Orang Gila Tertawa

Orang Gila Tertawa

3

Lebih Baik Aku Tertawa

Aku mulai paham

Aku mulai paham

Mengapa orang-orang yang kumal dan kadang telanjang

Di dekat tumpukan sampah itu suka tertawa

Mereka dikatakan gila

Padahal mereka tertawa bukan karena gila

Mereka tertawa karena orang-orang yang berbaju rapi dan katanya beragama itu

Lebih bodoh daripada dirinya

 

Di manakah orang waras berada? Bisa bayangkan jika mereka sungguh pemegang pintu surga. Mungkin dibalik pintu itu dipenuhi manusia-manusia tolol dan jenaka! Namun aku masih yakin mereka bukan yang memegangnya! Memegang kewarasannya saja mereka tak sanggup. Jangan-jangan mereka sedang mencobai kita semua dengan naskah terbaiknya. Sungguh kalau begitu berarti siapakah sutradaranya?

***

Di kampungku ada beberapa orang yang katanya gila. Bahkan ada seorang laki-laki yang mempunyai lima istri dan kelimanya tidak waras, katanya. Apakah laki-laki itu waras? Ya. Saya berani menjaminya, dia adalah pamanku! Kadang kalau dia datang ke rumahku, kami selalu bercakap-cakap. Sekarang jangan tanyakan padaku tentang kewarasanku. Aku tidak sanggup menjawabnya.

Pernah suatu kali pamanku bercerita kepadaku bahwa salah satu istrinya digoda oleh laki-laki lain.  Lantas aku bertanya, “Apakah Paman cemburu?” Dia menyahut pertanyaanku dengan gelak tawanya. Pusing juga kepalaku saat kutunggu-tunggu jawabannya, dia masih terus saja tertawa. Aku mulai menerka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin saja laki-laki penggoda itu tidak tahu bahwa bibiku gila.

Setelah puas tertawa, pamanku menyahut segelas kopi yang ada di bibir meja dan tidak segera menyahut pertanyaanku. Kulihat wajah pamanku dan bibirnya seperti hendak berkata. Aku menunggunya. “Laki-laki penggoda itu adalah orang gila,” katanya. “Dia sejak kemarin berjalan-jalan di kampung ini dengan telanjang kaki dan telanjang diri. Lalu aku memberinya pakaian dan makanan. Setelah itu dia mulai mendekati salah satu bibimu yang duduk-duduk di teras rumah. Namun bibimu segera pergi seperti orang ketakutan,” tambahnya. Bibimu berkata bahwa dia takut dengan orang gila itu.

Selanjutnya aku mulai kebingungan tentang letak kelucuannya. Kebingunganku terpecahkan setelah paman menyimpulkan bahwa bibiku ternyata masih waras karena bisa melihat orang yang tidak waras. “Padahal sudah seminggu ini bibimu tidak minum obat yang harus dikonsumsinya setiap hari,” ujar pamanku. “Mungkin dia sudah sembuh, tinggal empat lagi yang belum sembuh,” imbuhnya.

Lucu juga melihat orang yang katanya tidak waras saja masih bisa melihat yang gila. Sekarang bagaimana dengan mereka yang mengaku waras dan berjalan-jalan dengan kerapiannya, bahkan mengaku pemegang pintu surga? Malukah mereka dengan perbuatan yang sudah terlanjur mereka buat atau mereka belum sampai pada tahap sadar? Bisa jadi mereka adalah aktor bodoh yang sedang dikerjai oleh sutradara yang bereksperimen dengan film terbarunya.

***

Dalam gelap malam, mataku berkedip-kedip seperti bintang. Tidak bisa tidur. Aku mulai berpikir tentang hidupku. Aku mulai merasa asing dengan kampungku setelah sekian lama aku tinggal di kota. Aku berpikir tentang film-film yang sudah kubuat dan rencanaku untuk membuat film di kampungku. Terbersit dipikiranku dan tanpa sadar aku berkata sendirian, “Mungkin aku akan membuat film tentang orang gila. Lagi pula aku sudah banyak belajar bulan-bulan ini dari berita dan televisi tentang seperti apa menjadi tokoh-tokoh gila yang berlagak pandai itu. Aku sudah paham orang yang sungguh gila, orang gila yang mulai menemukan kewarasannya, orang yang waras namun mulai gila, dan orang yang gilanya sudah tidak tertolong karena pendalaman karakter yang terlalu lama.”

Lengkap sudah materi gilaku. Aku ingin membuat gaya yang sangat satir! Barangkali bisa menjadi hiburan di bioskop-bioskopnya orang gila. Akan aku undang pula sutradara hebat itu. Aku ingin membuktikan bahwa filmku tidak kalah hebat walau tayang hanya dua jam. Aku sadar aku tidak bisa membuat film hebat seperti sutradara itu. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan dan tayang di mana-mana.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com, jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage