Ketika Para Hero Sholat Berjamaah

Ketika Para Hero Sholat Berjamaah

13

Haruskah terkejut berjamaah ketika melihat gambar para hero menjalankan salah satu rukun Islam? Haruskah tepuk jidat ketika melihat para hero sholat dengan tetap menonjolkan aurat?

Gambar yang sudah lalu lalang di dunia maya sejak tahun 2009 itu menarik lagi untuk dilirik. Telah banyak orang dibuat tertawa dan memberi interpretasi. Poinnya terletak pada kekaguman. Sekalipun para hero sibuk menolong sesama ternyata tidak melupakan sholat berjamaah. Ini tentu cukup menghibur. Sungguh luar biasa para hero ini.

Terus terang, ketika mendapatkan gambar tersebut dari seorang teman, bawaannya ingin tertawa berkelanjutan. Jadi ingat Habib Rizieq yang oleh para pemujanya juga dianggap hero atau pahlawan Islam berkat aksi tiga angka. Alangkah menarik bila ditemukan gambar serupa bagaimana Habib sholat berdua dengan muridnya. Siapa lagi kalau bukan Firza.

Tentu makin heroiknya kalau digambarkan bagaimana Habib Rizieq sholat bersama Firza. Habib menjadi imam besar bagi Firza. Mereka berdua sholat bersama. Pilihan tempat tidak perlu yang wah, cukup di tempat yang sederhana. Di suatu dusun yang ada kandang kambing dan pohon pisangnya. Tentu pencitraan tokoh ini makin mendapat simpati di tengah kasus hukum yang sedang menjerat mereka.

Dalam konteks kekinian, melihat para hero sholat berjemaah makin menarik. Seolah menegaskan betapa kuatnya Islam. Para hero sedunia akhirnya digambarkan mendirikan sholat.

Lihatlah ada Superman yang punya mata tembus pandang berkat infrarednya begitu khusyuk. Ada Hulk yang berotot dan tentu bisa ngotot dan melotot. Ada Kapten Amerika yang siap merealisasi janji kampanye Donald Trump. Ada Batman dan Spiderman dan para hero lain yang siap menolong orang yang sedang menghadapi kasus-kasus khusus. Dari kasus korupsi hingga kasus chat yang melibatkan ulama dan guru terbaik FPI dan murid ternakal dari bumi datar.

Sebuah imajinasi yang bisa jadi cukup menghibur. Islam adalah agama yang kuat, di dalamnya banyak para pahlawan. Hanya saja, Mengapa ketika Batman dan Superman sholat, tidak memakai daster seperti Habib Rizieq? Bukannya menutupi aurat ini justru menonjolkan aurat. Pertanyaannya, sahkah sholat mereka?

Suka-suka saja yang mau komen. Mau dibilang sah, memang menambah amal sholehnya Batman? Mau bilang tidak sah, memang akan dipikirin Superman?

Orang menafsir gambar bisa beraneka macam. Tergantung sudut pandang yang dipakai. Bisa untuk lucu-lucuan, bisa juga untuk serius. Sama halnya Gajah Mada yang diislamkan menjadi Gaj Ahmada. Ada-ada saja.

Supaya tidak gampang diprovokasi tiap kali melihat gambar dan berbagai macam interpretasinya, di sinilah pentingnya dosis dalam beragama. Kalau beragama over dosis akibatnya bisa bahaya. Sumbu pun makin pendek saja.

Bila agama diibaratkan candu, penggunaan yang over dosis bisa membuat orang mabuk. Omongan orang mabuk akan berbanding lurus dengan orang gila alias tidak waras. Ini terjadi ketika semua hal yang ada dalam kehidupan, semuanya dikaitkan dengan agama.

Pakai pakaian begini supaya tidak begitu. Memilih gaya busana begitu supaya tidak seperti ini.

Kamu tidak boleh menduduki posisi tertentu karena agamamu R. Kamu tidak boleh naik jabatan karena agamamu X. Kamu tidak boleh pilih dia karena agamanya Z. Kamu harus beli olie samping karena motormu RXZ. Motor berhijab dan berasap yang mudah-mudahan syar’i. Biar benar-benar mantap, kalau yang ini.

Hingga mau menolong orang saja ditanya agamanya apa. Mau donor darah harus dapat jawaban darahnya diperuntukkan kepada siapa. Takut nanti darah yang didonorkan jadi kafir. Hadeuh… kasihan jidat ini harus ditepuk melulu. Bukannya tepuk tangan, ini malah harus tepuk jidat.

Gara-gara orang mabuk agama, zaman pun jadi zaman edan. Adalah pujangga Jawa yang mengatakannya. Jayabaya namanya. Zaman edan ini disebut juga zaman Kalabendu.

Pada zaman edan, wong bener thenger-thenger, wong salah bungah-bungah. Wong apik ditampik-tampik, wong bejat munggah pangkat. Wong salah dianggep bener. Wong lugu keblenggu, wong mulya dikunjara.

Orang benar dibuat tak berdaya, orang salah malah bersukacita. Orang baik ditolak-tolak, orang tak bermoral alias korup naik pangkat. Orang salah dianggap benar. Orang lugu terbelenggu, orang mulia dipenjara.

Itu terjadi manakala agama ditunggangi kepentingan politik. Ini jelas ketika agama dipakai sebagai pembenar aneka macam tindakan atau aksi. Sampai-sampai fatwa dibutuhkan supaya bisa demo untuk bela ini dan itu.

Beragama butuh dosis supaya tidak kebablasan seperti ISIS. Mabok agama hanya membuat orang kehilangan akal sehat, bukan? Masak Batman dan Superman dipaksa sholat? Menonjollah auratnya…

Share.

About Author

sang pecinta motor berhijab yang berasap

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage