Jokowi Sukses Bangun Infrastruktur, Rakyat Senang

Jokowi Sukses Bangun Infrastruktur, Rakyat Senang

7

Infrastruktur merupakan urat nadi dan roda penggerak pertumbuhan perekonomian. Hubungan keduanya seperti organ tubuh manusia. Pembangunan tanpa infrastruktur ibarat jantung tak berdenyut. Dalam tiga tahun kepemimpinannya, Presiden Jokowi terus menggenjot pembangunan infrastruktur. Jalan trans, tol, jembatan, jalur kereta api, waduk, pelabuhan dan bandara  menjadi fokus utamanya.

Transportasi darat, laut dan udara dibangun secara terintegrasi. Kapasitas jalan ditingkatkan melalui pelebaran dan penambahan jalan baru, pembangunan jalan tol dan tol laut, bandara dan kapal perintis, semuanya dibangun sampai ke daerah terluar. Demikian pula pembangunan infrastruktur energi, telekomunikasi, dan infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi tak luput dari perhatiannya.

Foto: tribunnews.com

Menurut Global Competitiveness Report (GCR), pe­ringkat daya saing infrastrukur Indone­sia pada tahun 2009-2010 berada di peringkat 96 dari 133 negara. Tahun 2012-2013, yaitu sebelum Jokowi menjadi Presiden, kondisi infrastruktur Indonesia berada di peringkat 78. Namun setelah Jokowi menjadi Presiden, kondisinya mulai membaik. Berdasarkan data GCR, kondisi infrastruktur Indonesia pada tahun 2016-2017 diperingkat 60 dari 138 negara, berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur, Presiden Jokowi memberi perhatian lebih pada pembangunan infrastruktur.  Tiap tahun, anggarannya dinaikkan.  Pada 2014, anggarannya Rp 118 triliun (9,5% dari APBN). Pada APBN-Perubahan 2015, anggarannya ditetapkan sebesar Rp 290,3 triliun (13,1% dari belanja APBN). Pada 2016, anggarannya Rp 313,5 triliun. Pada APBN 2017, anggarannya mencapai Rp 387,7 triliun (18,6% dari total belanja APBN). (1)

Sejak kemerdekaan 1945, pembangunan infrastruktur yang tidak merata antarwilayah, antarJawa dan luar Jawa, antarIndonesia bagian barat dan timur, menjadi salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi tidak merata. Namun, dalam pemerintahan Presiden Jokowi, selain alokasi dananya ditingkatkan, juga lokasi pembangunannya tidak lagi menumpuk di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek).

Sejak tahun 2014, lokasi pembangunan infrastruktur menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah terluar dan terisolir. Tujuannya agar tercipta konektivitas akses transportasi darat, laut, dan udara, sehingga membuat pergerakan manusia, barang dan jasa semakin mudah; biaya logistik bisa ditekan; harga barang dan jasa  lebih kompetitif, khususnya di daerah terpencar, terpencil dan terisolir seperti Papua.

Foto:news.gencil.com

Di Papua, jalan adalah sesuatu yang mewah. Selain lama diabaikan, pembangunan jalan di Papua menghadapi tantangan alam yang sangat berat dan keamanan yang mengkhawatirkan. Walaupun medannya berat, namun Presiden Jokowi tetap mewujudkannya demi menciptakan keadilan sosial dan mengurangi tingginya disparitas harga antarwilayah.

Arie Setiadi Moerwanto, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, mengatakan bahwa jalan trans Papua sudah ada sejak Bacharuddin Jusuf Habibie. Namun nanti dibangun besar-besaran (sekitar 70 persen), sejak tahun 2014 pada pemerintahan Presiden Jokowi. Dari total panjangnya 4330,07 km, 3.800 km dibuka oleh TNI. Sampai akhir tahun 2016, jalan trans Papua yang telah tersambung sepanjang 3851,93 km. (2), (3).

Menurut Presiden Jokowi tujuan pembangunan infrastruktur adalah untuk mempercepat dan mengejar konektivitas  antarwilayah, dan menumbuhkan pusat perekonomian baru. Dikatakannnya bahwa semua jenis infrastruktur harus terkoneksi satu sama lain, sehingga memudahkan masyarakat yang akan berganti moda transportasi.

Infrastruktur yang beragam dan  memadai mendorong terciptanya efisiensi dan menggerakkan sektor riil tumbuh besar, karena para pelaku usaha kecil hingga besar sama-sama diuntungkan dengan biaya transportasi dan logistik yang lebih murah.

“NKRI hadir dalam bentuk paling kongkrit, yakni menyediakan transportasi bagi warganya. Pelayanan publik terbaik sampai ke wilayah paling jauh dari ibu kota negara,” ujar Jokowi saat meresmikan bandara di pulau Miangas, Sulawesi Utara, 19 Oktober 2016

Foto: Dreamers.id. Jokowi di Pulau Miangas-Sangihe

Dikatakannya bahwa bandara Miangas memiliki arti penting bagi Indonesia, khususnya dalam hal pembangunan wilayah perbatasan. Pulau Miangas memiliki posisi strategis karena berdekatan dengan Philipina. Ditempuh dengan kapal laut dalam waktu sehari dari Manado, namun waktu tempuhnya bisa dipersingkat setelah adanya bandara. “Kita tunjukkan ke negara tetangga bahwa beranda depan Indonesia adalah daerah yang dirawat, dibangun dan kita banggakan,” ujar Jokowi.

Untuk menciptakan keadilan sosial dari Sabang sampai Merauke, Presiden Jokowi memfokuskan kegiatan pembangunan infrastruktur di daerah terisolir. Selama dua tahun kepemimpinan, Jokowi sukses membangun infrastruktur di 13 pulau kecil terluar; rakyatnya merasa senang, karena mereka sudah sejak lama mengimpikannya.  Tiga belas pulau tersebut adalah sebagai berikut. (4)

1.Pulau Miangas, kabupaten kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Jokowi membangun bandara dengan panjang 1400 meter, dermaga, break water dan pos Angkatan Laut tipe A.

2.Pulau Maratua, kabupaten Berau, Kaltim. Presiden yang senang blusukan ini membangun bandara dengan panjang 1600 meter, dermaga dan jalan lingkar.

3.Pulau Sebatik, kabupaten Nunukan, Kaltara, Jokowi membangun pasar Sebatik, jalan lingkar, kantor desa, SMK Sebatik, mess operator dan turap Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Sebatik.

4.Pulau Morotai, kabupaten Morotai, Malut, Presiden yang sederhana ini berhasil membangun pasar rakyat, kapal penangkap ikan (10-20 gross ton), kapal (5, 10, 20, 30 gross ton), sarana prasarana pariwisata dan revitalisasi Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Daeio Majiko.

5.Pulau Wetar, kabupaten Maluku Barat Daya,  Maluku, Jokowi berhasil melakukan peningkatan jalan Ilwaki-Lurang, membangun pos Angkatan Laut, PLTD berkapasitas 1000 kilowatt, dan melaksanakan program Pembangunan Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT).

6.Pulau Masela, kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku, melakukan pembangunan Embung.

7.Pulau Kisar, kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku, membangun permukiman  dan pos Angkatan Laut.

8.Pulau Leti, kabupaten Maluku Barat Daya,  Maluku, membangun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 600 kw.

9.Pulau Selaru, kabupaten Maluku Tenggara Barat,  Maluku, membangun permukiman dan PLTD 100 kw DAN PLTS 600 kw.

10.Pulau Larat, kabupaten Maluku Tenggara Barat, provinsi Maluku, membangun Fasilitas Pelabuhan.

11.Pulau Alor, kabupaten Alor, Nusa Teggara Timur, melakukan peningkatan bandara Mali, membangun pasar rakyat Lipa, membangun Embung, kapal angkut kapaitas 50 penumpang, membangun jalan 23 km, membangun rumah paramedis, membagun BTS, membangun PLTS 15, 20, dan 30 kw.

12.Pulau Marore, kabupaten kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, membangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan jalan lingkar.

13.Pulau Kawio, kabupaten kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, melakukan Pembangunan Listrik Tenaga Surya.

Foto:kompas.com

Presiden Jokowi sukses membangun infrastruktur walaupun dengan dana APBN terbatas. Merupakan suatu hal yang baru dan bisa menjadi contoh bagi negara lain.

Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan dan APBN yang tidak memungkinkan untuk membiayainya, mendorong Presiden Jokowi melirik investor luar negeri. Dalam lawatannya ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Arab Saudi, Korea Selatan, Jepang, hing­ga Tiongkok, Jokowi me­nya­takan bahwa pemerintah saat ini sedang melakukan program pemba­ngunan infrastruktur terbesar sepanjang sejarah Indonesia, yang meliputi pem­bangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt, 163 pelabuhan, 1.646 mil jalan raya baru, 721 mil jalan tol, 2.124 mil rel kereta api, 15 bandara, 49 ben­dungan, dan sistem irigasi untuk 1 juta hektar lahan. (5)

Presiden Jokowi tak ingin melihat kondisi infrastruktur yang memprihatinkan terus dibiarkan. Menurutnya, bangsa Indonesia harus bekerja keras mengejar ketertinggalan, karena memiliki potensi dan kekuatan.

Dikatakannya bahwa sejumlah negara yang dulu belajar dari Indonesia, justru sekarang jauh lebih maju. Ia memberi contoh saat pembangunan jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi), yang dibangun tahun 1973-1978 sepanjang 46 km, Tiongkok dan Malaysia datang ke Indonesia untuk mempelajarinya.

Foto: Kantor Staf Presiden

Sekarang, lanjut Presiden Jokowi, dalam kurun waktu 40 tahun, Indonesia hanya mampu membangun 780 km jalan tol. Sedangkan Tiongkok yang dulu belajar di Indonesia sudah bisa membangun tol sepanjang 280.000 km, dan Malaysia memiliki  tol sepanjang 3.000 km. (6,7,8)

Pembangunan tol di Indonesia dimulai pada era Soeharto. Sejak tahun 2014, Presiden Jokowi sukses mengoperasikan 176 km jalan tol. Diperkirakan pada akhir 2017, panjang tol  yang beroperasi menjadi 568 km. Berikut ini adalah perbandingan panjang tol dari era Soeharto hingga Presiden Jokowi.

Sesuai rencana, selama 5 tahun (2014-2019), Presiden Jokowi akan membangun 47 jalan tol sebagai  proyek strategis nasional sepanjang 1000 km. Lokasinya disebar di seluruh wilayah Indonesia.

Pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi massa sangat bermanfaat bagi masyarakat. Jalan yang memadai bisa membuat masyarakat terhindar dari kemacetan dan kerugian.  Kemacetan di Jakarta misalnya, menurut Jokowi, bisa menimbulkan kerugian Rp 27 triliun setiap tahun.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur memiliki banyak manfaat. Pertama, adalah untuk lapangan pekerjaan. Ribuan orang dari berbagai tempat mendapat pekerjaan dari pembangunan infrastruktur. Kedua,  berdampak terhadap peningkatan ekonomi daerah di mana infrastruktur dibangun, yaitu adanya perputaran uang dan efek domino yang mengikutinya. Ketiga, tersalurnya atau terjualnya hasil bumi di daerah. Keempat, terbukanya isolasi daerah dan terjadi penurunan harga barang.

Foto:Rayaberita.wordpress.com

Presiden Jokowi heran melihat kondisi masyarakat, yang kerap meributkan hal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan, terutama soal pembangunan infrastruktur. Akibatnya, ada infrastruktur yang tidak bisa jalan karena terhambat pembebasan lahan. Lain halnya yang terjadi di Lampung, walau tidak ada kendala dalam pembebasan lahan, namun tak diiringi dengan kecepatan penyediaan dana, akibatnya kelancaran pembangunan infrastruktur juga terganggu. (9)

Presiden berharap agar masyarakat memanfaatkan kesempatan yang ada di depan mata. Tidak masuk ke dalam framing saling menghujat,  saling menyalahkan, dan saling berdebat yang tidak ada habisnya. (10)

Jokowi mencontohkan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) yang masih sementara diselesaikan ributnya sudah 26 tahun. Juga dicontohkannya pembangunan kereta api cepat (Jakarta-Bandung) berjarak 148 km, sampai sekarang belum mulai, dan ributnya sudah 2 tahun. (11)

Rakyat senang melihat Presiden Jokowi sukses membangun infrastruktur, di antaranya membangun 15 bandara baru di daerah terluar dan rawan bencana, dan menyediakan pembangkit listrik tenaga diesel di daerah yang tidak memiliki sumber energi.

Sumber:

***

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage