Telur Ayam Arab Rajai Pasar, Peternak Tak Perlu Khawatir. Lakukan 4 Hal Ini !

Telur Ayam Arab Rajai Pasar, Peternak Tak Perlu Khawatir. Lakukan 4 Hal Ini !

79

Penjualan telur ayam

Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan dengan protes dari Himpuli (Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia) atas peredaran telur ayam Arab yang mendominasi pasar. Bahkan disebutkan bahwa telur ayam Arab sudah beredar dan dominan sejak 15 tahun terakhir. Seperti yang diberitakan Kompas.

Salah satu poin menarik dari protes Himpuli adalah bahwa ayam Arab bukanlah ayam lokal. Dengan demikian, mereka meminta pemerintah mengawasi dan menindak pengedar jenis telur tersebut.

Memang tidak sesederhana itu melihat problem dominasi telur ayam Arab ini. Karena perkembangan pasar telur juga disebabkan oleh permintaan dan penawaran. Artinya, ada dua kutub kepentingan yang bertemu, tidak hanya dominasi pasar an sich.

Menyoal peredaran telur ayam Arab, berarti juga menyoal restrukturasi peternakan ayam lokal. Hal ini karena kualitas peternakan ayam lokal kian hari kian stagnan untuk tidak dibilang merosot. Bahasan mengenai topik ini saya bagi menjadi tiga bahasan yakni, Pertama, tentang Ayam Lokal, Kedua, tentang Ayam Arab, Ketiga, Masalah dan Solusi Peningkatan Produksi.

Ayam Lokal

Ayam yang telah mempunyai nama dan ciri tersendiri disebut ayam lokal spesifik, yang dipelihara untuk tujuan produksi daging, telur atau hobi.

Ayam lokal

Ayam lokal mempunyai keanekaragaman sifat genetik yang dimunculkan secara fenotipik, seperti warna bulu, kulit, paruh, daging, bentuk tubuh, jengger, bulu penutup, penampilan produksi, pertumbuhan dan reproduksi. Keanekaragaman sifat-sifat dimunculkan secara evolusi maupun revolusi akibat dari sistem pemeliharaan dan perkawinan yang tidak terkontrol dari generasi ke generasi.

Ayam lokal (Gallus gallus) yang telah diidentifikasi sampai saat ini sebanyak 31 rumpun, yaitu ayam Kampung, Pelung, Sentul, Wareng, Lamba,Ciparage, Banten, Nagrak, Rintit atau Walik, Siem, Kedu Hitam, Kedu Putih, Cemani, Sedayu, Olangan, Nusa Penida, Merawang atau Merawas, Sumatera, Kokok Balenggek, Melayu, Nunukan, Tolaki, Maleo, Jepun, Ayunai, Tukung, Bangkok, Brugo, Bekisar, Cangehgar dan Kasintu. Ayam Arab tidak termasuk dalam jenis ayam lokal.

Karakteristik umum ayam lokal yakni; bentuk jengger sangat beragam, ada yang besar bergerigi, kecil berbentuk ros dan sebagainya, bentuk tubuh beragam mulai yang ramping sampai yang besar. Bobot dewasa 1,25 – 2,50 kg. Warna bulu sangat beragam, mulai putih, hitam, coklat, merah dan campuran warna tersebut. Warna cakar beragam putih, kuning, hitam, dan campuran warna tersebut, serta warna kulit beragam putih, kuning dan abu-abu atau gelap.

Nilai ekonomis ayam lokal dinilai cukup rendah ditandai dengan produktivitasnya yang rendah, pertumbuhannya lambat, produksi telur rendah, dan tingkat kematian tinggi. Ayam lokal mulai memproduksi telur pada umur 5 bulan. Produksi telur ayam lokal hanya sekitar 20-25% atau 30-60 butir/thn.

Produksi telur rata-rata berkisar antara 10-15 butir/periode bertelur (clutch) dengan periode istirahat 3-4 kali/tahun.

Selain itu, sifat mengeram yang kuat pada ayam lokal juga menurunkan tingkat produksi. Sifat mengeram ini bersifat alami. Walau bisa dihilangkan dengan cara tradisional, tetapi bila populasi ayam cukup banyak maka tindakan itu menjadi kurang efektif.

Ayam Arab

Ayam arab (Gallus turcicus) adalah ayam kelas mediterania, hasil persilangan dengan ayam buras. Ayam Arab merupakan ayam yang asalnya dari ayam lokal Eropa, Belgia. Ayam Arab sudah mulai dikembangkan di Jawa Timur sejak tahun 1990.

Ayam Arab Silver

Secara genetik ayam Arab merupakan ayam petelur unggul karena memiliki kemampuan memproduksi telur yang tinggi. Pada umumnya ayam Arab dimanfaatkan sebagai penghasil telur dan tidak digunakan sebagai ayam pedaging. Hal ini karena ayam Arab memiliki warna kulit yang kehitaman dan daging yang tipis daripada ayam lokal biasa, sehingga tingkat kesukaan pada masyarakat lebih rendah.

Ada dua jenis ayam arab yaitu ayam Arab silver dan ayam Arab golden. Dalam lingkungan masyarakat, ayam Arab silver lebih banyak dikenal dan dibudidayakan dibandingkan dengan ayam Arab golden.

Ayam Arab mulai memproduksi telur pada umur 4,5 sampai 5,5 bulan. Salah satu keunggulan ayam Arab adalah memiliki sifat jarang mengeram dan produksi telur tinggi. Produksi telur ayam Arab mencapai 60% yakni 225 butir/tahun. Bahkan, menurut Binawati (2008), produksi telurnya bisa mencapai 70-90%. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan ayam kampung biasa yakni sekitar 30-40% (lazimnya hanya 20-25%).

Dengan demikian, dalam setahun ayam Arab bisa menghasilkan 280-300 telur per tahun (bandingkan dengan ayam lokal yang hanya 30-60 butir/tahun). Artinya, produktivitas ayam Arab bisa mencapai 50 kali ayam lokal dalam memproduksi telur.

Dari segi kualitas, telur ayam Arab memiliki kemiripan dengan telur ayam kampung baik warna, ukuran maupun kandungan gizi. Oleh karena itu, anggapan bahwa konsumen dirugikan dengan beredarnya telur ayam Arab adalah mengada-ada. Tidak ada perbedaan kualitas antara telur ayam lokal dan ayam Arab.

Daya tahan tubuhnya lebih dari dari ayam ras, memiliki daya adaptasi yang baik, jarang stres akibat perubahan cuaca atau musim. Sifat lain dari ayam Arab adalah gesit, aktif dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Pada bagian kaki, terdapat pigmen berwarna hitam, jengger berwarna merah terdapat bercak putih di telinga.

Masalah dan Solusi Peningkatan Produksi

Adanya permintaan ayam lokal muda sebagai ayam potong di daerah kota sebagai diversifikasi kebutuhan daging ayam telah menguras bibit ayam lokal sehingga terjadi kelangkaan bibit.

Produktivitas ayam lokal tidak berbeda pada berbagai tipologi lahan sebab lebih banyak dipengaruhi oleh manajemen pemeliharaan. rendahnya produksi disebabkan oleh lamanya periode mengasuh anak dan istirahat bertelur.

Masalah dalam pengembangan ayam lokal di pedesaan antara lain; skala usaha kecil (pemilikan induk betina kurang dari 10 ekor), produksi telur rendah sekitar 30-60 butir/thn (20-25%), pertumbuhan lambat, mortalitas tinggi akibat penyakit (seperti flu burung), biaya ransum tinggi, diusahakan perorangan dengan pola tradisional.

Secara umum ada tiga penyebab pokok produktivitas ayam lokal rendah antara lain;
Pertama; Input yang rendah. Peternakan ayam lokal menghadapi persoalan pada sektor hulu berupa input yang rendah. Input yang rendah ini meliputi skala usaha yang masih dipandang sebagai sambilan, modal terbatas, dan penguasaan teknologi yang terbatas.

Usaha dalam bentuk sambilan berkaitan dengan tenaga kerja yang terbatas, jumlah pemilikan ayam yang rendah, modal terbatas, waktu terbatas, adaptasi lama, tabungan kecil, pendapatan terbatas, dan akses terhadap kredit pun terbatas.
Dari sisi modal yang terbatas, terpaksa petani peternak memanfaatkan limbah dapur dan ransum alami yang ada yang terdapat di sekitar lingkungan. Ransum yang apa-adanya ini tidak memenuhi syarat kecukupan nutrien bagi ayam untuk bisa berproduksi optimal.

Pengguasaan teknologi yang terbatas sering berkaitan dengan minat belajar kurang dari peternak, penyuluhan dan pelatihan yang terbatas dari petugas dinas, dan budaya atau sistem pemeliharaan tradisional yang masih nyaman diterapkan peternak.

Kedua; Sifat genetik. Pemuliaan terhadap sifat genetis ayam lokal bisa mengurangi sifat mengeram seperti halnya ayam ras. Perbaikan mutu genetis ayam lokal untuk petelur yang dilaporkan oleh Gunawan et al. (2004) dan Sartika et al. (2004), pada ayam kampung yang diseleksi untuk mengurangi sifat mengeram. Peningkatan produksi telur terlihat sampai generasi 3, tetapi kemudian menurun setelah itu. Penurunan ini disebabkan oleh tekanan seleksi dan manajemen pemeliharaan yang kurang baik.

Ketiga; Tingkat mortalitas (angka kematian) tinggi. Tingginya mortalitas disebabkan oleh sistem pemeliharaan yang masih tradisional dengan cara umbaran, pencegahan penyakit dan keamanan kurang. Faktor lain yang punya pengaruh adalah kualitas dan kuantitas pakan yang rendah akibat keterbatasan modal. Juga akibat serangan penyakit Tetelo (Newcastle Desease/ND) tinggi. Prevalensi serangan yang tinggi ini diakibatkan oleh vaksinasi yang tidak atau kurang dilakukan.

Berangkat dari tiga masalah pokok di atas, empat langkah yang bisa dilakukan oleh peternak untuk meningkatkan produksi telur ayam lokal yaitu;

Pertama; Meningkatkan jumlah pemilikan ayam. Semakin sedikit populasi ayam yang dipelihara, apalagi secara tradisional memberi kontribusi ekonomi yang sangat kecil.

Kontribusi ayam lokal terhadap pendapatan petani kecil di perdesaan dilaporkan oleh Soepeno et al. (1993) Togatorop dan Juarini (1993), Rasyid (2002), Setioko dan Iskandar (2006) yaitu keluarga petani pemilikan ayam 10 ekor dengan pemeliharaan secara ekstensif tradisional hanya mampu menyumbang sekitar 1,5-5,0% dari total pendapatan. Tetapi dengan perbaikan manajemen dan peningkatan jumlah pemeliharan sampai 20-150 ekor mampu menyumbang pendapatan sekitar 16,4-25,10% dari total pendapatan keluarga.

Kedua; Pola pemeliharaan dari tradisional (ekstensif, semi intensif) dialihkan menjadi intensif. Pemeliharaan bisa dilakukan berkelompok untuk meminimalisir biaya produksi. Sistem pemeliharaan inensif ini dalam beberapa kasus telah meningkatkan pendapatan peternak secara nyata.

Pemeliharaan secara intensif denngan dikurung bisa memudahkan pengawasan status kesehatan ayam. Terlebih terhadap ancaman flu burung (avian influenza) yang masih menjadi momok menakutkan bagi dunia peternakan khususnya tentang perunggasan.

Contoh lain adalah di kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Pemeliharaan ayam lokal secara intensif pada kandang baterai dengan skala 50-100 ekor dengan tatalaksana pemberian ransum yang baik mampu menghasilkan 20-30 butir/periode bertelur.

Kontribusi pendapatan dari usaha ayam lokal dari ekstensif menjadi intensif mampu meningkatkan pendapatan dari 1,60% menjadi 25,10% terhadap total pendapatan peternak (Togatorop dan Juarini, 1993).

Ketiga; Perlu spesialisasi usaha. Misalnya khusus mengenai penetasan telur, perbibitan untuk menghasilkan telur tetas, telur konsumsi, pembesaran sebagai ayam bibit atau potong.

Keempat; Peningkatan kemampuan teknis dan pengetahuan peternak. Caranya adalah dengan membentuk kelompok diskusi antar kelompok peternak, mengundang penyuluh, bimbingan teknis lewat dinas-dinas terkait. Introduksi pengetahuan bisa bermacam-macam. Mulai dari menyeleksi bibit yang sehat, pengetahuan tentang bahan pakan dan formulasinya yang memenuhi jumlah dan nutrisi yang dibutuhkan ayam, penyakit-penyakit yang sering menyerang, dan lain-lain.

Sebagai catatan akhir, menyoal problematika peredaran telur ayam Arab yang dominan, sama saja dengan membeberkan segudang kendala pengembangan dan optimalisasi peternakan ayam lokal di lapangan. Permasalahan yang tidak hanya teknis budidaya, tetapi juga secara substansial menyangkut sektor hulu, sektor hilir, serta jasa penunjang.
Sekian…!

Referensi :
Binawati, K. 2008. Pengaruh Lanskeptur Terhadap Kualitas Telur Ayam Arab. Journal of Science. Vol 1(2), Hal 28-34
Gunawan, B. D. Zainuddin, S. Sikandar, H. Resnawati dan E. Juarini. 2004. Pembentukan Ayam Lokal Petelur Unggul. Kumpulan Hasil Penelitian Tahun Anggaran 2003. Buku II Non Ruminansia. Balai Pelitian Ternak Ciawi, Bogor.
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/28/103000926/90-persen-telur-ayam-kampung-di-pasaran-tidak-asli
Rasyid, T.G. 2002. Analisis Perbandingan Keuntungan Peternak Ayam Buras Dengan Sistem Pemeliharaan yang Berbeda. Bulletin Nutrisi dan Makanan Ternak. Vol. 3(1): Hal. 15-22
Sartika, T., D. Duryadi, S.S. Mansoer, A. Saefudin dan H. Martojo. 2004. Gen Promotor Prolaktin Sebagai Penanda Pembantu Seleksi Untuk Mengontrol Sifat Mengeram pada Ayam Kampung. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 9 (4): 239-245
Setioko, A.R dan S. Iskandar. 2006. Review Hasil-Hasil Penelitian dan Dukungan Teknologi Dalam Pengembangan Ayam Lokal. Prosiding Seminas Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Hal 10-19
Togatrop, M.H. dan E. Juarini. 1993. Respons Petani-Peternak Ayam Buras Terhadap Inovasi Teknologi di Daerah Pasang Surut Kabupaten Pontianak Kalimantan Barat. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Ayam Buras melalui Wadah Koperasi Menyongsong PJP II. Fakultas Peternakan UNPAD. Bandung

Baca juga artikel saya di : https://seword.com/author/raymundus/

Share.

About Author

Memilih menulis untuk mengekspresikan gagasan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage