Kisah Kura-kura dalam Perahu, Kura-kura dalam Peti dan Kura-kura di Dunia Maya

Kisah Kura-kura dalam Perahu, Kura-kura dalam Peti dan Kura-kura di Dunia Maya

13

Para ahli bahasa Indonesia pasti tahu arti pepatah ‘kura-kura dalam perahu’. Lha wong para siswa hingga baru mahasiswa saja paham kok. Kura-kura dalam perahu itu pura-pura tidak tahu, bukan?

Namanya pura-pura tidak tahu, berarti aslinya pasti tahu. Orang yang tahu berarti berpengetahuan alias pinter. Supaya eksistensi orang yang berpengetahuan terus berkembang, jangan biarkan kura-kura keluyuran. Kura-kura harus dimasukkan dalam perahu. Jangan dikeluarkan.

Kalau tidak ada perahu bagaimana? Jangan putus asa! Masukkan dalam peti. Ya, kura-kura dalam peti. Pura-pura kagak ngerti. Padahal aslinya banyak ngerti. Alias pinter.

Itulah misteri perahu dan peti, yang sangat berarti bagi kura-kura. Perahu itu membuat banyak tahu dan peti menjadi bikin ngerti. Asalkan kura-kura selalu ada. Sekarang, kalau tidak ada perahu dan peti? Ini baru masalah yang harus dibicarakan. Kalau perlu bentuk pansus perahu.

Tidak usah terlalu serius. Sudah ada solusinya. Apalagi kalau rajin mengikuti tausiah Mama Dedeh. Semua ada solusinya.

Untunglah ada kura-kura di dunia maya. Pura-pura mati gaya. Para pembaca Seword pasti tahu, siapa kura-kura di dunia maya.

Bila rajin mengikuti diskusi, baik di fanspage maupun lewat disqus, akan muncul banyak sekali kura-kura. Baik yang dalam perahu, dalam peti, hingga di dunia maya. Intinya banyak sekali ide-ide cerdas nan ada-ada saja yang bermunculan. Benar-benar si pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak ngerti, hingga pura-pura mati gaya bermunculan. Mereka yakni para pembaca yang sejatinya lebih banyak tahu, banyak ngerti dan penuh gaya bahasa.

Baru saja saya posting tulisan berjudul “Mengapa Din Syamsuddin Tega Menjerumuskan HTI dengan Meminjam Ide Kafir?” Dari sinilah kisah kura-kura berlanjut ketika sempat nengok diskusi via disqus dan komentar di fanspage.

Sungguh, ada temuan yang menarik. Masak, Paus yang jelas-jelas pemimpin tertinggi umat Katholik ternyata muslim? Komentator bilang gitu punya alasan. Karena Paus aslinya Fauzi. Hihihihi…

Belum cukup dengan itu, muncul juga ide pemimpin khilafah. Bukan Khalifah tetapi Khilafus. Keren, kan idenya? Maklum saja, gara-garanya Din Syamsu membandingkan ide khilafah dengan negara Vatican. Muncullah Khilafus. Hahahaha… mamfus.

Karena Vatican disebut juga kota suci, maka dari hasil pembandingan ala Din Syamsu, muncullah kota suci khilafah, yaitu Fatikhah. Hah hah hah 99x… Kota suci Fatikhah.

Tidak kalah seru, dalam diskusi disqus, bahkan muncul dua versi Din Syamsu. Luar negeri dan dalam negeri yang ternyata beda kualitas. Kalau Din Syamsu dalam negeri identik dengan seruan “kafir, demo, penistaan, dan khilafah”, nah kalau Din Syamsu luar negeri bisa beda 180 derajat: “toleransi, pluralisme, NKRI, Pancasila”. Ternyata ini juga ada rahasianya.

Ternyata oh ternyata, Din Syamsu luar negeri adalah Carlo Ancelotti. Mantan pelatih AC Milan dan juga Real Madrid. Siapa sangka Ancelotti dijadikan KaWe-nya Din Syamsu. Hahaha, benar-benar penistaan untuk reputasi seorang Ancelotti. Semoga Milanisti dan Madridista tetap bersabar, dan tidak perlu aksi bela Din Syamsu KaWe.

Eksistensi pembicaraan seputar Din Syamsu ternyata memancing pembaca untuk menanyakan kabar gurunya. Tidak lain adalah Professor Dr. Amien Rais. Begini pertanyaannya: “mbah yg satunya gak dipasang bro / kan mrka mewakili ormas yg sama?”

Pertanyaan tersebut menghasilkan jawaban yang super. Ini dia: “Mbah satunya udah ada si kaleng khong guan….”

Hanya saja, bila logo baru khong guan ini benar-benar diproduksi massal, akan tambah laku atau malah tambah bobrok? Mungkin pakar pasar perlu memberi bahan kajian. Paling tidak perlu diusulkan dengan kata puja-puji nan syar’i bahwa khong guan berlogo baru tersebut adalah makanan super halal, makanan para bidadari 72, dan ada tiket masuk surga. Dengan begitu, minimal tujuh juta umat 212 telah punya kewajiban membeli per kaleng.

Ide dari diskusi tidak berhenti di situ. Ternyata ada sudut pandang lain tentang kafir. Bila oleh kaum bumi datar kafir selalu identik dengan neraka, ternyata bagi violet lavender tidak sependek itu berpikirnya. Demikian opininya:

“kalau mau maju ya harus niru kafir
kalau negaranya mau makmur ya penduduknya harus mayoritas kafir
kalau mau jadi orang pintar harus berguru sama kafir
negaranya porak poranda bukan lari ke negara syariah malah minta suaka sama negara kafir
#kafirsegalanya”

Ternyata ada hal positif dari kaum yang dicap kafir. Sekalipun makna kafir masih bisa didiskusikan. Negara-negara yang dicap, disebut-sebut dan dihina sebagai kafir oleh kaum sumbu pendek sekali, malah menerima pengungsi dari negara syariah. Umat muslim Timur Tengah. Kalau faktanya begitu, yang kira-kira bisa malu siapa, coba?

Share.

About Author

sang pecinta motor berhijab yang berasap

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage