Antara Pemindahan Ibu Kota dan Lagu Despacito

Antara Pemindahan Ibu Kota dan Lagu Despacito

0

foto: validnews.co

Pemerintah mewacanakan pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke wilayah lain di luar pulau Jawa. Salah satu alasannya karena kondisi Jakarta yang udah terlalu padat, dan terkesan berantakan. Ibaratnya Jakarta itu seperti cowok yang baru ditinggalin pacarnya pas lagi sayang-sayangnya.

Ya, tak apalah ibu kota dipindah ke luar Jakarta, asal jangan dipindah ke negara lain. Itu melanggar kedaulatan negara namanya.
Bicara Jakarta, sepertinya lebih banyak tidak enaknya. Macet, banjir, kepadatan penduduk yang bikin sumpek, tata kota yang buruk, preman di jalanan, semuanya ada di situ. Jakarta sama macet itu kayaknya nggak bisa dipisahin ya gais. Kayak Pevita sama masa lalu saya, nempel banget gitu.
Hampir tiap hari orang-orang harus emosian karena berurusan sama jalanan yang macet dan berhadapan sama orang-orang yang emosi karena kemacetan itu. Tiap pagi dengerin orang teriak-teriak, terus dibales sama bunyi klakson. Jadi dah tuh orkes klakson dan nada suara tinggi.
“Om telolet om.” “telolet telolet” haha. Bukan itu ya maksudnya. Maksudnya orang teriak-teriakan di jalan saking macetnya.
Terus banjir. Banjir di Jakarta itu unik. Ada masanya bencana banjir itu seolah-olah terencana. Jadi kalau hujan deras di Bogor, orang-orang yang tinggal di bantaran kali di Jakarta semacam sudah membuat perencanaan menghadapi banjir yang akan tiba. Mereka sudah siap memindahkan barang dari lantai bawah rumah ke lantai dua atau bahkan tiga. Ya intinya sudah bersiap menyambut datangnya banjir.
Tapi anehnya, walaupun hidup di Jakarta itu banyak nggak enaknya, tapi orang-orang tuh seneng aja ke Jakarta, bertahan di Jakarta. Ibaratnya, Jakarta itu kayak pacar yang sering nyakitin, tapi kita udah terlanjur sayang. Jadi walaupun kita disakitin, ya kita maafin dan kita nggak putusin. Besok dia nyakitin lagi, kita maafin lagi, gitu aja terus sampai Pevita ngajak gue balikan.
Alasan Ekonomi
Sebenarnya, alasan paling umum orang ke Jakarta adalah karena uang. Mereka yang datang ke Jakarta berharap ada penghasilan yang lebih baik ketimbang di daerah asal mereka. Umumnya, orang datang ke Jakarta itu setelahhabis hari raya. Mereka ngelihat ada keluarga yang datang dari Jakarta dianggap berhasil, dan karena itu mereka ingin menuai keberhasilan yang serupa.
Karena itu mereka minta ikut ke Jakarta, walaupun sebenarnya belum tahu mau kerja apa di Jakarta. Akhirnya Jakarta bertambah penduduk, dan penganggurannya juga nambah, makin sempit, dan makin sumpek.
Kemarin saya coba ke Kampung Rambutan, coba tanya-tanya sama yang datang dari luar Jakarta. Mereka datang dengan bawa tas besar. Ternyata ada dari mereka yang bahasa Indonesia aja nggak bisa. Lah ini gimana mau hidup di Jakarta. Gimana mau bertahan di kota yang keras ini?
“Mas udah tahu mau kerja apa di Jakarta?” saya tanya begitu.
Terus dia bilang;
“Sorry, im not speaking in bahasa.”
Oh ternyata ini turis. Saya yang salah nanya. Lagian ini turis ngapain juga lewat Kampung Rambutan yak, mana barengan sama arus balik pemudik lagi.
Saya lanjut pencarian, akhirnya saya nemu orang yang beneran dari kampung. Langsung saya tanya-tanya.
“Mas dari kampung ya?”
“Iya,” jawab dia.
Saya: “Mas ke sini sama siapa?”
Dia: “Sama saudara saya”
Saya: “Oh, udah pernah ke Jakarta sebelumnya?”
Dia: “Belum nih mas, ini saya pertama kali”
Saya: “Oh, di Jakarta udah tahu mau kerja apa?”
Dia: “Belum mas”
Saya: “Lah terus mas ngapain ke Jakarta. Di sini itu keras loh mas, menyakitkan, apalagi kalau nggak kerja.”
Dia: (Nangis sesunggukan) “Nggak papa mas, saya sebenarnya punya kerjaan di kampung, mandiin anak buaya. Tapi saya sengaja ninggalin kampung, karena bulan ini mantan saya mau nikah di kampung. Mending saya disakitin sama Jakarta, ketimbang disakitin sama orang yang saya sayang,” ucap dia sambil nyanyi lagu Despacito.
Omong-omong, lagu Despacito sengaja dipilih karena lagu ini paling populer saat ini. Diasumsikan bahwa orang dari kampung pun sudah mengenal lagu ini dan cukup menghapal bagian kata “despacito” walaupun lirik yang lain secara keseluruhan berantakan.
Share.

About Author

Mencoba menjadi abadi dengan cara menulis

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage