Cerita Silat Serial Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja (27)

Cerita Silat Serial Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja (27)

2

“Maaikan aku, Ayahanda. Putramu ini tidak suka membawa senjata. Kemana pun pergi lebih suka tidak bersenjata. Karena orang yang suka membawa senjata biasanya akan selalu merasa tak tenang. Merasa selalu dalam bahaya,” kata Suro Joyo jujur. Begitulah kejujuran hati yang tidak bisa dia tutup-tutupi.

“Apakah ini berarti kau menolak pedang pusaka Krendobumi?”

“Bukan maksudku menolak keinginan Ayahanda, tapi….”

Kalimat Suro Joyo belum selesai. Masih menggantung, Beberapa waktu lamanya saling berdiam diri. Berdiri berhadap-hadapan. Dalam diam itu masing-masing menjajagi isi hati orang yang berada di hadapannya.

Delapan belas tahun aku tidak melihat dia, berpisah dengan dia, dan tidak secara langsung mendidik dia. Begitu Agung Paramarta membatin. Rupanya Suro Joyo ini punya keinginan lain yang berbeda dengan keinginanku. Waktu masih bayi, dia menangis keras-keras saat akan kunobatkan menjadi putra mahkota. Sekarang dia menolak ketika akan kuberi pedang pusaka yang merupakan pertanda bahwa dia pewaris tahta Krendobumi. Apakah penolakan dua kali ini menunjukkan bahwa dia tidak ingin menjadi Raja Krendobumi?
Sungguh kasihan ayahanda, kata benak Suro Joyo pada waktu yang sama. Dia begitu berkeinginan agar aku menerima pedang pusaka. Dia juga ingin, lewat pemberian pedang itu, aku jadi penggantinya. Berarti dia menginginkan aku kelak menjadi Raja Krendobumi. Padahal aku tidak punya keinginan menjadi raja! Tapi…, untuk tidak mengecewakan, aku akan menerima pedang pusaka. Entah akan kuapakan pedang itu nanti…!

“Hinihihi…dua kutub bumi tak mungkin bisa bertemu, perbedaan dua prinsip pribadi tak mungkin bisa dipadu. Bulan muncul di atas galah, bolehkah usul sebagai penengah?” tanya Trinil Manis.

“Boleh, Nek…, sebagai guru kedua, Nenek malah kuminta tolong untuk memberikan penyelesaian,” Suro Joyo mengiyakan.

“Silakan, Nyi, kami sangat senang bila Nyi Trinil Manis memberi saran,” kata Agung Paramarta.

“Aku ada saran, bagaimana kalau pedang itu kupasangkan?”

“Mak…, maksud Nenek?” Suro Joyo panik. Berarti dia harus menenteng pedang kemana pun dia pergi. Padahal itu yang paling tidak dia suka

“Pedang Lintang Sakti itu akan kupasang di pinggangmu.”

Walau masih penasaran, Suro Joyo hanya diam ketika Trinil Manis bertindak secara cepat dan cekatan.
Mula-mula dia menerima pedang pusaka dari Agung Paramarta. Kemudian dia mengikatkan kain tipis warna putih di pinggang Suro Joyo. Selesai dengan kerjanya tersebut, dia berkelebat lari ke dalam pesanggrahan.

Penyair Edan Pantai Selatan tersebut kembali menemui Suro Joyo. Di tangannya terpegang kulit binatang warna hijau yang berbentuk lingkaran gepeng. Biasa digunakan untuk cantolan ikatan. Selain itu dia juga membawa kawat kecil dan pisau.

Dalam waktu singkat dia bentuk ikat pinggang dari sarung pedang kulit ular sanca. Setelah semua selesai, dia masukkan kembali Pedang Lintang Sakti ke dalam sarungnya. Lalu pedang bersama sarungnya yang sama-sama tipis itu dilingkarkan ke pinggang Suro Joyo. Kait dan kulit melingkar yang dibawa Trinil Manis tadi mengikat kepala burung rajawali yang merupakan gagang pedang. Kepala rajawali tersebut menjadi penghias ‘ikat pinggang’ dari pedang tipis dan lentur. Mudah ditekuk-tekuk, tapi tidak mudah patah. Sebuah pedang tajam dengan bahan baja khusus.

“Hihihi…, ikat pinggang dari pedang, pikiran senang dan selalu tenang.”

Agung Paramarta dan Suro Joyo tersenyum puas oleh kecerdikan Trinil Manis. Nenek yang suka bersyair tersebut juga tertawa terkikik-kikik. Gayanya genit kayak perawan kencur. Dandanan manis membuatnya tampak sebagai gadis tapi…, sudah ompong!

Antara Agung dan Suro sebenarnya masih tetap berbeda prinsip. Keinginan mereka tetap bertolak belakang. Tapi untuk sementara mereka melupakan perbedaan tersebut. Karena masih ada yang lebih penting untuk mereka hadapi. Yakni merebut tahta Krendobumi dari tangan si angkara murka.

Setelah reda dari tawa ngikik, Trinil Manis mengeluarkan sebuah kalung. Bandul kalung dari lempengan logam baja warna hitam. Bergambar lingkaran bergerigi delapan. Lingkaran cakra berwarna merah. Cakra Geni!

Suro Joyo terkejut melihat kalung di tangan sang nenek aneh. Kenapa dia punya lambang cakra geni? Apakah dia juga menguasai Rajah Cakra Geni? Padahal Maeso Item pernah berkata bahwa hanya dirinya seorang yang punya jurus-ajian itu….

(Bersambung)

==> ke sini <==

Sinopsis Cersil Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja di ==> sini

*****

Karya saya yang lain:

Ahok Dipenjara sama dengan Mengeliminasi Birokrat Jujur dan Profesional? ; CerSil Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja 123456 789 – 101112131415161718192021 2223242526   ;   Ahok, dari Politik ke Bisnis…, Memangnya nggak Boleh?  ;  Balada Balkiyo 1 234    ;  Ahok dan Fenomena Becik Ketampik ; Ahok jadi Mendagri…, Mana Mungkin? ;  Ahok Pasca-Pilkada DKI, Tetap di Jalur Politik atau Beralih ke Bisnis? ; Aku Rindu Masa itu ; Teroris itu Bernama Topal ;

117
Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage