Kisah Gus Dur dan Warga Maluku, Dari Televisi Hitam Putih ke Televisi Warna

Kisah Gus Dur dan Warga Maluku, Dari Televisi Hitam Putih ke Televisi Warna

5

Suatu ketika saya menuju beberapa wilayah di pesisir pulau Ambon, sepanjang perjalanan saya melihat kawasan tersebut didominasi oleh pohon Cengkeh, Sagu dan Pala. Begitu penasaran saya dengan berjejeran cengkeh di jalanan salah satu desa di Kabupaten Maluku Tengah. Kemudian saya berinisiatif mengajukan beberapa pertanyaan terhadap warga setempat.

Ketemulah saya dengan seorang petani cengkeh bernama Wace atau sering dipannggil Mama Wace. Saya lalu menayakan prihal bagaimana penghasilan petani cengkih sekarang.

“Ade nona cengkeh sekarang harga naik-turun, kalo harga naik turun sama saja nasib naik turun to” Jawab Mama Wace yang memancing tawa saya yang merasa lucu dengan jawaban tersebut.

Saya bukan berdarah Maluku tetapi saya selalu dan belajar dari orang Maluku, saya sadar bahwa mereka disini selalu mennggambarkan penderitaan mereka dalam bentuk humor jadi tak heran kalo  BPS merilis, Indeks kebahagiaan penduduk Maluku Utara dan Maluku tercatat lebih tinggi dari daerah lain di Indonesia.

Lalu kemudian saya bertanya lagi kali ini mengenai harga tertinggi dari hasil penjualan cengkeh, tetapi diluar dugaan pertanyaan itu dijawab dengan satu nama tokoh yang selama ini saya kagumi.

“Nona manis e, kalo soal harga itu jaman Gus Dur saja, kerusuhan kencang tapi harga cengkeh juga nae kencang, rumah-rumah di kampong ini ni nona. Dulu itu, ado kasihan cuman pake atap  dari daun sagu itu, tapi pas musim cengkeh samua ganti jadi seng, telivisi hitam putih tu langsung mama dong ganti deng televisi berwarna”.

Saya kemudian terkesima dengan jawaban ini, saya juga menuju rumah salah satu kenalan saya dan tentunya untuk meminta tanggapannya, ternyata ia  memberikan keterangan yang sama bahwa apa yang dikatakan Mama Wace itu benar dan kenalan saya ini mengakui ia mengalami hal itu sendiri.

“Musim cengkeh itu maksudnya musim dimana waktu panen cengkeh tiba, biasanya istilah anak muda disini dengan musim sombong. Nah, bukan berarti sombong seperti apa atau bagaimana, sombong dalam artian pola hidup yang berubah di luar kebiasaan. Misalkan, dalam makanan yang dikonsumsi oleh warga sehari-hari yang hanya monoton pada sagu dan papeda berubah jadi nasi dan telur bahkan ayam”

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa di era Gus Dur harga cengkeh itu mencapai Rp. 10.00 per 1 cupa atau dalam timbangan untuk cengkeh kering 70.00 per kilo. Untuk istilah  cupa  yang dimaksud merupakan ukuran cengkeh dari kaleng susu tapi cengkeh yang dihitung dalam ukuran cupa hanya berlaku bagi cengkeh mentah atau belum melalui proses di jemur.

Nah, sewaktu Gus Dur menjadi Presiden ia bisa membeli sepeda dengan hasil keringat sendiri, bahkan untuk membeli sepeda ia hanya membutuhkan waktu kurang dari satu minggu di era itu. Pasalnnya, dalam sehari ia biasa memperoleh 26-30 cupa cengkeh, dikalikan saja dengan 10.000. Bahkan ibunya sampai membeli televisi baru dan kulkas.

Saya hanya bisa terkesima mendengar cerita kenalan saya ini tapi ada moment dimana saya juga dipaksakan untuk berpikir keras ketika kenalan saya itu melontarkan kalimat seandainya.

“Seandainya Gus Dur diberi waktu yang lama, mungkin kami tak perlu ragu-ragu untuk kuliah ke luar negeri, kami bisa menabung dari hasil cengkih yang ada, itu harga cengkih yang saya kenang sepanjang masa sebab saat itu saya masih kecil, ketika dewasa saya membaca buku Gus Dur baru saya teringat, oh ini orang yang sudah buat saya naik sepeda. Akan tetapi, setelah era pemerintahan Gus Dur, harga cengkeh kembali anjlok hingga Rp 20.000 per kg. Nah, kalo sudah begitu jangan bermimpi beli sepeda”. Tutur ia sambil mengenang masa kecilnya sebagai anak petani cengkih.

Tapi sudahlah, setelah dewasa akhirnya saya paham bahwa saatnya orang Maluku untuk keluar dari paradigma remapah-rempah yang menjanjikan, mereka harus keluar belajar kesehatan, teknik industri, informatika dan seterusnya. Terutama pertambangan sebelum mereka jadi penonton di tanah mereka sendiri, sebab mereka punya candangan kekayaan alam sangat melimpah seperti Blok Masela dan masih ada yang lain. Begitu kira-kira kesimpulan penutup yang sangat tajam itu.

Presiden KH Abdurrahman Wahid saat berkuasa tahun 2001 dikenang sebagai pahlawan oleh petani cengkeh, Harga cengkeh, yang terpuruk hingga Rp 2.000 kilogram (kg) pada era Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) tahun 1979, tahun 2001 secara mendadak melonjak.

Lonjakan harga itu mencapai Rp 70.000 per kg, petani seperti mendapat berkah luar biasa dari Tuhan melalui tangan Gus Dur. Sebab, dengan menjual 1 kilogram cengkeh, petani mampu membeli 30-35 kilogram beras kualitas medium kala itu.

Share.

About Author

Atas dasar romantisme kegelisan yang sama

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage