Belajar Toleransi Dari Teduhnya Natal Di Luar Negeri

Belajar Toleransi Dari Teduhnya Natal Di Luar Negeri

13

Peringatan Natal di Beirut diramaikan dengan kur oleh siswi Muslim.

Saat ini Indonesia sepertinya perlu belajar toleransi dari Negara lain. Kita yang dahulunya menjadi pusat ilmu toleransi dan jadi referensi hidup bertoleransi, kini sedang didera degradasi toleransi dalam hidup bernegara. Meski tetap ada saja daerah-daerah yang mempertahankan toleransi dengan sangat erat, secara nasional isu toleransi menjadi rusak karena adanya Fatwa intoleran yang disertai sweeping yang meresahkan kehidupan beragama dan bernegara.

Beberapa peristiwa yang terjadi di luar negeri ini kiranya menyadarkan kita yang toleransinya mulai pudar dan terus menguatkan kita yang toleransinya masih kuat. Keindahan toleransi tidak akan membuat akidah kita berpindah dan dangkal, melainkan akan memperkuat akidah dan membuktikan bahwa semua agama bisa hidup berdampingan tanpa adanya kecurigaan dan ketakutan.

Berita pertama adalah apa yang terjadi di daerah Bartella, Irak. Setelah tidak merayakan Natal sejak tahun 2013, akhirnya umat Kristen di Irak kembali merayakan Natal. Perayaan Natal ini dilakukan dengan pengamanan dari tentara-tentara Irak yang telah berhasil merebut daerah ini dari ISIS. Kawasan Nineveh adalah salah satu permukiman paling kuno yang dihuni kaum nasrani. Tempat itu sudah ada hampir 2.000 tahun lalu.

“Ini adalah hari terbaik dalam hidup saya. Kadangkala saya berpikir hal ini tak akan pernah terjadi,” ujar Shurook Tawfiq, seorang ibu rumah tangga yang berusia 32 tahun.

“Perasaan saya bercampur aduk antara sedih dan senang,” kata Pastur Mussa Shemani kepada kantor berita Reuters sebelum memimpin misa malam Natal.

Natal pertama dengan teduh dilakukan dan dijaga oleh tentara pemerintah tanpa takut akidah mereka terganggu dan menjadi dangkal. Penjagaan yang mereka lakukan bukan berarti membuat mereka meyakini iman umat Kristen Irak, tetapi malah menunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Irak sendiri penduduknya 97 persen adalah Islam.

Berita kedua adalah Ribuan umat muslim di london yang berbondong-bondong mengumpulkan makanan bagi penduduk nonmuslim London. Makanan yang terkumpul mencapai jumlah 10 Ton. Wow!! jumlah yang fantastis. Apa yang dilakukan umat muslim di London ini mendapatkan apresiasi dari seorang pendeta bernama Gary Bradley yang datang pada acara tersebut.

“Ini adalah contoh dari semua agama bekerja sama demi kemanusiaan,” katanya, seperti dikutip dari Independent, Ahad, 25 Desember 2015.

Saya jadi teringat bagaimana dulu masyarakat tidak ada saling curiga. Berbagi makanan tanpa takut bahwa di dalam makanan tersebut ada sesuatu yang bisa mendangkalkan akidah dan membuat diri memakan sesuatu yang haram. Budaya yang sudah hilang saat ini diterpa kecurigaan satu dengan yang lain.

berita ketiga adalah Kur lagu-lagu rohani yang dinyanyikan oleh para pelajar Muslim di gereja di Beirut, Lebanon dalam perayaan Natal. Kehadiran dan nyanyian yang dilakukan oleh para pelajar muslim ini menjadi sebuah sikap toleransi yang luar biasa hebatnya. banyak yang terharu atas tindakan mereka di tengah-tengah semakin sedikitnya tindakan toleransi yang terjadi di dunia ini.

“Kontak antar agama ini merupakan kehidupan kami. Ini terjadi hampir setiap hari melalui pertukaran pelajar, aktivitas bersama dan juga konferensi nasional dan lain sebagainya,” kata Mohamad Bassam dari Imam Sadr, yayasan yang menaungi kur pelajar Muslim ini.

“Sangat menyentuh, sampai berdiri bulu kuduk saya. Tidak ada yang memperkirakan mereka akan ikut menyanyi. Sangat mengesankan,” kata Rami Al Khal yang mengikuti kebaktian.

“Perempuan berjilbab bernyanyi dengan khidmat, penampilan mereka luar biasa,” tambahnya.

Sungguh sangat luar biasa apa yang disaksikan oleh rakyat Lebanon ini. Toleransi sungguh sangat nyata dan membahana di dunia Internasional. Lebanon sepertinya akan menjadi referensi baru kehidupan toleransi yang erat dan kuat di antara penduduknya.

Bukankah Indonesia dulu adalah negara yang toleransinya menggema di dunia?? Bukankah dulu banyak yang merujuk kehidupan toleransi adalah Indonesia?? Lalu masihkah sekarang toleransi adalah ciri khas bangsa dan negara kita?? Sebuah pertanyaan yang menjadi tugas berat anak-anak bangsa pengusung toleransi dan NKRI.

Saya tidak akan menambah lagi penjelasan mengenai bagaimana bertoleransi seharusnya. Biarlah 3 peristiwa ini menjadi pembelajaran bagi kita negara yang dulunya (entah sekarang) dikenal dengan toleransinya. Semoga kita semua disadarkan bahwa toleransi itu indah dan harus kita pertahankan.

Salam Toleransi.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage