Siti Zubaidah (Bagian 6)

Siti Zubaidah (Bagian 6)

0

Sumber foto : Vebma.com

Akhirnya pada subuh hari sampailah mereka di Tanjung Balai. Henry dan Siti lalu menjerit kegirangan ketika berhasil menjejakkan kaki di daratan kota Tanjung Balai itu. Mereka lalu beristirahat di rumah Samosir. Henry sangat terharu ketika Samosir yang tanpa pamrih itu, segera mengurus KTP, KK dan Paspor Siti, yang tentu saja lewat “jalur belakang!” Empat hari di Tanjung Balai, Henry lalu berpamitan kepada Samosir. Henry hendak mengunjungi orangtuanya ke Perbaungan sekaligus memperkenalkan Siti kepada keluarganya.

Henry sudah bertekad akan memperkenalkan Siti sebagai calon istrinya kepada papa dan mamanya. Apalagi Siti sudah mengorbankan banyak hal untuk kelanjutan hubungan mereka itu. Ketika mereka tiba, ternyata papanya sedang berada di Jakarta untuk mengurus bisnis pak Tandiono. Henry kemudian menceritakan semuanya kepada mamanya, dan memohon restu mamanya agar diizinkan menikahi Siti kelak.

Mamanya sungguh terharu mendengar penuturan Henry. Belum pernah sekali pun Henry bercerita tentang seorang gadis ataupun pacar kepada mamanya itu. Kini Henry datang untuk memperkenalkan seorang calon istri kepada mamanya. Mamanya sangat bahagia, apalagi calon menantunya itu seorang dokter juga. Jawaban dari mama Henry kemudian sangat mengejutkan. Mereka disuruh menikah sekarang juga!

Henry dan Siti sangat senang sekaligus bingung mendengar perintah dari mamanya itu. Mereka bingung karena tidak pernah membayangkan akan menikah secepat itu. Lagipula mereka belum pernah sekali pun membahas soal agama mereka. Henry semakin bingung karena dia tidak tahu apa agamanya. Walaupun dulu sering pergi beribadah ke gereja bersama Clara dan Rina ketika masih tinggal di rumah om Benny, tapi Henry tidak yakin kalau dia seorang kristen.

Henry juga merasa bukan seorang Budhis atau Kong Hu Cu atau penganut suatu kepercayaan apapun itu. Tapi Siti kemudian menenangkannya. Ini cuma acara seremonial pernikahan saja, jadi sebaiknya mereka menurut saja. Soal keyakinan, itu terpulang kepada keyakinan masing-masing, yang tidak bisa diintervensi oleh orang lain.

Mereka berdua pun akhirnya pasrah dan segera dibaptis. Dua minggu kemudian, mereka menikah secara sederhana dirumah pendeta yang membaptis mereka tersebut. Mama Henry sudah bertekad, kali ini dia tidak akan mengalah lagi. Dia sangat mencintai anaknya dan kini menantunya itu juga. Mereka berdua sudah dewasa dan saling mencintai. Mereka berdua berhak menentukan hidup mereka sendiri. Tidak akan dibiarkannya siapapun mengganggu hal tersebut, termasuk juga suaminya sendiri!

Dunia ini semakin rusak karena orang mau hidup bersama tanpa cinta. Karena orang tersebut tidak mengenal cinta, sehingga tidak menghargai apa yang namanya cinta. Orang sering memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu, atau melarang orang lain untuk melakukan sesuatu karena orang tersebut tidak mengenal arti dari sebuah cinta sejati….

Henry ahirnya memutuskan tinggal di Bogor. Henry lalu bekerja sama dengan seorang sahabatnya dulu untuk berbisnis Alat-alat kesehatan dan obat-obatan. Bekerja dan tinggal di kota hujan itu terasa pas bagi Henry dan Siti. Santai dan enak!

Cinta itu memang akan selalu enak dan mengasyikkan, kalau diletakkan diatas segalanya…..

***

Orang bilang Bandung adalah Paris van Java. Tetapi bagi orang yang saling jatuh cinta, Bogor adalah Kota cinta yang eksotis juga. Atmosfir hujannya sering membuat orang suka “latah” untuk mengucapkan kata-kata cinta…. Henry dan Siti sangat menikmati keberadaan mereka di kota ini. Bogor mampu membuat mereka terbebas dari segala tekanan, dan membuat mereka lebih nyaman untuk “bercinta…”

Tetapi kini datang sebuah ancaman baru bagi mereka. Pemerintah Diraja Malaysia mencari Siti, karena Siti dianggap “desersi” lari dari tugas. Padahal Siti dulu berkuliah dengan fasilitas bea siswa dari kerajaan, yaitu beasiswa dengan ikatan dinas! Bayangan “peristiwa buruk” di Kuala Kangsar, bisa saja terulang kembali di Bogor.

Bisa saja, akibat tekanan diplomatik dari pihak Kerajaan Malaysia, Siti akan langsung dideportasi pihak imigrasi Indonesia dan ditahan ketika tiba di Malaysia. Berdalih dengan mengatakan Siti adalah orang Indonesia tentu saja sangat beresiko, karena akan menyeret Samosir dan juga teman-teman yang mengurus dokumen Siti di Tanjung Balai kedalam penjara!

Kemana lagi kah mereka akan melarikan diri? Adakah tempat yang aman buat mereka? Mereka hanya orang miskin biasa, dan tidak punya apa-apa. Mereka bukan teroris, psikopat atau ancaman bagi siapapun. Mereka hanya ingin saling mencintai saja. Sederhana saja, tetapi  kenapa terasa susah…? Bogor yang sering hujan itu, kini benar-benar menjadi kota hujan air mata.

Henry lalu menceritakan semuanya kepada mamanya. Papanya kemudian berbicara kepada Henry, dan menyuruhnya agar segera pulang, karena mereka akan membangun sebuah hotel di Medan. ”Kenapa harus rumit kalau ada yang gampang. Kalau jadi masalah, biar saja Siti pulang ke Malaysia. Siti memang bukan jodohnya, jadi bukan tanggung jawabnya juga. Di Medan banyak gadis yang cocok buat Henry. Apalagi mereka itu sudah terlalu lama menjadi orang susah. Kini sudah saatnya berperilaku seperti orang kaya…” demikian pesan papanya…

-(bersambung)-

Share.

About Author

Saya seorang penulis yang suka menulis apa saja, Fiksi maupun Non-fiksi

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage