Cerita Silat Serial Suro Sinting (2): Bunga Puspajingga (22)

Cerita Silat Serial Suro Sinting (2): Bunga Puspajingga (22)

0

”Hebat! Kau memang hebat, Suro!” kata Wandasa. ”Tak kusangka, anak kemarin sore sepertimu sudah berilmu silat setinggi ini. Tapi jangan besar kepala dulu! Riwung hanyalah anak buahku. Kemampuan silat dan menggunakan senjata, masih jauh di bawah kemampuanku. Wajar saja dia bisa kau kalahkan dengan mudah.”

”Heheheha…, sejak tadi kau bisa ngomong melulu! Sejak tadi kamu hanya besar mulut dan mengandalkan anak buahnya untuk kau jadikan tumbal. Kamu kelihatannya cuma bisa mendorong anak buahnya untuk bersemangat berani berkorban nyawa demi membela kebenaran yang kalian yakini. Sedangkan kau sendiri takut mati, sehingga kau tidak berani maju menghadapi maut yang sewaktu-waktu menjemput,” ejek Suro masih dengan senyum sinisnya. Senyum sinis itu terasa tajam menghujam bila dirasakan orang yang dipandangnya.

”Kapan kau akan keluarkan segala kemampuannya? Atau begini saja, kau menyingkir dan biarkan aku lewat! Artinya, kita sama-sama selamat. Bagaimana?”

”Heh, baru dapat merobohkan anak buahku saja sudah berani menyuruhku mundur. Sekarang lebarkan matamu selebar-lebarnya. Pasang otakmu sebaik-baiknya!”

”Baiklah…, kau yang selama ini merasa paling pintar, merasa paling cerdas, dan merasa paling benar, suka merendahkan orang lain. Aku sejak tadi sudah pasang otak di tempat yang sebenarnya. Bukan seperti kalian yang otaknya dipasang di dengkul, hehehehehe…. Ayo, keluarkan segala kemampuanmu! Tunjukkan semua kesaktianmu. Kalau punya, keluarkan senjatamu yang paling sakti!”

Wandasa mencabut sepasang pedang yang menyilang dan terikat di punggungnya. Sepasang Pedang Kalawisa! Sekarang kedua tangan pimpinan gerombolan perampok itu tergenggam pedang yang pancarkan sinar ungu disertai hawa dingin. Sedingin salju yang masih beku.

Mata Suro membelalak lebar demi mengetahui senjata andalan Wandasa. Seumur-umur baru pertama kali dia mengetahui bahwa Wandasa memiliki sepasang pedang sakti. Sejak kapan Wandasa memiliki senjata sakti itu? Atau …, jangan-jangan senjata itu adalah senjata hasil rampokan juga!

Sebelum keterkejutan Suro hilang, tiba-tiba sepasang pedang Wandasa sudah berkelebat-kelebat cepat untuk mencincang tubuhnya! Maka Suro segera pusatkan perhatian. Walau agak terlambat. Dia mundur selangkah sambil kelebatkan pedang untuk menangkis.

Ting!

Trang!

Benturan tiga senjata sakti ini tidak disertai ledakan seperti umumnya karena antara dua senjata yang beradu saling bertolak belakang. Hanya terdengar dentingan senjata yang beradu. Suara dentingan itu sangat nyaring.
Dentingan-dentingan senjata sakti yang beradu membuat gendang telinga bergetar. Juga mengiris-iris hati yang bernyali ciut. Baik Suro ataupun Wandasa merasakan tangan mereka bergetar hebat ketika senjata itu beradu. Mata mereka juga silau oleh percikan bunga api akibat benturan senjata.

Puluhan jurus sudah berlalu, belum ada yang unggul dalam pertarungan. Pada jurus kesebelas, pedang di tangan kanan Wandasa berhasil menyabet bahu Suro. Rasa dingin terasa menyengat pada bekas luka itu. Dan mendadak Suro merasakan tangan kirinya tak dapat digerakan sama sekali. Seperti beku! Pendekar Rajah Cakra Geni itu mundur beberapa langkah. Dia cepat salurkan tenaga dalam ke tangan kiri, tapi tangan itu sepertinya sudah membeku!

”Huahahahaha…, hayo bergeraklah bocah sinting, huahahaha! Sebentar lagi tanganmu akan beku selama-lamanya. Tidak bisa digunakan untuk melakukan apapun, huahahaha…!” kata Wandasa merasa sudah pasti mengungguli lawan. Dia yakin Suro bisa dia habisi dalam waktu beberapa kejapan mata.

Suro sedang berpikir keras untuk menyembuhkan atau menghilangkan rasa beku di tangan kirinya. Namun Wandasa mencecar dengan sabetan-sabetan pedang gandanya. Sehingga membuat Suro makin terdesak.

Dalam keadaan terjepit dia segera berjumpalitan beberapa kali ke belakang. Mundur puluhan tombak dari arena pertarungan. Dia segera tancapkan pedangnya ke tanah. Dia segera berdiri tegak menggenggam tangan kanan, lalu berputar-putar di depan dada. Dia salurkan tenaga dalam ke telapak tangan kanan. Lalu tangan kanannya direntangkan ke samping dengan telapak tangan terbuka.

Saat itu bersamaan dengan melesatnya tubuh Wandasa yang menerjang dengan lompatan tinggi di udara. Kedua pedangnya siap mencincang tubuh Suro yang dianggapnya sudah lemah.
Ketika Wandasa semakin dekat, secara tak terbuka Suro sorongkan tangan kanannya ke depan. Telapak tangannya yang membuka terdapat lingkaran merah membara bergerigi delapan. Melesatkan cahaya merah ke dada Wandasa.

BERSAMBUNG

>>>>>>>>>>>> KE SINI <<<<<<<<<<<<

*****

Karya saya lainnya:

Inspirasi Ahok (1) : Wakil gubernur dan wakil presiden yang ideal? ; Ironi ; Hindarkan Anak-anak dari Ujaran Kebencian dan SARA ; Nasehat Ibu untuk Anak-anaknya ; Ekskusi mati untuk pemerkosa ; Presiden Jokowi dan pencapaiannya yang bersifat nonfisik ; Cerita Silat Serial Suro Sinting (2): Bunga Puspajingga 123456789101112131415161718192021     ; Get Out (2017) : Ketika Sosok yang Terlihat Baik Hati Ternyata Sangat Keji  ; Mungkinkah Isu SARA Tidak Ada Lagi pada PilkadCerita Silat Serial Suro Sinting (2): Bunga Puspajinggaa yang Akan Datang? ; Para Teroris itu Terpaksa “Kudiamkan”…. [Cerpen] ; Ahok Dipenjara sama dengan Mengeliminasi Birokrat Jujur dan Profesional? ; CerSil Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja 123456 789 – 101112131415161718192021 222324252627282930313233343536373839 (SELESAI) ;   Ahok, dari Politik ke Bisnis…, Memangnya nggak Boleh?  ;  Balada Balkiyo 1 23456   ;  Ahok dan Fenomena Becik Ketampik ; Ahok jadi Mendagri…, Mana Mungkin? ;  Ahok Pasca-Pilkada DKI, Tetap di Jalur Politik atau Beralih ke Bisnis? ; Aku Rindu Masa itu ; Teroris itu Bernama Topal ;

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage