Bulu Mata Palsu Betina

Bulu Mata Palsu Betina

1
Robert masih tertidur pulas bagaikan bayi raksasa ketika Sisca berjalan dengan berjinjit masuk ke dalam kamar. Menuju ke meja kerja Robert, mengangkat gelas kopi sisa semalam, juga beberapa botol bir kosong. Robert juga sudah semakin menggila dengan mulai merokok di dalam kamar. Mangkok makan pun dipenuhi puntung rokok.
Sisca memaki dalam hati, dipenuhi kebengisan dan kegeraman. Ingin dihajarnya kepala Robert yang masih pulas dengan mangkok keramik berat merk Saint James miliknya itu.
Sisca menghela nafas, keras dan berat. Tidak peduli kalau akhirnya Robert akan terbangun. Sisca berjalan keluar dari kamar menuju dapur, sambil membiarkan pintu kamar tetap terbuka.
Sisca menjerit di dapur begitu melihat tempat cucian piring  yang dipenuhi piring dan gelas kotor yang berbau sisa makanan busuk. Sisca mencuci semua piring dan gelas kotor itu, juga membersihkan dinding-dinding dapur yang dipenuhi percikan saus makanan.
Sambil menari-nari dalam amarah yang percuma, Sisca bergerak ke seluruh ruangan. Membuka jendela dan membiarkan angin bertiup masuk, juga membuka korden-korden di ruang depan agar cahaya panas masuk. Biar bakteri-bakteri dan kuman penyakit dalam rumah ini mati, batin Sisca jengkel. Sekalian Robert juga mati kalau bisa!
Sisca bergaya replika seorang petugas cleaning service dengan tanda jasa dari hotel berbintang.
Sisca membersihkan semua debu di atas meja-meja perabot dan di sela-sela kaki kursi, menyusun ulang buku-buku koleksi Robert yang terhambur berontak di lantai, membuang semua sampah kemasan makanan instant…mengepel lantai parkit dengan cairan khusus…menyikat dinding dan lantai kamar mandi dengan penuh ambisi, juga membuang semua botol-botol kosong sabun dan shaving cream.
Tiba-tiba Sisca berhenti, jatuh terduduk di lantai kamar mandi kering. Kebenciannya kembali menguasai, ingin membalas. Sikat kuning berbulu kasar yang kuat masih ada di dalam genggamannya. Sisca membayangkan menyikat kulit wajah Robert…
Pintu kamar mandi terdorong pelan. Sisca mengangkat muka. Robert berdiri di depan pintu dengan wajah puas tidur. Rambut hitamnya berhamburan tak beraturan. Lelaki berumur empat puluh tiga itu tetap terlihat tampan dan ramping, walau kehidupan yang sekarang dijalaninya penuh sampah. Sampah dalam arti sebenarnya, yah sampah yang baru saja dikumpul Sisca dari rumah mereka sendiri.
“Hmm…kau kembali?” Robert bertanya bodoh, sedikit takut. Kepalanya miring ke samping, melongok heran mengapa Sisca duduk dengan manis bersandar di dinding kamar mandi.
Sisca memandang Robert dengan semua campuran rasa yang pernah dicatat sejarah anak manusia. Sisca tergoda dengan sikat besar yang ada di tangannya. Jarak Robert hanya semeter setengah dari tempatnya menghina diri. Sisca menghitung entah kepala Robert atau kelakian Robert, pilih salah satu!
Robert masih heran, “Keluarlah, buat apa di situ. Ayo…” bujuk Robert sedikit sedih.
Sisca bangkit berdiri. Melempar sikat begitu saja ke lantai, keluar dari kamar mandi dan membasuh tangannya di wastafel luar.
Pembuluh-pembuluh darah di mata Sisca tiba-tiba pecah, begitu hidungnya mencium aroma Lavender yang segar dan menggoda. Busa-busa lembut yang sedang dibasuhnya dari tangannya mengeluarkan aroma betina itu! Sialan! Dia mengganti sabun tangan di rumahku! Botol kecil mungil dengan tulisan Lavender terduduk angkuh di samping keran. Sisca sendiri selalu memakai aroma Almond dari merk yang sama.
Hidung Robert mulai mencium aroma berbahaya yang menakutkan, Robert berjalan mundur beberapa langkah.
Betul dugaannya, Sisca berbalik dengan wajah sebengis Jengis Khan berpasangan sinting dengan Joker yang diperankan Heath Ledger.
Robert sangat mengenal siapa mantan istrinya ini, menguasai segala jenis gerakan acro yoga dan pilates, lengan dan kakinya pastilah sekuat kijang atau bison jantan.
Dalam hitungan detik, Robert langsung berlari menyelamatkan diri, melompat tak karuan menghambur ke dalam kamar tidur. Sisca mengeluarkan tanduk besar yang bercabang-cabang!
Dalam hempasan waktu yang bersamaan, Sisca juga sudah melompat awas dan siaga. Akan kukuliti kepalamu! Geramnya tanpa suara. Akan kukoyakkan baju-baju mahal Hugo Boss andalanmu! Parfum koleksimu akan kupecah di atas kepalamu!
Berlarian Robert dikejar Sisca. Kepalan tinju Sisca mengacung di udara, otot-otot lengan Sisca yang lean terbentuk sempurna. Robert menghambur ke dalam kamar tidur, berbalik langsung mendorong pintu akan mengunci, tapi separuh badan Sisca sudah menyisip di situ. Robert kembali mundur, memasang kuda-kuda. Sisca menyeringai. Hari penghakiman telah tiba…
“Sisca, jangan gila! Terakhir kali kamu ke sini, tetangga sampai mengancam akan menelpon polisi.” Robert berusaha mewaraskan Sisca kembali.
“Kau dan betinamu, menghancurkan dan mengotori rumahku!”
“Maafkan, maafkan! Tapi ini kan rumahku juga…dan betina itu sudah kuusir keluar dari rumah ini. Tenanglah, tenanglah sekarang…”
Sisca kembali menyeringai, juga memasang kuda-kuda.
“Kau lupa kau siapa sebelumnya? Bahkan sepeda motor butut pun kau tak punya? Hanya aku yang mau padamu, hanya aku yang bodoh karena percaya cinta!” raung Sisca berulang-ulang. Cakarnya mengembang.
Robert merasa lelah dengan posisi kakinya yang siaga. Kedua bahunya jatuh, lelah bertengkar.
“Sisca, aku ngerti, jutaan maaf sudah kusampaikan. Please, kembalilah ke rumah ini. Jangan muncul tiba-tiba begini. Tinggallah kembali di sini. Ini masih rumahmu juga…” Robert terdengar bersungguh-sungguh.
Sisca meludah ke ranjang, “Dan kembali tidur di atas ranjang ini? Yang kau kotori dengan betina beralis golok dan berbulu mata palsu yang kau pungut di kafe? Kau beri dia uang untuk belanja baju berumbai dan jam tangan mahal sebesar tatakan gelas? Kau belanjakan dia sabun dan wewangian kesukaanku? Rendahan kau itu! Setidaknya berselingkuhlah dengan terhormat!  Betina yang sekarang mengotori rumahku dengan kemasan makanan instant? Bodoh kau itu Robert!” Sisca asyik meracau sendiri.
Robert menerima, semua yang dikatakan Sisca memang benar.
Betina itu bahkan menyuapinya dengan mie instant berkuah tumpah ruah sampai tidak berasa. Robert juga pernah harus berhenti mengunyah karena bulir-bulir nasi dalam mulutnya masih setengah tanak. Kopi yang dibuat betina itu tidak panas mengepul, gulanya tiga sendok penuh, kopi sampah.
Dapur dipenuhi kemasan delivery dari Pizza Hut, KFC, McD, dan kotak-kotak stereo foam dari rumah makan. Ada empat puluh satu driver gojek yang akhirnya merasa rumah  ini adalah rumah singgah para driver gojek.
Robert menyerah ketika baju kerjanya disetrika serampangan, menyisakan garis-garis tak beraturan. Rekan bisnis Robert bahkan terbahak mencemooh , “Robert, lain kali berselingkuhlah di bawah matahari, jangan dalam kegelapan. Lebih baik dan lebih cantik istrimu ribuan kali.”
Betina itu tidak bisa mengurus Robert dengan becus. Betina itu hanya ingin uang, fasilitas mewah dan status sosialita menenteng tas branded ke mana-mana, selfie di mana-mana dengan bibir dimencong-mencongkan imut.
Hingga Robert akhirnya jijik akan pilihannya sendiri, yang sudah terlanjur masuk ke dalam rumah ini sejak Sisca angkat kaki karena ingin menghukum Robert. Sisca benar-benar kejam, bahkan semua asisten rumah tangga, supir dan tukang kebun juga melambai selamat tinggal kepada Robert dan ikut Sisca pindah ke rumah mereka yang lain. Robert benar-benar dihukum, menggenaskan.
Setiap pagi Robert harus merelakan matanya melihat betina itu berlama-lama memasang bulu mata palsu dengan lem khusus dan menggambar alis. Bulu mata palsu yang melambai, bulu mata palsu yang mencuat terbalik merekah, bulu mata palsu yang rapat seperti sisir kutu, bulu mata yang jarang-jarang alami, bulu mata yang berbulu-bulu bercabang, bulu mata berekor bagaikan ekor merak…Robert menangisi keadaannya dengan pengetahuan tiba-tibanya akan segala jenis bulu mata palsu yang beredar di jagat raya.
Robert merindu kepada Sisca. Wanita kuat sederhana, berkulit wajah bersih terawat, dengan alis melengkung yang alami, bulu matanya asli tanpa usaha. Baju yang dikenakan Sisca semuanya cermat berpadu padan dengan rapi dan halus. Tidak ada yang berlebihan pada Sisca.
Robert juga kenyang dengan makanan-makanan berbahan segar enak yang dimasak Sisca ala rumah makan terkenal yang laris. Robert hidup sehat di bawah perlindungan isi kulkas Sisca. Nahas sungguh nahas, membandingkan Sisca dengan betina itu. Untunglah Robert berhasil menyuruhnya keluar, dengan menghentikan semua uang jajan dan memblokir kartu kredit tambahan.
Robert selamat. Tapi belum selamat dari Sisca. Sisca masih berdiri di hadapannya bak petarung wanita, Xena. Hidungnya seperti menyemburkan api naga. Robert kalah, menghadapi angkara angin puyuh Sisca.
Kali ini Robert yang menjatuhkan diri ke dalam sofa empuk dalam kamar tidur mereka.
Robert menarik-narik rambutnya sendiri, tak berdaya. Perutnya mendamba makanan enak masakan istri, kulit badannya merindu kemeja licin disetrika, matanya merindu rumahnya yang dulu. Yang bersih rapi dan indah. Sisca yang kejam, bahkan taman mereka meranggas begitu Sisca angkat kaki. Robert bahkan rindu pada gelas kopi besar yang dipecahkan Sisca sebelum pergi.
Robert terisak keras. “Kembalilah ke rumah ini, buanglah amarahmu, ampuni aku…semua milikku aturlah untuk menjadi milikmu seorang saja. Jika aku berulah lagi, aku akan menggelandang dan jatuh miskin.”
Sisca menatap Robert, menghargai penyesalan Robert. Sisca tersenyum lembut, Robert menatap mata Sisca, memohon. Sedikit lagi Robert akan berhasil.
Tapi Sisca tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, melengking keras, badannya terguncang, air matanya menetes, tawanya berderai-derai.
“Robert, aku belum selesai menghukummu!” Sisca akhirnya berkata-kata di antara tawanya yang menghina.
Putus asa dan jengkel bercampur menjadi satu, tangisan Robert semakin menjadi-jadi.
Kutulis untuk para lelaki yang mendamba bulu mata palsu di dalam kegelapan.
Share.

About Author

Suka makan dan suka menulis. Sangat senang jika bisa mendapat masukan langsung dari pembaca seword. Please tell me your dreams...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage