Terimakasih (1)

Terimakasih (1)

2

“Mau pasang iklan pak!” pinta Kamisol

“ Boleh, iklan apa, kolom apa baris?” balik karyawan iklan majalah KASIH.

“ Iklan ucapan syukur dan terimakasih,” sahut Kamisol.

“Oh, itu iklan halaman Kudus: Kumpulan Doa Khusus. Ukuran standar 1 kolom kali 10 baris, BW (black and white) tarifnya 55 ribu rupiah,” terang karyawan tersebut.

“Ya boleh, ini isi ucapannya,” Kamisol menjawab sembari menyodorkan secarik kertas dan uang 60 ribu kepada karyawan majalah tersebut.

Karyawan itu beranjak dari duduknya. Ada meja setinggi dada memisah mereka. Berhadap-hadapan dengan Kamisol. Menerima sodoran kertas. Tengkuk menekuk dan kacamata persegi bingkai tebal. Setengah menggantung susah payah mencari gayutan. Batang hidungnya kempis, hanya ujungnya yang berkembang tiga. Ia membaca isi tulisan di kertas. Kemudian mengambil uang Kamisol. Entah dibaca sepenuhnya atau tidak. Waktu sekian detik kordinasi antara otak dan mata kita jarang sinkron. Setengah konsentrasi menghadapi secarik kertas mini. Seperti halnya menghadapi slip pembayaran di konter-konter super market. Hanya sekelumit data pokok yang tersangkut di otak. Bagi karyawan iklan tersebut, hal itu adalah kata-kata terimakasih dan siapa pengirimnya. Rutin beribu-ribu kali seperti pola berulang dalam otaknya. Setiap kali ada pemasang iklan. Isi ucapan lengkap sama dan standar menurutnya.

Beberapa puluh detik dipandanginya si karyawan. Benak Kamisol langsung membuat penaksiran. Lelaki paruh baya dengan rambut yang mulai menipis. Disigar ke belakang membuat paras dahinya makin mengkilap. Seperti kulit buah apel habis dilap kencang-kencang. Umurnya bisa jadi sepantar dengan aku. Kembali ke kursinya, karyawan itu menulis cepat-cepat pada slip tanda terima. Kemudian membuka laci. Ada 5 ribu rupiah untuk kembalian. Berhadapan dengan Kamisol lagi. Cekatan.

“Ini, kembalian dan tanda terimanya. Jadwal terbit sebulan 2 kali, jadi iklan ucapan Bapak terbit minggu depan, ya?” ujarnya ramah layaknya konsultan di akhir sesi konsultasi.

“Ya, terimakasih,” balas Kamisol setengah berbalik badan. Pergi.

Seminggu berlalu. Hari itu hari Jumat. Makan siang. Kamisol duduk menghadapi sepiring nasi rames dan majalah KASIH edisi baru. Tangan kanan: mengangkat satu sendok nasi, sayur dan lauk bergerak naik ke mulutnya. Tangan kiri: membuka-buka lembar dalam malajah KASIH. Jari jempolnya bergerak cepat. Mencari-cari halaman tertentu. Halaman Kudus. Bola matanya bergerak cepat. Atas ke bawah. Seperti menelisik pengumuman undian berhadiah. Tak lama. Paras mukanya berubah beriak-riak. Sebutir kerikil nyemplung ke kolam. Tangan kanan berhenti menyendok. Pupil matanya membesar. Iklan kolomnya dimuat. Pojok kanan bawah. Terbaca: Puji syukur dan terima kasih kepada Bunda Mulia Yang Kudus atas tidak terkabulnya doa-doa saya. Sekali lagi, pelan-pelan: Puji syukur dan terima kasih kepada Bunda Mulia Yang Kudus atas tidak terkabulnya doa-doa saya. Tertanda: Anton Kamisol. Kamisol tersimpul menyeringai. Jika ditambahkan voice over, mirip tawa hyena (hyaenidae). Mungkin .

Seminggu yang lalu. Tampak dekat: si karyawan iklan majalah KASIH. Dahinya berkilap.

Memegang carikan kertas. Kacamatanya masih di muka. Tapi sudah merosot jauh. Tinggal ditahan cuping hidung besarnya. Menunduk dalam. Membaca iklan ucapan Kamisol rupanya. Kali ketiga dia membacanya. Setengah tak percaya, setengah ragu. Ada juga geli. Lebih banyak cemas.

Kecemasan yang direkayasa. Keraguan yang menggelayuti jaringan syarafnya. Jembatan gantung keberatan beban. Berayun-ayun. Ragu. Cemas. Aktivitas metabolik tubuhnya mulai bekerja. Detak jantung meningkat, napas pendek-pendek. Seperti tungku kereta api uap ditambahi kayu bakar, tambah kecepatan. Pori-pori kulit dahinya juga bereaksi. Bulir air mikroskopis merembes. Keringat.

Proyektor di benaknya menyala. Waktu itu dia baru 10 tahun. Kelas 5 SD. Di depan pintu kelasnya. Mematung diam. Sudah seperempat jam. Air mukanya pasi. Cemas. Ragu. Tubuhnya lembab, wajahnya kuyup. Keringat. Sengak masam metabolisme anak-anak. Kalau bisa menangis, dia mau. Tapi malu. Hari itu hari Jumat. Giliran kelasnya masuk siang. PR minggu lalu harus dikumpul. Dia ingat kalau dia lupa. Buku PR nya tertinggal di rumah. Dia baru tahu di depan pintu kelas. Pelajaran sudah mulai. Pas pegang handel pintu. Batal. Disergap ingatan tiba-tiba. Kilas cepat: seorang koboi melompat gagah. Menyergap segerombolan sapi liar dari kudanya. Seekor sapi sial jatuh terguling. Melenguh cemas. Takut. Sama takutnya dengan dirinya. Kini suhu tubuhnya turun. Dingin sekali siang itu. Dari lubang kunci terselip suara gurunya, guru Berhitung pak Barwoto. Menggelegar menyerbu telinganya.

“Mantri..!”

“Mantri Yohanes!”

“Tidak masuk, pak!” sahut teman sebangku Mantri, Suryanti. Perempuan mungil mirip miniatur manekin. Yang besar hanya bola matanya. Tapi namanya indah: Kamelia Kanti Suryanti. Kata dia, ibunya ingin dia secantik bunga kamelia. Mantri tak tahu bunga kamelia. Dia hanya tahu kamel itu unta. Seperti merek di kemasan rokok bapaknya. Ada gambar unta. Jauh panggang dari api.

Cemas itu tak pernah mati. Hanya tidur-tidur ayam. Sebenarnya kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat. Cemas Mantri dibumbui ragu. Jika iklan ini lolos atau jika iklan ini tidak lolos. Lolos: manajer iklan atau dewan redaksi akan memanggil dia. Mulai ditanya-tanyai. Tidak lolos: pemasang iklan komplain. Sudah bayar iklan tak muncul. Klaim. Digugat. Masuk surat pembaca. Timbang-timbang. Mengusap-usap dahi lebarnya. Garuk-garuk. Tidak ada yang gatal. Tarik napas. Hembuskan. Lolos!

Manusia boleh berharap, alam punya kehendak lain. Hari Senin. Pagi-pagi. Mantri baru sejenak tiba di mejanya. Tombol on komputer dipencet. Seperti bel bangun tidur. Ada langkah-langkah berat mendekat. Pak Ruben datang. Atasan Mantri, manajer iklan dan promosi, Ruben Putuhena.

“Pak Mantri, sudah ini ke ruangan saya ya.”

“Ya pak!”

Mantri melangkah gontai. Seperti jam bandul kehabisan batere. Di ambang pintu ruangan Ruben yang sudah menunggu. Kilas cepat: pelampung pancingan tersentak-sentak. Menggelinjang di muka air. Beriak-riak tertahan tali. Ruben senang. Senang yang diharap tiba. Senang selesai menanti, seperti tinggal menyebat ke atas pancing yang dikejut-kejut dari bawah.

“Pak Mantri!”

“Ya pak..”

“Saya hari Sabtu dipanggil wakil dewan redaksi, ibu Yenni Samari.”

Dia berhenti bicara. Mengambil sesuatu di meja. Majalah KASIH terbaru. Mesin pikir di balik dahi Mantri mulai hidup. Praduganya cocok. Ruben langsung membuka halaman dalam. Halaman Kudus. Posisi majalah dibalik kearah Mantri. Slow motion: telunjuk pak Ruben seperti ada yang menuntun. Ke pojok kanan bawah.

Telinga Mantri langsung berdenging. Suara kaca pecah, jeritan. Ada tawa hyena sayup-sayup. Ada telunjuk diacung-acung. Telunjuk bu Bardi. Jeritan juga bu Bardi. Seperti suara kanvas rem basah roda truk. Pedal remnya diinjak berulang-ulang. Ada remah-remah beling di teras rumah. Kaca sebelah jendela depan rumah bu Bardi bolong. Bergurat-gurat. Seperempat. Sebelah lagi utuh. Mantri kecil terdiam memucat. Slow motion: telunjuk mengacung-acung dan bentuk bulat tak simetris mulut bu Bardi. Hening sekali rasanya. Melihat telunjuk dan jendela bergantian. Telinganya berdenging. Lemparannya ke buah di pohon mangga meleset. Menghantam sebelah jendela rumah bu Bardi. Tetangga belakang istri polisi. Otot lehernya mengajak menoleh. Kerumunan temannya cekikikan di balik pohon. Tawa hyena lagi. Ingat minggu lalu. Ingat si pemasang iklan.

“Pak Mantri?”

“Iya, ya… Bagaimana pak?”

“Bu Yenni, menanyai saya, kenapa iklan seperti ini bisa lolos? Ini tidak baik buat majalah KASIH, citra kita bisa terpengaruh pak. Lebih luas lagi, ini bisa berpengaruh juga pada keimanan kita. Masak iklan ucapan syukur karena doa tak terkabul? Baru kali ini saya baca iklan seperti ini. Sebentar lagi kalau pihak gereja membaca, kita mesti bilang apa..menurut pak Mantri gimana, bisa menjelaskan pak?”

Cuping hidung Mantri membesar. Kembang kempis. Menyedot udara sebanyak-banyaknya.

Sistem saraf Mantri mengirim sinyal. Sistem pernapasannya mulai memberi energi aliran udara dengan volume dan tekanan yang cukup. Aliran udara dari paru-paru ini oleh struktur jaringan wajah dan mulut pak Mantri dimodifikasi menjadi simbol suara yang dikenal sebagai bicara.

“Terus terang saya baru tahu iklan ucapannya berbunyi seperti itu pas saya input dan placing ke kolom-kolom halaman Kudus. Mau saya batalkan, orangnya sudah bayar dan saya khawatir kita di-komplen dan masuk surat pembaca.”

Ruben: “Kenapa kamu tidak bilang saya dulu?”

Mantri: “Deadline terbit waktu itu sudah mepet pak!”

Ruben: “Iya, tapi…hhh. Sekarang kita harus cari solusinya, biar kita siap saat dipanggil dewan komisaris atau malahan dewan paroki! Hhh… “

Ruben terus menghela napas. Membuang gas karbondioksida metabolisme tubuhnya. Kereta uap akan berangkat. Cerobongnya mendengus-dengus kencang. Menendang ribuan kubik jelaga hitam ke atas.

“Begini saja,” sambung Ruben cepat, “Besok atau pas terbitan majalah KASIH berikutnya, kamu pasang iklan ralat, menyatakan bahwa iklan ucapan doa nomer sekian sekian yang dipasang oleh pak Anu, dianggap batal dan tidak ada. Anggap saja kekeliruan pasang. Titik.”

“Ya pak,” tukas Mantri bersicepat. Lega tekanan masalah selesai. Kilas cepat: tekanan kerumunan ratusan itik riuh rendah. Menumbur bilik pintu yang akan dibuka. Tekanan yang lepas begitu sekat penghalang dibuka. Mengalir berduyun-duyun ke arah yang sama. Arah kebahagiaan.

Mantri kembali ke ruangannya. Satu masalah selesai. Seribu temannya mungkin akan tumbuh. Semoga tidak. Karena itu ditambahnya bobot kelegaan pada neraca masalahnya. Agar bobot ragunya berkurang. Untung pak Ruben orang yang bijak. Tidak pernah mempermasalahkan masalah. Kalau anak kunci hilang, bukan kenapa hilang tapi dimana hilangnya. Mari kita cari. Selalu dibereskan dengan pendekatan problem-solusi.

Redaksi majalah KASIH berkantor di sebuah rumah. Teduh dan asri dengan taman yang lebar. Taksiran Mantri rumah kantornya ini menempati area sekitar lima ratus meteran. Meja Mantri bersebelahan dengan dua bilik jendela. Satu berkaca gelap dan satu kaca nako. Saat pagi hari dia senang duduk menyampingi jendela. Memandang ke hamparan taman depan kantornya kala suntuk. Membuka sedikit bilah-bilah nako. Angin segar dari taman menelisip masuk. Bau tanah, rerumputan basah, wangi aneka bunga menyeruak datang berbaur dengan aroma tumpukan daun tusam basi. Parfum alam yang merangsang sensor-sensor penciuman membawa pesan ke permukaan otaknya. Nyaman.

Taman itu menjadi rumah banyak makhluk hidup. Ekosistem buatan manusia itu seperti sejumput firdaus kecil. Jendela Mantri pas berposisi tusuk sate dengan gerbang masuk. Tapi dia senang. Mengapit koridor jalan masuk, di saf depan kanan kiri ramai berjajar lidah mertua. Tepi daunnya berlarik kuning, meliuk-liuk mencucuk kencang ke atas. Selapis rendah di belakangnya ramai bergerombol perdu mini sutera Bombay. Karena kelopak bunganya halus seperti sutera, dengan warna pink terang, putih atau oranye. Perdu berdaun jarum ini tampak begitu bahagia saat pagi hari. Di bawah sorot cerah mentari mereka akan ramai-ramai mempertontonkan keindahannya. Pandainya mereka berterimakasih pada alam. Di deret belakang segaris pagar depan aneka bunga lily setia menanti. Semenjak jaman Yunani kuno bunga ini sudah terkenal. Warnanya kalem, harumnya khas. Bunga ini sering ditanam sebagai tanaman hias atau bunga potong. Namun selain dikagumi karena bentuk bunganya yang cantik, ada beberapa jenis lily terkadang ditanam lalu dipanen hanya untuk diambil umbinya saja.

Jika di sisi-sisinya dikurung barisan flora cantik, di tengah petak tengah taman itu tumbuh menjulang pohon tusam Sumatera (Pinus merkusii). Di negeri asalnya, saat musim dingin daunnya selalu berwarna hijau sehingga pohon ini menjadi lambang keberuntungan. Bahkan Mantri pernah membaca, di zaman dulu orang Cina mempunyai tradisi meletakkan ranting daun pinus di depan pintu masuk untuk dewa yang menjaga pintu. Mantri setuju dengan ide tersebut. Di tanam pas di pekarangan depan, bukan soal dewa penjaga pintu yang penting baginya. Dia senang udara jadi sejuk. Satu lagi dia senang bau daun tusam basi yang bertumpuk di bawah pokoknya. Kendati sudah terpisah jauh bergenerasi dari induknya di negeri dingin, pohon tusam ini tetap menjaga kearifan lokal dirinya, rajin berdaun dan tetap hijau. Pada sayap kiri pekarangan, tumbuhlah beberapa pohon ketapang. Karena tajuk dan daunnya lebar, dia bermanfaat meneduhi area parkir latar depan. Pohon ini paham betul, sebaik-baik makhluk adalah yang bermanfaat bagi alam dan sesama. Penampilannya yang paling mengesankan saat warna daunnya yang berubah dari hijau kuning hingga merah padam seronok sebelum akhirnya rontok. Seolah menyampaikan pesan kegundahan hati yang pilu sebelum berpisah dengan induknya. Tidak banyak tanaman tropis yang daunnya mengalami perubahan warna begitu sensasional seperti ini.

Merindang tinggi besar di sayap kanan taman adalah pohon flamboyan. Jika musim berbunga pada bulan yang berakhiran ber, dia benar-benar pesolek alam. Merias diri sejadi-jadinya dengan asesoris merah scarlet beronce-ronce penuh sekujur tubuhnya. Cantik tak terperi. Bunganya berbentuk seperti anggrek dan mekar dalam sebuah kumpulan yang padat dan rapat. Keindahan bunganya makin mencorong saat mereka mekar bergerombol. Begitu langit cerah, flamboyan berbunga akan menjadi sosok depan yang kontras dengan latar luas biru lazuardi. Bunga-bunganya seperti berpendar merah berkilau. Memandanginya berlama-lama, dada penuh oleh getaran suasana romantis dan melankolis. Pantaslah kalangan pecinta pohon berbunga menyebut flamboyan sebagai tanaman terindah di dunia.

Penampilannya acap mengundang tamu serangga-serangga pencari madu atau burung madu Sriganti (Nectarinia jugularis). Tubuh rampingnya kuning kehijauan elok aerodinamis hingga ke paruh. Kita tahu dia datang saat nyanyian tunggal melengking nyaring terdengar susul menyusul. Satu lagi suara yang dihapal Mantri luar kepala. Cericip pendek-pendek kadang menjauh, kadang mendekat cepat. Tanda berkejar-kejaran. Itulah burung gereja. Tempat ini adalah taman bermain, bercengkerama, mencari makan dan bercinta. Tempat ini adalah saksi sejarah otentik turun temurun burung ini. Daftar tamu si flamboyan panjang. Mulai terang tanah hingga seperempat juring perjalanan matahari siang. Muncul duluan kupu-kupu mutiara, mengepak-epak kecil berburu rezeki. Kepakan kecil untuk efek yang besar. Tak lama kemudian datanglah si pekerja, lebah madu. Dari seragamnyapun kita tahu bahwa dia benar-benar pekerja tulen. Sama semua: berdada kuning, perut garis hitam putih horisontal. Di bagian dunia manapun juga sama, kaum pekerja ditandai dari seragam.

Kemudian berjajar rapi di bawah pohon flamboyan, tumbuh subur tumbuhan perdu langka yang juga rajin berbunga. Biasa disebut sangitan atau kerak nasi (Sambucus Javanica). Ujung daunnya runcing dengan tepi bergerigi, warna permukaan atas hijau tua sedangkan permukaan bawahnya berwarna hijau muda. Bunganya kecil-kecil, putih kekuningan, berkumpul membentuk payung majemuk. Bunganya ramai menggerumbul seperti nasi atau jika berkesempatan memandang dari jauh di atas langit seperti rerimbun kelompok jemaah bermukena. Sudah itu baunya harum pula.

Sejumput firdaus kecil juga menjadi habitat banyak makhluk tanah. Dari yang merayap sampai berumah di dalamnya. Semut saja paling tidak ada 4 jenis: merah, hitam, rangrang dan api. Jenis makhluk paling rapi dan disiplin. Hanya ada 3 kelas dalam masyarakat mereka: pekerja, pejantan dan ratu. Entah mereka kenal ide Marxisme atau tidak. Yang makin jelas lagi, jenis boleh beda tapi tapal batas jelas. Mereka membagi koloni dan sarang-sarangnya secara teratur. Kata koloni mengingatkan sejarah kelam penuh keringat, air mata dan darah abad-abad lalu . Saat tuan-tuan kolonialisme dari Eropa berbagi jatah daerah koloni di Asia dan Afrika. Kalau semut bekerja keras untuk kemakmuran komunitas sendiri dan sang ratu sendiri juga, kolonialisme bekerja keras mengisap kemakmuran tanah koloni dipindah ke negeri induk mereka dan sang ratu (jika ada). Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Itu sebabnya koloni semut disebut superorganisme dikarenakan koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan.

Mantri senang berlama-lama nangkring di lincak depan kantornya. Sambil leyeh-leyeh atau baca buku angkat sebelah kaki di pagi hari saat kantor belum mulai. Tengah asyiknya tenggelam dalam damai, suara deru motor masuk halaman. Berhenti di bawah ketapang. Ada tamu datang, sepagi ini. Mantri berdiri. Menunggu siapa gerangan datang. Tak lama, dia segera mengenali: si pemasang iklan minggu lalu! Ada apa lagi?

“ Pagi pak..”

“ Ya, selamat pagi,” jawab Mantri sopan.

“ Saya mau pasang iklan lagi, pak!”

“ Oo, ayo, ke ruangan saya dulu,” ajak Mantri

Tiba di ruangan kerja Mantri, si pemasang iklan segera menyodorkan carikan kertas lagi.

Mantri berdiri menerima carikan. Dibaca sejenak. Membetulkan gagang kacamata. Menumpukan tangan pada meja pemisah. Kemudian:

“Hmm.. begini pak, eh.. pak …?” kejar pak Mantri.

“Kamisol… Anton Kamisol,” tegas Kamisol.

“Iya… pak Anton. Iklan Bapak yang minggu lalu sebenarnya menyalahi ketentuan redaksional disini, majalah KASIH. Menurut peraturan, kami sebenarnya tidak diperbolehkan memuat iklan seperti itu..”

Mantri melanjutkan: “Nah.. karena sudah keburu terbit, saya sekarang harus bertanggungjawab dengan menerbitkan iklan ralat!”

“Ralat apa..?” Apa yang diralat, pak?” Kamisol keheranan.

“Ralat bahwa iklan semacam itu dianggap salah cetak dan semacamnya, begitu..” terang pak Martin.

“Jadi mohon maaf, kalau Bapak bermaksud pasang iklan seperti itu lagi, kami terpaksa menolak.

Peraturan tidak mengizinkan saya menerima iklan seperti itu… Sekali lagi maaf , tidak bisa pak!” tegas Mantri.

“Oo, ya sudah. Tapi salah dimana iklan saya ya..?” Kamisol mengelus-elus batang hidungnya.

Mantri tak menjawab. Mengangkat bahu dan alisnya berbarengan. Senyum.

Kamisol beranjak pergi. Sambil mengelus pipi kemudian menggaruk kepala. Setelah deru motor menghilang, baru Mantri duduk. Menghadap komputer. Tangan kanan: memegang mouse komputer, kiri: membuka folder daftar kerja harian.

Kamisol cepat-cepat sampai kantor. Belum sempat duduk. Meletakkan tas. Menyeduh segelas teh dari air panas dispenser. Duduk. Menghidupkan komputer. Menyaksikan signal cursor on. Kedip-kedip. Isi kepalanya juga berkedip-kedip. Salah apa ya, iklan saya minggu lalu. Kalau salah kenapa diterbitkan? Ah, taulah.. coba bilang dari minggu lalu, saya nggak repot-repot kesana..

Sepagian hingga siang pikiran Kamisol tak fokus. Beberapa tugas dalam daftar kerja dia tunda. Istirahat makan siang dia pun cepat-cepat, lantas kembali ke komputernya. Browsing situs-situs kristiani.

Saya mau pasang iklan lagi. Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara sampaikan doa.

Kamisol bekerja sebagai staf Komunikasi dan Pengembangan di sebuah lembaga nirlaba internasional. Deskripsi pekerjaannya mengharuskan dia harus banyak berurusan dengan arus informasi, media on-line, advokasi, sebagai nara sumber dan poin perantara antar organisasi vis-à-vis. Dialah jembatan penting untuk menyeberangi sungai ketidaktahuan akan aktivitas organisasinya. Dialah pemandu para penyeberang agar sampai ke tonggak pengetahuan sepak terjang dunia kerjanya. Dia piawai menulis, diskusi, berbagi kisah dan membingkainya menjadi enak dicerna awam, menyampaikan pendapat dan pendengar yang baik. Namun kilap kinerjanya di kantor berbanding terbalik dengan atmosfir di rumah. Sederet keterampilan kantorannya menjadi mercon basi saat sudah berhadapan dengan mertuanya.

Kamisol menjelang 40 tahun. Menikah saat umur 30. Istrinya selisih 2 tahun lebih muda. Pekerja kantoran biasa dengan keahlian di tata buku dan nyambi sebagai agen asuransi. Putri mereka ada dua. Dia masih tinggal bersama mertua, ibu dari istrinya. Kamisol menyebutnya bunda, karena memang diminta demikian. Sebutan itu adalah salah satu predikat dari serentet alat intimidasi sang mertua. Begitu menurut Kamisol. Kendati dia ahli informasi, satu yang alpa dia korek sewaktu pacaran dulu: bahwa Tanti, istrinya, adalah anak kesayangan sang bunda. Julukan yang menjadi pisau berfungsi ganda: alat pemotong bermanfaat sekaligus bisa juga menusuk harga dirinya. Symptom nya: Kamisol begitu pendiam dan penurut di rumah, padahal di kantor profesi menuntut sebaliknya. Akar masalah: mertua perempuannya selalu campur tangan urusan keluarga Kamisol. Kamisol bisa memilih beli rumah sendiri, patungan mencicil dengan istrinya. Namun pilihan ini majal. Tumpul buat menetak realitas. Sang bunda tak mengijinkan putri kesayangannya jauh-jauh dari dia.

Selalu ada saja butir-butir intervensi saban hari. Dari urusan remeh temeh bangun pagi, santun di meja makan sampai penampilan bawah ke atas: kaos kaki ada yang bolong tidak, warna tak senada, kemeja kedodoran, pomade rambutnya bau musang, kenapa ke kantor tak pakai jam tangan, kok laki pakai kalung, jidat Kamisol acap berminyak, potongan rambut Tanti kurang keren, pake stocking gelap nggak cocok, rok nggak pas, anting-anting apa mainan kunci, eye shadow nya serem, pake blazer 3 pieces hari apa saja, sepatu cucunya kurang trendi, tas sekolah ada roda atau tidak, bawa bekal yang bergizi, jangan lupa bawa minum. Makin hari ‘tingkat perhatian’ sang mertua makin hebat dan masuk ke ranah pribadi:. kenapa Kamisol jarang menyapa mesra istrinya, salam pamit kerja gitu-gitu aja, saat libur di rumah mbok belajar masak, kalau lagi berkasih-kasihan anak-anak tahu nggak. Kenapa tak sekalian tanya posisi bercinta kami berdua? Arrgghh.. Jika dibuat daftar, kritikan dan celetukan mertuanya bisa lebih panjang dari daftar belanja bulanan keluarga. Saban hari pulang ke rumah adalah mimpi buruk. Kepala Kamisol serasa mau pecah. Untungnya dia tak punya keberanian membentur-benturkan kepalanya dengan benda keras.

Jika karyawan lain resah saat terpikir berangkat kantor di pagi hari. Kamisol sebaliknya. Dia resah saat terpikir pulang kantor di sore hari. Penderitaan dan tekanan secara verbal akan dimulai. Deraan kritik, saran, celetukan dan rekomendasi sang mertua membuat Kamisol majal. Mati rasa. Berhadapan dengan mertua perempuannya dia lebih memilih diam. Jauh di dalam magma hatinya, lava ketidaksukaan menggelegak. Energi kebencian yang setiap saat bisa meletup. Namun pak Kamisol bukanlah tipe eksplosif. Letupan ketidak-sukaan saya lebih tipe efusif. Di surat kabar ada berita menantu bunuh mertua. Sakit hati karena suka mencampuri urusan keluarganya. Urusan uang lagi. Aku bukan tipe seperti itu. Aku benci tapi aku waras. Menurut Kamisol, jika orang sampai pada keputusan mengambil nyawa orang lain artinya tiga titik segitiga motivasinya sempurna. Ketiga titik itu: hati, pikiran dan ucapan/tindakan. Segitiga motivasi Kamisol tak sempurna, hanya berhenti pada pikiran. Embrio kejahatannya selalu diaborsi. Dia punya pelampiasan cara lain.

Berhadapan dengan mertuanya dia memilih diam. Dalam diam, dia berkarya. Dengan hati dan rencana. Bahkan dia tahu siapa personifikasi paling pas untuk mertua perempuannya ini: Medusa! Wanita mitologis Yunani kuno berwajah hantu berambut ular. Sekali pandang wajahnya manusia menjadi batu. Sama dan sebangun tapi beda konteks menurut Kamisol. Jika Medusa dipandang membatu, mertuanya juga membuatnya membatu dengan serangan kata-katanya seperti mitraliur. Kamisol sebenarnya tidak sampai hati menjulukinya Medusa. Sang bunda tidak buruk wajahnya, masih segar di usia 50-an. Garis keayuannya masih terlihat, hanya sayangnya kelakuannya kurang ayu. Untuk sementara cukup disitu pelampiasanku pada dia. Jangan sampai segitiga motivasiku menutup sempurna.

Dia ingat Medusa sewaktu liburan akhir tahun lalu. Istrinya dapat bonus salah satu pengumpul poin terbaik agen asuransi. Mereka melancong ke Turki dan Jordania, dua negara di belahan Asia Barat. Negara yang kaya sejarah masa lalu, kemegahan kerajaan dan kisah-kisah nubuat kitab suci. Sebenarnya Kamisol juga ingin ke Jerusalem atas biaya sendiri, sayang waktunya tak cukup. Plesiran mereka sekeluarga lebih berbau ziarah rohani. Lagi-lagi atas saran mertuanya. Cerewet tapi relijius. Senang dengan simbol-simbol seremonial, mengerangkeng ketuhanan dalam lambang, ucapan dan tanda. Karena dia pun sudah buru-buru pesan sederet oleh-oleh dari perjalanan spiritual ini. Ada banyak tempat yang mereka sambangi saat berwisata. Di Jordania, mereka singgah di ibukota Amman, laut Mati (hingga kedua putrinya terheran-heran orang bisa mengapung di tengah laut). Dia menjelaskan itu bisa terjadi karena kadar garam laut Mati sembilan kali lebih asin dibanding air laut biasa. Nyaris tak ada makhluk yang tahan hidup berenang-renang di dalamnya. Posisinya pun sekitar 402 meter di bawah muka laut sehingga menjadi titik terendah di muka bumi. Kemudian mereka ke sungai Jordan, sungai legendaris dan mistis menyimpan kisah baptis pertama. Ada banyak reruntuk sisa sisa kebesaran arkeologis masa lalu di Jordania: Al Karak, Jerash, city of Gadara, serta yang paling spektakuler situs purbakala Petra.

Memandang Petra dengan mata kepala sendiri, membuat mereka sekeluarga kehabisan kata-kata. Dari lorong jalan masuk Al-siq mereka sudah berdebar-debar. Lorong cadasnya sempit ratusan meter tegak lurus ke atas. Di awal koridor cadas batu mereka bisa memilih naik unta sebenarnya. Tapi Tanti takut. Melihat hewannya saja sudah geli katanya. Berlekuk-lekuk penuh tonjolan aneh. Berdiri seperti ranjang doyong, bagaimana jika berjalan. Akhirnya mereka jalan kaki. Hampir 1 kilometer menyusuri lorong ajaib negeri dongeng. Penampakan di ujung dinding jurang membuat mereka ternganga. Sebuah bangunan raksasa yang amat megah. Decak kagum saja tidak cukup menggambarkan keindahannya yang magis dan membuat merinding. Bangunan menyerupai arsitektur Romawi kuno menjulang gagah tersembunyi di gundukan bukit batu yang berwarna-warni, memantulkan efek sinar mentari: kadang coklat beige, kadang pink dan kuning terang. Dahulu dipakai sebagai tempat perlindungan dari musuh dan bencana alam. Hebatnya gedung Petra dibuat bukan dengan teknik arsitek biasa tapi hasil pahatan. Ya, bongkahan batu raksasa dipotong dan diukir ratusan tahun oleh suku Nabatean hingga berdirilah Petra seperti sosoknya saat ini.

Kolom-kolom tiangnya lebih besar dari pelukan orang dewasa. Berkacak pinggang di pintu masuk utamanya, Kamisol sekeluarga tampak seperti liliput. Di bagian dalamnya ada semacam altar dan tempat prosesi kuno dengan tangga berundak-undak. Sentuhan peradaban modern tampak pada lampu-lampu yang disetel serasi memberi cahaya pasif. Sinarnya lembut menerangi interior dalamnya yang terasa sejuk. Kata pemandu tur di dalam komplek situs arkeologis ini juga ada teater pertunjukan dan makam kuno. Petra seperti ksatria abad pertengahan berbaju zirah gagah di atas kuda menenteng javelin, setia menunggui jajaran perbukitan Siq. Sayang waktu mereka terbatas, karena di balik gunung gemunung yang meriungi Petra terdapat gunung Harun (Jabal Harun). Konon di puncak gunung inilah nabi Musa dimakamkan. Paling tidak mereka sekeluarga lega. Pernah menginjakkan kaki di salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Situs yang juga pernah menjadi setting film Indiana Jones: The Last Crusade.

Puas 2 hari berkeliling Jordania, mereka menuju Turki. Kendati ini wisata rohani dan mereka penganut agama Nasrani, mereka memilih Turki bukan tanpa alasan. Muslim memang mayoritas disana, tapi Turki bukan negara agama. Turki modern seperti yang digagas oleh pendirinya Mustafa Kemal Ataturk adalah negara sekuler. Turki terletak dipersimpangan benua Asia dan Eropa. Itu bisa mereka lihat saat mengunjungi jembatan Bosphorus yang membentang di atas laut Marmara, menjadi penaut antara semenanjung Anatolia di Asia dan semenanjung Balkan di tanah Eropa. Disini pula Kamisol baru mengerti asal nama terkenal Dardanella, sebuah titik penghubung antara laut Hitam dan laut Mediteranea. Disamping kejayaan kekaisaran Ottoman, di Turki pula banyak jejak-jejak kebesaran peradaban Romawi dan peninggalan budaya Kristen ratusan tahun lalu. Kesanalah mereka menuju.

Mereka singgah di Museum Haghia Sophia, sisa kebesaran seni Byzantium dan merupakan gereja terbesar di zamannya. Sempat pula berubah fungsi sebagai mesjid. Tempat bukan masalah, yang utama iman dan keyakinan, pikir Kamisol. Kemudian lanjut ke Ephesus. Sekali lagi mereka berdecak kagum memandangi Temple of Artemis berlama-lama. Di kisah para nabi, rasul Paulus pernah berkarya disini. Ephesus jaman dahulu adalah pusat perdagangan, kebudayaan, agama yang penting. Pilar-pilar besar dan gagah mengingatkannya pada kota kuno Petra. Karena Kamisol senang dengan dongeng-dongeng mitologis Yunani, di Turki jadi seperti botol ketemu tutupnya. Dia punya bekal cerita sebagai oleh-oleh: bahwa altar Zeus memang ada (saat berkunjung ke kota kuno Pergamon), bahwa ratu ular Medusa juga ada (tapi berupa patung di Basilika Cistern, Istanbul). Di kuil unik ini, sepotong arca kepala Medusa menjadi pondasi kolom bangunan. Disini pula dia ingat pada mertuanya. Sayang dia tak ikut. Cobalah dia berefleksi dengan melihat karya seni di basilika kuno ini. Inspirasi itu menyeruak pikirannya mertuanya cocok dengan personifikasi patung ini. Hanya dia tak sempat cari miniatur Medusa sebagai oleh-oleh. Ada dua tempat lagi yang mengagumkan di Turki yang membuat mereka tak pernah lupa: ampiteater Pergamum, semacam teater pertunjukan raksasa dibangun imperium Romawi. Pilar-pilar reruntuh kota ada di puncak bukit. Sementara undak-undakan teater berlarik-larik menempel di lereng bukit. Terserak melandai lari menuruni lereng bukit. Pintar sekali manusia jaman itu merancangnya.

Kunjungan ke tempat terakhir membuat mereka salut dan terpesona. Mesjid Biru di Istanbul adalah salah satu mesjid terindah di dunia. Namanya diambil dari keramik biru alami penghias dekorasi interior kubah utama. Proporsi keindahannya sempurna dan menjadi mesjid utama jaman kekaisaran Ottoman. Bergaya di luar masjid ini seperti berpose dengan latar kalender raksasa. Ada 6 menara ramping mengelilingi satu kubah utama dan beberapa semi kubah. Keluarga Kamisol berkesempatan melongok ke dalam mesjid. Ada semangat kedamaian, alami dan sejuk udaranya. Mendongak memandangi interiornya luar biasa mencengangkan. Slow motion: sinar mentari berkejar-kejaran berebut masuk dari puluhan jendela bermozaik seputar kubah-kubahnya. Putri sulungnya menukas seperti berada dalam pesawat luar angkasa alien. Lukisan dekoratif di langit-langit kubah indah tiada tara. Paduan antara kaligrafi Arab, detail desain ratusan bunga tulip beraneka rupa dan corak vinyet purbakala. Sampai pegal leher mereka mendongak. Kalau boleh memandangi sambil berbaring mungkin lebih enak lagi. Kamisol melirik istrinya yang kebetulan menoleh ke arahnya. Tanti tersenyum simpul.

“Kau tahu apa yang kupikirkan,” tanya Kamisol.

“Iya, aku juga berpikiran sama,” Tanti mengiyakan.

Tanti menerawang. Umurnya baru 8 tahun. Dia ada bersama 2 teman akrabnya Santi dan Nila. Di dalam kamar mereka telentang berdempet-dempet. Kamar keluarga. Gelap. Semua jendela ditutup rapat. Suasana terasa lebih gelap dan sesak. Karena mereka tengah berbaring di kolong ranjang. Hari itu giliran Santi pegang senter. Napas mereka pendek-pendek dan cepat. Slow motion: sampai hitungan ketiga, Santi menyorotkan senternya ke langit-langit kolong ranjang. Sekolom cahaya langsung membentur sasaran. Dan nampaklah di papan alas ranjang-sedekat jangkauan tangan mereka-stiker tokoh-tokoh kartun dan bintang penyanyi bertempelan. Ramai tak keruan. Hari itu Santi menempelkan Desi Bebek, tokoh kartun favorit Tanti. Cekikik mereka asyik sambil menyorotkan senter ke sana kemari. Sensasi kesenangan anak-anak dalam fokus ruangan sempit dan sorot cahaya yang sedikit. Hampir penuh langit-langit ranjang ibunya dengan stiker: dari Mickey Mouse, Donald dan Desi Bebek, keluarga Bobo, Superman, Batman hingga Chicha Koeswoyo dan Elvy Sukaesih. Main ‘ngolong’ adalah kegemarannya sepulang sekolah.

Bergiliran menyuruk masuk ke kolong ranjang besi dan melekatkan gambar tempel ke muka bawah papan alas ranjang. Bahkan ibunya pernah belingsatan mencarinya, disuruh makan sepulang sekolah. Suara cekikikan di kamar dan gerubak gerubuk papan ranjang menjadi penuntun sampai Tanti ditemukan. Masih berseragam lengkap, debu sawang menempel di kuncir kudanya. Senter menyala tersorot ke wajah ibunya.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage