Antara Haji Ayam Wuruk, Universitas Gaj Ahmada, dan Habib al-Falafa

Antara Haji Ayam Wuruk, Universitas Gaj Ahmada, dan Habib al-Falafa

18

Sumber Gambar: arya-devi.blogspot.co.id

Syahdan seperti yang dituturkan oleh kitab wira-cerita.

Sebuah negeri, para penduduknya adalah orang-orang yang sadar pendidikan. Karena itu, kemajuannya tak ketulungan. Berbagai penelitian telah menghasilkan hal-hal yang membuat kehidupan rakyatnya menjadi lebih mudah dan penuh keajaiban,

Bahkan, kini ada sebuah proyek ambisius dari menteri pendidikan. Proyek tersebut adalah sekolah lima hari dan sedino-gablek atau dalam bahasa negara tersebut Full Day School. Memang negara tersebut menggunakan bahasa negara lain, bukan bahasa leluhurnya, seperti misalnya lebih suka menyebut Hari Bebas Kendaraan dengan Car Free Day.

Disamping kebanggan bahasa yang bukan dari leluhur itu, karena upaya revolusi sang Habib al-Falafa menggerakkan jutaan pengikutnya dan sukses, negeri tersebut juga memiliki kampus unggulan bernama Universitas Gaj Ahmada atau biasa disingkat UGA.

Di kampus tersebut, ada banyak sekali jurnal-jurnal ngilmiah yang diterbitkan dan jadi pedoman untuk aplikasi kehidupan rakyatnya. Berbagai penelitian kondang dan futuristik dihasilkan oleh para penelitinya.

Misalnya, penelitian dari bidang Biologi. Sebuah jurnal kelas Tirano-Raurus bernama Biologi Masak-Ini, seorang mahasiswa dari universitas unggulan tersebut telah mampu menciptakan bibit baru burung perkutut.

Seperti diketahui, burung perkutut adalah salah satu burung yang memiliki nilai magis dan mistis, serta pembawa keberuntungan dan citra ke-priyayi-an dan ke-agung-an. Karena itu, pembaharuan jenis burung tersebut dilakukan agar spesiesnya tidak punah ditembak oleh para pemburu ilegal.

Burung perkutut bibit baru itu, memiliki keunggulan. Keunggulannya tak hanya bisa nembang “kur-ketekuk-tekuk-tekuk” tapi juga bisa ngoceh “kur-ketembek-embek-embek.” Ini karena, burung perkutut itu adalah kawin silang atau blasteran antara perkutut unggulan dan kambing jenis kacangan.

Dalam penelitian lain dari bidang ilmu Etnografi-Arkeologi, sebuah terobosan sejarah juga mengejutkan. Sebab, dari penelitian tersebut rupa-rupanya selama ini misteri Kuil Sulaiman atau dalam istilah film animasi Jepang yang berjudul Magi disebut Kuil Solomon, rupa-rupanya kuil itu berbentuk candi dan nama candi tersebut Roro-Mundur. Atau kemudian salah eja dan biasa ditulis Roromundur.

Candi itu dulunya ketimbun tanah karena dampak gunung meletus. Tapi karena ikhtiar Sir Tampol Oxpord Toples pada 6 Juli  1781, candi itu atau Kuil Sulaiman atau Kuil Solomon itu ditemukan kembali. Sejarahnya ditelisik dan diketahui namanya Roromundur.

Sampai-sampai, telisik etnografis-arkeologis itu menemukan daerah bernama Sleman yang hampir sama dengan nama Kuil Sulaiman. Karena itulah, candi Roromundur yang tak jauh dari Sleman bisa disebut warisan atau Kuil Sulaiman atau Kuil Solomon.

Penelitian-penelitian dari jurnal-jurnal Universitas Gaj Ahmada memang luar biasa. Dampak penelitian tersebbut bisa langsung dirasakan oleh masyarakat.

Sayangnya, di negeri tersebut pernah sebuah rezim militer berkuasa. Rezim itu mengendarai Pohon Ber-Ingin sebagai kendaraan politik.

Dan pemerintahan rezim tersebut hanya terfokus di salah satu pulau saja. Karena itu, kesejahteraan dan kemiskinan menjadi jarak yang sangat jauh antara pulau unggulan dan pulau-pulau lain. Baru sekitar satu setengah dekade, seorang pemimpin dari dusun pelosok dipilih. Pemimpin terpilih itu, saking sederhananya dan slogan “kerja-kerja-kerja” yang didengungkan, berbuka puasa saja pernah hanya minum air putih di dalam mobilnya saat melakukan kunjungan kerja.

Nama dusun pemimpin terpilih itu berasal dari nama pohon, yakni pohon Sala. Pemimpin tersebut kini memperbaiki kinerja pemerintahan, menentukan skala prioritas pembangunan infrastruktur dan perubahan radikal mental omong doang menjadi “kerja-kerja-kerja.”

Sayangnya, masih banyak orang dan pihak berkepentingan yang tidak suka dengan kepemimpinan yang merakyat itu. Jadi, pemerintahannya terus digoyang dengan iringan lagu Goyang Kampret.

Alkisah, dari seorang ulama bernama Habib al-Falafa yang pernah melakukan revolusi dari negeri Atas Angin, memiliki keturunan dan kuliah di Universitas Gaj Ahmada. Keturunannya tersebut melakukan penelitian sejarah dan hasil penelitian itu diterbitkan di jurnal Histori-Gloria.

Penelitian sejarah itu menelisik asal-mula tokoh Gaj Ahmada. Dan hasilnya adalah, rupanya Gaj Ahmada itu nama dari daerah Atas Angin tepatnya negeri Farsian. Bahasa yang digunakan negeri tersebut adalah bahasa Farsia.

Menurut hasil penelitian dari peneliti keturunan Habib al-Falafa, nama asli Gaj Ahmada itu adalah Ghazanfar yang dalam bahasa Farsia berarti singa. Singa adalah lambang keperkasaan dan keberanian. Panggilan Ghazanfar itu adalah Ghaz.

Namun, karena dari Farsian ke negeri tersebut harus menyebrang laut, nama itupun basah kuyup dan pelafalannya jadi berbeda. Bahkan sangat berbeda jauh dari nama asli yang akhirnya menjadi nama universitas, yakni Gaj Ahmada.

Telisik punya telisik, pelafalan Gaj Ahmada dari Ghazanfar karena penduduk negeri tersebut tidak memiliki aksara “z” dan dalam fonologinya tidak bisa bilang “/f/”,  maka menjadi Ghaj atau Gaj. Kemudian “anfar” menjadi “ampar” lalu entah bagaimana menjadi “mada.” Akhirnya, jadilah Gaj Ahmada.

Bukti sejarah dari nisan dan prasasti, tertulis dengan aksara Sang-sacharin-ta, bahwa Gaj Ahmada adalah seorang Mahapatih dari kerajaan H. Ayam Wuruk atau Haji Ayam Wuruk yang menguasai ribuan pulau. Penguasaan ribuan pulau itu karena sang Mahapatih Gaj Ahmada pernah mengungkapkan sumpah al-Falafa.

Bunyi sumpah itu singkatnya, “sang Mahapatih tidak akan makan nasi kalau belum menyatukan Nuswa Antara.” Alhasil karena Mahapatih Gaj Ahmada itu ampuh, akhirnya semua pulau Nuswa Antara bisa bersatu dibawah kekuasaan H. Ayam Wuruk atau Haji Ayam Wuruk.

Hasil penelitian itu membuat geger sebab rupa-rupanya karena sang Mahapatih namanya berasal dari Farsian, tentu itu adalah bahasa kaum yang beda aliran dengan sebagian besar penduduk negeri tersebut. Dalam rekam jejak sejarah, antara kaum aliran kaum Farsian dan aliran yang mereka anut, tak pernah rukun dan selalu saling bunuh.

Dari hasil penelitian itu pun, kemudian lahir rekomendasi untuk mengubah nama kampus dari UGA menjadi UGM. Dari Universitas Gaj Ahmada menjadi Universitas Gang Mukidi, terkait jalan masuk kampus tersebut.

Sekian.

Share.

About Author

Orang Kampungan

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage