Loe Belum Gaul Kalau Belum ke Fitsa Hats Afung (Apung)

Loe Belum Gaul Kalau Belum ke Fitsa Hats Afung (Apung)

14

Fitsa Hats Apung

Ada sebuah kota yang berada di tepi pantai bernama kota Abal-abal, kota ini sedikit terpencil meskipun di tepi pantai, sehingga kota ini memang sedikit membosankan, karena tidak ada yang mengasikan, kota ini sedikit tidak berkembang, tidak hanya itu rakyatnya pun tidak produktif, selain menjadi nelayan dan sedikit yang berdagang, kota ini tidak ada yang menarik, ini juga diakibatkan ada beberapa aturan dari kota ini yang buat warga luar tidak suka datang ke kota ini.

Karena kondisi yang demikian, pimpinan kota tersebut, sebut aja Alim, sebagai pemimpin dia agak gelisah, dia terus memikirkan solusi bagaimana biar kota ini bisa lebih di kenal warga luar kota, karena memang pantainya cukup indah dan dikelilingi dengan gunung-gunung yang indah pula.

Pada situasi yang tertekan, saat dia sedang menonton TV, dia mengikuti perpolitikan di kota Jaya Terus yang kebetulan akan mengadakan Pilkada, dia melihat ada satu calon yang punya ide untuk membuat kota Apung  di kota, kota yang Apung terus digeser ke atas sedikit, meski sedikit bingung dengan pemaparan calon tersebut, tapi dia cukup terkesan dengan ide tersebut.

Karena terkesan, dia pun mulai serius memikirkan soal kota Apung, tapi karena si Alim ini agak bingung, dia pun memanggil beberapa stafnya untuk berdiskusi, stafnya ada 2, bernama Harama dan Kafiri.

Alim : Fak Harama, Fak kafiri, ini saya funya ide, kemarin saya dafat dari tv soal kota afung yang digeser ke atas sedikit yang sempat heboh di kota Jaya Terus, afa kalian juga mendengar kehebohan itu?

Harama : Saya dengar sekilas sih, fak Alim.

Kafiri : saya juga, fak Alim.

Alim : Oklah, kalau semuanya fernah, saya rencana menerafkan itu di kota tercinta kita Abal-abal, hanya saja saya hanya ingin mengafungkan kota kita, saya rencana buat sebuah Café Dan Resto yang mewah, tapi cukup afung aja tidak perlu digeser ke atas sedikitpun, kita tidak funya teknologi untuk mengeser ke atas walau hanya sedikit.

Harama dan Kafiri terdiam kaget saat mendengarnya, karena ini ide paling gila yang pernah ada di kota tersebut setelah 17 pemimpin kota itu berganti, dan Pak Alim adalah generasi ke 18.

Harama : (dengan sedikit ragu)  hmmm, fak Alim sudah memikirkan konsefnya belum?

Kafiri : Ya, fak Alim. Karena ini tidak main-main loh, butuh biaya yang tidak sedikit

Alim : Tenang aja lah, kita fikir dulu afa nama, makanan yang mau disajikan.

Bertiga terdiam memikirkan namanya.

Alim : Bagaimana kalau namanya Pitza Hut

Kafiri : Jangan ah, itu kebule-bulean, jangan… jangan.. itu bisa merusak adat kota kita, kita tidak bisa karena ingin buat kota kita maju, trus merusak adat kota kita, lebih baik kota kita begini aja darifada maju tafi rusak adat kita, malu lah sama leluhur kita.

Harama : Saya setuju, fak Alim, Bafak jangan lufa, kalau di kota kita tidak boleh menggunakan huruf “P”, itu akan sangat merusak sifat dan karakter warga kota kita, bafak lufa bagaimana huruf “P” merusak kota kita beberafa tahun yang lalu? Bafak lufa?? (Harama sedikit kesal)

Alim : Ya juga, maaf..maaf saya tidak lufa hanya tidak kefikiran, ada ide lain?

Kafiri : sebenarnya Pitza hut itu bagus, bagaimana kalau fakai yang serufa tafi disesuaikan dengan khas kota kita, dan tidak menggunakan kata “P”

Alim : Afa tuh?

Kafiri : Bagaimana kalau Fitsa Hat

Harama : bagaimana kalau di hatnya kita tambahin s dibelakang jadi hats, biar kerenan dikit, juga tidak merusak adat, sifat ataupun karakter warga kota kita kan?

Alim : …… (berpikir)

Harama : bagaimana fak Alim?

Alim : hmm ok deh, boleh juga itu nama, saya kebetulan ada kefikiran menu minuman dan makanan untuk resto kita.

Kafiri : Apa tuh fak Alim, buruan donk… tidak sabaran nih.

Alim : jadi begini, bagaimana kalau menu makanan berupa kue yang di oven terus di atas di kasih daging dan taburan sayuran-sayuran seperti fafrika atau mayones dan kafuci… (belum selesai ngomong harama sudah memotong pembicaraan Alim)

Harama : Bafak gila ya? Sudah tahu kek fafripa dan mayones itu tidak boleh ada di kota ini, takut merusak sifat dan karakter kota kita? Bapak lufa atau pura-pura lufa, saya kesal ini fak

Kafiri : fak Alim jangan gitu donk, terlalu banyak nonton televisi, jadinya sifat bafak itu sedikit dirusak dengan hal-hal yang berbau asing, gua tabokin juga bafak, bafak jangan mentang-mentang femimpin di sini, bafak berfikir bisa seenaknya bawa ide-ide asing di sini ya.

Alim : sabar-sabar, maaf-maaf.. kalau gitu coba idenya donk.

Harama : gini aja deh Fak Alim, kue yang di oven boleh aja, taburan daging boleh juga, tapi taburan sayurnya kita ganti jadi fakai kurma dan fakai sedikit susu aja, bagaimana?

Kafiri : hmm ya boleh tuh, minimal lebih ke Abal-abal – abal-abalan (jadi ribet ngomongnya) gitu darifada fakai fafrika atau mayones.

Alim : ……. (sedikit speechles tapi tetap setuju), Ok lah kalau itu kalian sudah sefakat, saya tidak bisa berkata afa-afa. Ada saran untuk minumannya, sebaiknya kalian ada ide, kalau ide saya fasti nanti kalian anggap saya asing atau merusak adat keAbal-abal  – abal-abalan, sifat atau karakter kota kita.

Harama : Ya sudah, susu, kofi, dan teh saja saja deh, kan tiga jenis minuman terfavorit di kota kita, ya kita kombine aja tiga-tiganya, misalnya kofi kombine dengan susu jadi kofi susu, teh kombine dengan susu jadi teh susu, atau kofi kombine dengan teh jadi kofi teh.

Kafiri : hmm.. setuju

Alim : Ya sudah, karena kalian sudah sefakat, saya ikutin aja, berarti nanti saya cek dan fanggil ahlinya untuk diskusi.

Singkat cerita, diskusi sudah dilakukan dan Fitsa Hats Apung pun sudah terbangun setelah mengalami proses yang sulit akibat dana yang terbatas, hasilnya walau tidak begitu diminanti pengunjung luar kota karena konsep yang ke Abal-abal – abal-abalan, resto Fitsa Hats yang terapung itu memang menjadi ketertarikan sendiri bagi pengunjung dari warga setempat, dan tempat itu di kenal dengan nama Fitsa Hats Afung, karena di kota tersebut tidak boleh menggunakan huruf “P”

Selain itu, melalui Fitsa Hats Apung ini, warga mulai ada kegiatan lain, ada yang berjualan di sekitar fitsa hats, ada juga yang sering nongkrong di sana, hampir setiap hari Fitsa Hats Afung rame dengan warga setempat, jadi kalau ada warga yang belum pernah ke sana akan di anggap tidak gaul, karena tempat itu tempat paling modern dan paling gaul di kota tersebut.

Oklah, jadi jangan lufa untuk mengunjungi Fitsa Hats Afung di kota Abal-abal, karena loe belum gaul kalau belum ke Fitsa Hats Afung.

Fiuhhh… tafi ingat ya di kota Abal-abal tidak boleh menggunakan huruf “P”.

 

Sebagai Kesimpulan dari artikel ini
Loe belum gaul kalau belum ke Fitsa Hats Apung yang ada di kota Abal-abal

Sekian
Syalom dan Salam Persatuan

Baca Artikel Saya Yang Lain Di Seword.com:

Tim Ahok Harus Mewaspadai Lawannya yang Main Kasar (Takut Jagoannya Kalah)

Tarif Administrasi Kendaraan Naik, Kok Tanggung Cuma Segitu Naiknya?

Agus Kepilih, Agus Bisa Jaga Keamanan Jakarta, Agus Mau Jadi Hansip atau Gubernur Sih?

DNA yang Kemungkinan Akan Diturunkan Pak SBY Ke Agus

Ahok Hanya Meresmikan dan Membangun Menggunakan Uang Rakyat, Memangnya Ada Masalah?

More……

Share.

About Author

Ingin Update Tulisan Terbaru saya? Kunjungi Facebook saya di : Hans Steve, https://www.facebook.com/profile.php?id=100011025433317

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage