tambahi satu gelar lagi untuknya: wanita aneh. Ia suka mencampuradukkan bahasa sesukanya. Itu juga tidak aku sukai darinya.

“Who?” tanyaku balik.

“Come on, Jemmy. I knew.”

“Come on, Stef. Get out from my room.”

“I will not.”Ia semakin keras kepala, semakin aku tidak menyukainya. “The moon is yellow, and you sedang menunggu? Sampai kapan?” Ia minum lagi. Stress karena bertemu dengan lawan yang seimbang: sama-sama keras kepala. Aku biarkan ia melanjutkan perkataannya. “Mau sampai kapan kau biarkan Gardi seperti itu terus? Sudah saatnya dia tahu dan kalian bisa together again.

Aku diam sedikit lama sehingga bisa mendengar suara tegukan demi tegukan wine lewat di kerongkongan Stefani. Yah, alasan aku tidak menyukainya adalah karena ia tahu segalanya tentangku, dan membombardirku dengan alasan-alasannya agar aku segera bersuara  atas keadaan yang kualami. Sebaik ia mengenalku, sebaik itu pula ia mengenal Gardi. Namun, atas perintahku – aku lebih suka mengatakannya demikian ketimbang mengatakan: atas permintaanku – ia setuju menjaga jarak dari Gardi. Aku hanya tidak mau ia mengacaukan semuanya.

Apalagi ketika ia mendengar kabar bahwa Gardi dan Chloe akan bertunangan, ia dengan beraninya melemparkan undangan pertunangan itu di atas mejaku saat aku sedang fokus pada pekerjaanku, membuatku terkejut lalu memelototinya. Yang aku dapatkan, ia balik memelototiku dan memarahiku. “Kau wanita yang membosankan,” katanya akhirnya setelah ia puas berbicara panjang lebar dan hanya aku tanggapi dengan kata-kata, “Sampai bulan menjadi biru.”

“Aku anggap aku tidak pernah mengenalmu.” Ia pergi dengan membanting pintu sampai-sampai Nancy masuk untuk memastikan keberadaanku. Berani-beraninya ia datang melemparkan undangan di depanku dan pergi dengan membanting pintu. Padahal, tempat kerjanya butuh waktu setidaknya 20 menit untuk sampai ke tempatku bekerja.

Benar saja. Setelah kedatangannya waktu itu, Stefani tidak pernah lagi datang menemuiku bahkan berlaku seolah-olah ia tidak mengenalku. Itu benar-benar dilakukannya saat kami bertemu kembali di perpustakaan milik Erdi, menambah daftar panjang gelar yang kuberikan padanya: ia membuatku semakin tidak menyukainya karena konsistensi kata-katanya.

Aku sengaja membuat keadaan menjadi seperti itu sampai bulan benar-benar menjadi biru, sebab, sudah saatnya ia tidak lagi mencampuri urusanku karena kebaikannya, dan sudah saatnya aku melupakan semua dan melepaskan Gardi dari hidupku.

Gardi sudah memiliki kekasih, calon istri, dan sebentar lagi istri, bisikku.

*

Love’s Tender Fury layaknya sudah menjadi hak milikku. Erdi tidak menyinggung keterlambatan peminjaman novel ini. Dua minggu sejak batas terakhir peminjaman, dan dua tahun sejak pertama kali aku pinjam. Sepanjang perjalanan peminjamanku atas novel ini, sepanjang itu pula perjalanan pertemananku dengan Erdi dan Rena. Artinya sepanjang dua tahun itu pula Gardi telah bersama Chloe, dan aku  hanya menjadi bagian terluar dari mereka berdua.

“Jika kau mau, ambil saja novel itu untukmu.” Bukannya senang, Erdi justru merasa kecewa karena aku mengembalikan buku yang kupinjam. Padahal, aku sudah siap dengan dendanya.

“Tidak. Aku tetap harus mengembalikannya padamu,” jawabku. Aku sadari Rena memerhatikan kami karena begitu melihatku dari pintu masuk, Erdi langsung menyambutku di meja pengembalian. Aku tidak ingin banyak bicara hari ini, termasuk kepada Erdi. “Aku tidak bisa membantumu  lagi,” kataku akhirnya.

Erdi mengangkat wajahnya, terkejut.

“Dan aku tidak bisa datang ke sini lagi.”

Tangannya berhenti mengetik memasukkan nota pengembalian buku.

“Aku akan pindah tugas.” Aku tunggu reaksinya.

“Kemana?”

Aku tahu, ia berusaha menyembunyikan raut wajah yang lain, yang ia timpali dengan raut wajah ingin tahu. Namun, raut yang seharusnya muncul sejak awal, akhirnya benar-benar muncul ketika aku menjawab, “Jauh,” dengan suara pelan.

“Kenapa?” tanyanya lagi. Iya, itu dia raut kesedihan yang berusaha ia sembunyikan dariku.

Aku menoleh sebentar pada Rena, dan Rena tertunduk perlahan, berusaha menjauhkan matanya dariku. Erdi mengikuti arah mataku, dan ia tidak menemukan apa yang kutemukan dari sikap diri Rena. “Karena aku harus,” jawabku.

Ia keluar dari meja pengembalian sehingga aku harus berdiri berhadapan dengannya. “Di sini saja,” katanya pelan. Ia meraih tanganku dan menatapku dalam.

Ekor mataku menangkap Rena yang masih tertunduk dan kian tertunduk dalam. Aku tahu, bukan ini yang ingin dilihat dan didengarnya. Tapi, hanya ada kami bertiga sehingga tidak ada penghalang apa pun baginya untuk melihat dan mendengar semua ini. Aku segera menarik tanganku, tidak ingin Rena melihatnya lebih jauh. “Aku harus,” jawabku sambil berusaha tersenyum. Tanpa tunggu apa pun, aku segera berjalan ke luar, dan mengabaikan panggilan lembut Erdi. Namun, sekilas aku mendengar Rena menangis.

Erdi dan Rena adalah dua orang pertama yang aku beritahukan perihal kepindahan tempat kerjaku. Bahkan Nancy belum mengetahuinya sesaat sebelum akhirnya namaku diumumkan masuk dalam daftar anggota yang akan pindah ke cabang yang baru dibuka di luar kota, jauh di seberang sana. Kau pikir ia akan menangis? Tentu saja tidak. Ia justru mengucapkan selamat untuk posisiku yang baru. Dan ia katakan, “Aku sudah pesan buku ke-2 dan ke-3-nya Marietta,” sambil tersenyum puas dan menang. Ia mengiklaskanku dengan bahagia.

Tidak demikian dengan Stefani. Begitu mendengar kabar bahwa aku akan segera pindah tugas, ia mengirimku pesan singkat, “The moon is still yellow, Dear. Don’t go. Gardi will pay for this,” dengan emoticon marah di bagian akhir pesan. Kedengarannya ia sedih namun, tetap saja ia tidak selemah itu, wanita mengerikan itu. Aku mengagumi kehebatannya. Tapi, belum selesai aku tersenyum sendiri dengan pesan singkatnya, ia sudah muncul di depanku. Aku heran, apa ia punya sayap atau bisa menghilang? Satu-satunya alasan yang paling masuk akal adalah bahwa ia mengirimkan pesan padaku sementara ia sedang berjalan menuju ruanganku, hanya untuk menghentikanku. Lagi.

Aku balas pesan singkatnya, “Aku sudah tidak punya Love’s Tender Fury lagi. Aku juga tidak punya dua buku setelahnya. Aku bahkan tidak membelinya padahal tersedia fasilitas online untuk mendapatkannya dengan mudah…” Aku terhenti sejenak untuk menarik napas yang mulai bekejar-kejaran di dadaku. “…Aku hanya berharap pada janji yang diucapkan Gardi untuk membelikannya. Tapi, itu sekarang sudah tidak ada lagi. Aku sudah tidak punya Gardi lagi. Ia sudah melupakanku. Ia sudah  lupa aku. Ia tidak akan mengingatku lagi. Ia tidak akan pernah bisa mengingatku lagi. Bulan mulai berubah biru…”

Di dalam pelukan yang diberikan Stefani, akhirnya aku bisa menumpahkan isakku.

***

Sebelumnya: https://seword.com/cerpen/bulan-kuning-6/

Share.

About Author

Senang membaca dan menulis sambil mendengarkan musik..tapi tidak bisa nyanyi...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage