Biadab! Gara-gara Dugaan Penistaan Agama, Seorang Mahasiswa Dibunuh secara Massal oleh Teman-Temannya

Biadab! Gara-gara Dugaan Penistaan Agama, Seorang Mahasiswa Dibunuh secara Massal oleh Teman-Temannya

18

Kejadiannya terjadi di Peshawar, Pakistan. Segerombolan mahasiswa yang berteriak-teriak “Allahu Akbar” berkali memukul, menginjak, bahkan menghantam dengan papan seorang pria setengah telanjang. Pria tersebut adalah teman satu kampusnya. Ia dituduh telah menyebarkan konten “penistaan agama” di sosial media.

Kejadian tersebut sempat direkam oleh banyak orang, lalu diunggah di youtube. Melihat puluhan orang berkumpul mengerubuti pria tersebut, sambil menerikan lafadz suci “Keagungan Allah”, mereka seperti dirasuki setan menghabisi seorang pria yang bernama Mashal Khan dalam waktu singkat.

Darah mengalir dari kepalanya yang mungkin sudah pecah akibat injakan dan hantaman papan. Tubuhnya lemah seketika. Nafasnya dan detak jantungnya berhenti, menyatakan “kalah” di hadapan para manusia haus darah.

Kejadian tersebut terjadi di kampusnya sendiri. Disaksikan banyak orang. Dan tidak ada satu pun yang dapat mencegah para manusia yang merasa telah dihinakan agamanya oleh Mashal Khan. Semua masih dugaan. Dan seperti hukum rimba, proses pembuktian adanya penistaan agama dilanggar. Hukuman mati langsung dijatuhkan tanpa adanya proses pengadilan.

Mashal Khan dikenal sebagai mahasiswa yang brilian dan kritis terhadapa banyak hal. Terutama pada masalah-masalah politik dalam negerinya. Tapi katanya dosennya, Marshal tidak pernah mengatakan sesuatu yang kontroversial yang menentang agamanya.

Di Pakistan, masalah “penistaan agama” merupakan isu yang paling sensitif di negeri tersebut. Penistaan agama dianggap sebagai kejahatan paling keji. Tak jarang, hukum rimba sering dipakai oleh orang-orang Pakistan garis keras untuk menyelesaikannya.

Korban yang paling sering terkena undang-undang penistaan agama adalah kelompok Ahmadiyah. Mereka dilarang bersyahadat, bahkan menuliskan syahadat saja atau menempelkan kalimat syahadat di rumah, itu merupakan perbuatan kriminal.

Setiap harinya, ada saja pengikut Ahmadiyah yang dibunuh. Kebanyakan dibunuh dengan cara ditembak. Pernah di suatu masjid di kota Lahore, beberapa orang Pakistan membredel dengan senapan mesin ratusan pengikut Ahmadiyah saat sedang shalat subuh. Puluhan orang terbunuh dalam peristiwa tersebut.

Hingga kini, persekusi yang dilancarkan kepada para pengikut Ahmadiyah di Pakistan tidak pernah berhenti. Dan para pelakunya tidak pernah dicari apalagi diproses secara hukum. Bagi mereka membunuh orang Ahmadiyah adalah legal secara hukum.

Pasal “Penistaan Agama” merupakan mimpi buruk dalam sebuah negara. Pasal ini seringkali disebut pasal karet karena “patokan” agama yang dianggap dinista masih membuka ruang perdebatan. Itu satu. Kedua, dengan adanya undang-undang penistaan agama, implikasinya sebuah agama akan dinilai kaku dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Agama pada akhirnya tidak bisa dikritik dengan metode-metode ilmiah sekalipun.

Undang-undang penistaan agama menutup ruang dialog yang sehat untuk kajian-kajian ilmiah dalam lingkungan agama. Sehingga konsep-konsep agama tentang pelbagai hal dalam hidup manusia akan berhenti pada teks-teks otoritatif. Tidak boleh lagi ada tafsir. Tidak boleh lagi ada kritik atas teks.

Kita ketahui bahwa Quran itu shahih (relevan) dalam setiap zaman dan tempat. Quran dapat mengakomodir penemuan-penemuan ilmiah yang dilakukan manusia. Kalau ruang tafsir dan kritik sudah tertutup, maka Quran sudah tidak relevan untuk suatu masa tertentu dan suatu tempat tertentu.

Seperti di Indonesia, hukuman untuk kejahatan mencuri adalah hukuman kurungan (penjara). Begitu juga dengan kejahatan-kejahatan lainnya. Bahkan, untuk kejahatan pembunuhan, tidak bisa diterapkan hukuman mati karena beberapa faktor. Bukankah semua ini menyalahi hukum yang ada dalam Quran?

Kalau berpegang pada teks, yang didapat ya seperti yang kini digadang-gadangkan para pemuja khilafah. Tapi kalau berbicara konteks, dimana semua dikembalikan pada tujuan diperintahkannya suatu hukuman, maka yang didapat adalah “efek jera” dalam hukuman. Prinsip “mengandung efek jera” inilah yang menjadi dasar dipakainya jenis-jenis hukuman alternatif.

Saya melihat, Indonesia selangkah lagi menuju Pakistan. Undang-undang penistaan agama efektif membungkam kelompok-kelompok baru di luar golongan arus utama. Meski tidak semasif Pakistan, potensi ke arah sana sedikit demi sedikit mulai berjalan.

Triggernya adalah kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.  Dari kasus Ahok ini, kelompok-kelompok garis keras yang suka main “pokoknya” memiliki justifikasi untuk menghantam kelompok-kelompok minoritas atau mereka yang suka bersikap kritis terhadap Islam.

Dan Pilkada DKI 2017 akan menjadi penentu bagaimana perkembangan pasal penistaan agama ini. Jika paslon yang didukung oleh kelompok-kelompok radikal ini menang, maka jalan menuju “pakistanisasi” Indonesia dapat dipastikan melesat dengan cepat.

Dan jika celah kecil itu telah membesar, menjadi sebuah borok bau dan busuk dalam tubuh. Maka politisi kotor yang sok-sok-an agamis akan terus menggunakannya sebagai senjata untuk melanggengkan kekuasannya.

Ya.. hingga akhirnya negeri ini hancur porak-poranda. Saat itu tiba, mungkin tidak ada tempat yang aman lagi hidup di negeri ini.

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage