Sebuah Penantian Panjang 2 – Berdua Saja denganmu

Sebuah Penantian Panjang 2 – Berdua Saja denganmu

2

Aku tahu istriku tidak bahagia. Apapun yang aku lakukan, aku kalah dengan suara orang banyak yang berkata bahwa hidup kami tidak sempurna. Anak. Hanya karena seorang anak. Mengapa mereka tidak tutup mulut saja dan urus urusan mereka masing-masing? Apa yang salah dengan suami istri yang masih ingin berdua, saling mencintai dan tidak merasa ada yang kurang? Anak. Bukankah kehadiran anak hanya bisa direncanakan dan diharapkan tetapi tidak bisa benar-benar dipastikan karena itu adalah urusan Tuhan? Bila Tuhan ingin memberi, Tuhan akan memberi. Bila Tuhan ingin menunda, maka Tuhan akan menunda. Sesederhana itu.

Kami sudah menemui dokter. Segala jenis pemeriksaan sudah kami jalani. Dan setiap kali hasilnya keluar, dia selalu terlihat begitu hancur. Menangis semalaman bukan karena kami sedang sakit, tetapi karena kami sehat. Bayangkan, dia menangis semalam suntuk karena kami sehat! Bagiku itu kabar baik karena kami masih punya harapan. Baginya itu kabar buruk karena seharusnya kami sudah lama punya momongan tetapi Tuhan belum juga memberikannya.

Kalau orang lain yang tidak mengerti duduk perkaranya melihat hal itu, mereka pasti berpikir dia baru saja mendengar vonis dokter bahwa dia sekarat dan hidupnya sudah tidak lama lagi. Kira-kira seperti itulah tangisannya. Sangat memilukan hati.

Aku sayang dia, sayang sekali. Tetapi kadang-kadang aku ingin mengguncang-guncang tubuhnya dan mengatakan bahwa segalanya baik-baik saja. Pernikahan kami baik-baik saja. Kami menikah karena kami saling mencintai. Bukan karena kami menginginkan anak. Peduli amat dengan apa kata orang. Kami bahagia. Itu sudah cukup.

Kedua mertuaku tidak banyak membantu. Mereka malah menambah pikirannya dengan menanyakan hal yang sama juga. Bukankah mereka sudah punya banyak cucu? Haruskah mereka minta juga dari Uli yang berusaha untuk tegar dan bahagia dengan apa yang kami miliki, bukan pada apa yang tidak kami miliki? Bukankah itu kebahagiaan yang sebenarnya? Puas dengan apa yang dimiliki, bukan malah terus memikirkan apa yang belum ada?

Mengetahui dia sampai memeriksa sendiri apakah dia hamil atau tidak membuatku marah dan kecewa. Aku suaminya. Aku berhak tahu dan hadir di saat-saat terpenting dalam hidupnya. Iya. Aku sangat marah ketika dia menangis tanpa henti setiap kali mendapati alat tes itu menunjukkan hasil yang negatif. Tetapi itu karena aku sayang padanya. Bukan karena aku membencinya. Aku tidak sanggup melihatnya menangis tersedu-sedu hanya karena alat tes. Dunia belum berakhir. Kami masih bisa mencoba lagi. Apalagi prosesnya sangat menyenangkan. Mengapa begitu sulit baginya untuk tetap berpikir positif?

Oke, Josh. Cukup. Kamu sedang berada di kantor dan pekerjaanmu masih menumpuk. Fokus. Saatnya untuk bekerja. Bukan malah memikirkan Ulimu. Huff. Benar. Ini saatnya untuk konsentrasi bekerja. Akan ada saatnya untuk memikirkan Uliku dan pernikahan kami. Pernikahan. Rasanya masih tidak percaya kami akhirnya menikah dan hidup bersama. Setiap hari masih seperti suasana bulan madu. Tentu saja aku harus banyak menahan diri. Kami sudah tinggal bersama kakak dan Mark. Bila kami masih tinggal berdua saja di rumah kontrakan, aku bisa bebas melakukan apapun bersamanya.

Oke, oke. Aku sudah melantur lagi. Fokus. Aku melihat ke arah layar komputer dan mulai memeriksa laporan keuangan berikutnya. Setelah selesai, aku mengirimnya pada Uli untuk dicetak dan dibawa kepadaku nanti setelah semua berkas lainnya selesai aku periksa. Menjelang makan siang, semua berkas selesai diperiksa, dia masuk ke ruanganku beberapa menit kemudian. Dia tidak berubah. Selalu bekerja dengan efektif dan efisien. Aku meraih tangannya begitu dia meletakkan berkas itu di atas mejaku. Satu kecupan saja. Oke, aku bohong. Aku butuh lebih dari satu ciuman. Ketika dia memberontak ingin lepas, aku menurutinya.

“Sepertinya saya harus mulai memikirkan untuk melaporkan kejahatan ini pada bagian kepegawaian. Bapak telah melecehkan saya sebagai seorang asisten.” Dia memicingkan matanya. Aku tertawa. “Mengapa anda tertawa? Saya sangat serius, pak.”

“Kamu mengancamku, Uli?” ucapku di sela-sela tawa. Dia menyilangkan tangan di depan dadanya.

“Kalau pulang kerja nanti kita makan di restoran favoritmu, lalu dilanjutkan dengan menonton film pilihanmu dengan popcorn juga minuman bersoda dengan rasa dan ukuran sesuka kamu dan aku yang bayar semuanya, apakah kamu akan tetap melapor ke bagian SDM?” tanyaku pura-pura sibuk dengan berkas yang diletakkannya tadi di atas mejaku. Dari sudut mata aku bisa melihat wajahnya segera berubah ceria.

“Benarkah?” tanyanya tidak percaya.

“Waktumu lima detik untuk memutuskan.” ucapku acuh tidak acuh. Kedua tangannya menyentuh pipiku kemudian dia membuatku menoleh ke arahnya. Dia mengecup bibirku.

“Sampai jumpa jam enam nanti, Pak Bos.” ucapnya girang. Dia melambaikan tangan sebelum menutup pintu ruanganku. Aku hanya tertawa kecil. Yah, menaklukkan wanita memang ada seninya sendiri.

Kantor cabang pertama berjalan dengan baik, aku berencana membuka cabang kedua. Dana sudah memadai tetapi aku butuh pertimbangan tempat yang cocok. Aku tidak mau salah memilih lokasi yang justru membuatku merugi. Saut pasti punya ide cemerlang. Aku harus segera mendiskusikan ini dengannya. Tetapi jadwalku sedang padat. Aku meminta Uli untuk memasukkan pertemuan makan siang dengan Saut pada jadwal di hari kerja bulan ini. Akhir pekan tidak boleh ada urusan kerja. Itu waktu khusus untukku bermesraan dengan istri.

“Jangan lupa, Sabtu ini adalah minggu ketiga.” ucap Uli saat kami sedang makan malam. Kecuali Sabtu yang satu itu. Aku tidak bisa berduaan saja dengannya sepanjang hari. “Sudah pikirkan akan ke mana dengan Bang Saut dan Bang Deka?”

“Semoga bukan ke kolam renang lagi. Aku bosan.” keluhku. Dia tertawa kecil.

“Namanya membawa anak-anak. Pergi ke taman bermain kamu juga bosan.” Dia memasukkan sesendok sayuran ke dalam mulutnya.

“Setidaknya lebih variatif.” ucapku tidak mau kalah. “Tidak bisakah aku di rumah saja dengan Mark?”

“Boleh.” jawabnya santai. Aku mendesah pelan mendengarnya. “Kalian para pria bebas melakukan apapun yang kalian mau. Yang pasti, hari Sabtu itu kami tidak mau diganggu.”

“Kamu bersama tiga perempuan sahabatmu itu memangnya mau ke mana?” tanyaku penasaran. Tiga perempuan itu adalah Kak Ruth, Kak Duma dan Ayu. Setiap bulan pada hari Sabtu di minggu ketiga kami membebaskan mereka melakukan apa yang mereka mau tanpa suami dan anak-anak. Hari yang paling aku benci. Menyesal juga mengapa dahulu aku setuju memberikan satu hari itu untuknya beraktivitas tanpaku.

“Rahasia. Supaya kalian tidak mengekori kami lagi.” Dia memicingkan matanya. Aku tertawa kecil. Bulan lalu kami memang mengikuti mereka ke sebuah kafe. Mereka sedang asyik berbincang sambil menikmati es krim. Anak-anak yang kami bawa langsung berlari mendekati mama dan bou mereka. Sebagai yang paling muda, anak-anak bebas dari amarah. Tetapi keempat perempuan itu menatap kami dengan tajam. Aku, Saut dan Deka pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing. Kami sangat mencintai pasangan kami. Tetapi kalau mereka sudah marah, kami memilih untuk menghindar daripada menghadapinya.

“Lalu kalau aku rindu kamu, bagaimana cara menemuimu?” keluhku lagi.

“Josh, kita bersama nyaris dua puluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu, tiga puluh hari dalam sebulan, tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun. Itu pun masih kurang?” ucapnya tidak percaya.

“Bukan salahku kalau kamu mudah dirindukan.” Aku pura-pura cemberut.

“Cepat habiskan makananmu. Film yang akan kita tonton hampir dimulai.” ucapnya sambil mempercepat gerakannya menghabiskan makanan di atas piringnya.

Tidak ada jenis film tertentu yang disukai oleh istriku. Bila dia menyukai pemin filmnya, apapun jenisnya akan dia pilih. Mulai dari komedi, humor, horor, laga sampai film yang menegangkan dari detik pertama hingga detik terakhir sudah pernah aku tonton bersamanya. Untung saja film kali ini film laga. Aku tidak akan mengantuk selama berada di dalam studio.

Dan Sabtu itu pun tiba. Aku hanya cemberut menatap istriku bangun dengan penuh semangat. Keluar dari kamar mandi wajahnya semakin ceria. Dia merias wajah dan menata rambutnya begitu bagus. Membuatku sedikit cemburu. Oke, aku akui, aku sangat cemburu. Dia mau bertemu dengan teman-teman perempuan atau selingkuhannya? Mengapa dia harus berdandan secantik itu? Belum lagi pakaian yang dikenakannya adalah baju yang aku berikan pada hari ulang tahunnya.

“Selamat pagi, hasian.” Dia mencium rambutku lalu berjalan mendekati pintu kamar. Aku hanya menyilangkan tangan di depan dada dan mendesah kesal. Tanpa dia di rumah apa yang akan aku lakukan sepanjang hari ini?

Dengan malas aku mandi dan berganti pakaian. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalaku. Iya. Mengapa tidak? Daripada aku hanya di rumah saja. Belum lagi aku rindu dia kalau berpisah sebentar saja. Melihatnya sedang menyiapkan sarapan di dapur, aku duduk di salah satu kursi dan menikmati kopi hitam yang sudah disediakannya untukku. Ketika dia meletakkan satu mangkuk bubur ayam di depanku, air liur pun terbit. Mark dan kakak bergabung kemudian.

Kami sedang asyik menonton berita pagi ketika mendengar bunyi klakson mobil. Dia berdiri lalu menyandangkan tas ke bahunya. Aku kembali mendesah kesal. Kakak dan Mark hanya tertawa geli. Huh. Mereka boleh tertawa sekarang. Nanti kalau mereka sudah berada di posisiku, giliran aku yang menertawai mereka yang galau karena tingkah pasangan mereka. Aku merasakan sebuah tangan menyentuh bahuku lalu sebuah ciuman mendarat di kepalaku.

“Sampai jumpa nanti malam, ya, hasian.” ucap Uli sambil melambaikan tangannya. Dia bergegas menuju pintu dan bersama kakak, dia pun menghilang di balik kayu lebar dicat putih tersebut.

“Kamu tidak apa-apa membersihkan rumah sendirian?” tanyaku pada Mark. Dia menoleh sambil mengerutkan keningnya.

“Aku tidak mengerti. Memangnya abang mau ke mana?” tanyanya heran. Aku sudah bilang akan di rumah saja sepanjang hari ini. Tetapi ada rencana mendadak, mau bilang apa.

“Sabtu depan aku yang akan membersihkan rumah sendiri. Oke?” Aku bergegas berdiri. Kunci mobil dan ponsel sudah aman berada di dalam saku celana.

“Mengapa tidak besok saja? Biar aku bisa keluar seharian dengan Rahel.” protesnya. Dia mengikutiku menuju pintu depan.

“Besok jadwal tetap untuk mengunjungi mertuaku.” ucapku mengingatkan. Dia menghentikan langkahnya. Aku terus saja melangkah.

“Jadi, aku yang membersihkan rumah selama dua hari berturut-turut?” protesnya keras.

“Sabtu dan Minggu depan giliranku. Aku janji.” Aku membuka pintu mobil.

“Sabtu depan hari ulang tahunku. Aku dibebaskan dari pekerjaan rumah.” ucapnya cepat. Aku mendesah pelan.

“Oke. Dua pekan depan aku yang membersihkan rumah sendiri.” Dengan cepat aku menyetujuinya. Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara dengannya lebih lama lagi.

“Pegang kata-katamu, bang.” ucap Mark serius. Aku mengacungkan jari telunjuk dan tengahku. Dia tidak puas dengan itu, tetapi dia tahu ucapanku bisa dipercaya.

Untung saja setelah sepuluh menit mengikuti arah yang biasa dilalui Kak Duma, aku menemukan mobil miliknya. Dengan menjaga jarak aman, aku mengikuti mereka. Di depan sebuah mal mobil berbelok masuk ke areal parkir. Aku memilih tempat kosong pertama yang aku temui. Mereka masih terus mencari tempat parkir yang dekat dengan lokasi pintu masuk.

Oke, oke. Aku tahu apa yang aku lakukan ini salah. Tetapi aku mengawasi istriku bukan karena aku tidak percaya padanya. Serius ini. Aku percaya dia hanya jalan-jalan menikmati waktu bersama teman-temannya. Tetapi lihatlah sepatu hak tinggi yang dipakainya. Kalau dia salah langkah dan terpelekok, siapa yang akan menolongnya dengan cepat kalau bukan aku? Lalu kalau ada yang membuatnya sedih, siapa yang akan memeluk dan menenangkannya? Ehem, ehem. Sudah pasti aku. Jadi, aku ada di sini tidak jauh darinya, ya, untuk kebaikannya juga, toh. Aku adalah suami siaga.

Tempat pertama yang mereka datangi adalah toko besar yang menyediakan berbagai macam kebutuhan pakaian wanita beserta segala asesorisnya. Membosankan. Dengan pakaian miliknya yang memenuhi lemari tiga pintu di kamar, apa dia masih butuh pakaian lagi? Atau jangan-jangan… Dia mau membeli sepatu atau tas? Uang bukan masalah bagiku, karena dia punya uang pendapatan sendiri. Yang menjadi masalah kalau harus menambah lemari lagi hanya untuk tas barunya itu. Aduh! Kamar kami sudah tidak muat lagi kalau ditambah perabotan sekecil apapun.

Makanya aku tidak mau membelinya perhiasan, sepatu atau tas baru sebagai hadiah. Hanya kalau ada pakaian bagus yang sepertinya cocok untuk dia kenakan, barulah aku tidak menahan diri untuk memberikannya padanya. Seperti yang saat ini dipakainya. Uliku tidak secantik Aishwarya Rai Bacchan. Tetapi kalau dia memakai pakaian yang tepat dengan dandanan dan tataan rambut yang pas, pria-pria pasti meliriknya. Walaupun itu hanya untuk sedetik, darahku mendidih. Huh. Apa mereka tidak melihat cincin yang ada di jarinya? Wanita itu sudah ada yang punya, kawan.

Tiga jam lebih berkeliling, aku sudah sangat bosan. Kakiku sakit dipaksa berjalan lebih panjang dibandingkan biasanya. Mereka masih betah berpindah dari rak satu ke rak lain kemudian mencoba pakaian yang mereka suka di kamar pas. Heran, dari mana mereka mendapatkan tenaga sebanyak itu? Tidak lelah-lelahnya berkeliling mencari pakaian baru. Aku sudah mau pingsan karena kakiku hampir lepas. Capainya… Tidak mau lagi aku mengikutinya ke tempat ini. Kapok.

Betapa leganya aku ketika mereka berjalan mendekati kasir. Semakin lega lagi saat mengikuti mereka menuju sebuah restoran. Aku duduk di tempat yang tidak jauh dari mereka. Sambil makan mereka berbincang entah apa, aku tidak bisa menangkapnya dari tempat dudukku. Tetapi Uliku banyak tertawa. Melihat itu sudah sangat melegakan.

Menjelang malam mereka meminta tagihan. Pelayan mendatangi meja mereka dan mengatakan sesuatu sambil menunjuk ke arahku. Kakak dan Uli sama-sama memicingkan matanya ke arahku. Kak Duma dan Ayu hanya tertawa. Mereka berdiri, saling mencium pipi kanan dan kiri, lalu memisahkan diri. Hanya Uli yang berjalan ke arahku. O-ow. Ekspresi wajahnya sangat serius. Aku berdiri, menunggunya mendekat. Dia kemudian tertawa dan melingkarkan tangannya di lenganku. Aku mendesah lega.

“Satu hari, hasian. Aku hanya minta satu hari darimu.” ucapnya di sela-sela tawa. Aku melepaskan genggaman tangannya dan melingkarkan tanganku di bahunya. Dia melingkarkan tangannya di punggungku. Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir di lantai bawah.

“Aku sudah bilang, bukan salahku kalau kamu mudah dirindukan.” ucapku mengingatkan. Dia mendesah pelan.

“Besok kita ke rumah bapak dan mamak. Apa kamu sudah siap?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Aku tersenyum.

“Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah siap dengan pertanyaan pamungkas mereka?” Aku balik bertanya. Dia tertawa kecil.

“Mengenai anak?” Aku mengiyakan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Saat aku pikir aku sudah siap untuk bersikap tegar, mendengar pertanyaan itu, ada bagian dalam diriku yang merasakan sakit. Maafkan aku kalau nanti aku menangis lagi.”

“Menangis bukan masalah, sayang. Tetapi kamu bukan sekedar menangis. Kamu berteriak sampai suaramu serak dan kepalamu sakit. Aku tidak suka melihatmu menyiksa diri sendiri.” ucapku jujur. Jantungku bagaikan tersayat setiap kali melihat dia terluka. Ya, ya, ya. Aku berlebihan. Tetapi tidak ada pengandaian yang cukup mewakili responku terhadap air matanya selain itu. Tersayat. Huff… Kalau aku sebut duniaku berakhir melihat dia menangis, itu baru namanya berlebihan.

“Aku akan berusaha, oke?” janjinya. “Tidak mudah menghadapi kenyataan bahwa kita sudah menikah selama hampir lima tahun dan belum juga punya anak.” Selalu begitu. Dia hanya melihat pada ketiadaan anak, bukan lamanya kami telah bersama. Dia berubah sejak mendengarkan apa yang dikatakan orang tentang kami. Sebelumnya, tidak peduli apapun yang orang katakan, dia bahagia hanya dengan berada di dekatku saja.

“Bisa kamu bayangkan itu? Kita sebentar lagi genap lima tahun menjadi suami istri.” Aku mencium pelipisnya. “Aku mencintaimu.”

“Aku lebih lagi.” balasnya. Kali ini aku tidak mendebatnya.

Kami tiba lebih dahulu di rumah mertuaku. Pulang dari ibadah, kami tidak pulang ke rumah dan memutuskan untuk langsung ke rumah mereka. Dengan pakaian ganti yang kami bawa, kami berganti pakaian dengan baju yang lebih santai. Berada di kamarnya aku jadi teringat dengan kesalahpahaman kami mengenai buket bunga lili yang semula dikiranya akulah pengirimnya. Tanpa aku sadari ternyata di malam itu Uli sudah menentukan pilihannya. Dia memilihku untuk menjadi suaminya.

Aku memasukkan kembali tas berisi pakaian kami ke dalam bagasi mobil. Bersamaan dengan itu mobil Saut dan Deka berhenti di tepi jalan di depan rumah. Anak-anak mereka segera keluar dari mobil dan memelukku. Serentak mereka menanyakan di mana bou mereka. Aku menunjuk ke arah rumah. Mereka segera berlari berebut masuk. Untung saja Uliku sudah membeli permen untuk mereka. Keponakanku memang merepotkan. Aku menyambut Saut dan Deka serta kedua istri mereka. Lalu kami menyusul anak-anak masuk ke rumah.

Uli keluar dari dapur dengan wajah cemberut. Aku tertawa melihatnya. Pasti Kak Duma dan Ayu yang mengusirnya keluar. Entah apa yang telah mereka sepakati berdua. Istriku pintar memasak. Masakannya sangat lezat. Tetapi baik mamaknya, Kak Duma dan sekarang ditambah dengan Ayu, tidak pernah mengijinkan dia ikut memasak di dapur. Memotong sayuran atau mencuci buah pun tidak boleh. Dia hanya boleh duduk melihat mereka bekerja. Untuk menghiburnya, aku memeluknya sesaat. Uhuk. Tidak boleh lama-lama karena ibu mertuaku cerewet soal itu. Ampun. Padahal kami sudah suami istri, bukan sekedar pacaran lagi. Beda sekali kalau Saut atau Deka yang bermesraan dengan istri mereka. Sangat diperbolehkan. Huh. Tidak adil.

Aku mengajaknya untuk menemani anak-anak bermain. Beberapa menit kemudian kami sudah berada di kamar Saut bersama empat keponakan kami. Para wanita bermain dengan boneka di tempat tidur. Para pria membangun apa saja yang kami imajinasikan dengan kepingan-kepingan Lego di lantai. Bosan dengan permainan itu, aku hanya mengamati mereka membuat sesuatu dengan kepingan tersebut. Ditanya apa benda yang sedang mereka buat, jawabannya sungguh di luar dugaanku. Apa yang ada dalam pikiran mereka sangat berbeda dengan bentuk benda yang mereka bangun. Aku menutup mulut dengan tangan dan berdehem pelan untuk mencegah tawaku meledak.

Begitu mendengar panggilan untuk makan, serentak kami semua bersorak senang. Kebetulan perut juga sudah lapar. Anak-anak bergegas mendekati pintu, namun Uli segera memanggil mereka. Mainan itu harus dikembalikan ke tempatnya semula sebelum mereka ke ruang makan. Sedikit mengeluh mereka melakukan perintahnya. Saat Uli bernyanyi, mereka bersenandung mengikuti lagu tersebut dan merapikan mainan dengan riang. Anak-anak. Entah apa yang menarik dari sebuah lagu sampai bisa mengubah suasana hati mereka. Pantas saja mereka suka sekali dengan Uliku. Dengan bergandengan tangan, kami semua menuju ruang makan.

Suasana hanya hening saat bapak Uli memimpin doa makan. Selebihnya semua orang bicara di saat yang bersamaan sehingga ruangan itu begitu ramai. Kami sama-sama kesulitan untuk konsentrasi pada percakapan yang ingin kami ikuti. Akhirnya aku memilih untuk berbincang dengan Saut dan Deka ketika Uliku berbincang dengan Kak Duma dan Ayu. Keluarga dan makanan lezat memang perpaduan yang sempurna. Aku tertawa melihat anak-anak juga mempunyai percakapan mereka sendiri.

“Jadi, bagaimana, Uli? Apakah sudah ada kabar baik darimu?” tanya mamak Uli yang segera membuat suasana gaduh di ruangan itu mendadak senyap. Begitu senyap sehingga detik jam dinding terdengar nyaring. Bahkan anak-anak juga ikut diam. Aku merasakan tangan Uli menyentuh pahaku.

“Belum, mak. Kalau sudah ada, mamak akan menjadi orang pertama yang tahu.” jawabnya dengan senyum manis di wajahnya.

“Tidak ada salahnya kalau kamu mencoba mendatangi tulangmu.” ucap mamak Uli untuk kesekian kalinya. Saut berdehem.

“Uli bukannya tidak mencoba, mak. Kita semua paling tahu apa yang sudah dijalaninya untuk bisa punya anak. Sekarang bukan saatnya menjejali dia dengan saran dan saran lagi. Mamak doakan saja. Lalu kita tunggu sampai mereka sendiri yang memberikan kabar baik itu pada kita. Uli dan Josh juga pasti ingin sekali punya anak. Tapi terus-menerus bertanya tidak akan menghibur mereka berdua. Malah kita membuat mereka sedih.” ucap Saut prihatin. Ibu mertuaku merapatkan bibirnya.

Topik itu tidak dibahas lagi. Terima kasih pada Saut. Kami berkumpul bersama di ruang keluarga dan berbincang dengan akrab. Saut dengan kocak menyampaikan perkembangan anak-anak dan pekerjaannya. Kak Duma juga melakukan hal yang sama. Aku mewakili Uli menyampaikan apa yang kami lakukan beberapa minggu terakhir. Tidak sespektakuler mereka yang sudah punya anak. Namun aku senang melihat wajah iri mereka saat aku menceritakan pengalaman kami berlibur ke Malaysia. Masih berdua dan belum punya anak memang ada keuntungannya sendiri. Kami bisa berjalan-jalan tanpa harus khawatir mengenai anak-anak.

Hm. Benar juga. Uli sangat senang bila kami pergi berlibur. Beberapa minggu terakhir dia dipusingkan dengan pendapat orang-orang sok perhatian di sekitar kami. Huh. Ditambah lagi aku membuatnya sangat sibuk di kantor. Betul juga. Dia pasti senang bisa menggoda abang dan kakaknya lewat foto-foto yang kami unggah ke akun media sosialnya. Oke. Rencana tinggal dieksekusi.

Misi berikutnya, membuat Uliku tertawa sepanjang hari pada liburan nanti.

Keterangan:

Bou – bibi, panggilan akrab dari namboru; panggilan kepada saudara perempuan dari ayah.

Hasian – sayang.

(Sumber foto: download-wallpaper.net dengan modifikasi seperlunya)

Cerita sebelumnya:

Sebuah Penantian Panjang 1 – Hanya Satu Permintaan

Cerita selanjutnya:

Sebuah Penantian Panjang 3 – Tiga Kata yang Menakutkan

Share.

About Author

Selain menulis, saya suka membaca, menonton dan jalan-jalan. Hobi makan, apalagi ditraktir. Hahaha...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage