Doa untuk Indonesia dari Bremen

Doa untuk Indonesia dari Bremen

10

Vonis penjara 2 tahun yang dijatuhkan kepada Ahok, pada tanggal 9 Mei lalu sepertinya menjadi titik bangunnya para silent majority yang selama ini diam. Kelompok silent majority ini seperti tersadar bahwa aksi diam yang selama ini mereka tunjukkan demi menjaga kedamaian, sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan. Diam yang selama ini berarti emas, mungkin sudah tidak lagi sesuai untuk kondisi Indonesia saat ini. Politik sudah jadi mainan para penguasa dan keadilan pun sepertinya beranjak menjauh dari bumi Indonesia.

Jika pada Pilkada DKI Jakarta tanggal 19 April para pendukung Paslon 2 menunjukkan simpati mereka lewat ribuan bunga dan balon, maka di hari vonis hukuman Ahok, para silent majority mulai mengekspresikan kekecewaan dan kesedihan hati mereka dengan aksi menyalakan lilin. Lilin yang oleh beberapa orang dianggap sebagai simbol hidup yang sia-sia karena hanya bisa menerangi sementara waktu dan pelan-pelan habis, sesungguhnya mempunyai makna yang jauh lebih besar. Lilin merupakan simbol pengorbanan yang tulus tanpa pamrih, tanpa memikirkan dirinya sendiri. Lilin adalah cahaya nyata yang mampu menerangi kegelapan. Bagi penulis sendiri, lilin menunjukkan hadirnya ketenangan dan kedamaian. Selain itu, lilin juga adalah simbol harapan untuk sesuatu yang lebih baik.

Aksi menyalakan lilin yang dilakukan para silent majority tidak hanya terjadi di Jakarta; hampir seluruh Indonesia melakukannya. Yang menarik adalah masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri pun turut bersuara dengan mengadakan aksi serupa.

Kami, warga negara Indonesia yang berada di Bremen, Jerman juga tergerak untuk melakukan aksi penyalaan lilin. Diadakannya aksi ini bukan semata untuk sekedar ikut-ikutan, tetapi ini adalah salah satu cara yang bisa kami lakukan untuk menunjukkan kepedulian kami akan kondisi Indonesia saat ini. Meski kami jauh, tapi rasa cinta kami pada tanah air begitu besar dan  itu tidak akan pernah hilang. Kondisi Indonesia belakangan ini yang seringkali ricuh karena hadirnya golongan tertentu yang ingin menggantikan ideologi negara membuat kami resah dan gelisah. Kami ingin supaya Indonesia tetap sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berideologikan Pancasila. Selamanya.


Untuk menunjukkan sikap dan dukungan kami terhadap keutuhan NKRI, maka pada hari Sabtu, 13 Mei 2017, kami mengadakan doa bersama di salah satu pusat kota Bremen. Acara yang diberi tema Aksi Bhinneka Tunggal Ika ini dipersiapkan hanya dalam waktu dua hari saja. Dimulai dari permohonan izin pada pemerintah setempat dan pihak kepolisian kota Bremen, pembuatan dan penyebaran undangan melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter serta group Whatsapp, hingga persiapan pernak-pernik acara.

Kami bersyukur karena persiapan yang begitu singkat ini ternyata cukup menyita perhatian masyarakat Indonesia di Bremen dan sekitarnya. Acara yang digelar mulai jam 20:00 waktu Bremen ini tidak hanya dihadiri oleh warga negara Indonesia di Bremen, tetapi juga mereka yang tinggal di luar kota Bremen seperti Schierbrok, Delmenhorst, Oldenburg, dan Bassum. Setiap orang datang karena keinginan pribadi, hadir sebagai WNI yang rindu ingin melihat Indonesia yang utuh dan Pancasilais, dan ingin mengembalikan kehidupan bertoleransi di tanah air. Kepedulian kami yang begitu besar akan kondisi NKRI tidak menghalangi kami untuk berdiri di area terbuka meski cuaca dingin dan langit mendung.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa, lalu pernyataan dukungan kami pada keutuhan NKRI, kemudian penyalaan lilin dan doa lintas agama (seusai dengan keyakinan masing-masing), pembacaan puisi perjuangan, dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu nasional seperti Padamu Negeri, Satu Nusa Satu Bangsa, dan Indonesia Pusaka. Acara diakhiri dengan menyanyikan lagu yang sangat berkesan bagi kami yang hidup di luar Indonesia, Tanah Airku (Ibu Sud) dan Merah Putih (Gombloh). Turunnya hujan di penghujung acara mengakhiri acara ini, memisahkan kami yang sudah hadir untuk pulang kembali ke tempat kami masing-masing, namun ada rasa lega karena kami sudah sehati bekumpul bersama dan berdoa untuk Indonesia. Aksi menyalakan lilin ini biarlah jadi ungkapan harapan kami akan terciptanya keadilan dan kedamaian di Indonesia, serta dukungan besar untuk keutuhan NKRI.

Tanah airku tidak kulupakan
‘kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak ‘kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai       

Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku merasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Salam dari Bremen. Salam NKRI. Merdeka!

Share.

About Author

Mother. Researcher. Traveler. Day-dreamer.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage