Melihat Warisan Hutang dan Kebijakan dari zaman Soeharto, SBY, hingga Jokowi Supaya tidak Mudah Dibodohi

Melihat Warisan Hutang dan Kebijakan dari zaman Soeharto, SBY, hingga Jokowi Supaya tidak Mudah Dibodohi

22

Isu hutang selalu dipropagandakan untuk membuat buruk pemerintahan di era Jokowi. Para pelaku propaganda bukan orang bodoh, tetapi orang yang ingin membodohi masyarakat yang tidak mau mencari wawasan yang luas, sehingga mau saja dibodohi dan dibohongi pakek isu apa saja, baik itu isu agama, isu PKI sampai isu hutang.

Belum lama ini, banyak sekali meme bertebaran, terkait propram Anies-Sandi mengenai rumah DP 0%. Hal tersebut terkait, DP 0 % yang dijanjikan, ternyata untuk orang-orang yang memiliki gaji minimal 7 Juta, sedangkan upah minimum di Jakarta tidak sampai 7 juta. Ini bisa dikatakan tidak sesuai dengan janji-janji kampanye yang selalu menggemborkan keberpihakan terhadap rakyat, terutama yang miskin.

Ada teman yang marah dengan DP 0 % karena tidak sesuai dengan yang diharapkan, lalu dengan enteng saya bilang, Uno tidak salah, yang salah yang merasa dibodohi karena mau dibodohi, lalu teman saya tersebut tertawa terbahak-bahak.

Supaya kita tidak selalu menyalahkan orang yang membohongi kita, karena kesalahan kita yang tidak mau mencari wawasan seluas-luasnya, marilah kita cari tahu untuk apa sih hutang-hutang negara selama ini, dan apa sih pengaruh kebijakan-kebijakan dari dana hasil hutang yang dilakukan dari zaman Soeharto, Mega, SBY hingga Jokowi?

Hutang dari zaman ke zaman

Pada zaman orde baru, hutang bisa dikatakan digunakan untuk membangun kekuasaan berbasis militer dan  manipulasi harga. Kita ketahui bersama, di zaman itu siapa sih yang bisa mengusik Soeharto? Semua dikendalikan dalam gengaman tangannya meskipun uang yang digunakan untuk hal tersebut hasil dari hutang.

‘Piye kabare?enak zamanku to ?’ ( bagaimana kabarnya, enak di zamanku kan?) meme itu hadir karena pada zaman orde baru, harga-harga dimanipulasi dengan subsidi. Indonesia tumbuh, tetapi pertumbuhan yang tidak sebenarnya, sehingga pada akhirnya dengan satu hentakan saja dapat dirobohkan oleh pelaku pasar uang seperti George Soros. Padahal, sebelumnya Soeharto disebut juga sebagai bapak pembangunan, namun pada akhirnya dilengserkan dengan paksa akibat pembangunan manipulasi.

Yang tertimpa sial, zamannya Gusdur dan Megawati, karena hantaman krisis, besar pasak dari pada tiang terjadi di Indonesia. Selain itu harus menghadapi para elit peninggalan orde baru yang reseh, mengganggu pemerintahan. Bahkan Megawati seperti naluri seorang ibu disaat anaknya kelaparan, cincin pernikahanpun terpaksa dijual untuk memberi makan anak-anaknya. Akibat hutang  peninggalan orde baru masih mencekik, dan dibutuhkan waktu untuk bangkit.

Kebijakan berhutang masih dilakukan oleh SBY, dan masih seperti kebiasaan rezim orde baru, manipulasi harga digunakan dengan bentuk subsidi BBM. Subsidi BBM merupakan cara yang ampuh untuk menekan harga.

10 Tahun masa pemerintahan SBY, uang senilai 1.300 triliun atau tepatnya Rp 1.297,8 dibakar tanpa meninggalkan bekas. Melambungnya harga dapat ditekan, rakyat tenang dan senang, tetapi bom siap meledak kapan saja akibat hutang yang digunakan untuk manipulasi pertumbuhan ekonomi yang palsu.

Harga yang terbentuk bukan dari sistem yang seharusnya, bukan dari bentukan akibat faktor kompetisi serta akibat pengaruh kapasitas produksi dan tingkat permintaan, itu sama saja dengan manipulasi harga. Pondasi ekonomi seperti ini sudah jelas sangat rapuh.

Sistem negara yang kokoh, tentu saja yang berbasis produksi, dan hal itu tidaklah mudah. Kebijakan yang berplatform industrialisasi harus diterapkan secara tegas dan keras. Sumber daya manusia yang mempuni, basis supply chain yang lentur, hilangnya retriksi bagi kebebasan berkompetisi, bisnis rente yang tidak ada nilai tambahnya bagi angkatan kerja yang luas dikurangi, revitalisasi industri hulu yang efisien untuk menjamin terbentuknya industri hilir yang luas dengan orientasi menjamin supply chain. Kebijakan moneter yang longgar, tetapi tetap dalam pengawasan dan terkendali supaya akumulasi dana di pasar uang dapat mengalir ke sektor real. Tidak kalah penting juga, infrastruktur ekonomi yang harus dibangun, supaya sistem logistik menjadi efisien dan potensi dari seluruh wilayah dapat dioptimalkan yang tentu saja akan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Sangat besar tantangan Jokowi untuk melakukan hal tersebut. Tetapi jika tidak segera dilakukan, beban negara akan semakin berat kedepannya, fundamental ekonomi tidak kokoh. Setiap orang tua, sudah semestinya memberikan warisan yang baik, bukan warisan permasalahan yang akan semakin buruk, selayaknya bom waktu yang pernah menghajar kita disaat krisis moneter terjadi.

Goncangan di era Jokowi

Goncangan akan sangat besar menimpa Jokowi karena ingin menjadikan negara yang produktif. Hal itu sudah jelas terjadi, karena yang merasakan adalah sebagian besar masyarakat Indonesia. Saya sebagai rakyat jelata, yang memiliki penghasilan pas-pasan merasakan hal itu, tetapi saya juga tidak mau membuat jebakan batman untuk anak cucu saya kelak, lebih baik berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Dari situ, saya mengapresiasi dan mendukung apa yang dilakukan di era Jokowi ini.

Selain permasalahan-permasalahan dalam memperbaiki perekonomian yang tangguh, para rente yang dirugikan akibat kebijakan Jokowi ikut menghembuskan banyak masalah mengganggu Jokowi, bersama dengan para elite politik yang tidak ingin kehilangan panggung.

Mengapa Jokowi tidak melanjutkan kebijakan SBY?

SBY selama 10 tahun, benar-benar mencari aman, dengan berusaha melakukan industrialisasi, tetapi tetap menjaga kepentingan rakyat banyak dengan melakukan subsidi, tetapi apa yang terjadi, itu tidak dapat dilakukan, malah menjadi deindustrialisasi. Belum lagi, dana hasil hutang yang menjadi bancakan para koruptor, karena politik transaksional.

SBY masih mengandalkan pendapatan dari komoditas utama peninggalan soeharto seperti karet, sawit, kakao, batu bara dan lain-lain. Sedangkan, komoditas utama sejak 2013 hingga saat ini selalu mengalami penurunan.

Jika kita masih menginginkan manipulasi harga kebutuhan dengan adanya subsidi BBM, berarti kita masih belum mau bangun dari tidur, bahwa kondisi kita belumlah kuat dalam fundamental ekonomi, dan suatu saat bisa terjerempab dalam krisis seperti yang pernah terjadi.

Kebijakan Jokowi meskipun membuat namanya tidak menjadi populer, tetapi dapat membangun waduk, jalan tol, mencetak sawah, revitalisasi industri hulu, membangun bandara, pelabuhan dan infrastruktur lainnya. Meskipun demikian, Jokowi juga masih mensubsidi rakyat yang miskin, dan yang layak untuk disubsidi. Subsidi tepat sasaran, itulah yang dilakukan.

Dengan kebijakan yang dilakukan Jokowi, tidak menjadi heran, bila peringkat layak investasi Indonesia naik.

Meskipun nanti Jokowi tidak terpilih lagi karena pengorbanan beliau tidak mau memberi harapan palsu, sehingga namanya tidak lagi populer, tetapi kita akan sedikit bernafas lega, dia sudah memulai membuat pondasi ekonomi yang sebenarnya untuk anak cucu kita.

Baca juga :

 

Sumber pendukung ;

https://nasional.tempo.co/read/news/2014/11/24/078624005/10-tahun-presiden-sby-bakar-subsidi-bbm-rp-1-300-t

http://finance.detik.com/industri/2356196/harga-batubara-terus-anjlok-banyak-perusahaan-setop-produksi.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/11/04/192515526/harga.komoditas.anjlok.penjualan.komatsu.menurun

http://katadata.co.id/berita/2013/07/10/harga-komoditas-utama-ri-turun-di-pasar-global

https://nasional.tempo.co/read/news/2014/11/24/078624005/10-tahun-presiden-sby-bakar-subsidi-bbm-rp-1-300-t

Share.

About Author

Pengamat kelas coro yang otaknya dikit, puas loo?.........antonseword.com@gmail.com....

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage