Hanya Aku yang Pantas (Tidak Sia-sia Bagian 3)

Hanya Aku yang Pantas (Tidak Sia-sia Bagian 3)

10

Benarkah cinta tidak bisa dipaksakan? Mengapa harus ada cinta bila tidak bisa memiliki?

Menjadi pihak ketiga itu menyesakkan. Seharusnya akulah yang diutamakan. Tetapi bagi Tio aku hanyalah hiasan, bukan kekasihnya. Di dalam hubungan kami, akulah yang paling banyak berinisiatif. Aku yang mengajaknya makan malam bersama, aku yang meneleponnya menanyakan kabar, aku yang mengurus segala hal yang tidak diperhatikannya. Membelinya baju baru bila variasi bajunya berkurang. Membelinya sepatu bila sudah rusak. Membawakannya makan siang bila sedang lembur tidak sempat keluar kantor.

Segalanya telah aku berikan dan lakukan untuknya. Segalanya. Lalu apa balasannya? Tidak ada. Setiap kami bersama, dia lebih banyak berpikir sendiri daripada bicara denganku. Atau kalau sedang bicara di telepon, dia lebih banyak diam. Entah dia mendengarkan aku atau melamun. Belum lagi saat menemaniku menghadiri acara bersama. Dia terlihat seperti dipaksa ikut daripada mencoba bersikap ramah pada semua teman-temanku.

Keluarganya juga tidak banyak membantu. Ayahnya sibuk dengan pasiennya, sedangkan ibunya sibuk dengan kliennya. Kami jarang bertemu tetapi mereka juga tidak terlalu antusias bila kami makan malam bersama. Aku sering merasa menjadi pihak yang tidak diinginkan bila datang ke rumah mereka. Kedua kakaknya juga sama saja. Mereka tersenyum dan bicara padaku tetapi aku tahu mereka tidak suka pada hubunganku dan adik mereka.

Aku tahu mengapa Tio tidak juga melamarku. Dia masih mengharapkan suatu hari nanti akan bertemu dengan Vira, cinta pertamanya. Setiap kali kami bertemu dia tidak pernah melihat ke arahku. Tatapannya selalu jauh atau dia sibuk sendiri dengan ponselnya. Selalu ada orang ketiga di antara kami. Iya, seharusnya itu istilah yang benar. Vira adalah pihak yang ketiga. Yang mengganggu hubungan kami. Bukan aku. Tetapi dari cara Tio memperlakukan aku, seolah-olah akulah pihak ketiga itu.

Padahal aku yang lebih dahulu mencintainya daripada Vira. Aku yang lebih dahulu ada di sisinya ketika dia melewati masa kecil yang sulit. Tio kesulitan bersosialisasi dan mendapatkan teman. Akulah yang selalu setia menemani di sisinya. Sampai detik ini. Kakeknya dan kakekku bersahabat baik. Waktu SD dan SMP aku ikut keluarga mereka supaya bisa sekolah di tempat yang sama dengan Tio. Saat SMU aku terpaksa pulang karena kakek sakit-sakitan dan ingin dekat denganku. Yang ternyata masih bertahan hidup hingga aku tamat SMU. Begitu kakek meninggal, aku membujuk papa untuk menyekolahkan aku ke Inggris. Supaya bisa terus dekat dengannya.

Waktu liburan usai ujian akhir SMU dia datang. Tetapi dia sibuk dengan laptopnya dan tidak mau bermain denganku. Saat itulah aku dengar nama Vira pertama kalinya. Kakaknya menggodanya dengan nama itu. Laptop itu sengaja aku hancurkan karena tahu dia selalu ceroboh mengenai kata kunci surelnya. Juga tidak pernah menyimpan alamat surel yang ada dalam daftar kontaknya di tempat lain. Aku melakukannya agar hubungannya dengan Vira berakhir. Aku akan melakukan apa saja asal Vira tidak datang lagi. Supaya akhirnya Tio menyadari kehadiranku.

Tetapi lagi-lagi aku kalah. Mereka bertemu lagi. Di saat aku berniat membujuknya untuk melamarku. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa bersaing dengan wanita itu. Terlalu membekas yang mereka lalui sehingga dua belas tahun terpisah tanpa kabar, mudah saja cinta mereka tumbuh lagi. Mengapa bukan aku? Mengapa bertahun-tahun bersama tidak membuat Tio berpaling hati padaku? Mengapa? Apa yang Vira miliki yang tidak aku miliki?

Aku marah saat dia mengatakan ingin mengakhiri hubungan kami. Dia ingin kembali pada Vira. Enak saja. Setelah hampir empat tahun kami menjalin hubungan, dia mau semudah itu membuangku seperti barang rongsokan? Setelah segalanya yang aku lakukan untuknya, dia mencampakkan aku karena dia telah menemukan Vira?

Meskipun aku berkata tidak. Dia tetap pergi akhir pekan lalu ke rumah Vira untuk bertemu keluarganya. Masih menjalin hubungan denganku dan dia berani menemui perempuan lain? Tidak akan aku biarkan dia pergi begitu saja dariku. Aku mencintainya. Tidak akan ada wanita lain yang mencintainya seperti aku. Tidak Vira atau siapapun juga.

Jarum arlojiku menunjukkan jam tujuh pagi. Sedikit terlambat dari rencana semula. Tetapi aku yakin ada orang di rumah itu. Aku menekan bel yang tersedia di dekat pagar. Menunggu beberapa saat, pintu depan rumah terbuka. Seorang wanita yang sepertinya berusia sama denganku berjalan mendekat dengan senyum di wajahnya. Dia cantik. Mungkinkan ini yang bernama Vira?

“Selamat pagi.” sapaku.

“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya ramah.

“Benar kamu yang bernama Vira?” tanyaku memastikan. Dia mengerutkan keningnya.

“Benar. Kamu siapa, ya?” tanyanya bingung.

“Natasha.” Melihat dia mengerutkan keningnya, aku menjelaskan, “Kita tidak pernah bertemu. Aku tunangan Anugrah Prasetyo atau yang biasa kamu kenal dengan Tio.” Mata perempuan itu membulat. Sudah aku duga. Tio pasti tidak menceritakan apapun tentang aku padanya.

“Tu, tunangan? Kamu bercanda ‘kan?” ucapnya tidak percaya.

“Apa aku kelihatan seperti sedang bercanda?” tanyaku serius.

Dia mengerutkan kening dan menundukkan kepala. Memikirkan sesuatu sambil bergumam, “Oh, tidak. Tidak. Ini tidak benar. Dia bilang dia tidak punya pacar.” Dia menggelengkan kepalanya.

“Silakan tanya dia kalau kamu mau.” saranku. Dia mengangkat kepalanya masih dengan kening berkerut lalu melirik arlojinya.

“Aku tidak punya waktu untuk ini.” ucapnya.

“Aku tidak memintamu untuk repot-repot mempersilakan aku masuk ke rumahmu. Aku juga buru-buru.” timpalku.

Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, menyentuh layar lalu meletakkan benda itu di dekat telinganya. Dia menatapku curiga sambil berjalan menjauh. Semua perempuan sama. Cukup diberi sedikit keraguan, mereka akan marah dan tidak mau mendengar penjelasan dari fakta yang baru mereka dengar. Tio tidak akan bisa berkelit dari ini. Apalagi bukan dia yang pertama kali memberitahu Vira tentang aku.

“Kamu sudah punya tunangan?” ucapnya tanpa basa-basi ke ponselnya. “Jangan bohong. Cukup jawab pertanyaanku. Tidak, aku tidak mau kamu datang. Dia ada di sini. Dia sendiri yang bilang begitu. Aku tidak mau kamu datang, Tio. Tidak ada lagi yang perlu kamu jelaskan. Kamu bilang kamu tetap setia. Kamu bohong. Terserahlah. Aku tidak mau tahu lagi.”

Dia mendesah keras lalu mengusap wajahnya. Ponsel itu dimasukkannya kembali ke dalam saku celananya. Begitu dia melihat ke arahku, aku tersenyum. Kalau sebelumnya dia mau berjalan mendekat sebelum bicara denganku, kini dia hanya berdiri di sana menjaga jarak.

“Kamu tunangan Tio, lalu apa hubungannya denganku?” tanyanya menahan marah.

“Sebagai sesama wanita kamu pasti mengerti maksudku. Kita saling dukung, Vira. Bukan saling serang dan merebut milik yang lain.” ucapku serius. Dia merapatkan bibirnya

“Jangan khawatir. Aku dan Tio tidak akan punya hubungan apapun lagi.” ucapnya tegas. Bagus. Hanya itu yang ingin aku dengar.

“Aku harap kamu pegang kata-katamu barusan.”

Seharian itu aku tidak mendengar kabar apapun dari Tio. Aku kembali ke rumah setelah pulang dari kantor, juga tidak ada kabar darinya. Mungkin dia masih berusaha membujuk perempuan itu untuk mendengarkan penjelasan darinya. Dia harus berusaha keras. Tidak ada perempuan yang suka dibohongi. Melihat reaksi Vira tadi pagi, dia juga bukan perempuan yang suka dibohongi.

Tio baru muncul sehari kemudian. Menungguku di lobi kantorku. Dia terlihat kacau dengan mata lelah dan wajah tidak bahagia. Pasti pembicaraannya dengan perempuan itu tidak berhasil dengan baik. Dia mengajakku makan malam bersama tetapi tidak menawarkan untuk ikut naik ke mobilnya. Kelihatannya dia sangat marah.

Walaupun dia diam saja. Aku tidak melakukan hal yang sama. Aku menceritakan apa yang aku kerjakan sepanjang hari itu di kantor. Dia memeriksa ponselnya ketika benda itu bergetar. Aku berhenti bicara. Melihat ekspresi wajahnya aku bisa menebak pesan itu datang dari Vira. Tio mendesah pelan lalu menyisir rambut dengan kedua tangannya ke belakang kepala.

“Kamu tahu kita tidak bertunangan. Mengapa kamu berbohong padanya,Tasha?” ucap Tio pelan. Akhirnya kami membicarakan topik itu.

“Kita sudah pacaran selama tiga tahun lebih. Tunangan itu hanya masalah waktu.” Aku mengangkat kedua bahuku dengan santai.

“Kita bahkan tidak saling mencintai. Aku bersedia jadi pacarmu hanya karena permintaan alamarhumah nenekmu. Nenek sudah meninggal dua bulan yang lalu, seharusnya sandiwara ini kita akhiri.” ucap Tio serius.

Aku benci sekali setiap dia membahas kematian nenek. Aku sengaja mempengaruhi perempuan tua itu agar bisa bersama Tio. Sayang, nenek meninggal sebelum berhasil membujuk Tio untuk menikah denganku. Tidak ada lagi orang lain yang bisa aku pengaruhi. Seandainya saja aku bisa dekat dengan tante atau salah satu kakak perempuannya.

“Ada apa denganmu?” ucap Tio kesal. “Aku sudah bilang aku tidak mau lagi melanjutkan hubungan ini. Mengapa masih mempertahankannya? Aku tidak akan menikah denganmu, Tasha. Cukup sudah. Aku telah memenuhi permintaanmu, sekarang saatnya kamu memenuhi permintaanku.”

“Silakan. Maka papamu akan masuk penjara.” ucapku serius. Dia merapatkan bibirnya. Tangannya mengepal dan dia memejamkan matanya sesaat. Hal yang dilakukannya saat berusaha untuk menenangkan diri.

“Aku tidak percaya Niko punya bukti yang menunjukkan papa melakukan malpraktik. Kamu pasti sengaja melakukan ini supaya aku tetap bersamamu.” ucapnya curiga.

“Kamu boleh tanya Kak Niko. Dia benar-benar punya buktinya.” tantangku. Dia tidak akan melakukannya karena khawatir apa yang aku ucapkan benar. Dia sangat sayang pada kedua orangtuanya. Cukup libatkan mereka, maka Tio berada di dalam genggamanku.

“Bukan begini Natasha yang dulu aku kenal. Aku tidak pernah mengerti mengapa aku bisa berteman denganmu selama ini.” ucapnya kecewa.

Saat ini Tio hanya sedikit kesal. Nanti juga dia akan menyadari kalau aku yang paling pantas untuknya. Vira pernah meninggalkannya. Perempuan itu akan meninggalkannya lagi. Dua belas tahun, masa dia tidak melakukan apapun untuk menemukan Tio? Bukankah jelas itu artinya dia tidak serius dengan cintanya? Cintaku jauh lebih besar. Aku telah setia di sisinya selama ini. Tio hanya butuh waktu untuk melihat siapa yang sebenarnya dia inginkan.

Wanita itu adalah aku. Hanya aku.

Baru saja masuk ke dalam kamar, ponselku berbunyi. Nama Nikolai muncul di layar. Aku mengerutkan keningku. Aneh. Mengapa kakak meneleponku pada jam ini? Biasanya kakak sedang berada di tempat praktiknya. Apa kakak tidak punya pasien malam ini?

“Hai, kak.” Sapaku riang.

“Tio mendatangiku dan bertanya tentang kasus malpraktik. Malpraktik apa, Tasha?” tanya Kak Niko bingung. Gawat. Dia benar-benar datang bertanya pada kakak.

Seharusnya dia tidak melakukan itu. Dia tidak pernah nekat mencari tahu kebenaran dari ancaman apapun yang aku sampaikan yang melibatkan ayah atau ibunya. Cara itu selalu berhasil. Mengapa sekarang gagal? Minggu lalu dia masih percaya padaku. Sial. Aku tidak berpikir panjang menggunakan ancaman lain yang bisa menakutinya. Ini semua gara-gara Vira. Dia jadi berani menempuh resiko apapun demi bisa bersama perempuan itu lagi.

“Bukan apa-apa, kak. Mungkin dia sedang bingung dengan banyaknya pekerjaannya di kantor.” ucapku berkelit.

“Dia tidak terlihat bingung. Dia marah. Kamu bilang aku punya sesuatu tentang malpraktik. Aku tidak mengerti. Apa kamu menuduhku melakukan malpraktik? Jangan main-main, Tasha. Aku seorang dokter dan tuduhan seberat itu harus ada buktinya. Tidak bisa sembarangan diucapkan.” ucapnya kesal.

“Sudah aku bilang dia sedang bingung. Nanti aku bicara dengannya.” ucapku berusaha meyakinkannya. Untung saja kakak tidak mendengar dengan jelas apa yang Tio ucapkan. Kalau tidak, dia bisa marah besar aku telah menuduh dia menyembunyikan bukti yang sebenarnya tidak pernah ada. Kakak akan lebih marah lagi kalau tahu aku telah membuat tuduhan palsu mengenai ayah Tio. Pria itu dokter idolanya.

“Bagus.” ucap Kak Niko lega. “Dan, Tasha, sudah saatnya kamu lepaskan dia. Kalian berdua terlalu lama saling menyiksa. Nenek sudah meninggal, sandiwara kalian sudah bisa diakhiri. Aku tidak suka melihat adikku tidak bahagia.”

“Aku mencintainya, kak.” protesku.

“Iya. Tapi kamu tidak bahagia bersamanya.” ucapnya sebelum mengakhiri pembicaraan kami.

Kak Niko tidak tahu apa-apa. Aku bahagia bersama Tio. Dan aku bisa jamin dia akan bahagia bersamaku. Mereka semua belum tahu itu. Om, tante, kedua kakaknya, Kak Niko tidak bisa melihat apa yang aku lihat. Tio hanya bahagia bila bersamaku. Mereka tidak melihat bagaimana dia tertawa ketika aku menemaninya bermain saat kami masih kecil di rumah kakek. Mereka tidak melihat dia juga bisa punya teman. Semuanya itu karena aku. Tio membutuhkan aku. Aku, bukan Vira.

Keesokan harinya Tio kembali datang ke kantorku. Hatiku melompat bahagia melihat dia sedang menungguku di lobi. Dia berdiri melihat kedatanganku. Baru saja akan menyapanya, dia lebih dahulu bicara.

“Kamu boleh menyebarkan bukti bahwa ayah melakukan malpraktik kepada publik. Entah itu benar atau tidak, aku tidak peduli. Hubungan kita berakhir sampai di sini.” ucapnya tegas.

“Tio,” protesku.

“Maafkan aku semuanya jadi begini, Tasha. Kamu tahu aku bersamamu hanyalah sandiwara. Bahkan semua orang tahu itu. Tidak ada gunanya lagi hal ini diteruskan. Aku menghargai perasaanmu padaku. Tetapi aku tidak mencintaimu. Aku mencintai Vira. Kamu satu-satunya temanku yang tahu itu. Karena itu aku mengharapkan pengertianmu.” ucapnya serius. “Tidak perlu mencoba mengancamku lagi. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau. Tapi aku tidak akan kembali padamu.”

“Vira hanya akan menyakitimu, Tio. Cintanya tidak lebih besar dari cintaku padamu.” protesku lagi.

“Itu adalah resiko yang ingin aku ambil. Vira pasti akan menyakitiku. Entah dengan sengaja atau tidak. Tetapi aku akan terus memaafkannya. Seperti halnya dia juga akan terus memaafkan kesalahanku.” ucapnya serius.

“Dia akan datang besok ke rumahmu ‘kan?” tanyaku. Wajahnya segera berubah ceria.

“Iya. Ayah dan ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.” Dia tersenyum.

Pagi itu aku sudah menunggu tidak jauh dari depan rumahnya. Bila benar Vira datang, dia akan datang sama seperti saat Tio pergi ke kotanya. Datang pada Sabtu pagi agar mereka bisa seharian bersama keluarganya. Lalu mengantarnya ke penginapan. Besoknya mereka pasti akan menghabiskan waktu bersama sebelum Vira kembali ke kotanya.

Dugaanku benar. Mobil milik Tio keluar dari pekarangan rumahnya. Sambil menjaga jarak, aku mengikutinya dari belakang. Dua jam kemudian kami tiba di bandara. Melihat dia memarkirkan mobilnya, aku memilih lokasi yang tidak terlalu jauh. Aku kembali menjaga jarak saat mengikutinya menuju terminal kedatangan.

Aku tidak tahu apa yang aku lakukan di sini. Tetapi aku tidak bisa hanya diam di rumah dan tidak melakukan apapun. Jalan-jalan seorang diri, aku malas. Menemui kakak di rumahnya, aku benci harus bertemu istrinya yang sok ramah itu. Mirip seperti Vira. Di depanku mereka tersenyum, tetapi aku tahu di belakangku mereka menghinaku habis-habisan. Justru perempuan seperti itu yang disukai Tio dan Kak Niko. Mereka berdua sama saja bodohnya.

Dari pintu beberapa orang keluar sambil membawa koper mereka masing-masing. Melihat wajah Tio berubah ceria, aku tahu Vira akan muncul sesaat lagi dari balik pintu itu. Dia terlihat cantik dengan blus berwarna merah berlengan pendek. Panjang roknya sedikit di atas lutut. Cukup formal untuk bertemu dengan calon mertuanya. Yang seharusnya adalah calon mertuaku. Mereka berpelukan sesaat lalu Tio mengambil koper kecilnya dan menggandeng tangan perempuan itu.

Aku kembali menjaga jarak saat mengikuti mereka. Mungkin kalau aku terang-terangan berjalan tepat di belakang, mereka tidak akan menyadari kehadiranku. Mereka tampak sedang dimabuk asmara dengan berjalan begitu dekat. Seharusnya aku yang ada di sisi Tio saat ini. Tanganku mengepal melihat Tio membukakan pintu mobil untuk Vira. Dia tidak pernah melakukan itu padaku bila kami bersama di mobilnya.

Aku melihat sebuah kesempatan ketika Tio berjalan mendekati sisi pengemudi. Begitu dia membuka pintu, aku mengambil kunci dari tangannya dan mendorong tubuhnya menjauh. Mungkin terlalu terkejut, dia tidak sempat mencegahku masuk ke dalam mobilnya. Aku mengunci pintu sentral sehingga Vira tidak bisa membuka pintu di sisinya, lalu menyalakan mesin. Tio mengetuk-ngetuk pintu mobil dan Vira berteriak marah yang hanya aku abaikan. Melihat tidak ada mobil di belakangku, aku memundurkan mobil dan segera melaju dari tempat itu.

“Apa yang kamu lakukan?” ucap Vira panik. Cepat-cepat dia memasang sabuk pengamannya. “Hei, hentikan mobil ini. Tio ketinggalan di belakang.”

Dia tidak melanjutkan ucapannya ketika aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrak pembatas jalan di dekat pos penyerahan karcis masuk. Mobil aku kendarai secepat mungkin. Aku tidak bisa memiliki Tio, maka dia juga tidak. Vira harus mati. Aku bisa menabrakkan sisi penumpang mobil supaya dia mati. Kalau Vira mati, Tio akan menjadi milikku. Hanya aku yang pantas bersama Tio. Hanya aku yang mencintai Tio tanpa syarat. Hanya aku yang mau tinggal di sisinya sampai kapan pun. Hanya aku yang tahu apa yang dia butuhkan. Hanya aku!

Aku mencintai Tio. Aku ingin menjadi wanita yang bisa membahagiakannya. Sedari kecil hanya itu yang aku inginkan. Sejak pertama kali dia tertawa karena guyonanku, aku menyukainya. Dan aku ingin bisa terus membuatnya tertawa. Apa yang kamu lakukan sekarang tidak membuatnya tertawa, Tasha. Itu karena dia tidak mengerti. Suatu hari nanti dia akan mengerti dan memaafkan aku. Tetapi dia bahagia saat bersama Vira. Dia juga bahagia bersamaku. Tidak, bila kamu benar-benar akan membunuh wanita yang dicintainya. Tidak ada yang bisa kamu lakukan, Tasha. Tio tidak mencintaimu, ada atau tidak ada Vira di sisinya.

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan yang menyayat hati. Suara teriakanku sendiri. Tenggorokanku sakit tetapi aku tidak berhenti berteriak sekuat tenaga. Aku tidak bisa menerima ini! Aku tidak bisa hidup tanpa Tio. Tapi kalau dia tidak mencintaiku saat Vira tidak ada, jika aku membunuhnya, Tio juga tidak akan berpaling padaku. Ini tidak adil. Aku tidak mau kehilangan Tio.

Aku menoleh ke samping kiriku. Vira duduk tegak sambil memegang jok kursi seerat-eratnya. Mulutnya tertutup rapat melihat pemandangan di depannya. Mobil aku kendarai begitu cepat membuatnya was-was. Benarkah Tio tidak akan memilihku andai Vira tidak ada lagi? Kembali melihat ke arah depan sebuah mobil ada begitu dekat dengan mobil yang aku kendarai. Cepat-cepat aku menginjak pedal rem sekuat-kuatnya.

Ajaib. Dengan kecepatan tinggi tadi, mobil di belakangku tidak melakukan tabrakan beruntun. Aku menepikan mobil dan menyandarkan kepalaku ke setir. Jantungku berdebar begitu keras. Napasku memburu dan tenggorokanku sakit sekali. Vira masih duduk dengan tegang di kursinya. Dia cantik. Hanya itu. Aku juga cantik. Lalu apa yang dia miliki yang tidak aku miliki?

“Seharusnya kamu tidak pernah datang lagi.” ucapku pelan. Kedatangannya benar-benar merusak hidup dan rencanaku bersama Tio. Dia pantas merasakan apa yang dia rasakan saat ini. Ketakutan setengah mati. Itulah yang terjadi pada siapa saja yang telah merusak hidupku.

Dari arah belakang aku mendengar bunyi sebuah mobil yang mengerem mendadak. Itu pasti Tio. Menyadari tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk membuatnya beralih hati padaku, aku menyerah. Dengan lemas aku keluar dari mobil. Di belakang mobil ada sebuah taksi dan Tio bergegas keluar dengan wajah khawatir. Tidak sekilas pun dia melihat ke arahku saat dia mendekati mobilnya. Aku memasuki taksi dan meminta supirnya mengantarku ke bandara.

Dari kaca depan taksi aku melihat Tio membuka pintu penumpang lalu berlutut di sisi mobilnya. Itu terakhir kalinya aku melihatnya. Dengan wajah pucat pasi akibat perbuatanku sendiri. Aku yang selalu mengatakan cinta padanya. Aku juga yang telah menyakitinya karena cinta.

Share.

About Author

Saya seorang wanita yang suka menulis, membaca, menonton, jalan-jalan, menggambar, mengkhayal dan segala yang gratis. Hehe...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage