Menilai Buku Hanya Dari Sampulnya, Maka Anda Cenderung Akan Tertipu

Menilai Buku Hanya Dari Sampulnya, Maka Anda Cenderung Akan Tertipu

0

Membaca satu artikel yang membanding-bandingkan tata cara minum Jokowi dengan SBY dan tata cara berpenampilan atau berbicara Gibran dengan Agus, membuat saya merasa lucu sekaligus sedih. Bagaimana tidak, kebanyakan generasi sekarang lebih senang mengakui penampilan daripada isi. Generasi kita suka sekali disuguhi dengan keindahan lahiriah, dimanjakan dengan kesempurnaan penampilan. Kita sudah mulai tidak peduli dengan mutu dan isi. Padahal isi itu penting sekali. Apa jadinya kalau buku tabungan kita bagus tapi tidak ada isi? Hehehe…

Perhatikan keseharian kita, dari program acara tivi yang kita tonton, dari pertemuan dan undangan yang lebih sering kita hadiri. Bukankah sekarang kita lebih cenderung menyenangi acara sinetron, reality show yang direkayasa, acara audisi-audisi yang instan, daripada menonton acara geografi, sejarah-budaya atau ilmu pengetahuan? Bukankah sekarang kita lebih cenderung mengutamakan menghadiri acara hura-hura, dangdutan massal daripada penggalangan dana untuk yatim piatu atau donor darah?

Inilah kecendrungan kita, mulai lebih mementingkan sampul bukunya daripada isinya. Tidak salah, penampilan memang perlu, tapi tentu itu tidak selamanya dan bukan segalanya. Isi menjadi lebih penting. Analoginya, sebuah nanas, kulit luarnya busuk namun isinya masih bagus. Kita masih mendapat manfaat penuh dari nutrisi nanasnya. Apa jadinya kalau kulitnya bagus, ternyata isinya belatungan. Kita tidak mungkin makan belatung, apalagi makan kulit nanas. Artinya sama saja tidak berguna untuk dimakan. Sampai disini setuju, isi adalah lebih penting?

Saya beberapa kali tertipu dengan buku yang ada di toko buku. Sampul luarnya benar-benar menggugah saya yang sedang giat-giatnya mencari literature tentang bisnis yang ditawarkan di judul sampulnya. Begitu dibeli dan dibaca, ternyata isinya hanya menyisakan tanda tanya tanpa solusi. Ujung-ujungnya sampai sekarang saya belum memulai berbisnis juga. Ini karena bukunya atau karena otak saya yang tidak mampu menjangkau? Hahaha. Tapi sampai disini, tetap setuju kan, isi adalah lebih penting?

Begitu juga dengan tokoh. Banyak tokoh dengan penampilan yang menyihir, mempesona dan membuat ngiler. Tapi seiring waktu berjalan, mereka tidak lebih hanya seorang pengguna narkoba, penculik mahasiswa atau pelaku kekerasan dalam rumah tangga.

Kembali ke pertemuan keluarga presiden diatas, kita tidak bilang Agus dan SBY tidak ada isinya. Tetap ada. SBY sudah memberikan bukti, bagaimana beliau membangun beberapa proyek abadi di Indonesia ini. Untuk Agus, beliau sudah berkorban meninggalkan kesatuannya demi politik. Itu tentu satu isi tekad yang sangat berani. Tidak semua orang mau melakukan hal sehebat itu.

Disamping itu, kalau kita mengacu perkataan Ahmad Albar dalam lagu lawasnya, jangan nilai seseorang dari bagus tidaknya sepatunya, tapi lihatlah sudah sejauh apa dia melangkah.

Jokowi memang ndeso, tidak paham tata karma kehidupan orang jetset. Tapi perhatikan sudah sejauh apa beliau berjalan menyusuri jalan tol di Indonesia Raya ini. Begitu juga Gribran, dengan segala sikap kontraversinya selama ini, cara duduk seperti orang di warung kopi, dengan sepatu yang apa adanya, dia berani melakukan usaha tanpa bantuan bapaknya sama sekali. Bukankah itu juga menggambarkan isi yang tidak semua orang punyai?

Dan pun, seandainya benar, menurut banyak orang, cara minum SBY lebih berkelas dibandingkan dengan Jokowi, cara berpenampilan Agus lebih berkelas dibandingkan Gibran, lalu apakah Anda sadari, penilaian itu karena Anda inginkan seperti itu. Apakah Anda pernah dengar bagaimana cara minum teh yang baik di negara Skandinavia, misalnya. Selamatkan gulanya, tenggelamkan tehnya! Atau, bagaimana cara berbicara yang baik di kutub utara? Berbicaralah sesering mungkin agar kamu tidak lekas kedinginan! Jadi berkelas tidaknya itu sangat relatif.

Seandainya Anda bisa melihat dari kacamata yang berbeda, coba posisikan Anda sebagai Jokowi atau Gibran, saya yakin cara menempatkan dirinya Jokowi dan Gibran adalah pada tempat yang semestinya. Kebetulan saja mereka adalah keluarga presiden dan keluarga mantan presiden. Tapi sesunggunya pertemuan mereka adalah antara sahabat dengan sahabat, seperti yang dikatakan oleh SBY, dan antara anak-anak dengan anak-anak, seperti yang dikatakan oleh Jokowi. Hahahaha.

Bukankah memang seperti itulah semestinya seorang sahabat dan teman sepermainan?

Jokowi minum tanpa tatakan, karena sedang minum bersama sahabatnya. Namun saat sahabatnya ternyata minum menggunakan tatakan, beliau lalu ikut menggunakan tatakan karena menghargai sahabatnya.

Gibran berpenampilan dan berbicara apa adanya, karena sedang bertemu dengan teman sepermainannya. Lalu saat teman sepermainannya merasa lapar, Gibran menjamu dengan gudeg dan bubur.

Yah, seperti itulah pertemanan. Dan, ingat, berteman lebih seru dengan sebaya dan dengan apa adanya. Jokowi bersahabat dengan SBY, orang tua dengan orang tua. Gibran bersahabat dengan Agus, anak-anak dengan anak-anak.

Satu lagi, berteman tidak harus ber’seragam’. Perbedaan itu akan menjadi warna. Biarkan ndeso dan jetset dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan kita bisa tetap berteman.

Share.

About Author

Berharap Indonesia maju, dengan tetap sebagai Indonesia Raya.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage