Cewek – Cewek Rokok 4

Cewek – Cewek Rokok 4

10
Laura melompat-lompat marah bagaikan kangguru betina, dan meraung-raung serupa macan luka.
Laura menangis sambil menunjuk-nunjuk ke buku diarynya. “Mak, lihat Mak, Kakak kumat, berani masuk kamarku dengan kunci serep dan mencoret-coret buku diaryku. Malu aku Mak punya Kakak kayak Sam itu!”
“Mencoret-coret bagaimana? Coba Mamak lihat…” Mamak mengulurkan tangan, Laura menolak dan menyimpan buku diarynya kembali ke dalam laci meja belajar.
“Pokoknya Mamak sudah tahu, Mamak harus berani ingatkan Sam itu Mak. Masak aku juga harus ikut gila…”
“Ya sudah, Mamak akan ingatkan! Tapi kamu juga jangan berulah! Ingat, begitu-begitu Sam itu cerdik. Sam tadi bilang ke Mamak, sepatumu sekarang harganya mahal-mahal, beli dari uangnya siapa?” Mamak memotong kata-kata Laura dengan pandangan mata yang disipit-sipitkan. Berusaha terlihat seperti pandangan mata Baron Araruna yang kejam di telenovela jadul Isaura.
“Yah dari uangkulah Mak. Satu shift seratus lima puluh ribu, ditambah bonus penjualan dan juga uang makan, ya aku pasti sanggup. Lagian aku belinya pas diskon Mak, aku ini waras Mak, waras!” jawab Laura dengan sengit. “Aku berhak menikmati hidupku Mak, uangku, aku nggak mau disuruh tampil gembel begitu. Kenapa juga kalau aku pakai baju dan sepatu bagus?”
“Iya, iya…pokoknya Mamak yang akan ngatasi Sam. Kamu tenang-tenang saja. Biar Mamak minta bantuan Mas Yono buat mengganti kunci pintu kamarmu. Serepnya kamu pegang sendiri. Lagian kenapa sih kamu umur dua puluh tahun masih harus nulis diary?” Mamak mulai nyerocos tapi dirasanya cukup untuk menenangkan Laura.
Laura malah semakin murka dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, “Mak, urus Sam itu Mak! Bukan aku yang Mamak harus senter sedemikian rupa!” Laura menjerit-jerit lagi tak mampu menahan kejengkelannya. Juga malu karena rahasianya tentang Titus sudah dibaca Sam. Dan terhina dengan beberapa kalimat kecurigaan Sam.
“Iyaaa!” Mamak balas menjerit tak kalah kerasnya. “Pulang nanti pasti Mamak kerjakan Kakakmu itu! Tapi kamu janji tidak usah mengamuk lagi ke Sam. Pura-pura saja tidak ada apa-apa, nanti dia akan merasa-rasa sendiri.”
“Oke Mak, ngalah lagi aku. Tapi kalau Sam kumat lagi, aku mau ngekos saja di luaran. Jangan salahkan aku lagi Mak.” Laura menghapus air matanya, geram dan kesalnya perlahan surut. Tapi kali berikut, dia tidak akan mengalah lagi.
Mamak hanya terdiam mendengar kata-kata Laura. Seolah hidupnya masih kurang drama saja…
Yonathan suaminya, empat belas tahun lalu pergi tanpa pamit. Sam sudah berumur 18 tahun ketika itu. Laura sendiri masih berumur 6 tahun. Dalam pikiran Mamak, Lauralah yang paling menderita, karena Yonathan sungguh sayang kepada Laura. Yonathan bahkan memasak mie goreng panjang umur khusus buat Laura, setiap kali Laura berulang tahun.
Tapi ternyata, yang dunianya serta merta amblas melesak ke dalam keguncangan adalah Sam. Anak kebanggaannya yang dikiranya akan menjadi pemuda hebat – menaklukkan hati banyak wanita, membuat iri ibu-ibu lain karena kecerdasan dan ketampanannya. Tapi sekali lagi, drama kehidupan merengut dan menyakitinya.
Besok-besok Laura bisa jadi akan memilih tinggal di luar. Dan dia akan kehilangan anaknya satu persatu, dengan cara mereka sendiri-sendiri.
***
Aku masuk ke dalam rumah, sekali lagi dengan lelah luar biasa di bahuku.
Hari ini sepatu laku hanya dua pasang saja, itu pun laku mungkin karena mereka kasihan padaku. Pulsa elektronik yang laku sungguh seram…hanya yang harga sepuluh ribuan semua. Yang beli kebanyakan tukang parkir dan ibu-ibu penjaga kantin.
Anak kuliah pada krisis ekonomi katanya. Harga mie instan naik, harga kopi saset juga, yang berimbas ke naiknya sewa kos-kosan dan apartemen di daerah kampus. Semuanya keluar dari gerbang kampus dengan wajah seperti terhimpit dompet tipis. Hanya satu dua saja yang terlihat masih berpipi semu-semu merah. Mungkin ada yang habis menyatakan cinta kepada gadis-gadis cantik itu.
Aku menaruh tas ransel kuliahku di pojok dekat meja kerja Papak dulunya. Yang sekarang jadi meja untuk menyimpan barang-barang dan buku-buku bacaanku.
Kembali aku leyeh-leyeh di kursi rotan pusaka Papak. Mamak dan Laura pun tidak boleh duduk di situ. Tempatku ngopi dan merokok karena dekat dengan jendela.
“Ya Tuhan kapan aku cepat lulus kuliah, kapan aku bisa kerja kantoran? Aku letih ya Tuhan. Pak Ignatius, dosenku tadi melintas dengan terburu-buru. Seolah takut melihatku, mungkin bosan kutanya, kapan sebenarnya aku bisa ikut wisuda. Bagaimana ini Tuhan? Seluruh dunia dan seisi istal kuda ini pun ternyata membohongiku.” Aku merasa akan meneteskan sedikit air mata, ketika aku sadar, Mamak sudah berdiri di hadapanku.
Mamak terlihat ramping dan lebih segar, mungkin Mamak sudah mulai bisa menerima kalau Mak Lampir Cantik itulah yang lebih disayang Papak. Mungkin juga Mamak sudah letih berdoa, memohon malaikat maut mencaplok nyawa Mak Lampir Cantik itu, supaya Papak akhirnya kembali ke kami, ke pelukan Mamak tepatnya.
“Sam, capek Sam? Makan Sam? Mamak masak sayur daun ubi, ikan goreng tumis lombok juga ada. Ayo Sam…” Mamak berkata-kata dengan lembut, menepuk-nepuk belakangku dengan sayang. Dan menarik tanganku ke dalam, ke dapur.
Aku menurut saja, fitur Mamak berbeda lagi, selalu berubah setiap kali aku melihatnya. Mamak tempo-tempo tampil seperti dewa perang Ares, kali berikut bisa berubah jadi Ibu Si Unyil yang lembut, dan sekelebat kemudian bisa berubah menjelma menjadi Pak Ogah yang mata duitan, bahkan aku pernah mendapati Mamak sesangar Nyi Roro Kidul gara-gara Mamak mengenakan kebaya brokat hijau ke pesta mantenan tetangga dengan rias wajah cemong.
Mamak ah Mamak, apa salahku dan apa salahmu, apa salah Laura. Kenapa Papak pujaan kita itu rela melupakan kita…kali ini air mataku menetes sungguhan.
Padahal Mamak adalah perempuan yang cukup cantik, dan hatinya lembut walau tampilannya perkasa. Ada turunan Samurai mengalir dalam darahnya, Kakek Mamak konon adalah serdadu Jepang yang hilang dalam peperangan, ketika Indonesia akhirnya menyatakan kemerdekaannya. Itulah yang membuat Mamak unik, kulit Mamak coklat eksotik dari ibunda Mamak yang asli Jawa, beradu dengan hidung dan mata yang sangat indah, seperti mata dan hidung seniman Jepang Yoko Ono.
Mamak melihatku menangis, Mamak menarik kursi meja makan. Ikut menemaniku duduk makan.
“Sam, Mamak dan Laura bahagia. Kamu bahagia juga kan Sam? Jangan dipikir yang tidak kita miliki Sam, tapi sayangilah apa yang kita miliki sekarang.” Mamak ikut tersedu-sedu, Mamak tahu kalau mulai cengeng begini, aku pasti sedang melamunkan Papak.
“Iya Mak, jangan ikut-ikutan sedih Mak. Aku janji, satu semester lagi, aku pasti sudah diwisuda. Tentang pekerjaan Laura, aku sudah pasrah Mak. Asalkan Mamak janji padaku, Mamak dan Laura akan tetap membutuhkan aku…Mak, aku pengganti Papak kan ya Mak?”
“Iya Sam, hanya kamu, hanya kamu yang bisa menggantikan Papak.” Mamak menjawab dengan pasti.
Kali ini fitur Mamak menjadi semakin canggih, Mamak cantik, dan tangguh, seperti Kate Blackwell di buku Ratu Berlian karangan Sydney Sheldon kesukaanku.
“Sam, adikmu Laura sudah besar, jangan masuk lagi ke kamarnya yah dan mengganggu barang-barang pribadinya.” Mamak berbisik dengan lembut. Sebeledu Princess Diana!
Aku mengangguk setuju, sambil menyendok nasi ke piringku. “Tapi Mak, besok-besok aku akan tetap mengintainya, apa dan bagaimana dia di luaran.”
Fitur Mamak langsung berubah seperti wajah Van Helsing berhadapan dengan Frankenstein. Antara iba dan ingin membungkamku.
***
Pagi itu, Laura turun dari angkot di depan baby shop di  Mayjend Sungkono. Dia tidak sadar kalau aku ada di belakangnya. Aku dan Ardi bersembunyi di balik tiang iklan. Dengan helm teropong menutupi wajah.
“Aduh Sam, aku tak tahu adikmu secantik itu.” Ardi ngoceh sendiri di belakangku. Wajahnya sudah pasti menjadi giras dan memuakkan. Kalau bukan karena aku butuh motornya, sudah pasti aku tak sudi berboncengan dengannya.
“Aduh Sam,” Ardi mulai mengaduh lagi.
Laura, adikku, si cantik yang tinggi ramping, Tuhan mengaruniakan rambut lebat yang halus melewati bahunya, tergulung alami dengan indah. Dia benar-benar bisa menjadi pemeran pengganti artist Jennifer Lawrence. Tapi wajahnya bagiku adalah tetap Laura yang digendong Papak masuk ke dalam rumah, di hari kelahirannya. Bayi merah yang jelek dan berkulit kisut.
“Aduh, Sam! Adikmu dijemput mobil mewah!” Aduh yang kali ketiga ini, Ardi kesenangan, seolah dialah  yang berhasil membuktikan bahwa ada yang salah dengan Laura.
Aku ingin merasa remuk tapi tak mampu. Papak…lihatlah apa yang anak kesayanganmu lakukan sekarang. Lihatlah apa yang telah Papak lakukan kepada kami.
Papak dan Laura sudah tidak membutuhkanku lagi.
Sayup-sayup telingaku mendengar lagu Sleeping Child dari MLTR. Tapi nadanya sumbang dan mbliyut-mbliyut.
I’m gonna cover my sleeping child
Keep you away from the world so wild
Keep you away from the world
Away from the world so wild
sumber gambar pinterest
Share.

About Author

Suka makan dan suka menulis. Sangat senang jika bisa mendapat masukan langsung dari pembaca seword. Please tell me your dreams...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage