Cerita Silat Serial Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja (28)

Cerita Silat Serial Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja (28)

0

 

“Hihihihi…, jangan khawatir jangan bimbang, kalung ini kuberikan. Kalung kenangan dari Si gila, kuberikan kepada muridnya…,” penjelasan Trinil Manis. Yang membuat Suro Joyo lega.

Maka dia pun dengan senang hati menerima kalung itu. Langsung dia pakai kalung yang talinya berwarna hitam. Terbuat dari tali sutera sangat kuat. Tak mudah putus walau untuk seribu tahun lagi!

Ketiga orang di puncak bebatuan asyik memandang ombak di tengah laut. Mereka tiba-tiba terkejut ketika mendengar suara jeritan. Jeritan Niken Sari dari dalam pesanggrahan!

Ketiganya langsung melesat saling mendahului. Menerobos masuk ke dalam pesanggrahan. Mereka dapati Niken Sari duduk di atas dipan. Menunjuk-nunjuk jendela terbuka.

“Dua orang bersenjata golok mau membunuhku…, ” kata sang permaisuri.

Agung, Suro, dan Trinil menuju jendela. Di luar, tepatnya di bawah jendela tergeletak dua sosok mayat tertembus anak panah tepat di jantung mereka.

“Hihihi…, manusia dungu tak punya otak. Mereka tidak tahu kalau pesanggrahan ini kupasang jebak,” Trinil Manis memberi penjelasan. Membuka rahasia jebakan yang dia pasang di pesanggrahannya.

Suro, Agung, dan Niken terperanjat. Jebakan? Kenapa sejak dulu nenek edan ini tidak bilang-bilang? Kalau mereka terkena  jebakan itu bagaimana?

“Kalian semua jangan khawatir. Segalanya sudah kupikir. Jebakan maut hanya untuk berandal celaka, tidak patut melukai orang baik bijaksana.”

Semua percaya pada apa yang dikatakan Trinil Manis. Setiap sudut pesanggrahan memang di pasang jebakan yang langsung membunuh. Untuk melindungi sang raja dan permaisuri dari bahaya. Hari ini jebakan yang dipasang Trinil Manis telah menewaskan dua anak buah Jati Kawangwang.

“Kalau begitu, aku pamit kepada ayah-bunda serta nenek Trinil Manis. Hari ini aku akan ke istana Krendobumi. Untuk meminta tahta kerajaan yang menjadi hak kita,” Suro Joyo menyatakan keinginannya.

Mereka merelakan kepergian Suro Joyo yang akan menuntut haknya. Seperti biasa, Ayah-bunda memberi nasehat dan mengingatkan supaya berhati-hati. Cuma Trinil Manis yang ada janji khusus.

“Tentang permaisuri yang mengalami kelumpuhan, aku yang akan berusaha memberi jalan penyembuhan. Semua kitab di bawah tanah akan kubongkar untuk mengetahui pengobatan kaki lumpuh agar bisa kembali tegar.”

Janji yang diucapkan Trinil Manis tersebut selalu berada dalam ingatan. O, ternyata Penyair Edan Pantai Selatan itu menyimpan kitab-kitab kuno berisi ilmu pengetahuan. Menyimpannya di bawah tanah, supaya tidak diincar para berandal.

Beberapa hari Suro Joyo menyusuri hutan belantara arah timur laut. Suatu siang yang terik dia merasa lapar. Waktu itu dia lewat Desa Opak. Ada sebuah kedai di pojok desa tersebut. Maka mampirlah si Suro Joyo untuk menghilangkan haus dan lapar.

Kedai makanan itu sedang ramai pengunjung. Terlihat Singa Berung, Sekar Telasih, dan Danawarih duduk di pojok. Mereka menunggu makanan dan teh yang dipesan.

Di sudut lain tampak dua orang berwajah kasar dan buas. Tubuh mereka besar, sebilah golok terselip di pinggang masing-masing. Satu dari dua orang itu bernama Linggo Abang. Dia mengenakan ikat kepala warna merah. Satunya lagi bernama Dahuru yang menggunakan sobekan kain warna hitam. Selain mereka ada beberapa pengunjung lain.

Seorang gadis ayu, kulit mulus, pinggul sedang, tapi dada membusung telah berdiri di dekat Suro Joyo yang duduk. Senyum manis tersungging di bibir si gadis. Rupanya dia anak pak tua pemilik kedai. Pula gadis itu sebagai pelayan kedai sang bapak. Itung-itung daripada nganggur,

“Kisanak pesan apa?” tanya si gadis ayu.

Suro Joyo kaget karena sejak tadi asyik mengamati Danawarih yang paling tampan di seluruh ruang kedai. Juga orang tua anak muda tersebut sepertinya bukan penduduk asli. Mereka sepertinya kurang patut berpakaian sederhana seperti itu.

Kini Suro Joyo menoleh pada gadis ayu. Kini matanya makin terbelalak. Dia lebih kaget lagi ketika menyadari bahwa gadis ayu tersebut berdiri sangat dekat dengan dirinya yang lagi duduk. Dada si gadis yang membusung, menandakan isinya montok, sangat dekat dengan hidungnya!

Kontan pikiran Suro Joyo kacau. Baru pertama kali dia mengalami hal itu. Karena pikiran kacau, maka wajah dan kepala berkeringat. Dan seperti biasanya, tangan kirinya menggaruk-garuk kepala yang gatal luar biasa…!

 

(Bersambung)

==>ke sini<==

Sinopsis Cersil Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja di ==> sini

*****

Karya saya yang lain:

Ahok Dipenjara sama dengan Mengeliminasi Birokrat Jujur dan Profesional? ; CerSil Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja 123456 789 – 101112131415161718192021 222324252627   ;   Ahok, dari Politik ke Bisnis…, Memangnya nggak Boleh?  ;  Balada Balkiyo 1 234    ;  Ahok dan Fenomena Becik Ketampik ; Ahok jadi Mendagri…, Mana Mungkin? ;  Ahok Pasca-Pilkada DKI, Tetap di Jalur Politik atau Beralih ke Bisnis? ; Aku Rindu Masa itu ; Teroris itu Bernama Topal ;

43
Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage