Penglihatan Ketiga 11 – Sang Kancil

Penglihatan Ketiga 11 – Sang Kancil

0

 

Martian tidur-tiduran sambil memeluk guling. Dia kelelahan, semua bocah dan preman parkir sudah habis ditanyainya, apa ada yang melihat Sapar.

Ada yang menjawab dengan wajah super serius kalau Sapar hilang disembunyikan pohon angker di ujung jalan yang akan berbelok ke pantai, ada juga yang sambil menghapus ingusnya bercerita dengan menggebu-gebu apa mungkin Sapar beruntung dijemput sedan hitam mengkilat dan diangkat anak karena yang menjemput Sapar tidak punya keturunan. Preman tua di situ ikut-ikutan sumbang suara kalau Sapar dibawa komplotan penjual anak-anak lintas propinsi. Tapi tidak ada satupun yang bisa memberikan petunjuk berarti.

Kepala Martian pening mendengar semua jawaban-jawaban gila itu, yang bukannya menolong malah membuatnya semakin cemas menjadi-jadi. Tapi secara keseluruhan, tidak ada yang benar-benar peduli dengan menghilangnya Sapar. Bahkan mungkin mereka kesenangan, artinya pemasukan bisa bertambah karena tidak harus berbagi dengan satu orang lagi.

Martian juga sudah menelpon ke tetangganya di kampung, pura-pura menanyakan bagaimana kabar Sapar dan papaknya yang pincang itu. Tetangganya menjawab dengan heran, “Bukannya ikut kau merantau ke ibukota? Papaknya sudah bercerita, kalau Sapar akan pulang kampung bulan depan dengan kau!”

Maka semakin gemetarlah Martian, hampir saja dia menangis ketika menutup telpon. Bisa-bisa dia ditangkap polisi kalau papak Sapar mulai curiga anaknya ada di mana. Bocah ingusan itu, pantatnya akan kuhajar raket nyamuk listrik kalau dia besok muncul di rumah ‘aman’ ini. Martian menghibur-hibur dirinya sambil berusaha menurunkan tensi darahnya.

Kapten juga mulai marah ketika Martian panik sibuk mencari Sapar sampai tidak mengurus ‘kerjaan’ dan malah menyalahkan Martian kok tidak menjaga Sapar dengan baik. Kok bisa Sapar keluar dari rumah ‘aman’ sejak pagi tanpa sepengetahuan Martian ke mana. Bukankah Sapar tinggal bersama Martian? Martian jengkel disalah-salahkan terus, tapi dia tidak melawan, Martian mengakui dia keasyikan ngorok-ngorok karena semalaman kencan di daerah pelabuhan. Kapten juga semakin marah karena menurutnya Martian akan mengundang kecurigaan polisi jika Martian mulai seperti babi hutan mencari Sapar ke sana ke mari.  Ah sial benar kau Martian!

Martian sampai tidak ingin ikut aksi apa pun juga, dan membiarkan komplotannya mengatur segala macam cara ‘belanja’ sendiri. Toh mereka sudah cukup ahli dan luar biasa licin. Toh kapten juga terus menerus ada di rumah ‘aman’ sekarang.

Di samping bantal, ada satu kunci besar dengan kepala hitam yang mewah berukir logo Honda. Martian memainkan kunci yang terikat ke gantungan kunci logam berbentuk singa, bertuliskan Singapore di bawahnya. Andalannya jika beraksi di toko jam atau toko-toko sejenis yang membutuhkan penampilan bermodal.

Setiap menjalankan aksi ‘gantungan kunci’, Martian akan mandi dengan bersih, menyisir rambut ke atas dengan minyak rambut, menutup kepalanya dengan topi hitam keren berlogo nike. Topi itu sedikit banyak bisa menyembunyikan bekas luka di dahinya.

Martian juga akan mengenakan baju kaos berkerah lengan pendek yang modern dan disetrika licin, celana panjang jins yang bersih dan sepatu olahraga dengan sol karet yang nyaman.

Lion akan menunggu beberapa meter dari toko jam, bersembunyi di balik badan mobil yang terparkir di pinggir jalan, dengan mesin motor menyala siap jalan. Martian sendiri akan pura-pura berjalan dari arah parkiran mobil dan masuk ke toko jam pada jam-jam sepi semisal jam makan siang atau pada saat sholat Jum’at.

Di toko jam, Martian akan segera meletakkan replika kunci mobil Honda itu di atas meja etalase. Sehingga pelayan  toko akan merasa yakin bahwa Martian adalah calon pembeli yang memang mampu, datangnya saja naik mobil Honda. Martian terkekeh, mungkin saja tampangnya jelek dan sedikit meragukan…tapi ah matanya bisa bersandiwara dan mengeluarkan sinar yang lembut bagaikan bayi yang lucu. Oscar!

Setelah memilih-milih beberapa model yang  bagus, Martian dengan lihai menyebutkan nama merk-merk jam ‘koleksinya’ di rumah. Penjaga toko akan mulai lengah dan tidak terlalu awas memperhatikan Martian. Martian memasukkan jam bermerk Seiko seharga enam juta  rupiah ke dalam pergelangan tangannya. Sedangkan pelayan toko di depannya sibuk mengembalikan jam-jam lain yang telah dicoba Martian dan merapikannya kembali dalam etalase pajangan.

Pada saat itulah Martian dalam sekejap saja sudah menghilang. Lari dengan cepat tanpa suara dan melompat ke motor yang dikendarai Lion, yang sejak dari tadi sudah menjalankan motor pelan-pelan merapat persis di depan toko. Biar gendut, Martian tetaplah Sang Kancil!

Tertawa-tawa mereka membelah jalan di depan, meliuk-liuk masuk ke gang-gang kecil yang sebelumnya sudah dipetakan Lion dengan berkali-kali mencobanya sendiri.

Pelayan toko mengangkat wajah, melongo dan langsung berteriak-teriak panik tidak beraturan. Berusaha mengejar, berlari keluar dari etalase panjang berbentuk huruf U. Dia kalah tempo! Di atas meja etalase tergeletak gantungan kunci cenderamata kota singa, dengan anak kunci replika mobil Honda. Martian masih punya selusin seperti itu.

Tim ‘patroli’ masuk, menghampiri pelayan toko yang masih saja berteriak-teriak dengan marah karena habis-habisan terkecoh, orang-orang dari seberang jalan mulai berdatangan. Tim ‘patroli’ masih sempat mengulur waktu, delapan detik yang berharga dengan bertanya ke penjaga toko ada kejadian apa. Tim ‘patroli’ langsung melesat pergi berpura-pura ikut mengejar. Orang-orang yang penasaran jadi berpikir, oh sudah ada yang mengejar!

Mengingat itu, Martian mulai jatuh tertidur dengan tawa lebar di bibirnya. Sebayangan juga diingat Martian, pergelangan tangannya ketika memasukkan jam mahal itu – sebelum kesadaran dirinya betul-betul hilang dalam dengkuran panjang pendek dari mulutnya. Punggung tangan, pergelangan tangan…dengkurnya pulas.

Neraka untuknya belumlah tiba.

*

Keesokan paginya…

Dihapusnya peluhnya berkali-kali, keringatnya dingin, padahal udara pagi sudah luar biasa panas. Sesekali badannya menggigil. Kapten sedang sibuk di rumah ‘aman’ dengan semua anggota komplotan, ada pembagian uang dan barang yang harus diatur kapten sebelum maling-maling itu akan saling memaki dan bergulat di tanah dengan pisau terhunus.

Dia sendiri pamit hendak mengunjungi istri tuanya yang tinggal di daerah perkebunan rambutan, sekitar satu jam dari kota. Siti memang sudah lama sakit gondok parah, badannya habis dan kisut digerogoti penyakit yang tidak sembuh-sembuh itu. Kapten setuju saja, dia sedang sibuk sendiri.

Martian memarkir sepeda motornya di pelataran parkir mall. Dan keluar lewat gerbang belakang mall dan mencegat angkot.

Martian mendorong pintu pagar besi karatan, ah tergembok! Martian mencoba membuka gembok dengan menjulurkan kedua tangannya ke dalam, Martian mencoba beberapa anak kunci hingga akhirnya berhasil. Pagar tua ini dari dalam dilapisi dengan seng yang dikaitkan ke jeruji pagar dengan kawat besi secara asal-asalan tapi cukup kuat. Pandangan dari luar maupun dari dalam terhalang seng karatan ini.

Dibukanya kunci gembok pertama di pintu rumah yang terbuat dari plat besi. Berhasil! Masih ada gembok kedua, gembok yang lebih kecil dan seperti mainan saja, berhasil!

Martian mendorong kedua kaitan besi yang terbor ke dalam tembok itu ke samping, pelan-pelan melangkah masuk dan menutup pintu plat di belakangnya.

Bau nikotin yang pekat bercampur dengan aroma rumah yang seperti tidak pernah ditinggali pemiliknya menyerang hidungnya. Samar-samar bau tanah basah berlumut juga menyisip di indera penciumannya. Dulu beberapa kali Martian sempat ke sini, tapi kapten tidak mau kelihatan mencolok di tetangga kalau-kalau mereka tergoda minum dan mabuk di dalam rumah.

Martian tidak berani menyalakan lampu, hanya mengandalkan sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah-celah kawat ventilasi rumah. Ruangan pertama adalah ruangan sederhana beralaskan permadani tua kusam dengan meja kecil yang merapat ke tembok kamar. Ada seperangkat alat pemutar DVD dan televisi tabung yang cukup besar di atas meja itu. Tidak ada kursi.

Martian cepat-cepat berjalan ke dalam, melewati gang kecil di samping kamar kapten yang pintunya terbuka lebar – kosong! Kamar memanjang satu-satunya yang ada di dalam rumah itu hanya terisi ranjang besar dengan seprei berwarna hijau yang norak. Baju-baju tersusun rapi di rak tanpa pintu.Tidak ada lemari di dalam…aman!

Martian menekan dadanya, jantungnya berdetak kencang. Martian mulai bernafas dari mulut, menenangkan dirinya sendiri, “Tenang, tenang, tenanglah…” Begitu kapten selalu menenangkannya, di awal-awal Martian baru saja mulai belajar ikut aksi penodongan.

Martian melewati meja makan kayu dengan dua kursi kayu yang menghadap ke pintu belakang. Meja makan persegi itu kotor, permukaannya habis dihajar puntung rokok. Ada asbak besar dari kaca yang terisi penuh dengan puntung-puntung rokok di atas meja.

Cepatlah!

Martian berdiri tepat di pintu belakang. Bersandar pada kusen, berkelahi dengan akal sehatnya sendiri. Rambut-rambut halus di tengkuknya yang kasar berdiri. Kenyataannya, dia hanyalah bandit kecil, tikus curut, kecoak…pori-pori di seluruh kulit tubuhnya seolah terbuka dengan sendirinya, seperti kulit ayam dengan bulu-bulu yang tercabut habis.

Di halaman belakang rumah kapten, pohon Kamboja Merah itu tampak tumbuh semakin kokoh dan subur.

Mata Martian terpaku pada pompa air sumur kuno dengan cat hijau yang sudah sekarat menempel pada tuas dan batang pipa. Martian sedikit heran, masih ada juga pompa ini. Dipikirnya, kapten sudah mengganti dengan pompa air modern yang menggunakan listrik.

Iseng-iseng Martian mengayunkan tuas pompa ke atas dan ke bawah, diingatnya kalau di rumah nenek yang dulu mengasuhnya juga ada pompa air kuno sejenis ini.

Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali…ah sudah kering sumurnya. Sudah tidak pernah dipakai. Terdengar suara kosong yang merana dari pompa air itu, bercampur bau besi berkarat yang aneh.

Martian kembali memandang jauh ke pohon Kamboja Merah, ada lubang yang dangkal di bawahnya. Beberapa bungkus rokok, kemasan-kemasan kosong botol mineral, botol-botol kosong bir hitam dan tumpukan daun kering hampir memenuhi lubang sampah itu.

Martian mulai merasa lega. Ah, tidak ada apa-apa di sini, kakus dan kamar mandi juga kosong. Rasa-rasanya hantu pun takut gentayangan di sini. Martian memaki dirinya sendiri, “Semprul, mana mungkin kapten yang menculik Sapar? Goblok kok tidak kira-kira! Bisa jadi bekas cakaran kuku yang sempat dilihatnya di punggung tangan kapten itu akibat pacar kapten yang terlalu bersemangat!

Martian segera berbalik, yang pasti dia ingin segera menghilang dari rumah ini. Dan muncul kembali di tempat lain. Martian takut kedapatan! Aduh malang benar kau Martian…untung belum mati pula kau kena kegoblokanmu sendiri!

Martian seketika itu juga berdiri membeku, tubuhnya belum berbalik dengan sempurna. Udara panas bertiup di tengkuknya, tapi badannya kembali menggigil. Jantungnya seolah melesak dan terbang keluar dari daging dadanya. Terdengar oleh telinganya, kucuran air, menghantam lantai semen di bawah mulut pompa air. Diikuti suara melolong bercampur dengan udara kosong yang terhambur dari mulut pipa, terdorong keluar dari perut bumi yang paling dalam.

Hidungnya mencium bau busuk yang sungguh mengerikan, nerakanya sudah di depan mata!

bersambung…

 

Share.

About Author

Suka makan dan suka menulis. Sangat senang jika bisa mendapat masukan langsung dari pembaca seword. Please tell me your dreams...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage