Hidup di Amerika Tidak Selalu Menyenangkan

Hidup di Amerika Tidak Selalu Menyenangkan

53

Pernah tinggal belasan tahun di Amerika membuat saya belajar banyak hal. Ada yang menyenangkan, ada juga yang mengecewakan dan tidak menyenangkan. Tulisan ini tentu tidak bermaksud mendiskreditkan orang Amerika, apalagi negera Amerika. Sama sekali tidak. Ini hanyalah sekedar pendapat pribadi yang saya rasakan dan alami sendiri, based on my own experience.

Amerika pada kenyataannya adalah sebuah negara besar dan sangat luas wilayahnya dengan jumlah penduduk melebihi 300 juta orang. Masuk lima besar penduduk terbanyak di dunia, bersanding dengan China, India, dan Indonesia. Bejibun orangnya. Padat.

Nah, opini saya kali ini sama sekali tidak merujuk pada kebiasaan semua warga Amerika. Bahwa apa yang saya tuliskan ini hanyalah rangkuman perjalanan saya selama berada di sana. Mengelana di beberapa negara bagian Amerika, seperti di antaranya Michigan, Virginia, Los Angeles, New Jersey, New York, New Hampshire, Washington, Illinois, Rhode Island, Oklahoma, dan juga Connecticut.

Ini pendapat saya:

*) Kebanyakan orang Amerika terlalu sering bilang “Awesome”. Jadi, sepertinya kata ‘awesome’ itu terlalu dijual murah. Atau dengan bahasa lain, bagi mereka everything is awesome. Kata ‘awesome’ sebenarnya berarti “that which inspires awe”, tapi di Amerika kalau ada yang bilang ‘that’s awesome’ itu bukan apa-apa yang luarbiasa. Hal yang biasa-biasa saja bisa dengan gampangnya distempeli awesome.

Saya pun jadi sulit menilai hasil kerja atau karya saya bagus atau tidak, karena kekurangterbukaan dan kekurangjujuran dalam menilai. Sudah terlalu sering saya dengar kata tersebut, bahkan ketika saya melakukan sesuatu yang biasa saja dan tidak ada apa-apanya mereka akan bilang, “Wow, that’s awesome Mike”. Seperti itu.

Lantas bila Anda bertanya kepada orang Amerika “How Are You?”, perhatikan apa jawaban mereka? Jawabannya begini: “great!”, meskipun pada kenyataannya jawaban mereka jauh dari kenyataan great tersebut. Lagi susah sekalipun, mereka akan menjawab ‘great’, ini bagi saya bukan sesuatu yang ‘jujur’ dan terlihat sekedar basa-basi doang.

Paling banter mereka akan bilang, “Okay, I guess” , itu bila keadaannya sudah sangat jauh dari ‘great’. Sampai-sampai saya pikir mungkin tidak ada ada kata ‘bad’ dalam kamus percakapan orang Amerika. Sekali-sekali saya dengar ada yang jawab, not so good atau not so well, tapi jarang.

Apa mungkin mereka yang saya tanya apa kabarnya menjawab seperti itu adalah oleh kareena ingin menunjukkan sikap superior, bahwa bagi mereka everything is okay, great, and awesome?

*) Masalah kebiasaan memberikan tip di rumah makan. Hal ini juga betul-betul membuat saya panas-dingin. Ini jujur saja sangat mengganggu saya sebagai customer di rumah manapun. Bagi saya yang namanya TIP ya harus dimaknai dan diterapkan sebagai TIP, jangan membudayakan hal itu sebagai keharusan. Kalau TIP sudah dipaksa menjadi keharusan, bukan lagi TIP namanya.

Ini pengalaman nyata saya. Bayangkan saja, waktu itu saya lagi duduk makan di restoran berbicara bisnis dengan relasi di sebuah restoran ternama, dan ternyata hampir setiap 2 atau 3 menit ada pelayan yang datang ‘mengganggu’ dengan sebuah pertanyaan yang menurut saya rada ‘konyol’ seperti ini, “Is everything okay” atau “Everything OK here, right?”. Bagi orang lain yang sementara santai mungkian biasa saja, tapi tidak bagi yang sementara bercakap serius ini menjadi semacam gangguan.

Mungkin maksudnya supaya terlihat polite, dan seolah ada perhatian pada tamu. Tapi, come on man, saya bahkan tidak sempat bisa menjawab karena mulut saya penuh makanan dan hanya bisa angkat dua jempol untuk bilang bahwa semuanya aman terkendali. Belum lagi perhatian yang mesti terbagi, padahal relasi saya lagi ngomong serius sekali. Saya tidak menemukan alasan masuk akal kenapa para pelayan restoran itu harus bolak-balik bertanya hal yang sama. Mereka boleh seperti itu kalau memang yang diantar adalah makanan yang salah, atau saya tiba-tiba mau mati keselek, atau sudah mau semaput karena keracunan.

Bisanya kalau butuh sesuatu, barulah customer mengancungkan tangan memanggil pelayanan, bukannya mereka yang harus bolak-balik nanya kayak nggak ada kerjaan lain saja. Nah, setelah saya pikir-pikir, alasan yang paling masuk akal adalah bahwa mereka hendak memberi ‘sign’ tentang perhatian mereka yang amat sangat, dan oleh karenanya TIP yang kami berikan haruslah ‘sesuai dengan perhatian mereka’. Ha ha ha…

Sekarang balik lagi bicara masalah TIP. Ini benar-benar luarbiasa. Kalau saya harus membayar katakanlah 15%-20% buat TIP, bahkan ada yang sudah mencantumkannya di struk pembayaran berapa persen TIP yang harus diberikan, atau sudah tertulis di nota bayar. Ini bukan lagi TIP tapi keharusan. Mestinya jangan bilang TIP tapi mandatory. Padahal setiap kali makan, kita juga harus bayar tax. Bisa jadi TIP plus TAX itu akan lebih mahal dari harga makanan itu sendiri. Nah lho!

*) Rancangan kota, dan budaya setempat sepertinya dibuat untuk mobil, bukan untuk orang. Tidak percaya? Silahkan coba Anda jalan kaki di berbagai kota selain kota-kota megapolitan (kota besar itu umpamanya Manhattan, Chicago, Miami dan lainnya). Ratusan kota lainnya menyisakan ‘kesepian’ dan ‘kesunyian’ bagi para pejalan kaki.

Kenapa? Salah satu hal paling menghambat dan merepotkan saya saat awal tinggal di Amerika adalah hal yang satu itu. Kota yang diciptakan untuk mobil, bukan orang. Banyak kota yang sungguh tidak mendukung keberadaan orang-orang yang tidak punya mobil. Bahkan menurut beberapa orang, kota-kota di Amerika adalah tempat paling buruk untuk ditinggali bagi orang-orang yang tidak memiliki mobil.

Transportasi umum dalam kota hampir tidak ada, kalau pun ada bus umum, misalnya di kota Edison, Metuchen, Perth Amboy dan ratusan kota lainnya menyediakan bus dengan jadwal setiap satu jam sekali. Itupun hanya melalui beberapa jalur tertentu saja. Mobil sudah menjadi kebutuhan primer, bukan kebutuhan sekunder.

Biasanya bagi yang tidak punya mobil, ya tinggal berharap untuk diantar teman yang punya mobil, atau naik taksi saja, bayarannya pun gak tanggung-tanggung lah. Bayangkan kalau kita harus bayar taksi setiap hari? Anda hampir tidak bisa lakukan apapun tanpa mobil, termasuk untuk perkara kecil semacam laundry, beli makanan, belanja di toko, dan hal sepele lainnya.

Di kompleks perumahan tentu jauh dari supermarket, paling ada mini market yang tidak lengkap dan tetap harus ditempuh berkilo-kilometer jaraknya. Kalau untuk antar kota, khusus beberapa kota memang ada kereta api (seperti Amtrak atau NJTransit).

Hal lucu lainnya, kalau berjalan di trotoar jalan-jalan di Amerika (kecuali untuk kota-kota metropolitan), saya yakin Anda tidak akan bertemu siapapun. Sepi kayak kuburan. Kalau ada, ya beberapa orang Asia atau India mungkin yang lagi jalan.

Pernah saya jalan kaki sejauh 2 kilometer, di hari Sabtu yang semestinya hari libur bagi orang-orang untuk bersantai ria, dan saya temui kenyataan bahwa hanya saya sendirilah di sepanjang jalan itu. Sepi man, sepi…..

Sepertinya, berjalan kaki bukanlah kebiasaan orang Amerika. Itulah mengapa seolah-olah rancangan jalan di sana sengaja dibuat untuk mobil, bukan untuk manusia. Kayaknya rancangan ini memang mengharuskan kita untuk supaya pas keluar rumah langsung naik mobil, mengemudi, sampai ke tempat tujuan langsung turun dan masuk gedung. Selesai.

Sebenarnya masih banyak yang lain lagi tapi cukuplah ini dulu untuk hari ini. Rupanya benarlah pribahasa yang bilang begini, lebih baik hujan rupiah di negeri sendiri daripada hujan dollar di negeri orang. Alamak!

Share.

About Author

Creative Writer // Trainer // Motivator. Lives in Jakarta. Motto: Writing is Breathing.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage