Tamu Di Tengah Malam

Tamu Di Tengah Malam

0

Erika memarkirkan motornya dengan sangat hati-hati supaya terhindar dari senggolan dengan motor lain yang telah terparkir lebih dulu lantaran halaman rumah kos-kosan ini sudah hampir dipenuhi oleh kendaraan bermotor milik para penyewa kamar.

Semuanya ada enam belas motor kalau Erika tidak salah ingat, sudah cukup membuatnya mengeluarkan tenaga ekstra untuk urusan parkir, apalagi bila minibus milik keluarga pak Subhan sedang tidak keluar atau ikut terparkir juga, maka lahan yang membentang persis di depan rumah kos berkamar dua puluh yang besar itu makin terasa sesak. Persis seperti lahan parkir di pusat belanja grosir saat awal bulan.

Erika pernah sekali tanpa sengaja menyenggol salah satu motor yang terparkir di sebelahnya lantaran jalan keluar parkir yang sempit, hingga motor itu terjatuh lalu menimpa motor lain disampingnya. Memang semua motor tidak mengalami lecet di body yang berarti, namun tetap saja membuatnya merasa tidak enak hati lalu segera mencari-cari pemiliknya untuk meminta maaf.

Tapi meskipun setiap hari direpotkan dengan urusan memarkirkan motor, Erika tidak pernah berniat untuk mencari tempat kos lain. Karena selain rumah kos ini khusus untuk putri, baik yang masih kuliah maupun yang sudah bekerja, bu Ratna dan pak Subhan beserta anggota keluarganya sangat baik, tegas namun cukup toleran kepada anak-anak kos. Mereka memperlakukan semua penghuni kos seperti keluarganya sendiri.
Memang ada peraturan yang ditetapkan bagi para penyewa kamar yang berjumlah dua puluh itu, tetapi musyawarah selalu mereka dahulukan untuk mendapatkan kesepakatan bersama jika terjadi hal-hal di luar yang tercantum dalam peraturan.

Salah satu aturan yang dibuat yaitu tentang menerima tamu. Untuk urusan itu Pak Subhan membuatkan sebuah ruangan terbuka yang cukup luas di lantai bawah lengkap dengan seperangkat meja kursi untuk penghuni kos yang kedatangan tamu karena dilarang keras mengajak masuk ke dalam kamar. Baik itu teman maupun kerabat. Juga dipersilahkan untuk berbincang sepuasnya asal tetap berlaku sopan. Dan penerimaan tamu dibatasi sampai pukul sembilan malam.

Jika pun penghuni kos harus menerima tamunya di kamar, itu hanya dibolehkan dalam kondisi darurat saja, misalnya sedang sakit, dan yang menemani haruslah teman dekat ataupun kerabat berjenis kelamin perempuan juga. Itupun ijin menginap hanya untuk satu malam saja serta dikenakan uang tambahan yang besarnya disepakati bersama.

Dan selama dua tahun indekos di rumah Pak Subhan, Erika sudah empat kali membawa tamunya masuk ke dalam kamar, bahkan menginap. Pemilik rumah kos pun tidak keberatan, sebab yang menginap di kamar Erika adalah sepupunya sendiri, Arneta. Gadis yang senang dengan rambut pendek ala laki-laki itu adalah mahasiswi sebuah universitas terkenal di Surabaya.

Kali pertama dulu, Arneta datang dari Jogja bersama kedua orang tua Erika, yang kemudian diperkenalkan pada Bu Ratna dan Pak Subhan sehingga pada kesempatan berikutnya, pemilik kos itu langsung memberikan izin menginap saat Arneta berkunjung. Tentu saja setelah membayar uang tambahan.

Kini Erika sudah berada di kamar kosnya yang nyaman, setidaknya ia buat agar terasa nyaman. Meski kamarnya tidak terlalu luas, namun di tempat inilah dunianya sekarang, rumah keduanya selama jauh dari orang tua untuk memenuhi kewajibannya menimba ilmu.

Lewat jam digital pada ponsel, dilihatnya waktu sudah menunjukkan angka sembilan lewat sepuluh menit. Biasanya di jam segitu, Erika sudah meringkuk pulas. Tentu saja jika pundaknya tidak digayuti timbunan tugas. Dan ketika sempat melirik kasur tadi, mata dan tubuh Erika spontan terasa lelah seperti minta diajak terpejam. Tetapi terpaksa ia lawan rasa kantuknya saat teringat besok pagi adalah batas waktu penyerahan tugas di jam pertama kuliah.

Ah mungkin teman-temannya yang lain sudah selesai mengerjakan, gumam Erika dalam hati. Sebab mereka terlihat punya waktu lebih banyak ketimbang dirinya yang harus bekerja paruh waktu sebagai guru les privat demi tambahan uang saku untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari. Bukan bermaksud untuk mengeluh, Erika cuma sekedar membayangkan kondisi riil sebagian besar teman-teman di kampusnya yang bisa kongkow-kongkow dalam mengisi waktu.

Erika sempat juga ikut kongkow, tetapi tidak mungkin sesering mereka. Sebab bagaimana bisa ia biarkan waktu kosong berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti. Sedangkan di rumah Pak Subhan ini, harga sewa kamar kosnya memang diatas rata-rata. Mungkin karena selain lokasinya strategis, dekat kampus juga hampir berbanding lurus dengan keamanan dan kenyamanan yang didapat. Dan Erika tidak tega untuk membebani keseluruhan ongkos hidupnya di rantau pada orang tuanya yang bekerja sebagai petani. Maka setelah membersihkan diri secukupnya, Erika segera menggelar laptop dan beberapa buku di atas meja untuk menyelesaikan tugas.

Hingga akhirnya tugas yang menyita pikiran gadis cerdas itu sepanjang sore saat tengah memberi les privat tadi hampir dirampungkan. Tinggal satu langkah lagi, yaitu mengirim hasil kerjanya lewat alamat email bu Fatma dosennya yang terkenal paling bawel se antero fakultas. Beres sudah.

Erika meregangkan seluruh otot tubuhnya sambil menghembuskan nafas lega. Sekali lagi ia lirik penunjuk waktu pada telpon selulernya, ternyata sudah pukul dua belas malam lewat lima menit. Hh, tidak terasa sudah lebih dari tiga jam dia habiskan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Pantas lah matanya kian terasa berat. Erika lalu melihat emailnya sedang dalam proses pengiriman dengan amat lambat. Ah gadis itu sudah terbiasa mengalami lambannya laju internet yang dia punya. Mungkin karena paket kuota kecil yang dia ambil atau bisa juga karena ringkihnya sinyal pada modem. Entahlah.

Kemudian sambil menunggu pengiriman emailnya selesai, Erika merebahkan badannya di kursi panjang berbusa tipis yang terletak di depan ranjang kayunya. Sejenak ia meluruskan punggung dan kedua kaki sembari mengingat-ingat tugas kuliah apalagi yang belum sempat disentuhnya serta kapan batas waktu pengumpulannya. Sebab ia takut ada yang luput lantaran beberapa hari ini konsentrasinya terpecah antara tugas kuliah dan intensif mengajar privat sepuluh orang murid SD dan SMP yang tengah masuk masa UAS dengan lokasi yang berbeda-beda.

Tiba-tiba Erika mendengar suara ketukan pelan pada pintu kamarnya.
“Siapa…?” tanya Erika dengan nada malas. Namun jawabannya hanya ketukan berulang yang ia dapat. Ketukan dengan suara pelan.

Erika terpaksa bangkit dari kursi panjang sambil menggerutu kecil penuh tanda tanya, siapa gerangan orang yang berdiri di luar pintunya itu. O’ mungkin si mungil Tiwi yang menghuni kamar tepat di sebelah kanannya. Kebetulan juga satu kelas dengan dirinya dan tadi siang saat masih di kampus, sempat mengajak Erika untuk mengerjakan tugas bersama. Mungkinkah gadis asal Pekalongan itu masih belum tidur sama sepertinya? lalu seperti minggu lalu ia malah mengajak Erika mengobrol kesana-kesini sambil membawa dua cangkir coklat panas? Yah mungkin saja. Tetapi sungguh kali ini Erika bertekad akan menolaknya karena tak sanggup menahan lelah.

Srrr….semilir angin dingin terasa menyentuh leher belakangnya. Erika paham itu angin dari kipas yang terpasang di dinding kamar dan ini pun sudah jam dua belas lebih, tentu sudah terhitung masuk waktu dini hari, wajar saja bila suhu udara semakin turun.

“Arneta?!” pekik kecil Erika tanpa sadar, antara percaya dan tidak percaya bahwa yang berdiri di depan pintu kamar kosnya ternyata sepupu yang kuliah di Surabaya meski orang tuanya ada di Jogja. “lah ngapain kamu di situ?” tanya Erika seperti orang linglung.

Arneta, sepupunya yang biasa berpenampilan tomboy dengan rambut pendek itu, hanya membalas dengan senyum samar nyaris tak terlihat. Celana dan jaket jeans biru terang masih menjadi busana kebesarannya melapisi kaos berlengan panjang warna hitam yang tidak mampu menyembunyikan tubuhnya yang tipis. Dan kali ini rambutnya sudah terlihat menyentuh bahu.

Belum sempat Erika menyuruh masuk lantaran masih kaget, Arneta sudah menerabas ke dalam kamar dan langsung duduk di kursi panjang. Rentetan pertanyaan Erika tentang apa alasannya datang jauh-jauh dari Surabaya ke Jakarta lalu bertamu ke rumah kosnya, mengapa memilih perjalanan di waktu yang rawan bagi perempuan dan sudah makan atau belum, cuma di jawab dengan sorot mata dan nada yang dingin, “aku capek, aku mau istirahat.”

Erika lantas keluar dari kamarnya mencari Pak Subhan pemilik rumah kos untuk memintakan ijin menginap bagi sepupunya yang baru saja datang dari Surabaya. Hal itu harus segera ia lakukan supaya esok tidak timbul prasangka jelek bahwa Erika telah menyelundupkan tamu ke dalam kamarnya tanpa sepengetahuan empunya rumah.

Namun setibanya di rumah induk, Erika disergap rasa ragu untuk mengetuk pintu yang di dalamnya sudah terlihat gelap lantaran penghuninya tentu tengah terlelap. Rasanya sangat tidak elok mengganggu kenyamanan orang yang beristirahat untuk hal yang relatif remeh seperti memberi tahu bahwa saudaranya baru saja datang dari jauh dan akan menginap. Toh Arneta bukan orang asing lagi bagi Pak Subhan karena sudah terbilang lebih dari tiga kali ia datang dan menginap. Jadi kalau Erika menangguhkan laporannya sampai besok pagi, mungkin masih bisa diterima.

Apalagi lantas dari kejauhan, Erika melihat pak Udin warga setempat yang menjaga pintu gerbang rumah kos saat malam hari tengah asyik bermain catur dengan salah seorang temannya yang Erika tidak tahu namanya namun sering juga berjumpa dengannya. Dan tentunya tadi, bapak-bapak itu sudah lebih dulu bertemu dengan Arneta yang mereka tahu adalah saudara dekat salah satu penghuni kos.

Akhirnya Erika memutuskan kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri lalu mendapati Arneta sudah terbaring diam dalam lelap. Erika tersenyum kecil melihat sepupu yang paling dekat dengannya itu tertidur dengan begitu dalam sampai belum sempat membuka jaket jeansnya. Duh Erika tidak tega membangunkannya hanya untuk menyuruhnya mengganti baju.

Arneta memang sepupu yang sangat dekat dengan Erika, ibu kedua gadis manis itu bersaudara kandung. Masa  kecil mereka di Jogja hampir selalu dihabiskan berdua, saling mengisi, saling memberi dan selalu menyediakan diri menjadi tempat curahan hati, meski pun lokasi sekolah dan rumah mereka tidak berdekatan. Hingga akhirnya mereka melanjutkan kuliah di kota yang berjauhan, satu di Surabaya dan satunya lagi di Jakarta, komunikasi mereka selalu tersambung.

Kalau tidak salah ingat, baru satu minggu yang lalu mereka berkomunikasi lewat aplikasi whatsapp. Arneta mengeluhkan sikap mamanya yang terus mengingatkannya untuk bisa lulus kuliah tepat waktu supaya bisa segera mengelola usaha keluarga di bidang produksi dan distribusi pupuk. Ya, tante Rien mamanya Arneta adalah adik kandung ibunya Erika yang sangat berambisi punya perusahaan yang bisa mendominasi pasar. Baginya tante Rien, karir dan nama besar adalah hal yang utama. Tidak perduli jika untuk itu ia dan suaminya yang selalu dianggapnya lamban bergerak harus bercerai lantaran kehidupan mereka kerap diwarnai cekcok. Lalu  demi memperbesar bisnisnya, tante Rien memaksa anak sulungnya itu untuk kuliah dibidang bisnis dan manajemen, tidak perduli jika sebenarnya Arneta menyukai bidang seni.

Kekecewaan Arneta bertambah saat mendapati kenyataan bahwa papanya pun sudah semakin sibuk mengurus usaha dan keluarga barunya selang dua tahun berpisah dengan mama.

Karena itu lah penyebab pertengkaran ibu dan anak itu sering berlangsung. Hingga pernah disuatu hari, saat dirundung kesedihan dan kemarahan, Arneta mengutarakan niatnya untuk pergi jauh sejauhnya dari mamanya. Supaya Arneta bisa melihat sejauh mana rasa kehilangan yang ada pada mamanya saat mereka berjauhan. Tetapi begitu diingatkan oleh Erika tentang adik lelaki semata wayangnya  yang memiliki keterbelakangan mental dan membutuhkan banyak perhatian, Arneta mengurungkan niatnya itu.

Dan sekarang tanpa memberitahunya terlebih dahulu, Arneta tiba-tiba sudah muncul di depan pintu kamar kosnya. Dengan tubuh dan wajah yang terlihat letih. Ah besok pagi sebelum berangkat ke kampus, Erika pasti akan mendengar penjelasan yang panjang lebar dari sosok kurus yang terlelap itu tentang alasannya berada di sini.

Sementara entah kenapa, udara makin terasa lebih dingin dari sebelumnya. Erika lantas bersiap untuk tidur  di ranjangnya yang kecil supaya saat terbangun disubuh nanti tenaganya sudah pulih kembali. namun sebelum itu Erika akan memberi bantal terlebih dulu untuk kenyamanan tidur Arneta dengan membantu menyanggakan di bawah lehernya. Dan ups bantal sudah berhasil diletakkan dibawah kepala Arneta tanpa membuat si empunya terbangun. Namun…Erika tersentak dan spontan ia mundur selangkah ke belakang ketika lengannya menyentuh kulit leher sepupunya yang tengah terpejam itu terasa begitu dingin seperti benda yang baru dikeluarkan dari almari es. Dan bibir yang terkatup rapat itu terlihat pucat sepucat wajahnya pula.

Namun demi menjaga kenyaman tidur orang yang disayanginya itu, Erika memutuskan untuk menyelimutinya saja dan kemudian ia sendiri bergegas pergi tidur sambil berharap esok pagi semuanya akan baik-baik saja.

Kriiiing! Erika tersentak mendengar suara dari ponselnya yang berdering berkali-kali seolah tanpa terputus. namun yang membuatnya lebih kaget lagi adalah ternyata ia bukan berbaring di atas ranjang melainkan di kursi panjang berbusa tipis dengan posisi sama seperti saat menunggu proses emailnya terkirim dengan sukses. Tetapi…bukankah sebelumnya ia teridur di ranjang? dan dikursi ini tergolek pulas Arneta sepupunya yang mendadak datang dari Surabaya? lalu kemana dia? kok dirinya hanya seorang diri? dan kondisi kamar masih seperti saat ia baru menyelesaikan tugasnya, dengan laptop yang masih menyala aktif meski layarnya sudah berwarna gelap. Dan…duh, siapa lagi itu yang menelponnya dipagi buta begini? Berbagai tanya lantas berseliweran dibenaknya atas fenomena aneh yang tengah dialaminya itu. Namun Sebelum menjawab ponselnya Erika sempat melihat pada jam digital, waktu telah menunjukkan pukul empat tiga puluh.

“Assalamu’alaikum ibu…” Erika langsung melempar salam begitu mengetahui ibunya lah yang membunyikan ponselnya langsung dari Jogja.

“Walaikum salam…” jawab sang ibu diseberang sana dengan suara yang bergetar dan kalimat terbata. “ada kabar buruk menimpa saudarmu Er…, sepupumu Arrnetaa, semalam sekitar jam dua belasan kecelakaan mobil sepulangnya dari Malang bersama teman-teman kuliahnyaa, dan baru saja ibu dapat kepastian kalau nyawanya tidak tertolong…”

Entah apa lagi yang dibicarakan ibunya dari Jogja sana, Erika sudah tidak mampu mendengar lagi dengan baik. Bukan karena suara sang ibu yang terbata bercampur dengan tangis, namun seluruh tubuh Erika sendiri seperti sudah tak bertulang lagi hingga membuatnya lemas tanpa daya. Dan…, ingatannya tentang kedatangan Arneta ditengah malam tadi masih jelas membayang.

 

 

Share.

About Author

Ibu rumah tangga dan pemerhati masalah sosial.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage