Penglihatan Ketiga 12 – Para Tahanan Bawah Tanah

Penglihatan Ketiga 12 – Para Tahanan Bawah Tanah

5

Martian muncul di pintu rumah ‘aman’ dengan wajah pusat pasi, maut seolah-olah sisa sejengkal saja dari nyawanya. Kali ini tidak ada seorangpun yang berani menertawakan Martian, padahal biasanya, baru mencungul di pintu rumah saja, sontak mereka sudah tertawa-tawa sendiri.

“Dadaku sesak, mungkin sebentar lagi aku akan mati. Mantoh, bantulah aku, cari apotik paling dekat. Tanyakan obat untuk dada sesak dan degup jantung yang tidak beraturan. Belikan langsung, kalau pegawai apotik tanya mana resep dari dokter, kamu ‘Oscar’ saja seperti biasa. Pasti langsung dikasih!” perintah Martian dengan wajah sangat serius sambil menyodorkan lipatan uang seratus ribu. Mantoh yang ikut pucat, segera berdiri, mengambil helm dan langsung pergi. Dia takut kehilangan Martian. Badut kesayangan mereka.

“Jangan ribut…aku mau tidur!” Martian masuk ke dalam, melangkah pelan-pelan. Mendekat ke kamar kecil tempat kapten biasa istirahat, “Kapten, aku tidak jadi ke rumah Siti. Di perjalanan aku gemetar, rasanya aku terkena sakit jantung, susah bernafas…” bisiknya lirih. “Aku ijin istirahat dulu kapten, Mantoh sedang beli obat di apotik. Habis ini pasti sembuh.”

Terdengar suara kapten dari dalam, suara yang sedang keenakan, “Istirahat saja kalau begitu, sudah stress kau itu kena Sapar!”

“Baik kapten,” Martian berjalan ke belakang, ke kamarnya yang tepat berada di sebelah kamar kapten. Martian membuka pintu kamar tapi tidak langsung masuk ke kamarnya sendiri. Martian segera melompat ke dapur yang hanya selangkah saja jaraknya. Dengan hati-hati dan tanpa suara, Martian mengeluarkan serenceng kunci dari dalam kotak kayu di dekat galon air minum. Dan menukarnya kembali dengan serenceng kunci rumah milik kapten yang sebenarnya. Kapten selalu meletakkan kunci rumahnya di kotak kayu itu, begitu tiba di rumah ‘aman’ supaya tidak mengganjal dalam kantong jika sedang berleha-leha di sini. Apalagi jika sedang dalam aksi, isi kantong harus kosong.

Tadi pagi begitu keluar dari rumah, Martian juga sudah mengatur agar Pak Mul tukang pijet urat langganan sudah datang untuk memijat kapten. Martian punya waktu dua jam sebelum kapten tahu kuncinya telah tertukar.

Martian masuk dalam kamar, mengunci pintu, melepas sepatu dan membuang tubuhnya ke kasur yang digelar di lantai. Tulang-tulangnya seperti tercabut dari dagingnya, ditutupinya tubuhnya dengan sarung tipis lusuh kesayangannya. Tubuhnya bergetar, matanya membelalak. Dia tidak sedang ‘Oscar’, jantungnya memang benar-benar sedang bermasalah.

“Tenang, tenanglah…” Air matanya mengalir keluar. “Aku sudah mengatur acara penguburanku dengan sempurna.”

*

Aku melihat wajah yang seperti sedang melihat hantu itu dari jendela rumah. Pak Naswir terlihat bercakap-cakap dengan laki-laki gendut yang sepertinya pernah kulihat sebelumnya. Aku segera keluar, mendekat ke pagar.

“Kamu yang pernah berdiri di samping Darmawan ketika aku menjemput Misnah di Gang Ular?”

Wajahnya seperti kehilangan darah, dengan lemah mengangguk. “Iya oma,” jawabnya seperti anak kecil yang akan kena hukuman.

“Katakan pada Darmawan, aku menolak mati konyol, aku juga tidak takut padanya. Jika berani ke sini lagi dan mengancam aku dan keluargaku, berhati-hatilah. Polisi sudah tahu siapa yang harus diciduk duluan.” ancamku dengan geram. “Dan bukan kalian saja yang punya senjata api!” Mataku melotot jengkel, mungkin karena pada saat-saat sekarang ini nyawaku juga seolah sudah tergadai. Aku tidak takut lagi…

“Oma, bisakah kita berbicara sebentar? Tidak apa begini saja, tapi oma tolonglah bisakah berdua saja?” Wajahnya semakin memelas. Aku mengangguk ke Pak Naswir supaya meninggalkan kami berdua saja.

Sapar menghilang. Luka bekas cakaran yang masih segar di punggung tangan Darmawan. Diingat juga oleh Martian, wajah Sapar yang seperti meringis menahan sakit sehari sebelum menghilang. Martian akhirnya masuk ke dalam rumah Darmawan. Pompa air sumur kuno, airnya berbau bangkai busuk. Juga beberapa anak gelandangan lain yang pernah mereka pungut, ada yang menghilang dan tidak pernah kembali.

Itu yang kurangkum dari bandit yang mengaku bernama Martian ini. Semua diceritakan dengan tergagap-gagap, lirih, dan ketakutan.

Ketakutanku sendiri telah lewat, segala yang disembunyikan roh-roh yang culas itu…akhirnya terbuka seterang-terangnya. Hatiku menangis, bocah-bocah tak berdosa itu…para tahanan bawah tanah.

“Oma, aku tidak mungkin melapor ke polisi. Hanya oma yang bisa. Apa yang harus aku lakukan oma?” Martian kebingungan, terjebak dengan kejahatannya sendiri.

Aku menatap wajahnya baik-baik, mengamati sinar matanya. Dia benar-benar mengatakan semuanya dengan jujur dan apa adanya.

“Pulanglah, lakukan apa yang harus kamu lakukan. Dan aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan. Kamu tidak akan terlibat samasekali.”

Martian mengangguk berterima kasih, “Oma, aku harus pulang.” Wajahnya mulai kembali panik. “Kapten akan segera sadar kalau aku menukar kuncinya.”

“Martian, kamu memang seorang penjahat, tapi kamu tidak terlahir jahat!”

Martian mengangguk percaya.

bersambung…

 

 

Share.

About Author

Suka makan dan suka menulis. Sangat senang jika bisa mendapat masukan langsung dari pembaca seword. Please tell me your dreams...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage