Simpati Untuk Sandi Yang Legowo

Simpati Untuk Sandi Yang Legowo

5

Ahok itu pemurah, tampangnya aja yang arogan plus mulutnya yang suka lepas selotipnya jadi bikin orang tersinggung. Biarpun demikian Ahok gampang keluarin duit dari dompetnya kalau  ketemu orang susah. Wakilnya , Djarot, orangnya kalem, gak gampang emosian. Malah akhir-akhir ini beliau banyak tersenyum meskipun sempat ditolak di dua masjid oleh pendukung lawan. Soal Anies, saya tidak mau berkomentar, biar saja penulis Seword lain yang bikin komen. Tapi Sandi, kali ini saya ingin menulis sedikit tentang beliau.

Memang kesan pertama, setahun lalu, ketika dengan tampang imut-imutnya berniat mencalonkan diri menantang petahana, saya terus terang kurang suka melihat dia. Apalagi sejak dia resmi dicalonkan oleh Gerindra bersama Anies maju mencoba nasib di PILKADA DKI. Entah kenapa saya punya insting siapapun yang dicalonkan Gerindra pasti nggak bener dan menyebalkan. Mungkin ini efek traumatik dari Pilpres 2014 lalu, ketika materi kampanye banyak sekali didominasi  oleh black-campaign dari team Capres kelompok Gerindra, ditambah lagi tindakan tidak ksatria ketika hasil Pilpres diumumkan KPU.

Ketidaksukaan saya pada Sandi berlanjut sampai masa kampanye putaran 1 dan 2. Momen dimana Sandi selalu membuka pidatonya dengan OK-OCE sungguh selalu membuat saya bertampang masam. Rasanya lebih baik nonton iklan daripada lihat sandi mulai promosi OK-OCE nya, materinya membosankan dan itu-itu saja. Ditambah lagi di debat terakhir varian OK-OCE makin banyak saja jumlahnya yang bagi saya cuma bikin kepala serasa tidak simetris saking seringnya dipakai untuk geleng-geleng terus.

Tapi sejak beberapa hari terakhir pandangan saya tentang Sandi berubah drastis. Terutama ketika saya melihat berita perihal dana kampanye  kedua kubu. Rasa empati saya tumbuh ketika tahu betapa sebenarnya dia sudah berkorban perasaan terhadap partnernya, Anies.

Sandi yang kampanye putaran pertama dan kedua harus merogoh kantong sendiri nyaris sebesar lebih dari Rp 76 milyar, rela (meskipun dengan rasa dongkol) cuma menjadi calon nomor dua, sebaliknya rekannya Anies, yang di putaran kedua ini cuma menyumbang Rp 0 (baca sekali lagi: nol rupiah !) juga ‘sangat rela dan bersedia’ menjadi calon nomor satu.

Saya tidak tahu, apakah Prabowo yang sangat pandai membujuk Sandi atau Sandi yang kelewat lugu sehingga mau saja diplot sebagai orang nomor dua tapi harus mau menanggung sebagian besar dana kampanye. Celakanya, partai sesapian partner Gerindra yang memborong  Anies kehadapan Prabowo  dan sekaligus membuyarkan harapan Sandi sebagai calon nomor satu juga sangat pelit mengeluarkan dana. Alasannya jumlah kursi mereka di DPRD selain lebih sedikit dibandingkan Gerindra, juga dana partai banyak tersedot mengurusi skandal sapi. Jadi harus maklum kalau dalam pendanaanpun partai ini hanya mau keluar duit seadanya. Jangan mimpi berharap pada PAN yang cuma punya kursi tipe minimalis (2 kursi).  Lagi-lagi Sandi tidak protes.

Ahok dan Djarot boleh saja punya kelebihan:  pemurah dan penyabar, tapi dalam hal legowolitas (saya tidak tahu apa ada istilah ini? semoga saja ada) Sandi adalah juaranya. Mana ada orang mau mengalah dan legowo untuk segala sesuatu, apalagi ini dunia politik. Suatu dunia dimana kepentingan diri dan kelompok selalu nomor satu.
Bagi umumnya politisi, yang namanya mengalah itu cuma teori di mimbar Jumatan. Di politik kalau ngalah terus ya gak bisa dapat apa-apa, fase rebutan saja belum tentu dapat, apalagi ngalah. Tapi hebatnya seorang Sandi , beliau rela menjalani fase legowo. Rela menafikan insting pengusaha yang mau untung terus untuk memberikan jalan kepada Anies.

Pantas saja Anies sambil cengengesan berani janji memberikan DP 0 Rupiah. Dalam pemikiran Anies, DP nol itu nanti jadi tanggungan APBD DKI, kalau ditolak DPRD atau kalau dana tidak cukup, kan masih ada Sandi yang harus dan pasti mau menalangi DP 0, entah bagaimanapun caranya. Ya Sandi tidak bisa dan tidak boleh menolak, kan beliau sudah ditawari posisi Cawagub. Lagian itu kan resiko ikut Pilkada, mana ada makan siang gratis di politik. Demikian kira-kira logika terbolak-balik Anies. Apakah Anies peduli bahwa di putaran dua dia nyaris tidak menyumbang sepeserpun? Ha ha ha…nggak perlu dibahaslah, kayak gak tahu beliau saja…

Coba saja anda perhatikan photo kala Sandi berdampingan dengan Anies, mata Sandi yang melirik Anies punya arti lain yang tidak bisa dia sembunyikan, kata hati tidak bisa berbohong. Dalam hati Sandi, inilah pengakuan jujur dia tentang pasangannya.

“Sialan lu Nies,  bacot lu aja gede, apa-apa gue yang modalin, modal elu sendiri apa?? omdo..”

Kejam sekali PILKADA DKI kali ini, dia menyakiti semua orang, termasuk calon Wagubnya sendiri. Saya bisa merasakan kepedihan hati Sandi ketika pagi ini saya membuka akun Whatsapp saya. Sandi sendiri yang mengirim pesan : Tolong disebarkan secepatnya, cukup saya saja yang menjadi korban, jangan ada korban lain. Dibumbui ikon ‘sedih’ di ujung pesannya.
Kali ini air mata haru tidak sanggup saya cegah lagi. Simpati saya untukmu,Sandi, saya bersumpah akan membantu membalaskan sakit hatimu dengan mengarahkan jarum coblosan ke kotak sebelah.

Share.

About Author

Kura-kura bijak berdiri di tempat yang tidak bisa dikira-kira

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage