Balada Balkiyo (2): Jadi…, kamu Nyoblos Nomor 2?

Balada Balkiyo (2): Jadi…, kamu Nyoblos Nomor 2?

0

Sumber gambar di sini yang dimodifikasi

Kehebohan pilkada di Kota Sukamakmur telah berakhir. Kini giliran pilkada (pemilihan kepala daerah) di Kabupaten Sukagirimulyo, kota tempat tinggal Balkiyo. Seperti halnya Rolly, Balkiyo pun tidak pernah tertarik terlibat urusan pilkada. Maksudnya tidak pernah menjadi timses, kader, simpatisan, atau berbagai jabatan yang ada hubungannya dengan pilkada. Meskipun demikian, Balkiyo bukan termasuk golputers (orang-orang yang golput), yang tidak mau menggunakan hak pilihnya. Balkiyo tetap menentukan pilihan dalam setiap perhelatan demokrasi yang menelan biaya besar itu.

Malam ini, bujang tua yang umurnya lebih dari tiga puluh tahun itu nongkrong di warung hik Kang Slompret. Warung Kang Slompret ini berada di jantung Kota Sukamakmur. Dia memanggil Rolly melalui sms. Sudah setengah jam lebih tidak ada balasan. Mungkin lagi sibuk dengan Yumi. Biasa…, pengantin baru. Begitu Balkiyo berkata dalam hati.

“Balkiyo! Sedang apa kamu di sini?” tanya seorang laki-laki muda berpenampilan necis. Dari cara bicaranya kentara sekali kalau dia seorang terdidik. Orang kuliahan.

“Daripada sendirian, gabung di sini saja bersama kami!” sambung pemuda lain yang berkumis. Juga termasuk orang berpendidikan tinggi.

“Lebih enak kalau kamu ngobrol sama kami. Dijamin tambah pintar deh!” sahut seorang pemuda yang berkacamata. Balkiyo mengenali pemuda ini. Ariando, namanya. Dia timnang (tim pemenangan) paslon (pasangan calon) nomor satu dalam pilkada di Sukagirimulyo.

“Ah…, aku di sini saja,” Balkiyo menanggapi dengan kalem. “Jarak kita kan nggak jauh-jauh amat. Eh…, kalian ini timnang paslon satu, kok malah ngobrol-ngobrol di sini. Bukankah lebih bagusnya kalau nongkrongnya di wilayah Sukagirimulyo, bukan di Sukamakmur.”

Tiga orang yang termasuk timnang paslon satu ini tertawa serentak. Menertawakan Balkiyo. Balkiyo terlihat kikuk karena menjadi bahan tertawaan kayak badut saja!

“Balkiyo,” kata Ariando, “ini namanya taktik strategi politik tingkat elit. Banyak orang yang tidak tahu tataran taktik yang strategis ini karena sering dipengaruhi pemikiran baheula yang penuh magis.”

Lalu muncullah seabrek teori dan berbagai cara jitu dalam membidik massa pemilih demi memenangkan paslon satu. Balkiyo muneg (mual), mendengar gelontoran deretan kata yang tidak ada celah dan selanya. Ingin rasanya dia punya tongkat sakti yang bisa menghilangkan Ariando dan dua temannya dari warung hik alias angkringan Kang Slompret ini! Selera nongkrongnya lenyap gara-gara hadirnya tiga cecunguk sembako itu!

“Menurut…,” Ariando bersemangat ingin mempengaruhi Balkiyo.

“Sorry, Balkiyo!” sela Rolly yang tidak tahu kalau Balkiyo sedang dikuliahi tiga orang timnang paslon satu. “Aku tadi ngelonin sebentar Yumi agar bisa tidur. Maklum, dia merasa kesepian tinggal sendirian di rumah.”

“O, begitu,” Balkiyo berkata dengan nada gembira. “Ayo ke rumahmu saja. Ada masalah pribadi yang sangat penting. Maaf, Ariando dan yang lainnya. Aku permisi….”

“Oke, nggak apa-apa,” sahut Ariando tenang. “Jangan lupa ya, besok coblos nomor satu! Satu arah, satu tujuan, satu tekad menjadikan Sukagirimulyo maju.”

“O, tentu! Nomor satu aku akan memilih,” Balkiyo menanggapi ajakan timnang itu.

Balkiyo mau membayar, tapi dicegah Ariando. Tentu saja Balkiyo berterima kasih sebelum meninggalkan angkringan Kang Slompret.

***

Sebulan kemudian, menjelang pencoblosan, Ariando menelpon Balkiyo.

“Gimana, Balkiyo?” tanya Ariando, “Sudah mantap milih nomor satu?”

“Sudah. Sudah mantap. Bahkan sangat mantap,” jawab Balkiyo dengan nada mantap.

“Bagus! Emesing! Jos gandhos! Pokoknya hebat, hebat, dan hebat! Kamu ternyata orang yang hebat karena bisa menentukan pilihan dengan tepat. Hanya orang-orang cerdas yang memilih paslon nomor satu. Kamu tahu kan, paslon nomor satu itu orangnya sopan-sopan. Cabup (calon bupati) paslon satu itu sopan, cerdas, pernah menjadi pejabat tinggi, dan pasti bisa memajukan Sukagirimulyo. Pokoknya, nomor satu pilihannya, rakyat akan mendapatkan kebahagiaannya.”

“Betul sekali. Pokoknya aku mendukung paslon satu.”

“Top markotop! Jangan lupa pada hari pencoblosan, berbondong-bondong datang ke TPS (tempat pemungutan suara), coblos nomor satu! Siap?”

“Siap! Pokoknya saya dukung total paslon satu!”

Ariando mengakhiri pembicaraan. Balkiyo lega perasaan.

***

Usai mencoblos, Balkiyo meninggalkan TPS, juga meninggalkan kotanya. Dia mau ke Ravevangets Mall yang yang ada di Sukamakmur. Ada urusan bisnis dengan temannya yang menjadi tukang parkir di mall tersebut. Sekalian dia meninggalkan keramaian pilkada yang diwarnai saling lapor kecurangan antarkader.

Setelah motor gedenya terparkir, Balkiyo menemui salah satu tukang parkir.

“Dul Parkir sedang keluar,” informasi dari tukang parkir yang ditemui Balkiyo.

“Keluar kemana?”

“Entahlah, mungkin nemui janda kembang yang semok itu, hehehe….”

“Di mana rumah si janda itu?”

“Rumahnya jauh dari sini. Tunggu saja, sebentar lagi pasti pulang. Sudah sejak tadi dia pergi.”

Balkiyo duduk di sebuah kursi plastik yang ada di pojok pasar.

“Hei, Balkiyo, kok kamu malah di sini?” colek seorang perempuan.

Balkiyo menoleh.

“Eh, kamu. Sedang belanja?”

“Ya iyalah! Masak mau kampanye?” jawab Yumi santai.

“Kok sendirian? Mana Rolly?”

“Dia masih mendengkur.”

“Jam segini masih tidur? Gila! Tadi malam habis berapa ronde?”

“Ihhh…, jorok isi kepalamu, Balkiyo! Urusan suami istri bukan melulu soal ranjang! Dia masih tidur karena masuk angin.”

“Iya, masuk angin karena….”

“Sudah ah, ngomong noraknya! Kamu belum jawab pertanyaanku.”

“Apa pertanyannya?”

“Kamu kan kadernya paslon satu. Kenapa kok malah kemari sehabis nyoblos? Bukankah sebentar lagi ada penghitungan suara? Kamu mestinya sekarang berkumpul bersama para kader lain di Rumah Sejahtera milik paslon satu.”

Balkiyo tertawa. Tawanya keras membuat orang-orang pasar menoleh ke arahnya. Orang-orang kaget begitu tahu kalau Balkiyo ternyata tonggos alias mrongos!

Begitu nyadar, Balkiyo serta merta menghentikan tawanya. Mak cep. Tawa reda seketika. Rupanya punya malu juga si Balkiyo!

“Makanya kalau ketawa jangan keras-keras!” tegur Yumi.

“Bagaimana tidak ketawa? Lha wong aku ini bukan kader kok dikatakan kader. Eh, yang ngatain aku kader siapa?” Balkiyo merasa gusar.

“Ariando,” jawab Yumi. “Dia temanku waktu kuliah.”

“O…, Ariando. Ariando kok dipercaya.”

“Hlo…, dia kan cerdas, santun, aktivis, suka mengaktifkan diri dalam berbagai kegiatan sosial. Banyak yang….”

“Sorry, aku potong! Kamu kenal dia hanya saat kuliah. Aku mengenal Ariando sejak SD sampai SMA. Jadi, sejujurnya aku lebih mengenal dia dibandingkan dirimu. Intinya, Ariando itu mencerminkan paslon yang diperjuangkannya. Ada kemiripan karakter antara Ariando dengan paslon satu. Terus terang, aku sudah tahu luar dalem paslon satu. Aku kenal benar semua yang ada hubungannya dengan Ariando. Mereka terlihat sopan, tapi sebenarnya licik bukan kepalang. Nggak mungkin aku menjadi kader paslon satu. Mustahil aku mencoblos nomor satu.”

“Jadi…, kamu tadi nyoblos nomor….”

Hape jadul Balkiyo meraung keras.

“Maaf, ada yang nelpon.”

Balkiyo berbicara dengan seseorang di seberang sana.

“Sip! Jos! Sudah kuduga, paslon dua yang menang! Terima kasih infonya, sobat,” kata Balkiyo menutup pembicaraan.

Balkiyo menatap Yumi sambil berkata, “Ya…, aku tadi nyoblos nomor 2. Dan…, syukurlah, menurut hasil hitung cepat beberapa lembaga, paslon 2 yang menang….”

*****

Tulisan saya yang lain:

Cerita Silat Serial Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja (4)

Ahok jadi Mendagri…, Mana Mungkin?

Cerita Silat Serial Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja (3)

Ahok Pasca-Pilkada DKI, Tetap di Jalur Politik atau Beralih ke Bisnis?

Cerita Silat Serial Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja 2

Cerita Silat Serial Suro Sinting (1): Dewa Naga Baja 1  ; Teroris itu Bernama Topal ; Balada Balkiyo 1 ; Balada Balkiyo

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage