Disuntik Dana Rp 13,3 T, Go-Jek Siap Bersaing, Konsumen Nikmati Untung

Disuntik Dana Rp 13,3 T, Go-Jek Siap Bersaing, Konsumen Nikmati Untung

9

Ilustrasi (Sumber: detik.com)

Masih soal transportasi online. Jika beberapa waktu lalu kita menyaksikan pertarungan mode transportasi konvensional versus online, kali ini pertarungan makin seru. Pertarungan diantara sesama penyedia jasa transportasi online. Pertarungan ini melibatkan tiga raksasa aplikasi transportasi online yakni Grab, Uber, dan Gojek.

Awal bulan April kemarin, Gojek dikhabarkan memangkas diskonnya. Dari diskon awal sebesar 50% turun menjadi 40%. Pemangkasan diskon ini meskipun hanya 10% tetapi mendapat keberatan dari konsumen. Apa boleh buat, pihak Gojek sendiri bersikukuh memangkasnya.

Memang persaingan sesama penyedia transportasi online ini sangat ketat. Apalagi regulasi mengenai ojek online belum diatur secara khusus seperti halnya taksi online. Bahkan beberapa waktu lalu, Menteri Perhubungan mewacanakan akan memberikan wewenang kepada Pemda untuk mengaturnya. Berikut pernyataannya.

“Kami lagi carikan bagaimana (regulasi) yang terbaik,” ujar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Apakah kami akan beri kewenangannya kepada daerah? Atau bagaimana? Kami akan cari formulasi bagi angkutan roda dua ini,” lanjutnya. Berita lengkapnya disini.

Kendati sejauh ini belum banyak konflik antara ojek konvensional versus ojek online, tetapi bila tidak dibuatkkan regulasinya, ini akan jadi bom waktu. Akan tetapi mari kita kesampingkan persoalan ojek konvensional versus online. Karena tulisan ini hanya fokus pada penyedia ojek online.

Ada dua hal pokok yang menjadi kekuatan utama dalam tiap penyedia jasa transportasi online yakni jumlah armada dan besaran tarif. Apalagi sudah jelas dalam ojek online bahwa sepeda motor yang digunakan adalah milik sendiri. Perusahaan bisa menekan biaya produksi dengan menghindari pembelanjaan armada. Oleh karena itu, persaingan sesungguhnya hanya menyasar pada dua hal pokok di atas.

Soal besaran tarif dan jumlah armada ini bisa berkaca dari kasus taksi online. Para pembaca yang sering menggunakan jasa taksi online, tentu merasakan perbedaan dalam hal kemudahan bahkan kecepatan akses dan besaran tarif. Ada penyedia tertentu dalam praktiknya memberikan tarif lebih rendah dari batas tarif normal. Kendati secara formal mereka tetap merujuk pada aturan Permenhub. Sekali lagi, ini soal strategi pemasaran masing-masing penyedia.

Untuk bisa berkompetisi dan agar tetap bertahan dalam kompetisi, tiap penyedia membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Sebut saja Gojek Indonesia sejak tahun lalu sudah mendapat suntikan dana hingga 550 juta dollar AS. Suntikan dana ini berasal dari berbagai investor seperti KKR, Warburg Pincus, atau Farrallon Capital. Selengkapnya disini. Gojek Indonesia terus berbenah apalagi setelah mengetahui manuver salah satu pesaingnya, Grab Indonesia, yang terbilang berani. Grab Indonesia sudah mencanangkan program Grab for Indonesia hingga 2020 nanti. Untuk kebutuhan pengembangan ini, Grab didukung pendanaan hingga 700 juta dollar AS.

Gojek tentunya tidak ingin kecele. Seperti diberitakan dalam kompas.com, Gojek dikhabarkan tengah bersiap menerima kucuran dana yang amat besar. Pemberitaan dari Asian Wall Street Journal, menyebutkan bahwa Gojek dikhabarkan akan menerima kucuran dana hingga 1 miliar dollar AS atau setara Rp 13,3 triliun bila mengacu ke kurs Rp 13.200 per 1 dollar AS. Selengkapnya disini. Para investor berharap, suntikan dana tersebut bisa membuat Go-jek punya daya dobrak yang mumpuni untuk bisa bersaing dengan para pesaingnya.

Sampai disini menjadi jelas. Pertarungan besar-besaran akan terjadi ke depan. Pertarungan yang apple to apple, online versus online. Inilah new era. Persaingan yang memasuki babak baru. Yang tidak bertahan akan terlempar keluar.

Lantas bagaimana kepentingan konsumen dalam konteks persaingan ini? Dugaan penulis, persaingan antar sesama penyedia jasa ojek online ini akan makin menguntungkan pengguna. Kenapa demikian? Karena persaingan ketat akan menyasar pada jumlah armada dan besaran tarif. Ekspansi akan terus dilakukan. Perekrutan pengemudi akan makin gencar. Ke depan kita akan rasakan tawaran-tawaran diskon yang menggila. Selain itu, kecepatan akses transportasi akan semakin terasa.

Sisi lain yang positif dari persaingan ini pada tingkatan yang lebih tinggi adalah pelayanan yang prima. Sejauh ini saja sudah ada layanan pengaduan dari konsumen. Artinya mereka terus-menerus berbenah.

Melihat kondisi ini, hemat penulis, ke depannya jumlah armada ojek online tidak perlu dibatasi. Hal penting yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengusahakan integrasi ojek konvensional ke online. Dengan demikian, tidak ada lagi area tertentu yang dikuasai oknum atau paguyuban ojek atas dasar daerah operasi. Kita sudah masuk pada era milenium. Persaingan makin tinggi, makin maju. Yang tidak bertahan akan tersingkir. Ini seperti teori Charles Darwin, “bukan yang kuat yang bertahan, melainkan yang bisa beradaptasi”. Sekian…

Share.

About Author

Memilih menulis untuk mengekspresikan gagasan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage