Salam Sayang untuk Dia 5 – Tanggung Jawab Seorang Kakak

Salam Sayang untuk Dia 5 – Tanggung Jawab Seorang Kakak

8

Sebagai anak pertama, aku menyambut besarnya tanggung jawab yang diserahkan padaku. Bila aku melakukan kesalahan di saat sedang menjaga adik-adik, aku siap dimarahi oleh papa dan mama. Bila aku menjaga mereka dengan baik, papa dan mama tidak segan memberikan pujian. Sekalipun aku suka iseng dan mengganggu mereka, aku sayang pada adik-adikku.

Aku dan Ela saling berbagi tugas dan tanggung jawab sebagai anak yang dituakan. Dalam hal ini dia adalah rekan terbaikku. Untungnya ketiga adik-adik kami masih mau menurut. Kalau mereka mulai melawan atau membantah, kami punya cara sendiri untuk membuat mereka patuh kembali. Sebagai anak yang dituakan juga, papa dan mama mulai tidak sabar melihat kami membawa pacar ke rumah. Padahal kami berdua masih sangat muda.

Pemuda yang ikut bersama kami seusai konser musik Ela kelihatannya pria yang baik. Dia menerima tawaran papa untuk ikut bersama dengan cara yang sopan. Dia juga tidak langsung masuk ke dalam mobil sebelum dipersilakan. Aku membantu ketiga adik laki-lakiku masuk ke bagian belakang mobil, kemudian mempersilakan Ela duduk di antara aku dan dia di jok tengah. Papa yang menyetir dan mama duduk di sebelahnya di jok depan.

Aku tahu rencana papa dibalik dari tawarannya mengajak pemuda itu menumpang bersama kami. Mama pasti ingin tahu siapa pemuda yang berani mendekati adik perempuanku itu. Tidak biasanya ada yang mau meminta tanda tangan dan berfoto bersama Ela. Itu artinya ada dua. Pertama, pemuda itu tidak mengenal siapa papa. Kedua, dia tahu tetapi tidak mempedulikan apapun selain bisa mendekati Ela. Nyalinya oke juga.

“Maaf, om. Saya turun di sini saja. Tempat tinggal saya sudah dekat dari sini.” ucapnya saat kami berada tidak jauh dari simpang empat.

“Mau ke mana, kak?” tanya Rino dengan polos. “Kakak mau pulang? Tidak mau ikut bersama kami?”

“Ng,” jawabnya. Aku menutup mulut dengan tangan, menyembunyikan senyum.

“Kalau kakak tidak suka pizza, nanti banyak pilihan lainnya. Ada spaghetti, salad, atau kalau kakak mau minum juga ada banyak pilihan.” timpal Kiel.

“Aku,” ucap pemuda itu lagi. Aku merasakan Ela menyikut tanganku. Aku balik menyikutnya.

“Kakak tidak suka pizza? Kok, bisa?” tanya Zad tidak percaya. “Pizza itu enak, kak. Makanan favoritku dan Kiel.”

“Itu,” ucap pemuda malang itu.

“Favoritku juga!” ucap Rino tidak mau kalah.

“Sebenarnya buatan mama lebih enak. Pepperoni-nya bisa dibuat banyaaak. Terus kejunya juga bisa diparut sendiri sesuai selera.”  timpal Zad.

“Kalian ini mau tahu jawaban dari Kak Tara atau tidak? Dari tadi mengoceh terus.” ucap Ela. Aku tertawa kecil. Ya, ampun. Malangnya dia.

“Tidak apa-apa ‘kan, Tara? Kamu ikut bersama kami saja, ya?” bujuk mama. “Selesai makan, akan kami antar pulang.”

“Baiklah. Terima kasih banyak, tante.” ucapnya mengalah. Mama melirik ke arah Ela sebelum kembali melihat ke arah pemuda malang itu.

“Bagus. Tidak usah segan. Adik-adik Ela hanya mencoba bersikap akrab.” ucap mama ramah.

“Iya, tante.” jawab pemuda itu sopan. Aku menyikut Ela. Dia balas menyikutku.

Papa mempersilakan kami memesan apa saja yang kami mau. Kiel, Zad dan Rino segera memesan American Favorite karena mereka suka pepperoni. Aku dan Ela memesan Meat Lovers. Papa dan mama biasanya mengambil saja mana yang mereka suka dari yang kami pesan. Tetapi kali ini mama juga memesan salad dan spaghetti. Mungkin untuk memberi lebih banyak alternatif untuk Tara. Pemuda itu hanya memesan minuman dan memakan apapun yang mama letakkan di atas piringnya. Kasihan dia.

Dilihat dari wajahnya, dia kelihatannya suka dengan makanan yang ada di atas meja. Bukan hanya itu. Sepertinya dia lapar. Aku mengerti kalau dia merasa segan. Tetapi aku tidak habis pikir mengapa dia bisa terlihat lapar? Apa dia jarang makan? Badannya juga agak kurus. Ah, mungkin dia belum makan sebelum datang ke konser, makanya dia kelaparan.

Pemuda yang bernama Tara itu ternyata kuliah di universitas yang sama denganku dan Ela. Kami sama-sama tingkat empat dan sedang menyusun skripsi. Dilihat dari cara menjawab dan keseriusannya membicarakan tentang studi dan penelitiannya, dia mirip Lia. Ada kekuatan entah apa yang membuat mereka begitu ingin secepatnya tamat.

Dia tidak mau bicara banyak tentang keluarganya. Syukurnya mama tidak memaksa pertanyaannya dijawab. Yang mau dia sampaikan hanyalah, papa dan mamanya sehat, dia punya dua orang kakak perempuan. Keluarganya tinggal di kota ini namun untuk mempermudah studinya, dia tinggal di kamar sewa yang dekat dari kampus. Hm. Apakah keluarganya miskin? Karena dia tidak hanya kuliah tetapi juga bekerja sambilan di sebuah restoran.

Mata mama berbinar-binar setiap kali Tara menjawab pertanyaannya. Pria itu cukup jujur. Aku mengerti mengapa mama suka padanya. Pria itu cerdas, mandiri, sopan, ramah, pekerja keras dan bertanggung jawab. Ibu mana yang tidak menginginkan laki-laki seperti itu untuk putrinya? Meskipun aku baru mengenalnya beberapa jam saja, aku bisa lihat dia tertarik pada adik perempuanku. Dan itu membuatku merindukan Lia.

Aku ingat betapa paniknya aku saat tahu rumah di mana dia aku tinggalkan di malam kami pertama bertemu, bukanlah rumahnya. Tidak ada nomor telepon, aku hanya tahu nama, aku sempat berpikir tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Untung saja dosen memberikan tugas dan kami membutuhkan buku di perpustakaan. Kebetulan yang sangat aku syukuri. Tidak sengaja aku melihat dia sedang duduk begitu serius membaca buku.

Gadis itu berbeda. Entah apanya. Mungkin karena dia cantik. Pertama kali mendengar dia sedang menyusun skripsi juga, aku akui aku jatuh cinta. Apalagi nilai akademiknya tidak main-main. Cantik dan cerdas itu bukan perpaduan yang sering aku temui. Hanya ada dua perempuan yang masuk kategori cantik dan cerdas bagiku. Mama dan Ela. Kedua nenekku cantik, tetapi mereka kalah cerdas dengan mama dan adikku. Jadi, mereka tidak masuk dalam daftar.

Ujian akhir semester sudah selesai, kami masuk kampus hanya untuk membahas hasil ujian dan menunggu nilai diumumkan. Aku banyak menggunakan waktu luang di perpustakaan. Apalagi kalau bukan karena ingin bertemu dengan gadis itu.

Setiap hari dia akan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Tidak pernah aku melihatnya keluar dari kampus sebelum perpustakaan tutup. Herannya, dia tidak segera pulang ke rumah tetapi mampir ke sebuah restoran atau kafe untuk makan malam. Aku tidak membuntutinya. Semua itu aku ketahui dari lima kali berturut-turut menemukannya sedang makan malam sendirian di sebuah restoran.

Sendirian. Aku penasaran apakah dia tidak punya teman satu orang pun. Di perpustakaan dia sendiri, pulang dari kampus sendiri, sampai makan malam pun sendirian. Belum lagi keluarganya. Ke mana mereka? Di mana kakak dan adiknya? Di mana orangtuanya? Apakah mereka tidak peduli padanya yang berada di luar rumah hingga larut malam?

“Ayo, kita makan.” Aku menutup buku yang aku baca lalu merapikan alat tulisku.

“Aku tinggal di sini sebentar lagi. Kamu pergi dahulu saja.” ucapnya tanpa mengangkat kepala dari buku yang sedang dibacanya.

“Kamu makan jam sembilan malam, itu sudah kemalaman. Aku lapar. Masa kamu juga tidak lapar.” ucapku tidak percaya.

“Sungguh, Ari. Aku akan pergi sebentar lagi.” Dia masih tidak melihat ke arahku. Tanpa memberinya peringatan lagi, aku mengambil buku itu dari pegangannya, merapikan alat tulisnya, lalu meraih tangannya membantunya berdiri.

“Kamu tidak bisa terus memaksaku melakukan apapun maumu, Ari.” ucapnya kesal. Aku mengabaikan protesnya dan terus berjalan.

“Aku memaksamu makan demi kamu juga.” Aku terpaksa menghentikan langkah ketika dia menghentakkan tangannya hingga lepas dari genggamanku.

“Ada apa denganmu? Mengapa selalu memaksaku seperti ini?” Dia menatapku dengan tajam. “Kamu lapar, silakan makan sendiri. Aku tidak membutuhkanmu untuk mengurusku.”

“Karena kita berteman, apa lagi?” jawabku bingung. “Sesama teman harus saling memperhatikan.”

“Aku tidak butuh perhatianmu dan aku tidak pernah bilang aku mau berteman denganmu.” ucapnya tegas. Aku mengerutkan kening.

“Kalau kamu tidak mau berteman denganku, lalu kamu mau apa? Aku tidak menyapa dan pura-pura tidak mengenalmu lagi?” tantangku. Dia mengangkat dagunya.

“Begitu lebih baik.” ucapnya serius. Aku menatapnya sesaat.

“Mengapa, Lia? Mengapa kamu tidak suka berteman dan lebih suka sendiri?” tanyaku tidak mengerti.

“Itu bukan urusanmu.” ucapnya kesal. “Hanya karena kamu keren, dari jurusan hukum, pintar dan dikejar-kejar banyak perempuan, bukan berarti aku juga begitu. Aku tidak suka padamu.”

“Aku tidak pernah memintamu menyukaiku.” ucapku heran.

“Aku juga tidak mau berteman denganmu!” protesnya.

Mengapa tidak? Aku tidak mengerti. Bukankah tidak ada manusia di dunia ini yang ingin sendirian terus? Siapapun dia pasti ingin punya teman, bukan? Lalu ada apa dengan gadis yang satu ini? Mengapa dia lebih suka sendirian daripada ditemani oleh seseorang? Teman tidak ada, keluarga juga tidak. Apa iya ada manusia yang tidak membutuhkan orang lain dalam hidupnya?

“Oke. Oke.” ucapku mengalah. “Kamu tidak mau berteman denganku? Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Itu yang kamu inginkan?”

“Kamu tahu dari dulu itu yang aku inginkan.” ucapnya tegas. Ouch!

“Baik. Kamu punya nomor teleponku. Kalau kamu berubah pikiran, silakan hubungi aku.” Tanpa menunggu jawabannya aku membalikkan badan dan pergi.

Ditolak oleh perempuan yang kita sukai, ternyata sakit juga. Belum pernah aku merasakan sakit seperti ini. Makan tidak selera, padahal makanan buatan mama enak sekali. Tidur tidak nyenyak, bayangannya melayang-layang terus di depan mata. Melakukan apapun tidak ada semangat, hidup ini rasanya tidak berarti. Apa ini yang namanya patah hati?

Patah hati. Bukankah itu hanya untuk mereka yang jatuh cinta, kemudian cintanya ditolak? Aku tidak mencintai Lia. Iya, aku suka dia. Tetapi cinta? Kami baru berteman sekitar empat bulan. Berteman yang bertepuk sebelah tangan. Dari awal sampai sekarang dia tidak pernah menganggap aku teman. Baiklah. Anggap saja ini sebagai bentuk pendewasaan diri. Perempuan juga bukan hanya dia. Kalau dia tidak mau denganku, ada mahasiswi lain yang sudah antri.

“Hai, Ari.” sapa Carol. Tentu saja bukan mahasiswi ini, maksudku. Surya dan Jacky menatapku penuh rasa bersalah. Penuh rasa bersalah?

“Hai.” balasku yang hanya melewatinya saja.

“Kalian mau ke rumahmu ‘kan? Aku ikut, ya.” pinta penuh harap. Aku menoleh ke arah kedua sahabatku yang pura-pura tidak melihat ke arahku.

“Maaf, ini urusan laki-laki. Karena itu aku tidak mengajakmu. Siapa yang memberitahumu? Surya atau Jacky? Minta ijin padanya saja. Sepertinya dia yang lebih berhak atas rumahku.” Aku meninggalkan mereka menuju gerbang keluar kampus.

Tidak lama kemudian aku merasakan sebuah tangan dilingkarkan di bahuku. “Hei, ada apa? Kamu tidak pernah begini.” tanya Surya khawatir.

“Bukan apa-apa. Aku hanya tidak suka melihat perempuan itu ada di dekatku. Kalau kalian suka dia, silakan. Aku tidak.” ucapku tegas.

“Aku sudah katakan itu pada Jacky. Apa boleh buat, dia cinta mati padanya.”

“Cinta mati pada perempuan yang menggoda laki-laki lain di depan matanya sendiri? Jacky perlu belajar menerima kalau Carol sama sekali tidak tertarik padanya.”

“Kita jadi ke rumahmu atau tidak?” tanya Surya tidak sabar.

“Tanpa Carol.” ucapku tegas.

“Oke.”

“Kamu datang dengan Jacky, biar aku saja yang naik kendaraan umum.” Aku menepuk bahu sahabatku. Dia mengangguk setuju.

Surya dan Jacky ingin makan malam di rumah. Mama dengan senang hati mengundang mereka untuk datang. Sama seperti kebiasaannya, mama selalu memasakkan makanan kesukaan dari masing-masing temanku. Mereka ini memang merepotkan saja. Pasti mama sudah repot sejak siang hari hanya untuk menyiapkan makan malam. Padahal usaha bunga dan tempat penitipan anaknya perlu pengawasan juga.

Papa memicingkan matanya setiap kali Surya dan Jacky menatap mama tanpa berkedip. Kedua temanku ini, sudah berapa kali aku bilang jangan lakukan itu lagi, tetap saja mereka melakukannya. Aku menendang kaki Surya dan Jacky yang ada di bawah meja. Mereka serentak menoleh ke arahku dengan tatapan penuh protes. Aku mengulum senyum. Pasti rasanya sakit. Kalau tidak aku tendang dengan keras, mereka tidak akan mengerti.

Usai makan malam, aku mengajak temanku ke kamar. Kami mendiskusikan perkembangan penelitian kami masing-masing. Begitu ada yang membutuhkan buku tertentu, kami sama-sama mencari tahu apakah buku itu tersedia di toko buku, atau bisa dibaca online. Pokoknya apapun akan kami lakukan agar kami bisa lulus bersamaan.

“Maaf tentang Carol tadi, bro.” ucap Jacky. Aku tersenyum.

“Maaf, aku juga sudah berlaku kasar pada kalian berdua.” Aku menyodorkan tinjuku. Mereka bergantian mengadunya dengan tinju mereka masing-masing.

Hujan rintik-rintik turun, mereka bergegas pulang sebelum hujan menjadi lebih deras. Mama telah membekali mereka dengan kue kering untuk mereka makan saat begadang atau untuk sarapan di pagi hari. Aku menutup pintu depan dan kembali ke ruang keluarga. Seluruh keluargaku berkumpul di sana sambil menonton film anak-anak. Aku duduk di sisi mama dan segera memeluknya.

“Kiel, Zad, Rino, sudah jam tidur.” ucap papa.

“Yaaa, papa. Filmnya masih seru. Lima menit lagi, ya, pa?” pinta Kiel.

Please, pa, please…” timpal Zad.

“Lima menit, ya, pa. Please…” ucap Rino.

“Ke kamar. Sekarang.” ucap papa tegas. “Ganti baju dan sikat gigi. Sebentar lagi papa datang ke kamar kalian.”

“Papa jahat!” protes Rino. Diikuti dengan protes senada dari si kembar. Tetapi mereka menurut. Mereka naik ke lantai atas dengan langkah disentak-sentakkan. Aku tersenyum melihatnya.

“Jangan bawa teman-temanmu tadi ke rumah lagi.” ucap papa padaku. Aku tertegun sejenak. Kemudian aku, mama dan Ela tertawa.

“Enak saja mereka melihat istriku seperti itu. Anak ingusan. Apa mereka tidak ingat kalau mamamu sudah menikah denganku? Apa mereka pikir aku buta?” protes papa kesal. Kami kembali tertawa.

“Ada apa dengan kalian semua? Mengapa tertawa? Kalian suka aku marah?” ucap papa lagi. Mama segera memeluk dan mencium pipinya. Wajah papa sekejap saja berubah menjadi lembut.

“Sayang, kamu tidak bisa menghalangi semua laki-laki yang mengagumiku untuk datang ke rumah. Jacky dan Surya masih muda. Belum punya pacar. Kalau sudah punya pasangan, mereka juga akan bosan padaku.” ucap mama. “Anak-anak sudah menunggu di atas. Kamu tidak mau mereka membongkar isi lemari hanya untuk mencari piyama favorit mereka ‘kan?” Papa mengerang pelan.

“Aku segera kembali.” Papa mencium mama lalu berdiri. Setelah papa berada di lantai atas, kami bertiga kembali tertawa.

“Jadi, sekarang kamu mengerti mengapa papa suka sekali pada Tara?” tanya mama pada Ela.

“Karena dia tidak menatap mama tanpa berkedip?” tebak Ela. Mama tersenyum senang.

“Benar sekali.” Mama mengerlingkan matanya. “Dan apa kamu tahu mengapa dia begitu?”

“Ng, ngga, ma.” Ela menggelengkan kepalanya.

“Kamu akan segera mengetahuinya.” ucap mama misterius. Mama menciumnya lalu menciumku. “Selamat malam, anak-anak mama.”

Mama berdiri lalu menyusul papa menuju lantai atas. Aku dan Ela saling bertukar pandang. Kemudian kami sama-sama mengangkat kedua bahu. Menyadari kami hanya tinggal berdua saja, serentak kami berdiri dan berlari menuju tangga. Aku memeluk tubuhnya saat dia mencapai tangga lebih dahulu, menghalanginya naik ke atas. Dia memegang pegangan tangga dengan kuat.

“Kakak yang terakhir. Kakak yang harus memeriksa pintu dan jendela!” pekik Ela yang masih memegang pegangan tangga dengan kuat.

“Enak saja. Kita masih sama-sama di sini, belum ada yang keluar jadi pemenangnya.” ucapku tidak mau kalah.

“Lepaskan aku. Kakak curang.” protesnya.

“Ini bukan curang. Ini namanya menggunakan segala cara untuk menang.” ralatku.

“Lepaskan.” protesnya lagi. Aku tersenyum melihat pegangannya melonggar.

“Kalian ini. Sudah besar masih bertingkah seperti anak kecil. Sana, masuk kamar. Biar papa yang kunci pintu.” ucap papa yang berjalan menuruni tangga. Kami bersorak senang.

Masuk ke dalam kamar, aku merasa kesepian. Dari jendela aku bisa melihat hujan turun begitu deras. Aku benci hujan di saat-saat seperti ini. Karena hujan mengingatkan aku pada kejadian malam di mana aku pertama kali bertemu dengan Lia. Gadis sok kuat itu sama sekali tidak berubah. Dari pertama jumpa hingga perpisahan kami beberapa hari yang lalu, dia lebih memilih sendiri daripada berteman. Ah, sudahlah. Untuk apa aku pikirkan dia lagi. Dia juga belum tentu sedang memikirkan aku saat ini.

Ponselku yang ada di dalam saku celanaku bergetar. Dengan malas aku mengeluarkannya dari saku tersebut. Pasti ini Surya atau Jacky yang memberitahu mereka sudah sampai di rumah masing-masing. Dugaanku salah. Nama yang ada pada layar justru nama yang tidak aku duga-duga akan pernah menghubungiku. Hanya aku yang pernah meneleponnya. Aku menggeser simbol telepon berwarna hijau lalu mendekatkan ponsel ke telinga.

“Lia?” ucapku tidak percaya.

“Bisa temui aku sekarang?” ucapnya dengan suara terisak-isak. Apa yang terjadi padanya?

“Kamu baik-baik saja? Kamu di mana?” tanyaku cemas.

“Aku di halte.” jawabnya. Aku segera tahu halte mana yang dimaksudnya.

“Aku segera ke sana.” Cepat-cepat aku keluar kamar dan menuju kamar papa. Aku mengetuk pintu, lalu terdengar suara mempersilakan masuk. Aku membuka pintu dan melihat papa sedang memegang piyama kemudian menutup pintu lemari. Mama tidak ada di dalam kamar. Mungkin sedang di kamar mandi. “Pa, boleh aku pinjam mobil?”

“Ada masalah dengan Dodi?” tanya papa khawatir.

“Bukan, pa. Ini temanku yang lain.” jawabku cepat. Papa mengambil sebuah kunci dari atas bufet. Kunci itu diberikannya padaku.

“Hati-hati, ya.” ucap papa serius. Aku menganggukkan kepala.

“Terima kasih, pa.”

Papa pasti melihat kekhawatiran di wajahku. Bila aku sudah mencemaskan sesuatu, aku selalu terburu-buru melakukan segalanya. Termasuk saat menyetir. Berkali-kali aku berusaha menenangkan diri agar tidak mengebut di jalan raya. Setengah jam kemudian aku sudah sampai di tempat tujuan. Cepat-cepat aku keluar dair mobil. Lia sedang duduk sambil memeluk lututnya di bangku pada halte tersebut. Mendengar langkahku, dia mengangkat kepalanya.

Dadaku terasa sakit melihat wajahnya begitu sedih, terluka sekaligus ketakutan. Dia segera berdiri dan berlari mendekatiku. Ketika dia tiba-tiba saja memelukku, kekhawatiran yang dari tadi aku rasakan bertambah besar. Tubuhnya gemetar. Entah karena ketakutan atau kedinginan, aku tidak tahu. Refleks aku melingkarkan tanganku di tubuhnya.

“Ada apa, Lia?” tanyaku khawatir.

“Aku pergi dari rumah. Ayah dan mama sedang bertengkar.” jawabnya dengan suara bergetar.

“Ayo, kita masuk ke mobil. Di sini terlalu dingin. Badanmu sudah menggigil begini.” ajakku. Dia mengangguk. Aku membukakan pintu mobil untuknya. Papa selalu menyimpan pakaian kering, handuk bersih, selimut dan jaket di bagasi mobil. Aku mengambil salah satu jaket, handuk dan selimut lalu masuk ke bagian pengemudi.

“Silakan keringkan rambutmu dengan handuk ini.” Dia menerimanya dan segera menyeka rambutnya yang basah. Kemudian dia memakai jaket dan menyelimuti kakinya dengan selimut. “Sudah nyaman?”

“Sudah. Terima kasih.” ucapnya pelan. “Maaf, aku sudah merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu.” Aku meletakkan handuk yang tadi dipakainya ke jok belakang mobil. “Apa kamu lapar? Atau haus? Kita bisa pergi ke restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam.”

“Oke.” jawabnya pelan. Aku mengendarai mobil ke sebuah restoran yang masih buka dan memesan lewat mobil. Setelah membayar dan menerima pesanan, aku memarkirkan mobil di tempat parkir restoran tersebut agar aman. Ada petugas keamanan yang bertugas.

Kami makan dalam diam. Aku juga ikut makan karena udara dingin membuat perutku keroncongan. Sesekali aku melihat keadaannya. Dia hanya menunduk dan makan dengan lahap. Sepertinya dia juga kelaparan. Saat dia mengangkat kepala dan melihat ke arahku, aku tersenyum. Dia hanya diam lalu melanjutkan makannya.

Dengan suara yang pelan, namun cukup keras untuk aku dengar, dia menceritakan tentang keluarganya. Akhirnya. Setelah selama ini aku yang menceritakan segalanya, kini dia pun mau terbuka padaku.

Orangtuanya bercerai saat dia berusia delapan tahun. Terlalu kecil untuk mengerti mengapa dia harus pergi berdua saja dengan mamanya, tanpa papanya. Terlalu kecil juga untuk mengerti mengapa dia tidak bisa menemui papanya kapan saja dia menginginkannya. Penjelasan dari kedua orangtuanya tidak bisa dia terima. Lama-kelamaan dia menyerah dan menolak semua bentuk perhatian.

Mamanya menikah lagi dua tahun kemudian dengan seorang pria yang satu tempat kerja dengannya. Mereka pindah ke rumah yang baru agar bisa tinggal bersama pria tersebut. Dua tahun bersama mereka mulai bertengkar lagi, dugaan Lia terjadi. Mamanya bercerai lagi. Tidak lama kemudian mamanya menikah lagi dan ayah tirinya itu sangat jahat. Tetapi mamanya memilih bertahan. Tidak sanggup menanggung aib bila harus bercerai lagi.

Barulah setelah pria itu memukulnya hingga babak belur, mamanya menggugat cerai. Dua tahun yang lalu mamanya bertemu dengan suaminya yang sekarang. Rumah tangga mereka baik-baik saja dan jauh dari perselisihan. Tetapi dua bulan belakangan, mereka sering bertengkar. Tidak tahan lagi, hari ini Lia memilih untuk pergi dari rumah begitu mendengar mereka bertengkar.

“Mereka pasti akan bercerai. Gejalanya selalu sama. Bertengkar setiap hari, tidak tahan lagi, mama pasti akan menggugat cerai. Aku tidak suka dengan ayah tiriku. Tapi aku malu menghadapi penilaian orang mengenai mama yang suka kawin cerai.” ucapnya pelan. “Karena itu aku tidak mau kalau sampai mama bercerai lagi.”

“Aku benci pindah rumah. Aku benci menyesuaikan diri lagi dengan kebiasaan baru bila mama menikah dengan laki-laki lain. Aku ingin hidup dengan normal.” ucapnya penuh harap.

“Katamu papamu masih sendiri.” ucapku setelah dia hanya diam saja. “Mengapa kamu tidak tinggal bersamanya saja?”

“Mama tidak mengijinkanku. Pengadilan memberikan hak asuh padanya, jadi dia merasa berhak mengaturku. Itulah sebabnya aku ingin secepatnya tamat kuliah, supaya bisa keluar dari rumah. Dia boleh menikah sebanyak yang dia inginkan. Aku tidak peduli. Asalkan aku tidak tinggal bersamanya lagi.” ucapnya menjelaskan. Aku mengangguk mengerti.

Dodi yang sedang menghadapi perceraian orangtuanya sangat sedih. Masih dalam proses belum resmi bercerai, sudah membuatnya kehilangan semangat dan tidak betah di rumah. Aku tidak bisa bayangkan apa yang harus Lia hadapi dengan seorang mama yang tidak hanya memaksanya hidup bersamanya, tetapi juga memaksanya hidup bersama pria yang berbeda-beda yang harus dipanggilnya ayah. Aku juga pasti akan bersikap seperti dia. Menjauhi siapapun yang berusaha mendekatiku. Apa artinya perhatian dari orang lain kalau perhatian dari keluarga sendiri tidak didapatkan.

“Terima kasih untuk malam ini, Ari.” ucapnya saat kami sudah tiba di depan rumahnya.

“Sama-sama, Lia. Aku senang bisa membantumu.” Aku tersenyum padanya.

“Sampai jumpa besok di kampus.” ucapnya lagi. Aku mengangkat kedua alisku.

“Kamu janji tidak akan menghindari aku lagi?” tuntutku.

“Aku janji.” ucapnya serius.

“Ayo, kita berteman.” ajakku penuh harap.

“Bukankah saat ini kita sudah berteman? Teman saling menceritakan kesusahan masing-masing. Iya ‘kan?” Untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum. Senyum bahagia, bukan senyum yang dibuat-buat. Dunia pun terlihat begitu indah.

Malam itu aku tidak bisa tidur karena memikirkan percakapan kami tadi. Senyumnya menghantuiku. Setiap kali aku memejamkan mata, wajahnya pasti muncul. Berusaha mengganti posisi tidur pun tidak banyak membantu. Kami berteman. Sekarang kami resmi berteman. Bukan hanya pendapatku sendiri saja. Tetapi dia juga menganggap hubungan kami kini adalah teman.

Sudah lebih dari sepuluh baju aku coba, tidak ada yang membuatku cukup percaya diri. Aneh. Bukankah semua baju ini terlihat bagus untuk aku kenakan? Buktinya Carol yang dinilai sebagai mahasiswi tercantik di kampusnya saja bisa tertarik padaku. Tetapi mengapa pagi ini aku tidak menemukan pakaian yang bisa membuatku terlihat tampan? Aneh sekali.

“Ada apa, Ri? Mengapa semua baju kamu keluarkan dari lemari seperti ini?” tanya mama bingung. Dia memasuki kamar dan mengangakan mulutnya melihat tumpukan baju di atas tempat tidur. Aku mendesah kesal.

“Apa baju ini bagus, ma? Cocokkah kalau aku pakai ke kampus?” tanyaku sambil menunjukkan kemeja yang aku pakai.

“Anak mama ganteng begini, pakai apapun pasti bagus.” Mama merapikan kerah kemejaku lalu mengusap-usap bagian depannya agar tidak kusut.

“Tidak berlebihan pakai warna ini ke kampus?” tanyaku kurang yakin. Mama tersenyum penuh arti.

“Bawa perempuan itu ke rumah. Mama mau kenalan.” ucap mama penuh arti. Aku mengalihkan pandanganku darinya dan pura-pura sibuk merapikan pakaian yang ada di atas tempat tidur.

“Perempuan? Perempuan apa?” ucapku gugup. Mama berdiri di sisiku dan ikut membantu merapikan pakaian tersebut.

“Perempuan mana lagi? Ya yang sudah membuat anak mama bingung memilih baju. Biasanya kamu pakai apa saja yang ada di bagian paling atas atau paling tepi tempat gantungan baju. Tidak pernah bingung memilih seperti ini. Jadi, ini pasti karena perempuan. Apakah dia cantik?” tanya mama penasaran. Aku tersenyum.

“Sangat, ma.” ucapku senang.

“Segera bawa dia ke rumah. Mama mau ketemu.” Dia memasukkan beberapa kemeja yang sudah digantungnya kembali di gantungan pakaian ke dalam lemari.

“Aku tidak yakin dia mau datang ke sini,” ucapku pelan.

“Ajak saja. Kalau tidak mau, ajak lagi. Tidak biasanya kamu kehabisan akal begini.” ucap mama cepat. “Pergilah. Biar mama yang rapikan pakaianmu. Nanti kamu terlambat ke kampus.”

“Terima kasih, ma.” Aku mencium pipinya dengan sayang. “Aku sayang mama.”

“Mama sayang kamu. Hati-hati, ya.”

Hari itu adalah hari terakhir kampus beraktivitas sebelum memasuki libur akhir tahun. Aku tersenyum puas melihat deretan huruf A pada nilai akademikku di papan pengumuman. Surya dan Jacky minta ditraktir makan, aku segera menolak. Mereka baru saja makan di rumahku, tidak ada perjanjian soal traktir makan. Mereka pun pergi meninggalkan aku karena punya urusan masing-masing.

Dengan riang aku berjalan menuju perpustakaan. Tiba di pintu utama aku terkejut melihat Lia berdiri di sana. Dia melambaikan tangannya, kemudian senyum di wajahnya merekah. Aku bisa merasakan bibirku juga membentuk sebuah senyuman. Kami masuk ke dalam perpustakaan dan duduk di meja yang sama di mana biasanya kami belajar bersama.

Hari Sabtu itu kami sekeluarga berangkat ke kampung halaman ayah. Aku dan ayah bergantian mengendarai mobil. Sampai di tujuan, kakek dan nenek menyambut kami dengan riang. Ketiga adik laki-lakiku segera berebut memeluk mereka. Dengan tidak sabar, Kiel, Zad dan Rino pergi bersama kakek ke kandang ayam. Kami mengikuti nenek untuk menyimpan barang masing-masing ke dalam kamar. Aku berbaring sebentar di tempat tidur sambil berbincang dengan Lia lewat pesan.

Dia juga baru sampai di kota di mana ayahnya tinggal. Dengan antusias dia menceritakan bagaimana penerbangannya tadi. Saat ini dia sedang menunggu ayahnya datang ke bandara untuk menjemputnya. Dia berjanji akan meneleponku bila dia sudah sampai di rumah ayahnya.  Aku memasukkan ponsel ke dalam saku dan menyusul keluargaku ke ruang makan.

Lima hari tinggal di rumah kakek dan nenek, kami melakukan semua kegiatan yang kami sukai. Membantu mengumpulkan telur ayam dari kandang, membersihkan kandang ayam, memberi makan, hingga memeriksa telur ayam yang sedang dierami menggunakan alat khusus. Kami juga ke sawah dan ke ladang. Bertepatan dengan masa panen, kami ikut memanen padi bersama para pekerja. Dan yang paling menyenangkan, mandi di sungai.

Hari terakhir di desa, kami bermain di sungai sepuasnya. Papa dan mama pamit lebih dahulu, kami lanjut berenang dan bermain bersama. Kami berlima bisa berenang dengan baik karena hampir setiap minggu papa mengajak kami berenang sejak kami masih kecil. Sedang asyik berenang, tiba-tiba Ela berteriak menyebut nama Rino. Aku menoleh dan melihat adik bungsuku sedang berusaha berenang ke permukaan air sungai. Bukannya bertahan berada di permukaan, tubuhnya terbawa arus ketika dia berhenti berusaha.

“Rino!” panggilku dengan panik. “Ela, jaga Kiel dan Zad.” Begitu melihat dia memegang kedua adik kami, aku berenang mendekati Rino.

Ya, Tuhan. Jangan sampai aku kehilangan dia. Arus di tengah sungai sangat deras. Aku masih bisa melihat rambut adikku yang berenang menjauh. Sebisa mungkin aku tetap tenang dan tidak panik. Sesekali aku bisa melihat dia berusaha berenang melawan arus, ketika di kesempatan lain dia menyerah. Tanganku sakit, kakiku tidak sanggup bergerak lagi, tetapi aku memaksakan diri untuk terus mengejarnya mengikuti arus. Aku tidak mau kehilangan adikku.

Tiba-tiba tanganku ditarik dari belakang, aku menoleh. Mama mengajakku menepi. Aku nyaris menolak karena belum berhasil menolong Rino. Aku tidak mungkin menepi di saat adikku belum bersamaku. Mama masih berusaha menarikku ke tepi. Aku melihat ke arah di mana terakhir Rino berada dan menemukan papa sudah membawanya ke tepi sungai. Belum pernah aku merasa selega itu. Bersama mama akhirnya aku menepi.

Aku menarik napas panjang berusaha meredakan detak jantungku yang kencang. Nyaris memaksa keluar dari dada. Sakit sekali. Ela kemudian datang dan memelukku dari belakang. Dia menangis sedih sekaligus lega. Si kembar juga ikut memelukku. Lalu mereka bertiga mendekati Rino dan memeluknya. Papa membopong adikku dan mendekatiku.

“Kamu tidak apa-apa, Ari?” tanyanya khawatir. Mengapa dia malah bertanya dan tidak memarahiku?

“Maafkan aku, pa. Aku tidak menjaga Rino dengan baik.” ucapku penuh sesal. Tangisku meledak.

“Aku juga tidak mengawasi mereka dengan baik.” Ela menangis tersedu-sedu.

“Siapa yang bilang begitu? Kalian berdua sudah menjaga adik-adik kalian dengan baik. Rino terbawa arus, itu bukan salah kalian berdua.” ucap papa serius.

“Tapi kalau aku bisa mengawasi mereka dengan baik,” ucapku lagi. Papa menyentuh pipiku agar aku kembali menatapnya.

“Ari, itu bukan salahmu.” ucapnya serius. “Kita sama-sama tahu air sungai kadang berarus deras. Kamu tidak bersalah. Papa maupun mama tidak marah. Kamu mengerti?”

“Tapi andai tadi Rino tenggelam,” ucapku lagi.

“Dia tidak tenggelam, kamu telah menolongnya.” ucap papa lagi. “Kalau dia tenggelam pun, papa akan datang menolongnya. Siapapun dari kalian yang terluka, papa akan datang. Tetapi kecelakaan itu bukan kesalahan kalian. Mengerti?” Aku mengangguk-anggukkan kepala. Papa memelukku. Kemudian mama juga ikut memelukku.

Butuh waktu lama bagiku untuk pulih dari kejadian hari itu. Telepon dan pesan dari Lia pun tidak aku responi. Khawatir dia akan salah paham dengan sikap diamku, aku meneleponnya dan mendengarkan ceritanya di hari terakhir berada di rumah ayahnya. Aku tidak menceritakan pengalaman apapun padanya seperti biasanya. Masih trauma dengan kejadian di sungai. Saat pulang pun, papa tidak mengijinkan aku menyetir. Jadi aku punya banyak waktu untuk memulihkan diri.

Hari Minggu itu Lia mengajak bertemu. Meskipun belum siap untuk bertemu dengannya, aku mengiyakan dan datang ke kafe yang dipilihnya. Dia terlihat cantik sekali dengan senyum bahagia yang tidak lepas dari wajahnya. Kemudian dia memberikan sebuah bungkusan padaku. Karena desakannya, aku membukanya dan ada dua kaus di dalamnya. Oleh-oleh.

“Terima kasih.” ucapku pelan. Dia mengerutkan keningnya.

“Kamu kelihatan sedih. Ada apa? Liburannya tidak lancar?” tanyanya heran. Aku tersenyum.

“Ada kejadian yang kurang menyenangkan saat kami pulang ke kampung halaman papa.” Aku mendesah pelan. Aku belum siap untuk menceritakannya.

“Oh. Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?” tanyanya cemas. Aku tertegun mendengarnya. Benarkah dia khawatir padaku?

“Aku akan baik-baik saja. Hanya butuh waktu untuk memaafkan diri sendiri.” Aku kembali tersenyum. Dia membalas senyumku.

“Aku tahu apa yang bisa menghiburmu.” ucapnya penuh arti.

“Oh, ya? Apa?” tanyaku penasaran. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya kemudian meletakkannya di atas meja. Tiket konser! “Ba, bagaimana kamu tahu aku suka grup musik ini?”

“Kamu tidak berhenti membicarakan mereka. Tentu saja aku tahu.” Dia tertawa kecil. “Kita pergi sekarang?” Tanpa menjawab aku menarik tangannya untuk berdiri. Dia tertawa semakin keras. Kami membayar tagihan lalu bergegas keluar dan menghentikan taksi yang lewat.

Menonton konser musik bersama gadis yang aku sukai, mengapa tidak?

(Sumber foto: Google Images dengan modifikasi seperlunya)

Cerita sebelumnya:

Salam Sayang untuk Dia 4 – Dimulai dari Persahabatan

Cerita selanjutnya:

Salam Sayang untuk Dia 6 – Tidak Ada yang Abadi

Share.

About Author

Selain menulis, saya suka membaca, menonton dan jalan-jalan. Hobi makan, apalagi ditraktir. Hahaha...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage