“Perselingkuhan” Jawa dan Tionghoa

“Perselingkuhan” Jawa dan Tionghoa

7

pixabay.com

Pengadilan Niaga Kota Semarang telah menjatuhkan putusan kepada PT Nyonya Meneer. Putusan itu mengejutkan industri perjamuan Indonesia. Nyonya Meneer yang mulai berdiri sejak 1919 tersebut, hanya tinggal dua tahun lagi genap berusia seratus tahun, dinyatakan pailit.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para pelanggan fanatik jamu merek Nyonya Meneer ini nantinya. Juga termasuk para karyawan yang sejak Juli 2017, telah melakukan demonstrasi dan nasibnya belum jelas. Tapi yang pasti, Indonesia setidaknya harus merasa kehilangan dengan pailitnya salah satu produsen jamu terbesar di negeri ini.

Jagat politik kita pernah geger gara-gara Jokowi yang “ndeso dan klemar-klemer” ini mengangkat jamu dalam ruang politik. Saat modernisasi ilmu farmakologi yang banyak menghasilkan obat-obat modern mengibarkan bendera tinggi, Jokowi saat itu justru berpolitik dengan jamu. Jamu yang selama itu dianggap sebagai “kampungan, ndeso, ketinggalan jaman” dan sebagainya. Nyatanya, jamu setelah itu justru semakin populer.

Jamu dan Tradisi Para Raja

Naiknya Jokowi ke puncak pimpinan Republik Indonesia, seakan memanggil kembali kebiasaan-kebiasaan lawas yang telah dicampakkan oleh masyarakat Indonesia. Kegandrungan dengan segala produk modernitas, membuat orang lupa dengan muasal dan tradisinya.

Jokowi, mendobraknya dengan kembali kepada “ke-ndeso-an” seperti mempopulerkan jamu sebagai salah satu amunisi dalam pertarungan politik. Dan Jokowi sukses. Jokowi mengingatkan kita bahwa para Raja-raja dahulu kala juga memiliki kebiasaan untuk yakin bahwa ramuan-ramuan herbal adalah penopang utama kewarasan dan kebugaran tubuh.

Barangkali Nyonya capek telah berdiri sejak 1919? (sumber: liputan6.com)

Raja Majapahit dan putra-putri keraton memiliki kebiasaan minum jamu. Ada 8 jenis jamu yang disantap, dan secara filosofis melambangkan 8 arah mata angin sekaligus lambang surya Majapahit, yakni Wilwatikta.

8 jenis jamu itu adalah kunyit asam, beras kencur, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, kudu laos, uyup-uyup atau gepyokan dan sinom.  Cara meminum 8 ramuan jamu ini sesuai dengan siklus manusia, yakni beras kencur lambang ABG, cabe-puyang  lambang pedas-pahit usia mendekati 30 tahun.

Pahitan adalah fase manusia setelahnya dimana hidup penuh dengan kepahitan tapi harus tetap dijalani. Kemudian kelandaian hidup dan resolusi untuk menepi dari hingat binger lewat jamu kunci suruh.

Modernisme Jamu, “Selingkuh” Nyata Jawa Tionghoa

Budaya minum jamu itu, memasuki masa modern, juga melakukan gerakan inovasi. Yang tadinya biasa dikonsumsi oleh keluarga ningrat, juga bisa dikonsumsi oleh para jelata. Produsen-produsen jamu kemudian muncul dan berkembang.

merdeka.com

Tercatat, dalam fase modern Indonesia mulai abad 20, perusahaan jamu sudah mulai berdiri. Adalah Djamoe Industrie en Chemicalen Handel “IBOE” Tjap 2 Njonja, yang didirikan oleh dua orang peranakan Tionghoa pada tahun 1910. Mereka adalah Tan Swan Nio dan putrinya Siem Tjiong Nio. Hingga kini, produsen jamu tersebut masih tetap ada.

Dari fase modern Indonesia inilah, “perselingkuhan” antara gagasan modern dan tradisional tercipta. Ramuan Jawa berduet dengan nalar bisnis inovatif Tionghoa. Orang-orang keturunan Tionghoa memproduksi jamu-jamu dan rakyat jelata bisa mengonsumsinya.

Pada tahun 1918, TK Suprana memproduksi jamu revolusioner, yakni jamu serbuk. Jamu ini didirikan di Wonogiri. Salah satu penerusnya adalah orang yang kini kondang dengan Museum Rekor Indonesia, Jaya Suprana. Jamu produk TK Suprana yang serbuk dan bisa dibuat secara masal ini, dibawah merek Djamoe Djago. Pembikin ramuan revolusioner jamu serbuk itu, memiliki nama Tionghoa Phoa Tjong Kwan (TK. Suprana) dan Tjia Kiat Nio (Mak Jago).

Uniknya, para keturunan Tionghoa yang “berselingkuh” dengan jamu-jamu Jawa lewat nalar bisnis dan inovasinya, bernama belakang Nio. Jamu IBOE, Jamu Jago, juga tak terkecuali jamu Nyonya Meneer yang pailit.

Nyonya Meneer dirintis oleh Lauw Ping Nio kelahiran Sidoarjo. Suaminya yang pedagang membuat Meneer melangkah ke Semarang dan bercokol di sana hingga kemudian tahun ini dinyatakan pailit.

Ada jamu yang jauh lebih muda. Tapi uniknya lagi, perintisnya juga bernama belakang Nio. Jamu tersebut adalah Sido Muncul yang dirintis oleh Siem Thiam Hie dengan Go Djing Nio. Jamu Sido Muncul saat ini terhitung sebagai produsen jamu yang populer dan terkenal dengan produknya “Tolak Miskin”, eh salah, maksudnya “Tolak Angin”.

Dulu, namanya bukan Tolak Angin tapi Jamu Tujuh Angin.

Begitulah sedikit riwayat mengenai perselingkuhan antara Jawa dna Tionghoa dalam industri jamu di Indonesia. Duet maut antara ramuan Jawa dan inovasi produksi Tionghoa, membuat jamu masih tetap bertahan hingga saat ini.

 

Rujukan:

www.jamuiboe.com

www.jago.co.id

www.sidomuncul.id

Share.

About Author

Orang Kampungan

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage