Pertanyaan Sampah

Pertanyaan Sampah

0

Anna, si kecil yang cerdas selalu bertanya,  tak disangka-sangka pertanyaannya cukup merepotkan Papanya, dan hanya kepada Papanya Anna bebas bertanya macam-macam, beda kalau di sekolah Anna langsung dipaksa terbungkam, “Sudahlah Ann, jangan banyak tanya, ikuti saja apa kata Bu Guru” begitulah pernyataan yang diterimanya ketika mengajukan pertanyaan, namun bersyukur ada Papanya yang bisa memahami.

“Papa, sekolah itu menyebalkan ya?, pengen rasanya ngak usah sekolah ahh, sekolah sama papa aja,” Anna curhat dengan lantang.

“Waduh…ada apa Nak?, kok begitu sih, sekolah kan bisa banyak teman, terus guru-gurunya baik, diajarin ilmu pengetahuan, pokoknya sekolah itu asik deh”  hibur Papa Anna.

“Habis kalau sering bertanya malah gurunya menyuruh diam aja, ngak usah bertanya macam-macam, Ann sebel kan kalau begitu, Ann bukan budak yang harus nurut, kan Papa bayar ke sekolah Ann” masih wajah cemberut.

“Aduh…kok bisa gitu ya?, mungkin saja Ibu gurunya lagi capek, kan banyak yang diajarin, bayangkan satu kelas kan banyak muridnya, bukan cuma Ann saja”

“Trus gimana dong dengan pertanyaan Ann?, apakah Ann terus penasaran?”

“Okelah…mungkin baiknya Ann catat terus begitu pulang Anna tanyakan ke Papa, biar Papa yang mencoba jawab, atau kita diskusi, Papa dan Anna berdiskusi, jadi seru kan?” akhirnya senyuman Anna mengemban sedikit.

“Nah, coba kemukakan pertanyaan Ann yang belum dijawab sama ibu guru itu?” tanya Papa Anna.

“Begini Pa?, pertanyaan Ann cuman…yaitu, Mengapa ada sampah di bumi ini?, Apakah Tuhan menciptakan bumi ini untuk menampung sampah-sampah?, ataukah sampah-sampah ini akibat dari dosa-dosa manusia?” Papa Anna menarik nafas panjang, tangan kirinya refleks menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tak gatal,  dalam hatinya bergumang “Pantas aja guru Anna ngak mau menjawab, pertanyaan yang menguras kelori, ngapain juga anak ini  bertanya-tanya tentang sampah?, sampah mah dibuang aja, kenapa ditanya segala?”  begitu gumangnya, dan tak ingin membuat anaknya kecewa, seperti biasa Papa Anna menampilkan diri bagaikan orang paling cerdas namun sebenarnya mencari alasan.

“Mmmhhh…ehem..ehem…, begini nak, entar ya,  sebentar saja, Papa ke toilet dulu sekaligus ke dapur ambil air minum, Anna mau juga minum?” Papa Anna berusaha mencari alasan, agar ada waktu untuk berpikir atau menghubungi temannya perihal pertanyaan itu.

“Lagi ngak haus Pa” Anna geleng-geleng kepala pelan.

Di toilet Papa Anna ambil kesempatan langsung menghubungi temannya melalui gadget alias meng-inbox permasalahan itu, sembari menunggu jawaban, Papa Anna merenung…dan mencoba menyusun jawaban yang bisa memuaskan anaknya.

Beberapa saat kemudian….

“Ahh…lega, oke nak Papa akan jawab pertanyaan tadi”

“Baik Pa…siap-siap menyimak, tadi juga Anna berpikir mau jawab sendiri, tapi biar Papa yang jawab, Papa kan pintar ” Papa Anna tersenyum sumringah mendengar pujian anaknya.

“Jadi sebenarnya kita harus memahami arti sampah itu?, namun ternyata kalau diperhatikan sampah itu bisa didaur ulang sehingga kita tidak menyebutnya sampah, misalnya kaleng-kaleng bekas diolah kembali menjadi barang-barang hiasan dinding” memulai jawaban pengantar.

“Trus tinja hewan gimana tuh?, ” Celetuk Anna.

“Ohh…itu kan bisa jadi pupuk, diletakkan pada tumbuh-tumbuhan dengan teknik tertentu maka tumbuhan-tumbuhan bisa menjadi subur, bukan gitu?” Anna ngangguk-ngangguk.

“Dan sebenarnya ciptaan Tuhan tidak ada yang sia-sia, dan Papa bisa mengatakan tidak ada sampah yang diciptakan, hanya manusia saja menyebutnya sampah, sebagaimana BISA ular yang berbisa itu adalah baik, baik bagi ularnya dan tentu saja tidak cocok bagi manusia alias bisa beracun. Pernah kan dengar tentang ayat bahwa tiadalah diciptakan semuanya ini dengan sia-sia?” Anna memainkan kepalanya atas bawah, seperti sudah mulai mengerti.

“Oh ya Papa… pernah Ann dengar teriakan sampah masyarakat, itu maksudnya apa Papa?, bisa didaur ulang juga?” pertanyaan sudah mulai meningkat.

“Ohh..itu toh,, itu hanya istilah untuk orang-orang yang tidak mendayagunakan hidupnya bagi masyarakat, alias menjadi beban di masyarakat, misalnya perampok, perusak lingkungan, dan berbagai tindakan-tindakan yang sangat merugikan atau membuat kerusakan di bumi ini, tadinya bumi ini indah, sepotong surga telah jatuh namun ada saja orang-orang yang merubah tatanannya dan terjadi ketidakseimbangan, nah terjadilah hal-hal yang menyusahkan. Ngerti kan Ann?” Anna geleng-geleng kepala.

“Mmhhh…maksudnya para perusak ini adalah penyebab adanya sampah?, atau bisa kita katakan bahwa perusak disuatu negeri seperti koruptor, takfiri, dan kaum intoleran mungkin bisa disebut sampah?” Papa Anna tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, Anna pun menyusul takwa itu, ruangan menjadi ramai atas tawa mereka berdua.

“Wkwkwkwkwwk….benar-benar sampah” ucapnya lagi, bahkan Papa Anna memegang perutnya.

“Ann, ada lagi sampah yang perlu disingkirkan dan itu terjadi setiap saat” keadaan kembali mulai serius.

“Apa itu Papa?” tanya Anna penasaran, setelah tawa yang agak lama tadi.

“Yaitu…sampah dalam pikiran, tahu maksudnya?”  Anna geleng-geleng,

“Ngak tahu Papa, kok ada sampah dalam pikiran?, bagaimana itu?”

“Iya…dalam diri ini cuma ada dua, yaitu sifat-sifat Tuhan dan selainnya, yang selainnya ini bisa sampah, maksudnya begitu jiwa atau pikiran ini lengah, bisa saja bisikan-bisikan syetan mengisinya sehingga kita bertindak sesuai keinginan setan, misalnya merasa paling pintar, arogan, mencela dan sinis bahkan pesimis tentang rasa syukur” Anna begitu serius menyimak.

“Ihh…ngeri Papa”

“Nah untuk menjaga agar setan tidak masuk pikiran yang menyebabkan sampah, maka senantiasa harus akal sehat aktif dan tentunya zikir, atau Pikir dan Zikir berpadu, zikir dibarengi dengan pikir mampu memahami sifat-sifat Tuhan yang wajib kita ikuti yaitu sifat-sifat yang telah dicontohkan oleh Nabi terakhir kita, setiap saat selalu menjaga agar jangan sampai ada sampah masuk ke dalam pikiran.”

“Perintah Tuhan?, apa saja itu Papa?, emangnya Tuhan telah memerintahkan kita?” Anna makin penasaran dan tak kapok-kapoknya.

“Iya Tuhanlah dengan cintaNya kita ada, dan secara otomatis kita diperintahkan, kalau tidak mengikuti perintahNya maka bisa saja kita adalah sampah, kalau jadi sampah bisa saja dibuang, kita kan ngak mau jadi sampah?, perintah Tuhan kepada manusia siapa pun dia adalah menghargai atau menghormati alam ini, dan cara menghargainya adalah tidak risih dengan perbedaan yang disaksikannya, baik ia beda agama, keyakinan, dan juga beda argumen atau pendapat, dan tidak iri serta dengki karena berbeda pendapatan”  pernyataan ini membuat Papa Anna melinangkan airmata tetes demi tetes, mengingat dosa-dosanya yang telah lalu.

“Papa…kok nangis?” tanya Anna seperti terhipnotis dengan gaya sedih Papanya.

“Iya nak, papa sangat tidak ingin kita menjadi sampah, namun ternyata bumi ini dimana-mana sampah dikamuflase menjadi bukan sampah atau tampak indah, banyak tipu daya yang terjadi tanpa kita sadari. apalagi keadaan sosial saat ini begitu kompleksnya dan seakan-akan kita tak mampu membendungnya, maka kepada siapa lagi kita memohon kekuatan agar tak menjadi sampah Nak, agar tidak kena imbas oleh sampah itu?”

Mereka berdua berpelukan, meresapi pembahasan hari itu, pembahasan yang makin membuat kedekatan secara spiritual antara anak dan Papanya.

Share.

About Author

Salto (salam Toleran)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage