Salam Sayang untuk Dia 23 – Menikmati Perbedaan

Salam Sayang untuk Dia 23 – Menikmati Perbedaan

5

Aku membuka mata dan memperhatikan sekelilingku. Aneh. Ini bukan kamarku. Tempat tidurnya juga dua kali lebih besar dari yang ada di kamar. Saat akan duduk, badanku protes kesakitan. Apa yang aku lakukan semalam sampai nyeri begini? Pinggangku sakit, tangan terlalu lemah untuk diangkat, kaki terasa nyeri terutama pada bagian betis dan paha. Apa semalam aku berenang terlalu lama?

Merasakan ada yang berbeda pada tangan kanan, aku memeriksanya. Cincin tunangan dari Tara masih ada di sana. Tetapi cincin itu tidak sendiri. Ada sebuah cincin lagi yang serupa yang melingkari jari yang sama. Oh. Iya. Aku baru ingat.

Sebuah senyuman terasa mengembang di bibirku. Nyeri di tubuh ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan perasaan yang meluap di dadaku. Kini aku adalah Nyonya Tara Abimanyu. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kami. Jarak juga tidak. Dengan status sebagai istri, aku bisa pergi ke mana saja dia pergi. Tetapi semoga tidak akan ada lagi hari di mana aku harus jauh darinya. Beberapa jam boleh. Aku juga tidak akan di rumah sepanjang hari atau mengekorinya ke tempat kerja. Berpisah untuk satu hari, tidak boleh lagi. Cukuplah perpisahan selama dua tahun itu aku jalani.

Dengan menyeret langkah aku memilih salah satu pintu dari dua pintu yang berdekatan yang ada di dalam kamar. Ruang pakaian. Aku membuka pintu di sebelahnya. Kamar mandi. Enaknya menjadi orang kaya. Punya ruang pakaian sendiri. Dan kamar mandinya? Gila. Bak mandinya besar dan aku bisa berendam berjam-jam di dalamnya. Tetapi bukan itu tujuanku saat ini. Aku terlalu lelah untuk mandi. Setelah membersihkan wajah supaya bersih total dari riasan, aku menyikat gigi.

Kembali ke kamar aku tidak sempat berkeliling atau membuka tirai. Aku hanya menghempaskan badan ke atas kasur dan berusaha untuk tidur lagi. Menyadari ada yang kurang di dalam kamar itu aku segera duduk. Di mana Tara? Apakah dia sudah bangun? Di hari libur pun dia bangun sepagi ini? Ah, aku malas menyusulnya ke ruang makan. Biar saja dia makan bersama keluarganya. Aku kembali membaringkan badan dan sekejap itu juga segera duduk lagi.

Gawat. Iya, benar. Aku tidak tinggal di rumah ini sendirian. Ada orangtua dan Kak Debo juga yang tinggal di rumah ini. Apa kata mereka nanti kalau aku terlambat bangun? Dengan berat aku menurunkan kaki dan berniat berdiri ketika pintu kamar terbuka. Tara masuk sambil membawa meja kecil. Dia tersenyum lalu mendekati tempat tidur. Meja kecil itu diletakkannya di atas kasur. Ada piring berisi makanan dan gelas berisi minuman.

“Sarapan untuk istriku.” ucapnya sambil menyentuh tepi tempat tidur di sisinya. Dengan girang aku duduk dan memperhatikan makanan apa saja yang tersaji di depanku. Bubur ayam, telur dadar, beberapa kerat roti tawar, jus jeruk dan, tentu saja, coklat hangat.

“Terima kasih, Tara.” Aku mendekatkan wajah lalu mencium pipinya. Dia tersenyum. Aku menghirup coklat hangat itu dan senang jenis yang dipilih adalah jenis yang biasa aku konsumsi.

“Apa ini cukup? Ada lagi yang kamu butuhkan?” tanyanya.

“Ini lebih dari cukup.” ucapku senang. “Apa kamu yang membuatnya?”

“Aku hanya menuang jus yang sudah dibuat dan memanggang roti. Bu Anik yang membuat sisanya.” jawabnya jujur. Aku mengangguk mengerti.

“Aku tidak pandai memasak.” ucapku pelan. “Jadi kalau kamu mau makan sesuatu, aku hanya bisa memasak makanan yang mudah dan tidak bisa dijamin rasanya.”

“Ada tukang masak di rumah ini. Kamu tidak perlu khawatir.” ucapnya menenangkanku. Melihat dia tidak membawa makanan untuknya juga, aku meletakkan kembali mug berisi coklat tersebut.

“Kamu tidak ikut makan?” tanyaku heran. Dia tersenyum malu.

“Maaf, aku tidak bisa menunggu sampai kamu bangun. Tadi aku lapar sekali.” Dia mengelus-elus perutnya. Aku mengangguk mengerti.

Semua makanan dan minuman yang ada di atas meja kecil itu aku habiskan tanpa sisa. Tara duduk di depanku sambil sibuk sendiri dengan tablet miliknya. Melihatnya dengan wajah seserius itu, aku bisa membayangkan bagaimana dia saat bekerja. Kalau dilihat baik-baik, dia tampan juga. Tidak setampan papa, Kak Ari atau Baskara. Bila mereka bertiga disandingkan, papa akan menjadi nomor satu dan kakak yang kedua dalam hal ketampanan. Tetapi apa artinya penampilan fisik. Baskara tidak bisa membuatku jatuh cinta. Hanya Tara yang bisa melakukannya. Bahkan tanpa susah payah.

Bila kemarin aku begitu yakin menjawab iya di altar, benarkah aku akan bertahan terus bersamanya? Bagaimana kalau nanti ada masalah besar, apakah aku akan tetap ada di sisinya? Atau andai dia menyakitiku dan kesalahan itu terlalu sulit untuk dimaafkan, apakah aku bisa memilih untuk bertahan? Mama pernah pergi lama dari rumah, yang membuatku jatuh sakit karena tidak tahan jauh darinya. Apakah suatu hari aku akan melakukan hal yang sama? Pergi dari Tara? Bagaimana kalau aku justru tidak akan kembali padanya?

Tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Jika semua itu aku pikirkan sekarang, bisa-bisa aku meminta cerai darinya sekarang. Semua itu sudah aku pertimbangkan. Tidak perlu dirisaukan. Bila ada masalah besar datang, aku tidak akan sendirian menghadapinya. Ada Tara di sisiku. Andai dia melakukan kesalahan besar, aku yakin aku pun tidak  luput dari kesalahan. Kami akan belajar saling memaafkan. Lagipula selama ini kami berhasil melalui segalanya. Nanti pun kami pasti bisa melaluinya.

“Aku masih mengantuk. Jam berapa kita berangkat?” tanyaku sambil menguap pelan. Tubuhku pun sudah berharap bisa istirahat lagi.

“Jam empat sore.” Tara melirik jam tangannya. “Penerbangan kita jam tujuh. Kamu masih punya banyak waktu untuk istirahat.”

“Bagaimana dengan keluargamu?” ucapku segan.

“Ayah, ibu dan Debo masih tidur di kamar mereka.” jawabnya. Aku memicingkan mata.

“Kamu tidak berbohong untuk membuatku merasa tidak enak ‘kan?” tanyaku curiga. Dia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak. Mereka benar-benar masih tidur di kamar.” jawabnya jujur.

Karena Tara punya urusan yang harus dia selesaikan, aku bisa tidur sendirian di kamar. Hal yang sedang aku butuhkan saat ini. Bertahun-tahun terbiasa tidur sendiri, agak sulit untuk tidur bersama orang lain di ranjang yang sama. Bila semalam aku bisa tidur pulas di sisinya, pastilah karena aku sudah sangat kelelahan. Aku membiarkan rasa kantuk memulaskan tidurku kembali. Saat ini aku hanya ingin beristirahat.

Perut lapar tidak bisa lagi ditahan, aku menyerah dan membuka mata. Suasana kamar gelap karena tidak satu tirai pun yang terbuka. Aku tersenyum. Pasti Tara yang melakukannya. Tindakan laki-laki itu memang tidak bisa diduga-duga. Kadang-kadang dia berbuat seenaknya sendiri, di lain waktu dia begitu mengerti dengan apa yang aku butuhkan.

Setelah mandi dan memulas bedak dan lipstik, aku keluar dari kamar. Aku belum pernah berada di lantai paling atas rumahnya. Koridornya cukup luas dan ada beberapa pintu di sekitarku. Pasti itu kamar juga. Kalau di kamar kami ada kamar mandi dan ruang pakaian sendiri, apakah di kamar yang lain juga begitu? Wow. Rumah ini benar-benar tidak hanya besar dari luar. Tetapi di dalamnya juga luas. Bila aku berada di lantai paling atas, berarti lantai dasarnya dipakai untuk apa? Mungkin gudang dan kamar untuk para pelayan. Nanti aku akan memeriksanya. Tidak sekarang. Karena kami harus segera pergi ke bandara.

Aku mencari Tara di ruang keluarga. Dia ada di sana bersama kedua orangtuanya. Aku tidak melihat saudara-saudaranya. Ayah dan ibu menyapaku lalu meminta Tara untuk membawaku ke ruang makan sebelum berangkat. Jarum pada jam tangan menunjukkan aku hanya punya lima belas menit untuk makan. Aku harus cepat.

“Pelan-pelan saja, Ela.” Tara menyentuh tanganku yang memegang sendok. Aku mengurangi kecepatanku mengunyah. “Kita tidak akan terlambat kalau berangkat beberapa menit lebih lama.”

Meskipun dia bilang begitu, tetap saja aku tidak tenang. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi lalu lintas menuju bandara. Aku tidak mau terlambat dan ketinggalan pesawat. Perjalanan ini sudah aku tunggu-tunggu. Tahu aku tidak akan mendengarkan sarannya, dia hanya tersenyum penuh arti melihatku makan begitu cepat.

Supir keluarganya mengantar kami ke bandara. Benar dugaanku, jalan raya lumayan ramai karena jam pulang kerja. Setelah satu setengah jam perjalanan, kami tiba di bandara. Karena bulan madu ini tidak lama, kami hanya membawa satu koper kecil. Di dalam pesawat aku memilih tidur lagi. Tara membangunkanku ketika para penumpang satu-persatu berjalan keluar dari kabin pesawat. Kami sudah sampai. Setengah mengantuk aku berdiri dan ikut bersamanya menuju pintu keluar.

Dia tidak bilang kami akan berlibur ke mana. Katanya kejutan. Begitu melihat bandara Ngurah Rai, aku sedikit kecewa. Aku sudah katakan padanya tempat-tempat yang sudah pernah aku kunjungi. Dengan jelas aku katakan aku tidak mau ke tempat yang sama untuk berbulan madu. Dia malah membawaku ke tempat ini. Bali. Sudah berapa banyak pasangan pengantin baru yang memilih pulau ini sebagai tempat berbulan madu? Banyak.

“Ada apa?” tanyanya saat kami sudah duduk di dalam taksi.

“Tidak ada apa-apa.” jawabku kesal. Dia menatapku sesaat.

“Kamu marah. Yakin tidak ada apa-apa?” tanyanya lagi.

“Iya.” jawabku lagi.

Tiba di tempat penginapan dia memintaku duduk di salah satu sofa saat dia mendekati bagian resepsionis. Sembari menunggu aku mengaktifkan ponsel dan menunggu seluruh aplikasi siap untuk digunakan. Hotel yang kami datangi cukup besar. Aku senang kami tidak berada di dekat pantai. Aku tidak suka melihat pemandangan pantai yang ramai. Lebih baik kalau ada kolam renang di dalam hotel. Semua informasi mengenal hotel tersebut aku baca pada brosur yang ada di dekatku.

Hotel ini punya kolam renang sendiri dan cukup besar. Aku tidak perlu khawatir akan berdesakan dengan tamu lainnya. Makanan di restorannya juga kelihatannya enak. Namanya hotel berbintang lima, harga makanannya selangit. Mungkin ada baiknya kami makan siang dan malam di luar saja. Untuk sarapan pasti sudah termasuk biaya kamar.

Begitu ponselku siap untuk digunakan, aku memeriksa isinya. Ada banyak pesan masuk yang masih mengucapkan selamat atas pernikahanku dan Tara. Hanya pesan dari saudara laki-lakiku yang isinya menyebalkan. Si kembar dan Rino mengatakan sangat bahagia karena aku yang bawel tidak tinggal di rumah lagi, sedangkan Kak Ari memberiku artikel mengenai malam pertama. Aduh. Keempat pesan itu segera aku hapus. Tidak ada pesan dari papa dan mama namun aku mengirim pesan pada mereka dan kedua mertuaku bahwa kami sudah sampai di tujuan dengan selamat. Ponsel itu aku masukkan lagi ke dalam tas.

“Ayo, kita ke kamar.” Tara mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima uluran tangannya lalu berdiri dan ikut bersamanya memasuki elevator.

Tiba di kamar aku segera mengambil piyama dan masuk ke kamar mandi. Yang ada di dalam pikiranku hanyalah tidur. Tara tersenyum saat aku keluar dari kamar mandi. Ingat aku marah padanya karena memilih pulau ini, aku tidak membalas senyumnya. Aku membaringkan badan dan menutupi tubuh dengan selimut. Letihnya tubuh membuatku segera terlelap. Namun sebelum benar-benar pulas, aku merasakan kecupan di pelipisku diikuti dengan ucapan selamat tidur.

Hal pertama yang aku lakukan saat bangun adalah mandi. Barulah aku menyadari lagi-lagi aku sendirian di dalam kamar. Apa Tara tidak pernah bangun siang? Tirai jendela aku buka yang ternyata bukan jendela biasa. Itu pintu menuju balkon. Dan di sanalah dia berada. Duduk santai di kursi malas sambil mengerjakan sesuatu dengan tablet miliknya. Ketika pintu aku buka, udara segar segera menerpa wajahku. Aku menarik napas dalam-dalam menikmati segarnya. Begitu aku berjalan mendekat, dia menoleh. Melihat senyumnya aku ikut tersenyum.

“Pagi, sayang.” sapanya. Dia berdiri dan aku mencium pipinya. “Bagaimana tidurmu?”

“Nyenyak, terima kasih. Kamu?” tanyaku.

“Aku juga.” Dia menunjuk ke arah meja di antara dua kursi malas. “Kamu pasti lapar. Aku sudah memesankan sarapan untukmu.”

“Kita tidak makan di restoran?” tanyaku heran.

“Karena tidurmu pulas, pasti kamu masih lelah. Jadi aku putuskan untuk makan di sini saja.” Dia kembali duduk setelah aku duduk di salah satu kursi malas tersebut.

“Terima kasih. Aku senang kamu memilihkan nasi goreng.” Aku menyuap sesendok nasi tersebut ke mulut. Hm. Enak. “Kamu bahkan memesan minuman coklat juga.”

“Minuman itu selalu berhasil membuat suasana hatimu baik. Aku tidak akan melupakan itu.” ucapnya. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Jangan pernah lupakan itu.” Aku melihat dia tidak ikut makan. “Jangan bilang kamu sudah makan sendirian tadi.”

“Iya. Aku bangun pagi. Tidak terbiasa menunggu bila perut sudah lapar.” akunya.

Selagi aku menikmati sarapan itu, dia menyibukkan diri dengan tablet miliknya. Entah apa yang dia lakukan dengan benda itu, wajahnya kelihatan sangat serius. Karena sedang makan dan tidak bisa mengobrol dengannya, aku tidak mengganggunya. Melihat cerahnya hari, aku ingin sekali kami bisa pergi ke suatu tempat. Tetapi aku sedang tidak ingin berada di keramaian.

“Kamu suka jalan-jalan atau kita di kamar saja?” tanya Tara saat aku sudah menghabiskan makanan dan sedang menikmati coklat hangat.

“Di sini saja. Aku tidak kuat lagi ke sana kemari.” jawabku pelan.

“Bagus. Mereka punya televisi kabel, tapi sebagai persiapan aku sudah memesan beberapa film untuk kita tonton.” Dia menyentuh layar tablet, kemudian tersenyum penuh arti.

“Oke. Tapi aku bawa buku bacaan, jadi kalau sedang bosan aku lebih memilih membaca.” Aku meneguk habis coklat dalam mug. “Kamu tidak keberatan kita tidak pergi ke mana pun?”

“Tidak. Aku sudah beberapa kali liburan ke sini bersama keluarga.” jawabnya santai. Ah, iya. Aku lupa. Bukan hanya aku yang sering berlibur bersama keluarga. Dia juga. Kalau dia sudah sering ke sini, mengapa dia memilih tempat ini sebagai tempat berbulan madu? Oke. Tidak perlu dipikirkan lagi. Ini bulan madu. Aku tidak boleh marah padanya.

Film yang diputar salah satu stasiun televisi kabel itu lumayan bagus. Kami menontonnya bersama. Beberapa menit kemudian kantuk mulai datang. Aku meletakkan kepala di bahunya. Dengan kedua tangan aku memeluk lengannya. Merasa nyaman, aku memejamkan mata. Saat membuka mata, aku sudah tidak berada di sofa bersamanya. Aku sedang berbaring di tempat tidur. Tara duduk di sisiku dengan perhatiannya yang masih tertuju pada layar televisi.

Hm. Benar-benar liburan yang menyenangkan. Sudah lama rasanya tidak berlibur seperti ini. Tidak perlu cepat-cepat bangun pagi untuk menemui dosen di kampus. Juga tidak perlu begadang karena ada persiapan pernikahan yang belum dituntaskan. Semua itu sudah usai dan sekarang aku bisa bernapas lega dan tidur sepuasnya.

“Hei, sudah bangun?” sapa Tara. Aku tersenyum.

“Iya. Sudah berapa lama aku tertidur?” Aku menguap pelan. Ya, ampun. Berapa lama lagi tubuh ini baru puas beristirahat?

“Tiga jam.” Dia tertawa kecil. “Mengerjakan skripsi dan mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang bersamaan seharusnya tidak pernah kita lakukan.”

“Tidak ada yang sia-sia. Semuanya layak untuk dikorbankan.” ucapku menghibur.

“Akhirnya istriku bisa bijak juga.” godanya. Aku cemberut mendengarnya. “Kamu lapar? Butuh sesuatu? Biar aku pesankan.”

“Aku bisa keluar kamar. Kita makan di luar saja. Makan kepiting atau udang di dekat pantai sepertinya mengundang selera makan.” ucapku memberi usul.

“Oke.” ucapnya setuju.

Beriringan kami keluar kamar menuju elevator. Di lantai dasar, Tara mengajakku keluar dari hotel melalui pintu utama. Seperti dugaanku, suasana di sekitar kami sangat ramai dengan turis. Berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan setapak, kami akhirnya tiba di sebuah rumah makan. Aroma makanan bakar segera memenuhi penciumanku. Perutku protes minta diisi.

Pelayan mengantarkan kami ke meja di teras belakang yang dekat dengan pantai. Bunyi deburan ombak terdengar cukup keras. Begitu juga angin yang menerpa wajah dan mengibarkan rambutku. Keadaan di sekeliling kami sudah gelap, jadi tidak banyak yang bisa dilihat. Tetapi bunyi nyanyian alam itu sudah sangat menghibur.

“Kamu tidak perlu merasa segan untuk menikmati liburan seperti yang kamu inginkan, Ela.” ucap Tara setelah kami selesai memesan makanan.

“Liburan ini bernama bulan madu.” godaku. Dia tertawa kecil.

“Setiap pasangan boleh menikmati bulan madu seperti yang mereka inginkan, tanpa harus meniru pasangan lain.” ucapnya. Aku mengangguk setuju.

“Maafkan aku. Karena aku tidur seharian kamu harus melakukan aktivitas sendirian.” Aku menyentuh tangannya yang ada di atas meja. Dia tersenyum.

“Aku tidak bosan dengan adanya puluhan pilihan acara di televisi, juga pesan dari orang-orang yang masih mengucapkan selamat pada kita.” ucapnya geli.

“Masih? Siapa? Rekan-rekan kerjamu?” tanyaku ingin tahu.

“Tidak. Mereka semua datang di acara resepsi kita. Teman-teman lama yang baru mendengarkan kabar pernikahan kita yang mengirim semua ucapan selamat itu.”

“Ya, ampun. Aku malu sekali saat melihat foto pranikah kita ada di koran dan majalah. Teman-temanku mengirim screenshot dari foto-foto itu.” Aku menutup wajah dengan tanganku. Tara tertawa mendengarnya. “Semoga tidak ada yang mengenali kita di sini.”

“Jangan khawatir. Itu ucapan selamat dari para kolega ayah. Tidak akan ada yang mengingat wajah kita di foto itu. Privasimu juga tidak akan terganggu.” ucapnya menenangkan.

“Jadi, kamu punya rencana untuk besok?” tanyaku penasaran.

“Tidak. Kita bisa seharian di hotel seperti tadi. Kalau bosan makanan yang mereka sajikan, kita bisa makan siang atau malam di luar seperti ini.” ucapnya santai.

“Kalau cuaca bagus, aku ingin berenang besok siang.” ucapku penuh harap. Dia mengangguk setuju.

Makanan datang, kami menikmatinya sambil membicarakan hal-hal ringan. Masakan mereka sangat enak. Aku jadi merindukan mama dan masakan lezatnya. Yang tidak bisa dibandingkan dengan siapapun. Bagiku masakan mama yang paling enak di dunia. Sepertinya aku harus meneruskan belajar masak darinya. Tidak mungkin setiap kali merindukan masakannya, aku datang ke rumah. Akan lebih praktis bila aku bisa melakukannya sendiri.

Dengan perut kenyang, kami memutuskan untuk berjalan mengelilingi tempat itu sebelum kembali ke hotel. Ada banyak restoran, kafe dan bar yang padat dengan pengunjung. Melihat orang-orang yang berpapasan dengan kami, aku seperti berada di luar negeri. Di mana orang dari seluruh dunia seolah-olah berkumpul pada satu tempat. Pulau ini benar-benar terkenal.

Lelah berjalan kaki, kami kembali ke hotel. Semakin dekat ke tempat penginapan, semakin sedikit orang yang berpapasan dengan kami. Aku mendesah lega. Kepalaku mulai pusing melihat begitu banyak orang yang lewat. Saat melihat ke arah taman hotel ada dua sejoli yang sedang berciuman. Ya, ampun. Sepertinya bukan hanya kami yang sedang berbulan madu.

“Aku harap mereka segera kembali ke kamar sebelum melakukan sesuatu yang lebih dari itu.” ucap Tara dengan nada khawatir. Apa aku tidak salah dengar? Aku menoleh ke arahnya dan melihat ekspresi seriusnya. Iya. Aku tidak salah dengar. “Apa yang lucu? Mengapa kamu tertawa?”

“Tara, mereka hanya berciuman. Tidak ada yang salah dengan itu. Papa dan mama juga sering melakukannya di depan kami. Itu hanya ekspresi sayang.” ucapku santai.

“Ayah dan ibu tidak pernah berciuman di depan kami. Itu tidak sopan.” ucapnya tegas.

“Setiap pasangan punya cara sendiri untuk mengekspresikan cinta mereka. Tidak ada yang salah selama itu tidak menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang lain.” Aku mengangkat kedua bahuku. “Kamu sendiri yang bilang kalau berbulan madu tidak perlu meniru pasangan lain. Begitu juga dalam mengekspresikan perasaan.”

“Kamu tidak keberatan kalau aku cium di depan umum?” tantangnya. Aku merasakan wajahku memanas mendengarnya.

“Tentu saja tidak.” jawabku cepat. Dia membingkai wajahku kemudian menciumku. Di tempat di mana kami berdiri. Di mana masih ada orang yang lalu-lalang di sekitar kami. Tetapi aku melupakan itu semua dan membalas ciumannya.

“Dari tadi aku ingin melakukan ini.” ucapnya sambil menjauhkan wajahnya. Kedua tangannya kini membelai pipiku.

“Apa yang menghalangimu untuk melakukannya?” tanyaku heran. Dia tertawa kecil.

“Kamu tidur seharian, aku pikir kamu menghindari malam pertama kita.” godanya.

“Aku benar-benar lelah dan mengantuk. Aku tidak melakukannya dengan sengaja.” ucapku membela diri. Dia mengecup bibirku lagi. “Sebaiknya kita ke kamar sekarang. Sebelum aku berubah pikiran.”

Sebagai suami yang baik, dia menggandeng tanganku dan kami bergegas kembali ke kamar. Dengan tidak sabar kami menunggu elevator tiba di lantai tujuan. Begitu pintu terbuka, kami nyaris berlari menuju kamar. Sambil tertawa geli kami menutup pintu dan menguncinya. Malam itu menjadi malam terindah yang pernah terjadi dalam hidupku.

Apa yang ditakutkan dan dikeluhkan banyak wanita pada malam pertama mereka, tidak aku alami. Tara tidak hanya mengajariku apa itu cinta. Dia juga mengajariku bagaimana mengeskpresikannya dengan benar. Bukan di depan hotel di mana ada banyak orang yang bisa melihat kami, tetapi saat hanya berdua saja di dalam kamar.

Rencana berenang di kolam renang hotel pada keesokan harinya gagal total. Seharian itu kami hanya berada di kamar. Menikmati udara pagi di balkon, menonton film di tempat tidur, mencium dan memeluknya kapan saja aku menginginkannya, hingga sarapan dan makan siang dipesan untuk diantarkan ke kamar. Benar-benar bulan madu yang menyenangkan.

Karena itu malam terakhir, kami tidak melewatkan kesempatan untuk makan malam di tepi pantai lagi. Bila sebelumnya kami duduk berhadapan dan dipisah oleh meja, kali ini aku duduk di sisinya. Masih dimabuk cinta, aku tidak berhenti menggenggam tangannya sambil menikmati makanan pesananku. Walaupun aku tahu dia tidak menyukainya, sesekali aku mencium pipinya. Dia hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jangan salahkan aku kalau suamiku membuatku ingin terus menciumnya.” godaku.

“Seharusnya kamu bilang tadi. Jadi kita tidak perlu makan di sini.” Dia tertawa kecil.

“Tidak bisakah kita tambah satu hari lagi? Aku belum mau pulang besok.” bujukku.

“Sayang, kita sudah membicarakan ini dan kamu setuju. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama.” ucapnya memberi pengertian. Aku mendesah pelan. Dia tidak akan mengubah pikirannya, aku tahu. “Kita bisa berlibur lagi ke mana saja yang kamu mau akhir pekan ini. Jumat malam kita berangkat lalu pulang pada hari Minggu sore. Bagaimana?”

“Serius?” tanyaku tidak percaya. Dia menganggukkan kepalanya. “Asyik! Terima kasih, sayang.”

“Sekarang habiskan makanmu supaya kita bisa kembali ke hotel.” ucapnya yang segera aku turuti.

Kami berjalan berkeliling lagi membantu tubuh mencerna makanan yang tadi kami santap. Tara merangkulku, sedangkan aku melingkarkan tangan di pinggangnya. Aku tersenyum ketika sesekali dia mencium pelipisku. Katanya dia tidak suka bermesraan di depan umum dan menganggapnya kurang sopan. Ternyata dia suka juga melakukannya.

“Jangan salahkan aku kalau istriku membuatku ingin terus menciumnya.” ucapnya meniru ucapanku saat di restoran. Aku tertawa mendengarnya. Mungkin dia melihat ekspresi wajahku sehingga dia bisa membaca pikiranku.

“Aku tidak keberatan. Bukan aku yang mengatakan ciuman di depan umum itu tidak sopan.” ejekku. Dia mendadak menghentikan langkah. Aku ikut berhenti dan sebelum sempat bertanya apa yang sedang dia lakukan, dia membingkai wajahku dan menciumku. Aku tertawa kecil.

“Tidak ada yang mengenal kita di sini.” ucapnya geli. “Jadi tidak ada yang akan mengatakan aku bersikap tidak sopan.”

Aku mengucapkan cinta lalu memeluknya. Saat dia mengucapkan kalimat yang sama, aku mempererat pelukanku. Kami berdiri beberapa saat di sana. Berada di dalam pelukan orang yang sangat kami cintai. Mendengarkan percakapan orang-orang yang melewati kami. Menikmati bunyi deburan ombak yang semakin keras seiring dengan semakin dinginnya angin yang bertiup.

Sampai di depan pintu kamar, Tara tersenyum penuh arti. Aku tertawa kecil melihatnya. Pintu kamar dibuka dan aku dikejutkan dengan lilin di dalam gelas kaca yang membentuk jalan setapak masuk ke dalam kamar. Aku menatap Tara dengan heran. Dia hanya memberi sinyal dengan anggukan kepalanya agar aku masuk ke dalam kamar.

Perlahan-lahan aku berjalan di antara kedua barisan gelas berisi lilin tersebut. Lilin itu berujung pada tempat tidur. Ada banyak buket bunga lili putih diletakkan di sana. Aku tidak bisa menghitungnya. Ada satu mug berisi coklat hangat dan sebuah kartu diletakkan di depannya. Aku mengambil kartu itu dan membaca tulisan di sana. Terima kasih sudah mau menjadi istriku. Aku mencintaimu. T.A.

“Terima kasih, Tara.” ucapku terharu. Dia memelukku dari belakang. “Aku juga bahagia kamu mau menjadi suamiku.”

“Seharusnya malam ini malam pertama kita.” ucapnya geli. Aku pun ikut tertawa. “Coklat hangat itu ada di sana bukan tanpa alasan. Aku memesannya supaya kamu tidak terlalu gugup. Apa yang terjadi semalam sama sekali tidak aku rencanakan.”

“Katakan, suamiku, apakah kamu menyesal?” godaku. Dia mencium pipiku.

“Tentu saja tidak.” jawabnya.

Meskipun pagi itu aku tidak berniat pulang, aku harus memasukkan semua pakaian kami kembali ke dalam koper. Yakin tidak ada pakaian yang tertinggal, aku duduk di tepi tempat tidur. Tinggal menunggu pakaian dari Tara seusai dia mandi. Aku tersenyum melihat belasan buket bunga lili yang aku letakkan di atas sofa. Kami barusan bertengkar karena aku ingin membawa semua bunga itu dan dia menganggapnya sebagai pemborosan. Bukan salahku kalau dia memberi bunga pada hari terakhir kami menginap di hotel ini.

Nada telepon masuk berbunyi. Aku mencari sumber bunyi dan menemukan asalnya dari tablet Tara di atas nakas. Foto seorang wanita asing memenuhi layar. Kecantikan wanita itu bukan hal yang menarik perhatianku. Senyum menggoda dan pakaian berbelahan dada rendah yang dikenakannya yang membuatku tidak nyaman. Siapa wanita ini? Aku membaca namanya pada layar. Tara tidak pernah menyebut namanya. Tetapi dari sekian banyak rekan kerjanya di dua negara di mana dia pernah bekerja, memang aku tidak bisa mengingat semua nama mereka.

Bila perempuan ini hanya rekan kerja, mengapa dia masih menghubungi Tara? Bukankah dia sudah tidak bekerja lagi di sana? Panggilan video tidak dijawab, dia terus menelepon tanpa henti. Tidak tahan lagi, aku menyentuh simbol telepon berwarna hijau dan melihat layar segera dipenuhi oleh wajah cantik wanita berambut coklat gelap dan bermata abu-abu itu.

Halo?” sapaku di dalam bahasa Inggris.

Oh. Hai.” balasnya dengan kening berkerut. Dia melihat-lihat ke arah belakangku mencari sesuatu. “Boleh saya bicara dengan Tara?

Jangan ganggu dia. Dan jangan pernah meneleponnya lagi.” ucapku tegas.

Maaf? Memangnya kamu siapa?” ucapnya tersinggung. Bagus. Itu pertanyaan yang aku tunggu.

Aku istrinya.” ucapku serius. Matanya membulat.

Oh. Sial.” Dan dia segera memutuskan hubungan telepon.

Tara bilang wanita di sana juga punya moral dan etika. Mengapa ada perempuan yang menelepon ketika sudah tahu dia sudah menikah? Apa dia membohongiku dan menyembunyikan barisan perempuan yang pernah menjalin hubungan dengannya selama berada di luar negeri? Aku percaya padanya dan hanya itu yang bisa menjadi peganganku. Tetapi aku tidak akan pernah bisa membuktikan apakah dia berkata jujur atau tidak.

Itukah sebabnya dia tidak berhenti memandangi tablet dan sesekali tersenyum melihatnya? Apakah di saat kami sedang bersama dia berbincang dengan perempuan lain? Itu jahat sekali. Dia memberi harapan palsu pada orang lain sekaligus membohongiku yang ada tepat di sebelahnya. Rasanya tidak percaya dia bisa melakukan itu. Tetapi salah satu buktinya barusan saja menelepon.

Mendengar pintu kamar mandi terbuka, aku menarik napas panjang. Tidak mungkin aku menunggu sampai di rumah untuk membicarakan ini. Aku tidak mau ayah dan ibu mendengar kami bertengkar. Tidak mungkin juga aku menunggu sampai akhir pekan untuk bicara dengannya. Aku tidak akan bisa menahannya. Bagaimana kalau perempuan itu menghubunginya lagi di saat aku tidak bersamanya?

“Barusan ada yang meneleponmu.” ucapku memancing pembicaraan. Dia menoleh.

“Oh, ya? Siapa?” Dia memasukkan pakaian ke dalam koper lalu menutup ritsletingnya. Ketika dia ingin menciumku, aku menghindar. Dia mengerutkan keningnya.

“Silakan periksa sendiri. Bila menurutmu aku layak mendapatkan penjelasan, aku siap untuk mendengarkan.” ucapku tanpa melihat ke arahnya. Dia mengambil tablet dari tanganku lalu memeriksanya. Aku menunggu.

“Dia hanya rekan kerjaku, sayang.” ucapnya menjelaskan. Aku diam menunggu penjelasan selanjutnya. “Aku tidak tahu mengapa ini begitu penting untuk dibahas, tapi baiklah. Dia suka padaku. Semua orang menjodohkan kami karena kami cocok. Aku sudah jelaskan aku sudah punya tunangan dan mereka tidak percaya padaku. Hanya itu. Aku tidak menyambut tawarannya untuk menjalin hubungan atau pergi kencan berdua. Aku setia padamu, Ela.”

“Lalu mengapa dia masih menghubungimu sampai sekarang?” protesku.

“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah membalas pesan atau mengangkat telepon darinya.”

“Oh, ya? Aku melihatmu beberapa kali asyik dengan tablet itu. Kamu bukannya sedang mengobrol dengan dia?”

“Tidak.” Wajahnya bersemu merah. Aku mengerutkan kening melihatnya.

“Tidak? Lalu mengapa kamu tersipu-sipu begitu?” ucapku kesal. “Kamu berbohong padaku, Tara?”

“Oke, oke. Silakan kamu periksa sendiri.” Dia menyodorkan tablet itu padaku. Dengan tatapan curiga aku menerimanya. “Tidak ada percakapan antara aku dengan perempuan itu. Juga tidak ada telepon untuknya. Semuanya hanya pesan dan telepon darinya.”

“Bisa saja kamu menghapusnya.”

“Aku tidak bisa menjawab untuk hal itu.” ucapnya menyerah. “Sekarang silakan kamu periksa situs apa saja yang aku buka. Itulah yang aku lakukan selama kita di sini.”

Ada beberapa jendela terbuka pada browser yang sering dipakainya. Informasi toko bunga di Bali, surelnya bersama seorang dokter kandungan, hm, mungkin ini yang membuatnya malu karena mereka membahas tentang hubungan suami istri, tempat makan dan tempat wisata yang dekat dari lokasi hotel tempat kami menginap, lalu situs maskapai penerbangan di mana dia baru saja melakukan check-in. Aku pun merasa bersalah sudah menuduhnya tanpa bukti.

“Maafkan aku.” ucapku pelan.

“Kamu percaya padaku?” tanyanya hati-hati. Aku menganggukkan kepala. “Tidak apa-apa. Aku senang melihatmu cemburu.”

Aku tersenyum lega mendengarnya. Ketika dia memikirkan segala yang positif tentangku, aku malah menuduhnya yang tidak-tidak hanya karena seorang wanita meneleponnya. Pantas saja wanita itu tidak menyerah. Tara laki-laki yang baik. Dan aku bersyukur bisa menjadi istrinya. Kali ini aku tidak menolak saat dia menciumku.

Dengan bergandengan tangan kami keluar dari kamar. Masa-masa indah bulan madu sudah berakhir. Kini saatnya kami menghadapi kenyataan dan menyambut hal-hal baru sebagai suami istri. Kalau bersama Tara, aku yakin kami akan baik-baik saja.

Dia akan menyeimbangiku yang terlalu cepat menyimpulkan dan marah, yang tidak sabar menunggu, yang suka terus terang tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, yang mudah bosan dan terlalu bersemangat, dengan sikapnya yang tenang, sabar dan pengertian. Aku tidak akan berhenti berkata, aku bahagia dia telah memilihku menjadi istrinya.

(Sumber foto: Google Images dengan modifikasi seperlunya)

Cerita sebelumnya:

Salam Sayang untuk Dia 22 – Kembali untuk Bersama Lagi

Cerita selanjutnya:

Salam Sayang untuk Dia 24 – Aku Masih Sayang

Share.

About Author

Japanese and English teacher, a writer who's going to be an author, backpacker, mangaka, bookworm, pendukung pemerintahan yang benar.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage