Mengapa Selalu Tentang Kuda?

Mengapa Selalu Tentang Kuda?

25

Presiden Jokowi berkuda bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam pertemuan di kediaman Prabowo, Hambalang, Bogor, 31 Oktober 2016.
Sumber : ANTARA FOTO.

Masih ingat selebrasi gol Mario Balotelli saat timnya Manchester City mencukur rival sekotanya, Manchester United 6-1 beberapa tahun lalu? Ya, striker Italia itu membuka kostumnya setinggi dada sehingga semua penonton di layar televisi dapat melihat tulisan besar di kaus dalamnya: ‘Why Always Me?’. Balotelli seolah ‘mempertanyakan’ banyaknya pembahasan mengenai dirinya di media-media Inggris kala itu.

Kalimat sarkasme tersebut mungkin juga akan diungkapkan oleh kuda, andai kuda bisa bicara. Selama setahun terakhir cukup banyak berita-berita politik dan pemerintahan yang berhubungan dengan hewan bernama kuda, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pertanyaannya, mengapa selalu tentang kuda?

Beberapa hari yang lalu 22 Agustus 2017, Jokowi melaporkan gratifikasi pemberian 2 ekor kuda oleh warga Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada KPK. Kedua kuda tersebut diberikan saat beliau menghadiri Festival Sandalwood, pertengahan Juli 2017 lalu.

Terus terang waktu membaca judul artikelnya di detik.com, saya tertawa karena objek pemberitaan lagi-lagi adalh kuda. Yang bikin lebih tertawa lagi, KPK dengan polosnya mengaku tidak memiliki tempat untuk menampung kuda-kuda tersebut (ya iyalah namanya gedung di pusat kota, emangnya peternakan haha).

Mari kita lihat ke belakang saat masa kampanye Pilpres 2014. Siapa yang tak ingat Pak Prabowo, sang calon Presiden dengan gagah menunggang kuda di dalam Stadion Gelora Bung Karno (GBK) memimpin apel akbar sekaligus kampanye Partai Gerindra. Yang saya tahu sih, Prabowo sudah lama gemar menunggang kuda dan sering memakainya saat memimpin apel kader Gerindra. Tapi berhubung dilakukan saat kampanye Pilpres dan dilakukan di Stadion GBK, momen tersebut menjadi ikonik dan diingat oleh banyak orang.

Awal November 2016 saat era Pilkada Gubernur DKI 2016, Pak SBY mengadakan konferensi pers meminta agar Ahok segera diperiksa terkait kasus penistaan agama agar demonstrasi tidak terus berlanjut. Meski terkesan cerewet, yang menarik adalah salah satu kalimat yang diucapkannya, “Kalau (pendemo) sama sekali tidak didengar, diabaikan, sampai lebaran kuda masih ada unjuk rasa itu.” Jadilah istilah ‘lebaran kuda‘ yang entah darimana datangnya, entah apa artinya, menjadi bahan lelucon yang viral di Internet, dalam bentuk meme-meme kocak dan komentar-komentar nyeleneh. Apa salah kuda, Pak SBY?

Selanjutnya masih terkait demo penistaan agama, ingat kan dimana titik kumpul utama para demonstran dan wartawan? Patung Arjuna Wijaya, monumen kereta kuda yang dilengkapi air mancur di sebelah Barat Daya Monas. Tak urung nama lokasi yang sering disebut ‘patung kuda’ tersebut mengisi semua liputan televisi maupun berita terkait pemberitaan demo-demo tersebut. Saya ingat, ada banyak komentar-komentar kocak, apa salah kuda-kuda tersebut sehingga sering dijadikan pusat tempat berkumpul demonstrasi?

Masih di saat yang bersamaan, 31 Oktober 2016 berita tentang kuda muncul lagi. Aktornya adalah tokoh-tokoh yang bersaing saat Pilpres 2014 kemarin, yakni Presiden Jokowi dan Pak Prabowo. Presiden bertemu dengan eks rivalnya tersebut di Hambalang atas undangan Prabowo untuk silaturahmi sekaligus melakukan sejumlah dialog. Dan pemandangan yang paling diingat tentu saat keduanya berkuda bersama di luar.

‘Kemesraan’ keduanya menunggang kuda bersama harus diakui memang menyejukkan sekaligus menepis jauh-jauh dugaan buruknya hubungan antara sesama mantan rival di Pilpres 2014 tersebut. Pertemuan keduanya juga membantu meredakan tensi politik nasional yang cukup tegang dalam beberapa minggu terakhir terkait Pilkada DKI Jakarta 2016 serta kasus penistaan agama yang menimpa Gubernur DKI Ahok. Untuk yang satu ini, hewan kuda benar-benar bermanfaat sekali.

Memang hewan seperti sapi sempat juga jadi pembicaraan publik, masih ingat kasus salah satu ketua partai yang ditangkap gara-gara korupsi terkait kuota impor daging sapi? Tapi dalam hal longetivity dan pengaruh sebagai bahan pemberitaan nasional, sapi masih kalah jauh dibanding kuda.

Sepertinya pertanyaan ‘mengapa selalu tentang kuda’ memang sulit untuk dijawab. Mungkin kuda memang sekarang lagi akrab dengan pemberitaan nasional kita, hehe. Walau sebenarnya saya lebih memilih daripada berita tentang kuda, lebih baik pembangunan infrastruktur dan penataan berbagai hal lainnya di negara ini yang harus secepat kuda berlari.

Mari kita tunggu, semoga berita politik atau pemerintahan tentang kuda yang akan muncul berikutnya adalah berita positif. Contohnya seperti Presiden melaporkan gratifikasi hadiah kuda ke KPK atau berita Prabowo dan Jokowi berkuda bersama di atas.


Referensi

http://nasional.kompas.com/read/2017/08/31/08334531/jokowi-laporkan-dua-kuda-senilai-rp-170-juta-pemberian-warga-sumba-ke-kpk

http://nasional.kompas.com/read/2014/03/23/1411394/Kampanye.di.GBK.Prabowo.Tunggangi.Kuda

http://nasional.kompas.com/read/2016/11/02/14485661/sby.kalau.pendemo.diabaikan.sampai.lebaran.kuda.masih.ada.unjuk.rasa

http://news.liputan6.com/read/2642811/sby-bilang-lebaran-kuda-netizen-riuh-bikin-meme-kocak  

http://news.detik.com/berita/d-3333507/setelah-bertemu-2-jam-jokowi-dan-prabowo-berkuda-bareng 

Share.

About Author

Ride the wind. Seorang penulis lepas yang tertarik hal seputar infrastruktur, musik, olahraga, dan travelling

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage