Titah Sang Baginda

Titah Sang Baginda

16

www.revistapsikologji.com

#Ini kelanjutan kisah Mas Bagas…^_^

Di dalam mobil, Ryan yang menyamar sebagai Bagas berusaha menyembunyikan kegelisahan. Bulir keringat berlomba membasahi keningnya yang licin. Meski AC mobil sudah dihidupkan, ia tetap saja merasa gerah. Apalagi di sampingnya duduk dua Baginda berwibawa yang sejak tadi memeluk erat lengan kekarnya.

Ryan merutuk dirinya sendiri. Hhh, kenapa juga ia grusa-grusu menerima tawaran Bram. Kenapa juga ia tidak bertanya secara detil peran apa sesungguhnya yang bakal dilakoninya.

Ia ingat sore itu Bram hanya mengatakan, “Tugasmu sangat mudah, Bro. Cuma menyamar sebagai Bagas. Aku yakin kamu pasti bisa. Bukankah kamu anak teater?” Bram menepuk pundaknya. Hanya itu. Lalu sohib gondrongnya itu menyelipkan amplop yang lumayan tebal ke dalam genggamannya. Ia yang kebetulan sedang mengalami krisis keuangan, tentu saja menerima rezeki tak disangka-sangka itu dengan penuh rasa syukur. Dan enggan bertanya-tanya lagi, kecuali menyanggupi.

Sekarang setelah penyamaran berlangsung, dirinya baru sadar. Ini bukan sekedar penyamaran biasa.

“Ingat wejangan Daddy tempo hari, kan, Gas?”  tegur sang Baginda. Mengagetkannya.

“We-jangan? Oh, tentu saja, Dad, aku ingat!”

“Ndak perlu nervous, Nak. Hadapi audience dengan santai,” perempuan yang duduk anggun di samping kirinya ikut menimpali.

“Di atas podium nanti, tunjukkan kesantunanmu seperti ini.”

“Perhatikan juga gaya bicara. Harus elegan. Gunakan bahasa berkelas.”

“Jangan lupa menebar senyum, seperti ini.”

“Angkat tangan kananmu seperti ini.”

“Miringkan dagumu sedikit seperti ini.”

Silih berganti dua Baginda itu memberi contoh kepada Ryan. Alhasil, kepala Ryan menjadi pening karena beberapa kali mesti menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Abaikan suara-suara fals yang tertangkap oleh telingamu, ikuti saja irama hatimu,” pria berwibawa itu kembali bertutur. Ryan mengernyitkan alis. Suara fals? Irama hati? Ia semakin tidak mengerti. Bingung. Gagal paham.

Tiba-tiba saja Ryan ingin meloncat dari mobil dan melarikan diri sejauh-jauhnya.

Sejenak ia teringat Bram. Yah, ia harus menelpon sohib karibnya itu. Harus!

Tapi terlambat. Iring-iringan mobil sudah memasuki area parkir dan berhenti tepat di depan sebuah gedung mewah bercat putih.

Hati Ryan kebat-kebit. Sungguh, ia merasa dirinya tak berkutik lagi.

***

Gedung mewah itu sudah dipenuhi tamu undangan. Beberapa di antara mereka duduk dan berbincang dengan serius, sementara beberapa yang lain sibuk menyongsong iring-iringan yang baru saja tiba.

Kembali dua Baginda mengapit lengannya. Mereka berjalan berdampingan menuju tempat duduk VIP yang sudah disediakan oleh panitia. Berpasang-pasang mata kini tertuju kepada mereka. Ryan menjadi rikuh.

“Sudah siap menyampaikan program kerja, Mas Bagas?” pembawa acara datang menghampiri. Ryan tergagap. Ia nyaris menggeleng. Tapi kedua Baginda terburu mengangguk.

“Tentu saja ia sudah sangat—sangat siap sekali,” pria berwibawa mengambil alih menjawab dengan suara mantap.

“Baiklah. Acara sebentar lagi dimulai. Mas Bagas boleh mempersiapkan diri.” Pembawa acara itu mengangguk dan tersenyum ramah.

Tapi di mata Ryan senyum ramah itu tetiba saja berubah menjadi seringai.

***

Dad, boleh pamit ke kamar kecil sebentar?” Ryan memberanikan diri menatap pria berwibawa yang duduk tegap di sebelah kanannya.

“Tidak bisa ditangguhkan?”

“Tidak bisa, Dad. Ini efek terlalu banyak minum dan juga dinginnya ruangan ber-AC ini,” Ryan mengemukakan alasan. Pria berwibawa itu akhirnya mengangguk.

“Perlu Mom antar, tidak?”

“Tidak usah, Mom. Thank’s….”

Ryan berjalan terburu menuju toilet yang terletak di bagian ujung gedung pertemuan. Dikuncinya pintu rapat-rapat. Lalu dihirupnya napas dalam-dalam.

Gugup ia meraih ponsel dari dalam saku celananya.

“Bram, aku mundur dari penyamaran gila ini!” serunya bersungguh-sungguh.

“Kenapa, Bro? Ada masalah?”

“Ini tidak sesederhana yang kupikirkan, Bram. Mereka meminta aku memaparkan program kerja. Program kerja apa-an? Suer, aku tidak tahu apa-apa!”

“Oh, itu. Don’t worry, be happy, Bro. Dua Baginda di sampingmu itu pasti siap membantu.”

“Maksudmu?”

“Ikuti saja titah mereka. Pasti beres.”

Ryan ingin memprotes. Tapi ponselnya mendadak mati. Lowbat.

Bersamaan itu terdengar seseorang mengetuk pintu.

“Mas Bagas, audience sudah tidak sabar lagi menunggu pidato Anda.”

***

Malang, 11 Januari 2017

*Kisah ini hanya fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan nama, tempat atau situasi, bukanlah suatu kesengajaan.

 

Share.

About Author

Hanya seorang Ibu biasa yang suka membaca dan menulis fiksi.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage