Salam Sayang untuk Dia 22 – Kembali untuk Bersama Lagi

Salam Sayang untuk Dia 22 – Kembali untuk Bersama Lagi

3

Tidak semua perpisahan memberi konotasi buruk. Karena tidak semua perpisahan berarti berakhirnya suatu hubungan. Berpisah untuk waktu yang tidak sebentar, hubunganku dengan kekasihku justru semakin erat meskipun diwarnai oleh pertengkaran yang melelahkan. Perasaanku padanya kian kuat karena jarak yang memisahkan kami menyadarkan aku bahwa dia ada di mana pun aku ada.

Tidak pernah satu detik pun aku lupa pada Ela. Bahkan ke mana pun aku pergi, aku selalu memikirkannya. Mungkin jarak dari rumahnya ke tempat kerjaku sangat jauh, tetapi kemajuan teknologi yang mempermudah komunikasi membuatnya terasa dekat. Bila rindu mendengar suaranya, aku bisa menelepon. Atau ingin melihat wajahnya, aku bisa melakukan panggilan video. Karena aku jarang menyentuhnya, untuk hal yang satu itu tidak ada masalah.

Membayangkan harus menempuh perjalanan begitu jauh untuk berlibur selama dua hari atau satu minggu, aku memilih untuk tidak pulang. Hanya membuang banyak waktu di dalam pesawat. Selain itu, aku takut tidak mau pergi lagi setelah bertemu dengannya. Apalagi mengingat bagaimana perpisahan pertama kami sebelum aku berangkat. Ela meminta untuk mengakhiri hubungan. Aku tidak mau mendengar kalimat yang sama lagi. Jadi aku memilih untuk menahan rindu lebih lama.

Dua tahun bukanlah waktu yang lama kalau aku dan dia menyibukkan diri dengan pekerjaan dan studi masing-masing.

Namun aku dan Ela punya pandangan yang berbeda mengenai komunikasi. Dia mau kami bicara setiap hari. Aku tidak punya waktu bicara setiap hari dengannya. Bangun pagi aku harus bergegas ke kantor. Malamnya sudah terlalu malam untuk menelepon. Saat di Jepang lebih mudah karena hanya beda dua jam. Di Amerika lebih repot lagi. Saat aku terjaga, dia sedang tidur. Begitu juga sebaliknya. Dia marah kalau aku tidak menelepon setiap hari. Aku tidak suka membuatnya marah. Aku lebih tidak suka kalau sampai dia minta putus lagi. Akhirnya permintaannya aku turuti.

Masalah besar terjadi pada perusahaan tempatku bekerja. Sebagai pimpinan tim yang mendapat tanggung jawab tugas pada hari di mana masalah terjadi, aku harus ikut menjadi saksi yang membela perusahaan. Proses hukum berjalan sangat lama sehingga aku harus tinggal di Amerika enam bulan lebih lama. Ela sangat marah, tetapi aku tidak berdaya.

Untung saja pihak yang menuntut akhirnya menyerah begitu melihat bukti yang kuat dari kami. Perusahaan kami tidak bersalah. Konsumen yang telah memutarbalikkan fakta. Pengacara mereka memilih jalan damai supaya nama baik klien mereka tidak tercemar. Perusahaan setuju asal denda atas pencemaran nama baik perusahaan dibayar dan dilakukan permintaan maaf lewat jumpa pers.

Karena prosesnya lebih cepat dari dugaan semula, aku bisa pulang dua bulan lebih cepat dari perkiraan. Ingat dengan ulang tahun Ela, aku meminta keluarganya untuk menolongku menyiapkan acara kejutan untuknya. Datang dengan memberitahunya untuk menjemputku di bandara terlalu klise. Menemuinya tanpa pemberitahuan di rumah atau kampus juga terkesan biasa saja. Jadi, aku memutuskan untuk memberi kejutan di hari ulang tahunnya.

Pagi itu aku hampir menggagalkan kejutan yang sudah aku siapkan sendiri. Karena tidak tahan lagi menunggu malam untuk bertemu dengannya, aku meneleponnya sebelum pergi ke kantor. Untung saja aku tidak keceplosan memberitahunya bahwa aku sudah pulang. Dua minggu aku merencanakan kejutan itu. Dua minggu juga Ari dan keluarganya sudah repot membantu menyiapkannya. Keterlaluan kalau justru aku sendiri yang menggagalkannya.

Di kantor aku sama sekali tidak bisa konsentrasi mendengarkan ayah yang menyampaikan tugas-tugasku dan menunjukkan ruangan yang menjadi kantorku. Aku ditunjuk menjadi asisten manajer bagian produksi. Yang aku tolak tetapi ayah bersikeras. Aku tidak mau mendapatkan perlakuan istimewa. Aku mau diperlakukan sama seperti pegawai lainnya. Memulai dari awal.

Akhirnya ayah mengalah dan menunjukku menuju bagian perekrutan dan mencari tahu posisi yang lowong untuk aku lamar. Bukannya mendapat posisi bawah yang aku inginkan, aku malah lolos menjadi manajer pemasaran saat mengikuti wawancara di tempat. Ayah datang menemuiku ke ruangan. Begitu pintu ruanganku ditutupnya, dia tertawa. Aku sangat jarang, kalau aku sebut jarang artinya dalam satu tahun hanya satu atau dua kali hal tersebut terjadi, melihat ayah tertawa. Dan kini dia tertawa di depanku.

“Kamu menolak posisi asisten manajer. Sekarang kamu malah jadi manajer.” ucap ayah geli. Aku cemberut mendengarnya.

“Senang melihat ayah bahagia dengan berita ini.” ucapku sarkas.

“Aku harap kamu punya gebrakan baru sehingga bagian perekrutan menganggap kamu pantas duduk di posisi ini mengalahkan pegawai lain yang sudah bertahun-tahun bekerja di divisi ini.” ucap ayah sambil melihat-lihat sekelilingnya.

“Ayah bisa tanya sendiri pada mereka. Aku juga terkejut mereka memberikan posisi ini padaku.” Aku mendesah pelan.

“Kamu masih ada urusan?” Ayah melirik jam tangannya. “Jam kantor sudah selesai. Kita harus pergi sekarang kalau tidak mau terlambat ke rumah Ela.”

“Tidak. Aku sudah siap untuk pulang.” Aku memasukkan ponsel ke dalam saku dan berdiri. Kami bersama-sama berjalan keluar dari ruanganku.

Laura dan Debo menggeleng-gelengkan kepala ketika aku memasukkan kotak demi kotak ke jok belakang mobil. Bukannya ikut membantu, mereka hanya diam saja. Beberapa pelayan menolongku melakukannya. Total ada dua puluh delapan kotak dengan berbagai ukuran yang memenuhi mobil. Sesuai dengan jumlah bulan lamanya kami tidak berjumpa.

Setiap kali berbincang, Ela mengatakan banyak hal yang disukainya. Di Jepang aku membelikan kaus, baju yang bisa dipakainya untuk tampil di konser, yukata dengan motif bunga sesuai warna kesukaannya, jepitan rambut, bros, kipas lipat dengan motif bunga sakura dan berbagai buku berbahasa Inggris. Di Amerika aku banyak membelikan buku yang beberapa di antaranya ditandatangani langsung oleh pengarangnya, beberapa CD lagu konser yang aku hadiri, cenderamata dari tempat-tempat yang aku kunjungi, bubuk coklat yang pasti akan disukainya dan jepitan rambut.

Di rumahnya sudah ada banyak mobil yang parkir di halaman depan. Dodi menunjukkan tempat kosong yang sudah disediakannya untukku di halaman rumah tersebut. Dia masuk lebih dahulu ke dalam rumah, aku harus menunggu di mobil sampai mendapat aba-aba dari Wulan. Menunggu di dalam mobil tanpa bisa keluar menemui Ela yang hanya beberapa langkah jaraknya dariku sangat tidak menyenangkan. Beberapa kali aku nyaris keluar dari mobil dan mengucapkan selamat tinggal pada kejutan yang sudah kami siapkan. Tetapi aku berhasil menahan diri.

Aku nyaris berteriak senang mendapat pesan dari Wulan. Buket bunga yang sudah aku siapkan, aku bawa keluar dari mobil. Dengan langkah tegap aku berjalan menuju pintu depan rumah. Ari baru saja selesai menyampaikan pengantar lagu berikutnya. Tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu. Seiring dengan gemuruh debaran jantung di dadaku. Aku tidak bisa melihat dia di antara kerumunan orang banyak. Ketika seseorang melihat ke belakang, ke arahku yang berdiri di ambang pintu depan, dia bersorak girang. Aku tidak mengenalnya. Yang lain pun melihat ke arahku dan ikut bertepuk tangan.

Entah siapa yang memberi aba-aba, mereka yang berdiri dan duduk di depanku segera memberi jalan. Kursi-kursi pun digeser sehingga aku bisa berjalan ke panggung tanpa halangan. Bukan, bukan panggung. Tetapi Ela. Melihat dia di layar ponsel sangat berbeda dengan melihatnya langsung. Kalau dua tahun yang lalu Ela sangat cantik, sekarang dia semakin cantik. Bahkan dengan air mata membasahi wajah, pipi dan hidung yang memerah, dia cantik.

Kejutan itu berjalan jauh lebih baik dari apa yang aku bayangkan. Ari bernyanyi penuh emosi, aku tidak tahu apakah dia menyanyikannya untuk kami atau memikirkan gadis yang dicintainya. Tetapi aku sangat berterima kasih dia memilih lagu yang tepat. Aku tidak mengerti musik dan tidak tahu lagu apa yang cocok untuk menyampaikan perasaanku. Ari sendiri yang memilihnya. Aku tidak pernah tahu ada lagu yang sesuai dengan keadaanku dan Ela saat ini. Menjemput impian. Iya. Aku pulang untuk menjemput impianku. Menikah dengan tunanganku.

Tidak tahu bagaimana menghibur dia yang sedang menangis, aku hanya memeluknya. Dia menangis tersedu-sedu membuatku ingin menangis juga. Sekuat tenaga aku menahan diri. Menangis di depan umum bukanlah hal yang membanggakan.

Ketika lagu usai, bunyi tepuk tangan memenuhi ruangan. Aku bahagia bisa berada di tengah-tengah orang yang tidak hanya peduli pada kami, namun juga menyayangi kami berdua. Melihat wajah haru mereka, aku tersentuh. Beberapa bahkan bersuit dan bersorak senang. Band memainkan musik, suasana tenang kembali.

Pesta usai, tidak semua tamu pamit pulang. Beberapa dari mereka membantu membersihkan rumah dan segala peratan makan yang tadi digunakan. Sudah siap dengan permintaannya setiap kali ulang tahun, aku memberikan kunci mobil padanya. Dengan langkah riang, dia keluar dari rumah dan mencari mobilku di halaman.

Melihat wajah terkejutnya, aku merasa bangga pada diri sendiri. Karena selama ini aku hanya memberinya satu hadiah, dia pasti tidak menduga hari ini akan mendapat kado sebanyak itu dariku. Ela membuka kotak pertama yang dipilihnya secara acak. Aku tidak membungkus hadiah itu dengan kertas kado sehingga dia tinggal membuka penutup kotaknya saja. Melihat ekspresi wajahnya, aku tersenyum. Matanya membulat indah, mulutnya ternganga. Dia suka dengan kado itu.

“Kimono?” tanyanya terkejut. Aku tersenyum.

“Yukata.” ralatku. Tanpa peringatan dia mendekat dan mencium pipiku.

“Terima kasih, Tara.” ucapnya senang. Jantungku bergemuruh karena ciumannya.

“Sa, sama-sama.” jawabku pelan.

“Bagaimana caranya aku membuka semua kado ini?” Dia melihat ke sekeliling kami. “Aku tidak punya tempat untuk meletakkan kotak yang sudah dibuka.”

“Kita bisa pindahkan ini semua ke kamarmu lalu membuka di sana saja.” usulku. Dia mengangguk cepat. Aku mengeluarkan ponsel dan menelepon Ari untuk memintanya dan adik-adiknya keluar untuk membantuku membawa barang.

Tidak lama kemudian terdengar suara anak-anak yang bersorak sambil berlari mendekati kami. Kiel, Zad dan Rino. Karena tadi aku melihat mereka di panggung, aku tidak melihat banyak perubahan pada mereka. Sekarang begitu mereka berdiri di sisiku, aku melihat perubahan yang sangat besar. Kiel dan Zad sudah nyaris sama tingginya denganku. Rino juga tumbuh lebih tinggi dari hari terakhir aku bertemu dengannya. Dengan senang hati mereka membantu mengangkat kotak-kotak dari mobil ke kamar Ela. Aku dan Ari membawakan sisanya.

Semua kotak itu kami letakkan di atas lantai. Pertama kalinya masuk ke kamar Ela aku tidak melihat kesan feminin. Tempat tidurnya diberi seprai berwarna putih, begitu juga dengan selimut dan sarung bantal. Tidak ada meja rias, hanya ada cermin untuk melihat seluruh badan. Tirai jendelanya berwarna biru tua. Ada lemari pakaian tiga pintu berwarna coklat kayu, meja belajar, lemari buku, hanya lemari kaca berisi begitu banyak boneka yang menunjukkan ini kamar perempuan.

“Kalau kamu pikir kamu akan menemukan warna merah muda di sini, kamu salah. Kalau bukan karena mama yang melarang, dia sudah mencat kamar ini dengan warna biru dengan seluruh perabotan berwarna yang sama.” Ari memutar bola matanya.

“Apa yang salah dengan warna biru?” protes Ela.

“Kak Tara, mengapa banyak sekali hadiah untuk Kak Ela?” ucap Rino mengalihkan pembicaraan. Aku menoleh ke arahnya. “Aku tidak dapat oleh-oleh sebanyak ini.”

“Iya. Mengapa oleh-oleh untuk Kak Ela berlipat-lipat jumlahnya dengan yang untuk kami?” timpal Zad. Dia dan saudara kembarnya menyilangkan kedua tangan di depan dada mereka. Aku sudah bisa membedakan mereka karena sering bersama. Tidak sulit membedakan mereka bila sudah biasa.

“Hari ini Ela ulang tahun. Tentu saja dia mendapat perlakuan yang berbeda.” jawabku sekenanya.

“Jadi kalau aku ulang tahun nanti kakak akan memberiku hadiah sebanyak ini?” Rino memicingkan matanya. Aku merapatkan bibir. Gawat.

“Aku tunangannya. Hadiah untukku harus lebih banyak. Kalian juga harus begitu kalau sudah punya pacar nanti.” ucap Ela. Wajah ketiga anak itu memucat.

“Kalau punya pacar harus kasih hadiah sebanyak ini, merepotkan saja.” ucap Rino sambil berjalan mendekati pintu.

“Apa itu artinya aku harus kasih Cathy hadiah sebanyak ini kalau kami jadi nanti?” Kiel menepuk keningnya. Dia juga ikut berjalan keluar dari kamar.

“Aku masih protes karena Kak Ela dapat hadiah lebih banyak.” ucap Zad serius. “Aku maafkan Kak Tara karena hari ini hari ulang tahun Kak Ela. Lain kali, tidak ada ampun.”

Aku, Ari dan Ela saling bertukar pandang. Setelah Zad tidak kelihatan lagi, kami tertawa terbahak-bahak. Secara fisik mereka bertiga banyak berubah, tetapi sifatnya tidak. Ari meninggalkan aku dan Ela berdua saja di kamar. Pembukaan kado bisa dilanjutkan.

Setelah semua kado dibuka dan mendapat lebih dari lima ciuman darinya, kami beriringan menuju lantai dasar. Keluarganya sudah duduk setengah berbaring di sofa di ruang keluarga. Aku pamit pulang. Adik-adiknya hanya mengangkat tangan mengucapkan selamat malam. Om Niko dan Tante Sandra berdiri dan ikut mengantarku sampai pintu depan. Lagi-lagi tanpa pemberitahuan, Ela menciumku. Di depan kedua orangtuanya dan Ari! Om Niko memicingkan matanya, Tante Sandra tertawa kecil dan Ari hanya memutar bola matanya. Sekali lagi aku mengucapkan selamat malam dan bergegas pergi sebelum papa Ela marah padaku.

Pada saat sarapan di akhir pekan itu, Laura menyampaikan sudah sejauh mana pernikahannya dipersiapkan. Tidak sampai dua bulan lagi pernikahannya akan dilangsungkan. Aku belum pernah bertemu dengan calon suaminya. Kami akan bertemu pada acara makan malam di antara kedua keluarga di rumah. Ayah dan ibu memintaku mengajak Ela juga karena sebagai tunanganku, dia sudah menjadi bagian dari keluarga.

“Apakah aku juga boleh meminta sesuatu dari ayah dan ibu?” tanyaku setelah kami selesai sarapan. Mereka memusatkan perhatiannya padaku.

“Bila diijinkan, aku ingin menikahi Ela bulan Agustus ini. Dia berniat menyelesaikan skripsinya pada semester ini. Itu artinya pada bulan Juli dia akan wisuda. Aku tidak mau menunda pernikahan kami lagi. Bila dia sudah menjadi istriku, aku bisa membawanya ke mana saja nanti aku pergi.”

“Memangnya kamu ada rencana pergi ke mana? Bukannya kamu baru pulang?” tanya ibu heran.

“Tidak dalam waktu dekat, bu. Mungkin suatu hari nanti.” jawabku. “Aku tidak nyaman dengan kondisi kami selama dua tahun terakhir. Aku hanya ingin memastikan hal itu tidak akan terjadi lagi pada kami.”

“Aku akan membicarakannya dengan Niko. Bila dia dan Sandra tidak keberatan, kami akan mempersiapkan pernikahan kalian.” ucap ayah.

“Terima kasih, ayah.” ucapku senang.

Aku menjemput Ela supaya kami bisa pergi berdua sepanjang hari itu. Tempat pertama yang kami datangi adalah restoran di mana dahulu aku pernah bekerja paruh waktu. Hampir semua rekan kerjaku masih bekerja di sana. Pria pemilik restoran itu menyambutku dengan ramah dan kami berbincang cukup lama sebelum aku dan Ela pamit.

Karena dia ingin makan makanan pedas, siang itu kami pergi ke restoran kesukaannya. Dia menceritakan tentang perkembangan penelitian yang sedang dilakukannya. Aku memberitahu pekerjaanku dan promosi besar-besaran yang akan kami lakukan pada minggu depan. Saat makanan datang, kami membicarakan hal-hal ringan. Dia ingin menonton setelah makan, maka kami mendiskusikan film apa yang sebaiknya kami pilih.

“Kalau kita menikah di bulan Agustus, menurutmu bagaimana?” tanyaku setelah kami selesai makan. Dia mengangkat kedua alisnya.

“Oke.” jawabnya cepat.

“Oke.” ucapku senang. “Apa kamu punya impian sendiri untuk bentuk pernikahan kita?”

“Tidak. Asal diberkati di gereja, yang lainnya bukan masalah. Kalau bisa yang sederhana saja. Makan siang atau malam di restoran bersama keluarga dan kenalan. Cukup.” jawabnya.

“Aku tidak yakin ayah dan ibu akan membiarkan kita melakukan resepsi yang sederhana.” ucapku geli.

“Maksudmu, di aula hotel seperti Kak Laura?” ucapnya senang.

“Kalau kamu tidak keberatan. Andai kamu berat, aku bisa minta pengertian ayah dan ibu.” Aku mendukung apapun yang diputuskannya.

“Di aula hotel juga boleh. Seperti saat papa dan mama merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kedua puluh.” Air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Ela? Mengapa kamu menangis?” tanyaku khawatir.

“Aku bahagia.” ucapnya terharu. “Aku akhirnya akan menikah dan mendapatkan calon suami yang bahkan begitu baik. Aku pikir tidak ada laki-laki lain yang sebaik papa.”

“Aku akan berusaha sekuat tenaga membuatmu bahagia, Ela.” janjiku.

“Aku tahu.” Dia menyeka air matanya. “Terima kasih sudah memilih aku, Tara. Terima kasih juga sudah sangat sabar padaku. Kalau laki-laki lain pasti sudah meninggalkan aku karena sangat manja.”

“Perempuan lain juga akan meninggalkan aku karena tidak romantis.” ucapku tidak mau kalah. Spontan dia tertawa.

“Maaf, aku sering mengucapkan itu setiap kali marah.” ucapnya geli. Melihatnya tertawa lagi, aku tersenyum lega.

Setelah membeli tiket di bioskop aku melihat Ari sedang berdiri di dekat pintu masuk salah satu teater. Ada seorang perempuan berbincang begitu akrab di sisinya. Ela segera menarik tanganku mendekati mereka. Ternyata perempuan itu teman kantornya. Di belakang kami datang teman mereka yang lain. Ela mendesah pelan. Dia kemudian mengajakku masuk ke teater di mana film yang akan kami tonton diputar. Aku mengerutkan kening melihat ekspresi wajahnya.

“Mengapa kamu terlihat sedih?” tanyaku bingung begitu kami duduk di tempat duduk sesuai nomor pada tiket. Dia kembali mendesah pelan.

“Sudah dua tahun. Kak Ari masih sendiri.” ucapnya pelan. “Aku benci Julia.”

“Sampai kapan kamu mau membencinya?” tanyaku pelan. Ela cemberut. “Kamu suka atau tidak, Ari mencintai gadis itu.”

“Tapi perempuan itu tidak mencintainya.” protesnya kesal.

“Kalau Julia tidak mencintai Ari, dia tidak akan pergi.” ucapku tidak setuju. “Ari juga tidak akan bertahan mencintai perempuan yang tidak mencintainya.”

“Kamu membela perempuan itu?” ucapnya tidak percaya. “Kalau dia benar-benar mencintai kakak, dia tidak akan meninggalkannya tanpa kata. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Kalau pun kakak melakukan kesalahan, mereka bisa bicara baik-baik.”

“Ela, ini kencan kita. Aku tidak mau membicarakan orang lain.” ucapku mengingatkan. Dia merapatkan bibirnya kemudian mendesah lagi.

“Apa kamu lihat perempuan yang tadi? Kelihatannya dia suka dengan Kak Ari.” ucapnya penuh harap.

“Wajar. Ari laki-laki yang tampan.”

“Kamu juga tampan. Apa maksudmu, kamu juga disukai banyak perempuan?” tanyanya yang membuatku bingung. Kami sedang membahas Ari, mengapa sekarang jadi membahas aku?

“Aku tidak tahu.” Aku melihat ke arah layar yang masih menayangkan video singkat dari film yang akan segera tayang di bioskop.

“Aku penasaran. Apakah selama di luar negeri ada perempuan yang berusaha mendekatimu?” tanya Ela yang dari ujung mata aku bisa melihat dia sedang menatapku dengan serius.

“Tidak perlu dibahas. Bukan hal penting.” tolakku.

“Itu penting karena aku tidak melihatmu selama berada di sana.” desaknya.

“Kalau ada perempuan yang mendekatiku, kamu mau apa? Marah padaku?” tanyaku mulai kesal. Apa dia sedang mencurigaiku tidak setia padanya?

“Perempuan di sana pasti lebih berani daripada di sini. Mereka tidak akan peduli apakah pria itu sudah menikah atau belum. Kalau mereka suka, mereka akan kejar.” ucapnya kesal.

“Perempuan di luar sana tidak seganas seperti di film-film yang kamu tonton atau buku yang kamu baca, Ela. Mereka juga punya moral dan etika. Begitu melihat cincinku atau aku berkata tidak, mereka tidak memaksa.” ucapku tidak mau kalah. Tatapannya melembut.

“Baiklah.” ucapnya pelan. Aku menyentuh tangannya.

“Tidak ada perempuan lain selain kamu. Oke?” ucapku serius. Dia mengangguk pelan. “Aku tidak bisa menghalangi perempuan itu untuk mendekatiku, tetapi aku bisa menolak ada hubungan lebih lanjut.”

“Iya. Maaf, aku bukan meragukanmu. Aku hanya cemburu.” Dia meletakkan kepalanya di bahuku.

Ada dua mobil diparkir di depan rumah saat kami tiba. Bu Anik membukakan pintu untukku dan Ela, lalu mengantar kami ke ruang tamu. Di sana keluargaku sudah asyik berbincang dengan keluarga calon suami Laura. Kami berdua menjabat tangan dan memperkenalkan diri pada mereka kemudian duduk berdampingan di sofa yang kosong.

Keluarga pria itu sangat baik dan ramah. Karena dia juga berasal dari keluarga terpandang, tidak sulit bagi ayah dan ibu untuk menerimanya. Pantas saja. Apalagi laki-laki itu seorang arsitek yang sudah punya nama. Jarak usianya dengan kakakku yang membuatku cukup terkejut. Sepuluh tahun. Tetapi kelihatannya Laura tidak peduli dengan itu.

Pertemuan tersebut berjalan dengan baik. Aku bisa mengenal calon suami Laura, keluarganya juga bisa mengenal Ela. Begitu tahu siapa ayah Ela, mereka tersenyum senang. Firma hukum Om Niko ternyata pernah membantu mereka saat tersangkut masalah hukum. Mereka tidak menceritakan masalah hukum apa yang dimaksud, tetapi aku bisa bayangkan ketekunan Om Niko saat membela kliennya yang terbukti tidak bersalah. Sehingga dia mendapatkan rasa hormat dari orang-orang yang telah ditolongnya. Saingan terberatku dalam mendapatkan pengakuan dari Ela.

Kegiatan promosi pun dimulai. Ada banyak rapat koordinasi yang harus dilakukan dalam satu minggu. Kadang-kadang akhir pekan harus dikorbankan demi bekerja. Ayah tidak peduli dengan biaya. Kami dipersilakan melakukan segala metode yang kami anggap baik untuk mempromosikan produk baru perusahaan. Yang paling mudah adalah memasang iklan di televisi. Yang paling digemari konsumen adalah diskon atau mencoba secara gratis. Bila ada pameran produk, kami juga ikut serta.

Terbiasa dengan ritme kerja yang menguras tenaga dan pikiran, aku menyukai apa yang sedang aku kerjakan. Bergerak dengan cepat dari satu pertemuan ke pertemuan lain. Langsung meninjau lokasi pameran atau bazaar bila ada masalah. Mengorbankan jam istirahat atau makan demi pekerjaan. Kadang-kadang aku mengombinasikan rapat sambil makan siang supaya tetap bisa makan bersama para supervisor dan tim mereka.

Hal itu menyebabkan intensitas pertemuan dan komunikasi dengan Ela jauh berkurang. Ditambah lagi dia juga sibuk dengan penelitiannya. Dari pagi sampai malam dia tidak bisa dihubungi. Kalau pun kami bisa bicara, tidak lebih dari lima menit. Dia harus kembali belajar, sedangkan aku harus menerima telepon dari salah satu supervisor yang melaporkan kegiatan mereka.

Kedua orangtua mengeluhkan kesibukan kami tersebut. Kami ingin menikah, tetapi kami juga yang tidak bisa menyempatkan waktu untuk mempersiapkannya. Sebagai jalan tengah mereka mengajak kami untuk makan malam bersama di rumah Ela. Aku tidak bisa berhenti memeriksa ponsel atau menerima telepon. Ayah mengambil ponsel itu dari tanganku lalu mematikannya. Keadaan pun senyap.

Aku melihat ke arah Ela yang duduk di sisiku. Dia hanya mengangkat bahunya. Aku tidak berani melihat ayah dan ibu karena mereka sedang menatapku dengan tajam. Laura dan Debo tersenyum penuh arti. Ari menutup mulut dengan tangan menyembunyikan senyumnya. Ketiga adiknya sedang asyik memakan kue kering cokelat buatan Tante Sandra.

“Jadi, tanggal sudah ditetapkan, tempat sudah dipesan dan kedua calon pengantin setuju dengan lokasinya. Ada lagi?” tanya Om Niko mencairkan suasana.

“Tara dan Ela harus ke penjahit segera untuk mengukur pakaian mereka. Bila mereka menginginkan ada foto mereka pada undangan, mereka harus segera memilih foto untuk dipasang pada sampul depan. Tapi tanpa foto juga bisa.” ucap ibu menimpali.

“Jangan lupa untuk memilih tempat berbulan madu. Pergilah ke mana saja yang kalian mau.” tambah Tante Sandra.

Mereka menyampaikan begitu banyak hal yang harus kami kerjakan dan persiapkan menjelang hari pernikahan. Kepalaku mendadak sakit karena ada begitu banyak hal yang harus dipersiapkan. Uang bukan masalah karena ayah yang membiayai semuanya. Tetapi detail kecil pernikahan itu tidak bisa tidak harus kami kerjakan sendiri. Sepertinya kedua orangtua kami sedang menghukum kami berdua.

Tetapi mereka benar. Ini pernikahan kami, maka kami juga harus terlibat aktif menyiapkannya. Apalagi akulah yang paling bersikeras agar pernikahan ini dilangsungkan sesegera mungkin setelah Ela tamat kuliah. Ayah dan ibu melakukan bagian mereka dengan baik, begitu juga dengan orangtua Ela. Sekarang adalah giliran kami.

Siang itu aku keluar dari kantor dan menyerahkan segala urusan pekerjaan pada asistenku. Divisi itu tidak akan hancur bila aku tinggalkan beberapa jam saja. Ela tersenyum melihat aku sudah menunggu di samping mobil saat dia keluar dari kampusnya. Dia berjalan mendekat. Setelah dia mencium pipiku, aku membukakan pintu mobil untuknya.

“Maaf, akhir-akhir ini aku sangat sibuk dengan pekerjaan.” ucapku saat mengendarai mobil menuju tempat makan.

“Aku juga sibuk dengan skripsiku.” ucapnya geli. “Kedua orangtua kita terlalu berlebihan.”

“Tapi mereka benar.” ucapku membela orangtua kami.

“Mereka benar.” ucapnya setuju.

Sambil menikmati makan siang, kami menceritakan kegiatan masing-masing dan perkembangan yang sudah lama tidak kami bicarakan. Dengan senang dia menceritakan bagaimana Wulan dan Baskara juga tidak menemui masalah dengan skripsi mereka masing-masing. Begitu kami menghabiskan makanan yang ada di atas piring, aku mengalihkan pembicaraan pada hal yang lebih serius.

“Setelah menikah nanti, apa kamu keberatan kalau kita tinggal bersama di rumah orangtuaku?” tanyaku pelan. Dia menggeleng.

“Aku tidak keberatan. Rumah itu punya banyak kamar. Sayang kalau kamu meninggalkan kamar hanya supaya kita tinggal berdua. Aku menyukai keluargamu. Akan lebih tenang kalau kita tinggal bersama mereka.” jawabnya. “Dan aku juga sudah terbiasa tinggal di rumah yang ramai.”

“Aku senang mendengarnya.” Aku tersenyum. “Kalau kamu rindu dengan keluargamu, kita bisa sesekali menginap di rumah mereka.” Dia mengangguk cepat sambil tersenyum padaku.

“Mama bilang kamarku tidak akan diubah. Aku bisa tidur di sana kapan saja aku ingin menginap di rumah mereka.” ucapnya senang. “Tidak terasa sebentar lagi kita akan menikah. Aku sangat senang.”

Aku tersenyum. “Apakah setelah tamat nanti kamu akan tetap di jalur musik?”

“Iya.” jawabnya cepat. “Aku sudah melihat beberapa sekolah musik yang bisa aku lamar. Target jangka panjang, aku ingin membangun sekolah musik sendiri.”

“Membuka usaha sendiri?” ucapku tidak percaya. Aku tidak tahu kalau dia juga punya bakat berwiraswasta. “Kamu mirip dengan orangtuamu.”

“Aku juga ingin tetap bergabung dengan orkestra dan melakukan aksi sosial dengan mengamen bersama teman-teman. Kami suka kalau hobi kami bisa digunakan untuk membantu orang lain.” ucapnya senang. “Mengikuti konser akan membuatku sangat sibuk tiga sampai empat bulan dalam satu tahun. Aku harap kamu tidak keberatan.”

“Aku tidak keberatan. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan. Kalau aku bisa membantu, akan aku bantu. Mendanai sekolah musikmu, misalnya.” tawarku. Wajahnya berbinar-binar senang.

“Setelah beberapa tahun bergabung di sekolah musik dan melihat sendiri bagaimana sekolah itu dikelola, aku akan menghubungimu untuk urusan dana.” godanya. Aku tertawa kecil. “Terima kasih.” Dia meraih tanganku. Aku menggenggamnya erat.

“Aku harap kamu tidak akan menunda punya anak.” ucapku pelan.

“Tetap terlihat muda di saat anak-anak kita sudah kuliah seperti mama? Itu adalah impianku, Tara. Jadi, aku tidak akan menunda punya anak. Tapi jangan sampai lima orang, ya?” pintanya penuh harap.

“Apakah dua anak terdengar bagus untukmu?” ucapku geli.

“Bagus.” jawabnya senang.

Saling berjanji untuk menyediakan waktu di tengah-tengah kesibukan, kami mengosongkan kegiatan lain pada akhir pekan. Setiap hal yang harus kami lakukan sesuai pada daftar yang diberikan oleh ibu dan mama Ela, kami kerjakan dengan baik. Kami mencoret satu-persatu kegiatan dari daftar tersebut dan lega melihat kami masih berada dalam jadwal.

Pernikahan Laura kami jadikan contoh untuk mempersiapkan pernikahan. Begitu dia dan suaminya pulang dari pulang madu, kami makan malam bersama. Kami mendiskusikan segala detail kecil yang mungkin lupa kami masukkan dalam detail pernikahan. Laura sangat membantu. Saat dia menawarkan diri untuk menceritakan mengenai persiapan malam pertama, aku menutup telinga.

Pada hari wisudanya, Ela mengajak kedua keluarga untuk berfoto bersama. Itu menjadi foto kedua di mana kami berfoto bersama. Foto pertama adalah di hari pertunangan kami. Kedua foto itu digantung di dinding ruang keluarga. Bersama foto lainnya yang dikumpulkan ayah dan ibu untuk mengenang hari bahagia yang dialami oleh keluarga kami.

Pemberkatan pernikahan berjalan seperti yang diinginkan Ela. Hanya dihadiri oleh keluarga dan orang-orang yang sangat dekat dengan kami. Tidak sanggup menahan haru, kami berdua meneteskan air mata saat menyampaikan sumpah pernikahan. Bergantian kami menerima ucapan selamat bahagia dari mereka yang menghadiri upacara pernikahan tersebut. Ela kembali menangis saat memeluk papa dan mamanya. Yang kini juga telah menjadi papa dan mamaku.

Orang-orang pasti bingung dan heran siapa sebenarnya pengantin yang merayakan pernikahannya di aula hotel. Karena ada tiga pasangan yang terlihat bahagia di pelaminan. Ayah dan ibu, papa dan mama, serta aku dan Ela. Hanya mereka yang melihat foto kami di dekat pintu masuk dan yang menerima undangan yang tahu yang mana pengantinnya. Papa dan mama justru lebih mesra daripada kami berdua. Mereka tidak berhenti bergandengan tangan atau bicara begitu dekat.

Kedua orangtua kami sangat bahagia dengan pernikahan kami. Tidak main-main, mereka mengundang begitu banyak orang untuk hadir dalam resepsi. Sebagian besar dari mereka tidak aku kenal. Tetapi kedua orangtua kami mengenalnya. Aku hanya mengenal rekan-rekan kerjaku di restoran, beberapa teman kuliah yang entah dari mana bisa tahu mengenai pernikahanku dan teman-teman lama yang tidak antusias untuk aku temui. Tetapi aku menghargai ucapan dan doa mereka. Teman-teman Ela justru lebih banyak lagi. Tim orkestranya bahkan mempersembahkan dua buah lagu cinta untuk kami berdua dengan alat musik yang mereka bawa.

Lelah dengan segala persiapan hingga berlangsungnya acara pernikahan, kami langsung terlelap saat berada di kamar. Kami hanya sempat berganti pakaian dan membersihkan tubuh seadanya. Terlalu lelah untuk mandi. Bahkan sekedar mengucapkan selamat tidur pun tidak sempat.

Bangun pada keesokan paginya, aku harus memukul kepalaku untuk meyakinkan bahwa aku sedang tidak bermimpi. Di sisiku ada perempuan cantik yang tertidur pulas. Gadis yang dengan gesekan biolanya telah mempermainkan emosi sekaligus mencuri hatiku. Wanita yang semula aku sangka adalah bidadari yang tidak bisa aku raih, justru memberikan dirinya untuk aku miliki. Angela Agnesia Triawan kini adalah istriku.

(Sumber foto: Google Images dengan modifikasi seperlunya)

Cerita sebelumnya:

Salam Sayang untuk Dia 21 – Menanti itu Menyebalkan

Cerita selanjutnya:

Salam Sayang untuk Dia 23 – Menikmati Perbedaan

Share.

About Author

Japanese and English teacher, a writer who's going to be an author, backpacker, mangaka, bookworm, pendukung pemerintahan yang benar.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage