Cinta yang Kulepaskan (Membebaskan Hati Bagian 3)

Cinta yang Kulepaskan (Membebaskan Hati Bagian 3)

0

Saat ini aku dekat dengan Mas Doni, kakak angkatan kami. Hubunganku dengan Mas Doni sebenarnya sangat membingungkan. Sejak  semester 2 yang lalu, Mas Doni mendekatiku. Dia sering sekali main ke tempat kosku. Tapi aku tidak pernah menyadari bahwa dia mencariku, karena dia juga sering menemui Wita dan Nesya, teman kosku. Sampai suatu hari Mas Doni menungguku setelah selesai kuliah dan mengajakku bicara di perpustakaan. Di situ kami duduk berhadapan, dipisahkan meja perpustakaan yang lebar. Canggung sekali situasinya. Agak malu-malu, dia mengatakan dia suka padaku. Bukan, tepatnya dia bilang dia cinta padaku. Aku benar-benar bingung dibuatnya. Mana mungkin dia cinta padaku, dia belum mengenalku. Aku memang sering merasa dia memperhatikanku dari tempat duduknya saat kami mengambil mata kuliah yang sama. Dan aku juga tahu teman-temannya sering menggodanya saat aku melintas. Tapi cinta padaku? Kupikir ini pasti salah.

Lagipula dalam bayanganku mestinya bukan begini rasanya “ditembak”. Mestinya aku merasa berdebar-debar, salah tingkah, tersipu-sipu, dan bahagia, seperti yang dituliskan di novel novel yang kubaca. Tapi aku tidak merasakan itu semua. Aku hanya merasa bingung. Tidak tahu apa yang harus kukatakan. Tidak tahu harus bagaimana.

Lama aku terdiam. Berpikir apa yang harus kukatakan. Apa yang harus kulakukan. Melihatku diam saja, Mas Doni beranjak dari tempat duduknya dan bergeser mendekatiku. Aku semakin merasa tidak nyaman, dan memutuskan untuk bicara.

“Mas, tolong jangan salah paham. Aku berterimakasih Mas Doni sudah mengatakan itu semua. Tapi kukira itu salah, nggak mungkin itu cinta. Mas Doni belum benar-benar kenal aku kan?” Aku tahu penjelasanku mengambang.

Mas Doni mengulurkan tangan, akan mengambil tanganku. Aku menggeser tanganku perlahan, berusaha menghindarinya.

“Beri aku kesempatan untuk mengenalmu, Di. Aku tahu kamu berbeda dari teman-teman cewekku yang lain dan aku sudah memperhatikanmu sejak kamu masih mahasiswa baru di sini. Aku ingin jadi pacarmu. Aku ingin dekat denganmu dan makin mengenalmu”.

Aduh bagaimana ini… dalam hati aku mengerang. Aku ingin lari menjauhinya, benar-benar merasa tidak nyaman berada dalam posisi ini. Tapi itu tidak sopan, itu akan menyakiti hatinya. Mas Doni yang kutahu selama ini adalah teman yang baik, dia juga laki-laki yang sopan. Kukira ada juga beberapa teman wanita di angkatannya yang jatuh hati padanya. Tapi aku tidak.

Tidak tahu lagi bagaimana harus mengelak, kukira aku harus jujur padanya.

“Mas, maaf… tapi aku tidak merasakan hal yang sama. Aku senang berteman denganmu, tapi itu saja. Tidak lebih dari itu. Jadi kukira kita tidak bisa pacaran.” Keluar juga akhirnya.

Aku tidak sampai hati, raut wajahnya terlihat kecewa. Dia menunduk agak lama. Situasi yang benar-benar tidak menyenangkan, juga bagiku.

“Mas…”, tegurku.

Akhirnya dia menatapku lagi, tersenyum.

“Nggak apa-apa, Di. Aku tahu kamu belum begitu mengenalku. Tapi beri aku kesempatan, ya? Supaya kamu bisa lebih kenal aku”.

“Bagaimana caranya? Aku tidak mau pacaran”, kataku bersikeras.

“Kamu tidak usah menganggap aku pacarmu. Biarlah kita tetap berteman seperti kemarin-kemarin. Kamu nggak keberatan kan?” Mas Doni sungguh mengharap.

Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia tidak bersalah, dia hanya menyatakan cinta padaku. Aku justru merasa sangat berterimakasih padanya. Tapi aku tidak bisa membalas dengan perasaan yang sama. Sekarang dia hanya meminta bisa tetap berteman denganku. Mungkin dia berharap suatu saat nanti aku bisa mencintainya.

“Tentu saja kita tetap berteman, Mas. Aku senang berteman denganmu. Selama ini Mas Doni teman yang baik. Tapi aku hanya bisa sampai disitu saja. Aku nggak bisa lebih dari itu. Jadi sebaiknya mas Doni jangan terlalu berharap”.

Mas Doni tersenyum sabar, “Kita nggak tahu apa yang akan terjadi di depan, Di. Kita jalani saja seperti biasa, tetap berteman. Kamu boleh anggap aku teman, kakak, atau apa saja. Tidak usah berubah”.

Aku menghela nafas, tak tahu lagi bagaimana harus menjawabnya. Baiklah kalau begitu. Aku ingin cepat-cepat keluar dari situasi ini.

Sejak saat itu, aku punya hubungan tanpa status dengan Mas Doni. Mas Doni selalu berusaha menjadi teman yang baik, dan aku juga tidak pernah menolaknya. Mas Doni sering main ke tempat kosku, atau menungguku selesai kuliah. Dia tidak pernah mendesakku lagi. Tapi dia selalu ada di sekitarku. Saat dia berkunjung ke tempat kos, kami mengobrol di teras sambil aku membawa buku yang sedang kubaca, atau tugas kuliah yang sedang kukerjakan. Kadang-kadang dia mengajakku jalan-jalan, atau membawakanku oleh-oleh dari kampungnya. Aku cukup menikmati “persahabatan” kami. Aneh juga menyebutnya begitu. Aku sudah benar-benar menganggapnya sebagai kakak laki-laki yang tidak pernah kumiliki. Kalau aku merasa membutuhkan ruang karena dia terlalu sering mengunjungiku, aku tinggal mengatakannya padanya. Dan dia akan mengurangi kunjungannya.

Kami benar-benar hanya berteman. Aku tahu dia mengharap lebih, tapi aku tidak pernah membiarkannya. Mas Doni tidak pernah menyentuhku, karena dia tahu aku tidak akan menyukainya. Mungkin juga karena dia menghargaiku.

Aku masih belum bisa menganggap dia pacarku. Walaupun teman-teman kampus menganggap kami pacaran. Aku tidak terlalu memikirkannya. Biar saja.

Tapi aku sendiri juga menyadari, mas Doni tetap berharap hubungan ini bisa berkembang lebih dari itu. Waktu itu, sudah hampir 4 tahun sejak dia menyatakan cinta padaku. Kami sedang bersama, aku mengerjakan tugas dan dia memainkan ponselnya. Aku bisa merasa dia malah asyik menatapku.

“Kenapa ngeliatin aku terus? Suka, ya?” Tanpa mengangkat wajahku dari buku, aku menggodanya.

“Di, setelah kita lulus, menikah denganku ya?”

Barulah aku menatapnya serius. Sepertinya Mas Doni tahu, perasaanku terhadapnya belum berubah. Aku belum bisa menerimanya.

“Mas, saat ini aku sama sekali tidak memikirkan pernikahan. Masih jauh sekali kurasa. Selesai kuliah aku masih ingin bekerja. Dan… kupikir Mas seharusnya menerima Mbak Neny. Kulihat dia naksir sama Mas Doni.”

Aku mulai berpikir untuk mengakhiri saja semua ini. Sebelum terlalu jauh, sebelum semakin melukai.

“Mas… jangan mengharapkan aku ya? Kita bersahabat, aku menganggap mas Doni seperti kakakku. Kalau mas Doni tetap mengharapkan kelak kita menikah, aku takut Mas Doni nanti kecewa. Mungkin kita tidak usah lanjutkan lagi pertemanan kita ini,” aku melanjutkan bicaraku.

Mas Doni diam saja, dia menatap keluar lama sekali. Aku tahu dia kecewa. Aku juga diam, memainkan lembaran-lembaran bukuku. Aku sudah jelas-jelas mengatakan perasaanku. Sekarang semua terserah Mas Doni. Aku tidak mau mengambil keuntungan dari hubungan ini. Aku tidak ingin membuat siapapun terluka. Bila Mas Doni merasa nyaman dan ingin berteman denganku, aku akan menyambutnya. Tapi sampai saat ini, aku tidak bisa membayangkan hubungan yang lebih jauh lagi. Dan aku tidak akan membohongi siapapun, dia ataupun diriku sendiri.

Akhirnya setelah waktu yang terasa sangat lama bagiku, Mas Doni kembali memalingkan wajahnya kepadaku.

“Kalau saja bisa, sudah dari waktu itu aku akan menjauhimu, Di. Aku akan melupakanmu, dan tidak berharap apa-apa padamu. Tapi aku nggak bisa. Dan sekarang aku semakin yakin, aku cuma ingin kamu yang kelak jadi istriku”, suaranya pelan dan sangat tertekan.

Aku merasa sangat bersalah mendengarnya. Kenapa aku tidak bisa membalas dengan perasaan yang sama? Sebenarnya apa yang kucari? Laki-laki di depanku ini sudah kukenal dalam hitungan tahun. Selama kurun waktu itu dia sudah membuktikan dirinya sebagai laki-laki yang sangat pantas menjadi pasangan hidup yang baik. Cinta dan perhatiannya padaku sangat bisa kurasakan, walaupun bagiku hubungan kami ini bukan hubungan cinta. Ada apa denganku? Tidak bisakah aku menjalani saja hubungan  sebagaimana yang sudah berlangsung selama ini? Biarlah dia terus mencintaiku seperti kemarin-kemarin.

“Kamu tidak perlu mencintaiku, Diandra. Kamu cuma perlu menjadi dirimu seperti selama ini saja. Itu semua sudah cukup. Aku ingin terus bersamamu. Itu saja, “ hampir menangis aku mendengarnya. Siapakah aku hingga pantas dicintai seperti ini? Aku tidak pantas untuk orang dengan cinta sebesar ini.

Nuraniku tidak bisa menerima. Ini tidak adil baginya. Mas Doni juga berhak dicintai  sebesar dia mencintai. Dan orang yang bisa melakukannya bukan aku. Aku sudah mencoba, tapi cinta itu tidak tumbuh. Aku bisa merasa nyaman bersamanya. Dan aku sangat mempercayainya. Apalagi yang kumau? Mungkin aku terlalu naif. Atau aku sudah diracuni oleh cerita-cerita tentang cinta yang sering kubaca. Mungkin cinta seperti yang selalu kubayangkan itu tidak pernah ada. Rasa berdebar-debar, rasa rindu yang katanya sangat menyakitkan, tidak pernah kurasakan terhadapnya. Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mencoba menghilangkan bayangan-bayangan yang hadir di otakku. Aku mulai merasa ada yang salah dengan diriku.

Mas Doni melihatnya. Diraihnya tanganku, dibawa ke dadanya. Aku diam saja, tak ingin lebih menyakitinya.

“Diandra, aku sayang sekali sama kamu, sampai terasa sakit sekali. Kamu tidak perlu berbuat apa-apa, Di. Seperti ini saja.”

Aku tetap menggelengkan kepalaku, kali ini lebih kuat. Tidak, bagiku ini salah. Ah, pasti aku yang salah. Mas Doni makin kuat menggenggam tanganku, aku tidak bisa menariknya. Aku jadi panik.

“Di… lupakan ya… kita bicarakan lagi nanti ya,” katanya seperti sedang membujukku. “Kita tetap seperti kemarin-kemarin, ya?”

Aku tidak tahu apa maksudnya. Nanti itu kapan?

Sampai sekarang berarti hal ini sudah berlangsung 4 tahun lebih. Mas Doni sudah hampir wisuda. Dia memberiku undangan untuk menghadiri wisudanya. Aku merasa tidak berhak, dan mengatakan padanya agar undangan itu diserahkan untuk kedua orang tua dan kakaknya saja. Aku bukan siapa-siapanya.

“Diandra, kamu masih belum bisa menerimaku? Setelah wisuda ini aku akan langsung bekerja, aku harap antara 6 bulan sampai setahun lagi aku sudah siap mengajakmu menikah, Di.” Mas Doni mengulangi permintaannya.

“Mas… tolong jangan mendesakku. Aku benar-benar nggak bisa berjanji apa-apa. Selama kita berteman aku sudah tahu, kamu laki-laki yang baik. Tapi menikah? Aku belum kepikiran sama sekali, apalagi kuliahku belum selesai. ” Aku masih 23 tahun. Masih banyak yang ingin kulakukan.

“Sekarang kamu sudah wisuda, bahkan sudah diterima bekerja. Jalani aja itu Mas, bukan buat aku, tapi buat dirimu sendiri, buat orang tuamu dan buat masa depanmu.”

Aku tidak tahu, bagaimana aku bisa mengatakannya selancar itu. Tapi aku benar-benar bermaksud begitu. Aku sudah mengatakan sejelas-jelasnya. Aku tidak ingin dia memasukkanku dalam rencana masa depannya, karena aku sendiri tidak bisa memandang diriku di sana. Mas Doni tidak mengatakan apa-apa lagi. Mungkin dia sudah mulai putus asa terhadapku.

Setelah wisuda, Mas Doni langsung berangkat ke Kalimantan, menjalani kontrak kerja setahun di sana. Sebelum berangkat dia berpamitan padaku. Aku melepasnya seperti melepas seorang teman baik yang akan bepergian.

Selama masa itu, Mas Doni selalu menghubungiku dari pedalaman Kalimantan. Mengabarkan kondisinya, bercerita tentang pekerjaannya, dan selalu mengungkapkan kerinduannya padaku. Aku menanggapinya seperti terhadap seorang kakak yang sedang bekerja di tempat jauh.

Suatu hari Mas Doni mengabarkan dia akan mengambil cuti. Dia akan pulang, dan mengajak kedua orang tuanya untuk melamarku. Aku baru sadar, dia tidak akan berhenti. Merasa bahwa perkataanku selama ini tidak didengar, aku jadi kesal. Aku merasa dia benar-benar memaksakan kehendaknya.

“Mas.. tolong dengarkan aku baik-baik. Aku sudah mengatakan berulangkali, sampai saat ini perasaanku masih sama. Aku tidak bisa menikah denganmu. Jangan mengajak orang tuamu ke sini, karena aku tidak bisa menerima lamaranmu. Mas… aku minta maaf.” Aku membenci diriku sendiri saat mengatakan itu. Betapa jahat perkataan itu. Tapi tak ada cara lain lagi. Aku sudah mencoba berulangkali, selama bertahun-tahun.

Seminggu kemudian Mas Doni bersikeras pulang dan mengambil cuti. Dia langsung menemuiku. Dari wajahnya aku tahu dia sudah pasrah. Duduk di ruang tamu kostku, dia langsung bicara.

“Diandra, aku tahu aku harus berhenti. Aku sangat mencintaimu, kamu sudah tahu, kan? Bahkan jauh di Kalimantan pun, aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Aku juga tahu selama ini kamu hanya menganggapku teman. Tadinya kukira itu tidak apa-apa, asal aku bisa terus bersamamu. Tapi aku sadar, aku harus realistis. Hubungan ini tidak akan kemana-mana, bila kamu tetap tidak mau membuka hati buatku,” Mas Doni terdiam sejenak.

“Maafkan aku, Mas,” aku berbisik lirih, sadar telah sangat menyakitinya.

“Nggak, Di.. bukan salahmu. Sejak awal kamu sudah mengatakan secara jelas. Aku yang memaksamu memberiku kesempatan. Bukan salahmu juga, kalau kamu tidak bisa membalas perasaanku. Tapi aku tahu kapan harus berhenti, karena rasanya semakin sakit, Di,” kata-katanya tertahan lagi.

Oh, Tuhan… apa yang sudah kulakukan?

“Ini terakhir kali kita bertemu. Mungkin menurutmu tidak perlu seperti ini. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti memikirkanmu, berhenti menginginkanmu. Sementara aku tahu kamu ada. Bersamamu semua terasa indah, Di. Aku ingin terus begitu, selamanya. Tapi aku tahu itu akan membuatmu menderita, dan membuatku semakin sakit. Diandra, maafkan aku… Satu-satunya caraku melakukan itu cuma dengan cara menganggapmu sudah tidak ada di dunia ini lagi.”

Aku terdiam. Setetes air mataku turun. Aku tidak tahu apa yang kutangisi. Persahabatan, kenangan, atau harapan yang hancur di depanku? Benarkah ini yang kuinginkan? Aku tidak tahu apa yang baru saja kulepaskan. Ada sesuatu yang rasanya tercabut dari hatiku, terasa kosong dan perih. Dan itu adalah kali terakhir aku bertemu dengannya.

Share.

About Author

Seorang wanita yang ingin bercerita tentang cintanya pada Indonesia

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage