Menteri Amran Memperpendek Rantai Pasok, Petani dan Konsumen Bakal Gembira

Menteri Amran Memperpendek Rantai Pasok, Petani dan Konsumen Bakal Gembira

6

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sudah berhasil membuat Indonesia berswasembada jagung, bahkan akan mengekspor jagung ke Malaysia. Dalam meningkatkan produksi beras dan bawang merah, Menteri Amran juga boleh diacungi jempol. Namun prestasinya akan lebih mencorong lagi jika berhasil mremotong rantai pasok berbagai komoditas pertanian. Persisnya ia ditantang untuk mendekatkan harga produksi di sawah dengan harga eceran di pasar kota.

Masalahnya kedua harga itu timpang, harga produksi rendah sementara harga eceran tinggi. Contohnya, harga bawang merah yang diterima petani Temanggung hanya Rp 8.000 per kilogram (kg) sementara harga yang dibayar pembaca Seword  di Jakarta mencapai Rp 30.000 per kg. Kemana selisihnya? Disinilah kuncinya, ada banyak pedagang perantara yang mencari untung dalam perdagangan komoditas pertanian.

Apakah melanggar peraturan? Tentu tidak, karena setiap orang boleh mencari nafkah. Namun yang menjadi masalah adalah petani tidak mendapatkan keuntungan yang memadai, padahal konsumen sudah membayar dengan harga tinggi. Akan lebih adil jika petani produsen mendapat keuntungan yang lebih besar sehingga ksejahteraannya bisa meningkat.

Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk miskin berada di pedesaan, dan mereka adalah kelompok petani. Pertumbuhan ekonomi yang dikejar pemerintah tidak mengangkat taraf hidup petani bila hal ini dibiarkan terus terjadi. Oleh sebab itu benar apa yang dilakukan oleh Menteri Amran, yaitu memotong rantai distribusi agar harga jual di tingkat petani naik dan harga eceran di tingkat konsumen turun.

Memotong rantai distribusi juga dimaksudkan untuk melengserkan spekulan, yang selama ini mengambil keuntungan besar secara tidak produktif. Contohnya, cabai rawit merah yang pernah menembus Rp 160.000 per kg pada Februari 2017 lalu ternyata bisa turun menjadi hanya Rp 50.000 per kg. Ini terjadi karena Bareskrim Polri berhasil menangkap empat orang pengusaha yang membelokkan truk-truk cabe rawit merah ke pabrik-pabrik pembuat sambal, yang mestinya ke pasar induk.

Strategi yang sedang diupayakan Kementerian Pertanian (Kemtan) adalah membuka Toko Tani Indonesia (TTI) yang menjual komoditas pertanian pada skala lingkungan permukiman. Toko tani ini bukan sejenis toko swalayan yang biasa ditemukan di pinggir jalan beraspal, namun toko kelontong, warung, atau kios yang sudah ada dan terdaftar sebagai gerai TTI.

Fungsi TTI adalah menjembatani produsen dan konsumen dalam penyediaan pangan murah, sehingga agen perantara dari produsen hingga konsumen menjadi lebih sedikit. Adapun gerai TTI tadi menjual bahan pokok, seperti menyediakan beras, gula pasir, bawang merah, cabai, minyak goreng, dan daging sapi.

Saat ini sudah ada 1.316 Toko Tani di 22 provinsi, yang bekerja sama dengan 493 gabungan kelompok tani (Gapoktan). Tahun 2017 ini, Kemtan menargetkan 1.000 Toko Tani  di Jabodetabek dengan 406 Gapoktan dari Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Selatan, Lampung, dan NTB. 400 unit  TTI ada di Jakarta dan 600 unit di Tangerang, Bogor, Depok, dan Bekasi. Selain itu juga akan dikerahkan 10 mobil TTI untuk menjangkau komplek perumahan dan rumah susun.

Untuk lebih mendekatkan TTI dengan konsumen, Kemtan membuka Toko Tani online, yang fungsinya sebagai tempat pendaftaran bagi warga yang ingin membuka Toko Tani di wilayahnya. Situs tti.pertanian.go.id disediakan bagi masyarakat untuk mengetahui informasi mengenai lokasi  TTI, harga 10 komoditas pangan yang diperbarui setiap hari, hingga dialog interaktif masyarakat dan petani.

Tidak hanya itu, Kemtan pun menjajaki kerja-sama TTI dengan Go-Jek. TTI akan hadir di Go-Mart, salah satu fitur layanan belanja Go-Jek. Pembeli tinggal memilih bahan pangan yang dijual di TTI via laman Go-Mart dengan gawai, dan pasukan Go-Jek akan mengantarnya ke depan rumah.

Itu semua masih dalam proses pembentukan. Walau demikian, agaknya tidak lama lagi masyarakat Indonesia akan bisa membeli bahan pangan pokoknya dengan harga yang lebih murah, lebih cepat, dan lebih mudah; dan yang terpenting: petani mendapat harga jual yang lebih baik.

Untuk upaya itu semua kita boleh acungkan jempol untuk Kementerian Pertanian. Teruskan, Pak Menteri !

–o0o–

Foto: liputan6.com

 

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage