Cewek – Cewek Rokok 3

Cewek – Cewek Rokok 3

143
“Mau ke mana pagi-pagi?” Aku sudah duduk di kursi rotan di ruang depan. Ada kopi panas dan asbak kaleng di atas meja.
Aku belum lagi menyulut rokokku, tunggu Mamak berangkat kerja dulu. Mamak benci asap rokok. Ironis sekali, suaminya yang menghilang disulap Mak Lampir Cantik itu adalah perokok kelas berat. Sampai-sampai gigi geligi Papak menghitam, aku sendiri adalah perokok kambuhan. Dan adikku yang cantik, Laura keturunan bangsawan dari Kerajaan Inggris Raya adalah anggota terhormat cewek-cewek penjual rokok.
“Mau kerja Kak,” jawab Laura sedikit lebih berani daripada kemarin. “Mamak ternyata sudah tahu, aku dibolehkan.”
“Hmmm…kan biasanya ada sample rokok yang dalam kemasan kecil itu. Bagi sedikit dengan kakakmu.” kataku lagi, tak tahu malu. Pikirku, kepalang sudah, sekalian saja aku minta bonus rokok.
Warna muka Laura seolah ingin menertawakanku, tapi ditahannya. “Hari ini aku shift pagi. Jam enam sore sudah di rumah, kubawakan ya Kak. Sabar dulu.” jawabnya pura-pura baik.
Aku mengangguk, “Awas kalau aku melihatmu jalan dengan om belang atau anak muda gatal. Kugundul rambutmu sampai plontos, ngerti kamu?” Aku mulai berkata-kata jahat.
“Kak, benarkah kamu itu kuliah, ngomonganmu betulan Kak, nggak kayak orang kuliah,” ejek Laura sambil berlari keluar pintu rumah.
Aku tidak tersinggung, aku kecapaian. Ternyata yang paling kere dalam rumah ini aku, uang yang dihasilkan Laura sehari sama dengan tiga kali enam jam aku kerja di dapur Mbak Atun. Sama dengan untungku seminggu jualan pulsa, sama dengan untung jualan tiga pasang sepatu – itupun kalau dibayar kontan.
Kubayangkan wajahku yang dulu selalu kembang kembis setiap menyelipkan uang lima puluh ribu ke tangan Mamak dan Laura. Sambil berpesan seperti kakek tua kepada cucunya, “Pergunakan baik-baik ya,”
Mamak dan Laura tidak pernah menjawab namun senyum mereka selalu merekah sempurna dengan sedikit sinar kekonyolan di mata mereka. Pantasan! Duh Sam, Mamakmu dan adikmu betul lihai!
Aku memang tidak pandai berhitung. Walaupun terkadang aku juga heran kok bisa dengan uang yang hanya puluhan ribu itu Mamak selalu beli kopi bubuk yang paling enak, deterjen paling terkenal, juga kok Mamak selalu punya cat kuku warna baru.
Di meja juga selalu ada makanan enak, bisa jadi dari kelebihan catering Ibu Anita tempat Mamak kerja, tapi seingatku banyak juga yang dimasak Mamak sendiri. Aku mulai mengingat-ingat dengan geram. Berarti Laura sering memberikan uang kepada Mamak, dengan jumlah besar. Pantasan Mamak pura-pura saja tidak tahu.
“Sam, kamu kuliah hari ini? Kok kelihatan malas hidup heh?” Mamak muncul dari dalam, bagaikan banteng perkasa tapi nyaris pensiun dari arena.
“Tidak kuliah Mak,” jawabku dengan aroma suara terluka.
“Tidak kerja juga?”
“Tidak Mak, aku mau jadi pengangguran saja. Sekali-kali Mamak dan Laura saja yang memberiku uang jajan.” sindirku sambil tersenyum-senyum.
Mamak berjalan mendekati pintu, baju terusan pendek Mamak yang berwarna biru dengan bunga-bunga kecil itu kelihatan apik di badan Mamak yang berpostur sedang. Aku mulai memperhatikan, Mamak juga memakai selop kayu yang terlihat cukup bagus.
“Ehmmm…Laura sama Mamak hari ini saingan cakepnya.”
Mamak maju selangkah. Menginjak kakiku dengan selop kayunya. “Jangan macam-macam kamu Sam, ingat kamu, Mamakmu juga butuh bahagia.”
Terhingis-hingis ( kosa kata Ardi yang artinya meringis ) aku menarik kakiku dan mendorong Mamak.
“Mak jangan kejam begitu, sejak kapan Mamak jadi Mak di Bajaj Bajuri itu !”
Mamak tertawa bahagia dan melangkah pergi dengan selopnya yang cantik itu.
Nah! Lagi! Itu dia, kok baru aku sadar, Laura selalu punya sepatu-sepatu baru yang bagus. Solnya tinggi-tinggi, modelnya ala bintang iklan, hmmm…jangan-jangan…dibelikan om-om hidung belang dengan dompet tebal, atau dibelikan anak muda yang kaya sejak lahirnya? Sepasang sepatu itu bisa tembus sejutaan, masak cukup gaji dibagi buat beli sepatu dan sogokan Mamak, belum lagi katanya menabung buat uang pangkal kuliah tahun depan? Curiga, curiga…
Aku segera bangkit dari leyeh-leyehku, dan berjalan ke bagian belakang, ke kamar Laura. Pintu kamar Laura dikunci, ckck…wah ada sesuatu ini! Aku bergegas ke laci perkakasku, semua serep kunci dalam rumah ini ada di situ.
Ketika akhirnya aku berhasil membuka pintu kamar, aku langsung beraksi, memeriksa meja belajar Laura. Ada diary bergambar aktor film Korea, dengan gembok kecil di tengahnya tapi anak kuncinya juga tergantung di situ. Aku tertawa girang tak sabaran.
Di hatiku, 18 Maret 2017
Dear Diary…
Hari ini dietku berhasil, hanya makan sebonggol jagung rebus dan tahu goreng buatan Mamak.
Ohya, Kakakku Sam, terharu aku melihatnya, dikiranya uang lima puluh ribu bisa membeli dunia. Gayanya semakin kayak mbah berjanggut panjang pengasuh padepokan silat di cerita Wiro Sableng.
Kasihan dia…
Kembali ke Titus. Aku masih ragu dengan perasaanku sendiri, apa layak yah dia kuterima sebagai kekasihku?
Oh Diary, aku bingung.
Di gelisahku, 21 Maret 2017
Dear Diary,
Sam begooookkkk! Seperti kacung saja dia di depan rumah makan prasmanan yang kami singgahi tadi! Sungguh malu aku dengan teman-temanku yang anak kuliahan itu. Kujelaskan kepada mereka ketika sudah berada di mobil, kalau laki-laki kucel itu tetanggaku yang diangkat anak oleh Papi dan Mami karena kasihan.
Dan untunglah Sam tidak marah ketika semuanya kujelaskan dengan wajah senduku. Hihi, cieee…Natalie Portman tidak kalah nih sama actingku.
Tapi lagi-lagi, bagaimana dengan Titus? Dia semakin keren saja dengan sepatu bootnya itu. Ah Diary, aku masih takut menerima cintanya. Aku tidak berani pacaran…( Sam kejam ).
Ternganga-nganga aku membaca diary Laura. Keterlaluan, bahkan secara tertulis pun tetap aku juga yang jadi korban! Dan siapa pula Titus itu? Pakai sepatu boot? Di Indonesia begini?
Duh Gusti, kuatkan aku menghadapi adik gadisku yang licik bukan buatan ini. Aku menarik kursi dan duduk di meja belajar Laura, mengambil pulpen dan menulis di halaman berikutnya.
Di marahku, 22 Maret 2017
Adikku Laura, ternyata adik yang pandai bersandiwara. Mamakku mendukungnya karena komisi dari Laura jauh lebih besar.
Adikku Laura, hanya mengakui aku sebagai tetangganya yang diangkat anak oleh Mami Papi karena kasihan. Mami Papi itu istilah dari mana yah? Ah adikku Laura mengira dia lahir di kamar istana, padahal di istal kuda.
Adikku Laura mulai pandai berbohong dan mulai pandai memainkan hati lelaki. Siapa Titus itu? Jagoan bersepatu boot? Adikku Laura takut pacaran, alasannya takut padaku kakaknya yang dikacung-kacungkannya. Padahal percayalah oh Dear Diary, Laura tidak pernah takut padaku.
Ohya aku bingung, adikku Laura juga pakai sepatu-sepatu mahal. Jangan-jangan adikku Laura sudah menjadi penjaja… ( tolong isi sendiri ).
Sekian dan terima kasih.
Sam Kacung Penjaga Istal Kuda
Aku menutup diary, dengan wajah menyeringai puas, membalaskan jengkelku.
Share.

About Author

Suka makan dan suka menulis. Sangat senang jika bisa mendapat masukan langsung dari pembaca seword. Please tell me your dreams...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage