Gugat Larangan Niqab, 2 Wanita Muslim Kalah Di Pengadilan Eropa.

Gugat Larangan Niqab, 2 Wanita Muslim Kalah Di Pengadilan Eropa.

104

Seorang Dosen berketurunan Yaman di Australia mengatakan bahwa budaya wanita Timur Tengah yang berpakaian menutup seluruh tubuhnya memiliki banyak alasan, namun alasan karena keyakinan umumnya menjadi alasan yang kedua. Alasan budaya menempati urutan pertama.

Wanita yang sudah terbiasa dari sejak kecil mengenakan burka, niqab, hijab, dan penutub tubuh lainnya, akan merasa ditelanjangi ketika mereka diminta untuk tidak mengenakannya. Namun, apa mau dikata, dimana tanah dipijak, disana langit dijunjung adalah pepatah para orang tua yang sudah terbukti kebenarannya. Masalah muncul, ketika para wanita ini melanglang buana dan tidak bisa mengikuti aturan setempat daerah yang ditinggalinnya.

Beberapa negara Eropa dan negara maju lainnya menetapkan Undang-Undang pelarangan sebagian pakaian menutupi wajah yang berupa burka dan niqab di tempat umum dengan alasan resiko keamanan.

Di italia, Undang-Undang pelarangan pemakaian penutup wajah sudah disahkan sejak tahun 1975. Perancis memberlakukan pelarangan yang sama sejak tahun 2011. Disusul oleh Belgia yang mensahkan Undang-Undang yang sama pada tahun yang sama. Belanda mensahkan Undang-Undang ini tahun 2015. Jerman, Bulgaria, Swiss, mulai memberlakukan larangan tersebut pada tahun ini. Austria Undang-Undang pelarangan serupa sudah disepakati akan segera diberlakukan.

Lain lagi dengan Norwegia, Menteri kebudayaan, anggota parlemen Muslim serta organisasi-organisasi Muslim lainnya mengkritik langkah Dewan Islam Norwegia karena telah menunjuk wanita yang mengenakan Burka sebagai juru bicara mereka. Langkah ini muncul setelah pemerintah menggelontorkan dana sebesar 484.000 kroner (atau sekitar Rp732 juta) bagi kelompok tersebut untuk meningkatkan dialog antaragama.Parlemen Norwegia mendukung pelarangan burka atau niqab di sekolah-sekolah.

Sementara Chad, negara yang terletak di Afrika Tengah, memberlakukan larangan penutupan wajah sejak terjadi serangan teroris Boko Haram yang menewaskan 20 orang pada tahun 2015.

Selasa, tanggal 11 Juli, Pengadilan Hak Asasi Eropa menetapkan larangan pemakaian penutup wajah ditempat-tempat umum di Belgia tidak melanggar kehidupan pribadi seseorang, kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi.

Dua perempuan Muslim yang mengajukan upaya pembatalan larangan pemakaian penutup wajah yang hanya menyisakan mata atau niqab ditempat-tempat umum kalah di Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa Di Belgia.

Sebelumnya, larangan itu digugat seorang perempuan warga negara Belgia, Samia Belcacemi, dan seorang lagi dari Maroko, Yamina Oussar, yang beralasan aturan tersebut melanggar hak-hak kehidupan pribadi, kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi.

Dalam sidang, mereka mengatakan bahwa sejak peraturan larangan pemakaian niqab diterapkan di Belgia, salah seorang di antara mereka terpaksa tidak memakai niqab agar tidak dikenai denda dan ancaman hukuman penjara, sedangkan perempuan kedua memilih tidak keluar rumah sama sekali.

Menurut pengadilan, meskipun peraturan yang melarang pemakaian penutup wajah tersebut dapat berdampak pada perempuan Muslim tertentu dibanding orang-orang lain, peraturan itu sudah tepat.

Alasannya, pihak berwenang perlu menjaga ketertiban umum dan etos hidup berdampingan dan sekaligus mencegah ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun masih ada kesempatan banding dalam waktu tiga bulan ke Mahkamah Agung.

Pandangan saya pribadi adalah, sah-sah saja kedua wanita itu mengajukan upaya pembatalan sebuah larangan yang berlaku di negeri orang. Namun bukan hal yang dirahasiakan bahwa masyarakat Eropa memiliki rasa was-was dan takut terhadap penampilan mereka karena image yang diperlihatkan oleh kelompok Teroris yang malangnya adalah dari kalangan Islam.

Pada 2011 parlemen Belgia mengesahkan peraturan larangan pemakaian penutup wajah penuh dan niqab agar polisi dapat mengindentifikasi orang, walaupun sebagian kalangan juga berpendapat pemakaian penutup wajah dan kepala itu merupakan simbol penindasan perempuan.

Sementara Maret 2017, pengadilan tinggi Eropa, Mahkamah Keadilan Eropa, EJC, memutuskan larangan pemakaian ‘tanda-tanda politik, filsafat, atau agama apapun’ seperti kerudung di tempat kerja, tidak boleh merupakan diskriminasi langsung. Namun larangan itu, menurut EJC, harus didasarkan oleh peraturan internal perusahaan yang mensyaratkan semua karyawan ‘berpakaian netral’.

Dari sisi keamanan, walaupun banyak sekali CCTV terpasang, ketika pelaku kejahatan mengenakan penutup wajah, ini akan memberikan kesulitan tambahan pada pihak kepolisian. Di Eropa larangan penutupi bagian badan terutama wajah, tidak hanya terbatas pada pakaian wanita, tapi penggunaan helm ditempat umum pun termasuk dalam peraturan larangan tersebut.

 

ref. https://news.detik.com/bbc/3556791/gugat-larangan-niqab-2-perempuan-muslim-kalah-di-pengadilan-eropa 

http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39451745

Share.

About Author

Pendukung Pemerintahan yang SAH! Muslim yang mendukung Ahok dan Jokowi. Warga Negara yang mencintai Negerinya.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage