Indonesia, Kawan atau Lawan ISIS?

Indonesia, Kawan atau Lawan ISIS?

11

Bahaya ISIS tidak bisa dipandang sebelah mata (Sumber: Asia Times)

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar sebuah cerita rakyat dari Barat yang berjudul “The Gingerbread Man” atau dalam Bahasa Indonesianya dikenal dengan kisah “Sang Manusia Roti Jahe”. Kisah ini menceritakan tentang larinya sebuah biskuit/roti jahe yang berbentuk seperti orang, menghindari berbagai usaha dari manusia bahkan binatang yang berusaha memakannya.

Sang manusia roti jahe ini sangat lihai dan sanggup untuk menghindari usaha untuk dimakan oleh banyak orang. Akan tetapi, sang manusia roti jahe  akhirnya bertemu seekor rubah yang menawarkan dia untuk menyeberang sebuah danau. Manusia roti jahe ini begitu saja percaya kalau sang rubah dengan tulus ingin menyeberangkan ia ke tepi danau.

Oleh karena itu sang rubah kemudian meminta sang manusia roti jahe untuk berdiri di atas ekornya sementara sang rubah akan menyeberang. Di tengah danau, sang rubah kemudian meminta sang manusia roti jahe untuk berpindah ke punggungnya dengan alasan air semakin tinggi dan sang rubah harus menurunkan ekornya.

Sang rubah terus meminta sang manusia roti jahe untuk terus mendekati kepala dan mulut sang rubah. Sang manusia roti jahe terus percaya begitu saja, dan tanpa ia sadari, kalau  akhirnya sang rubah meminta manusia roti jahe untuk berdiri pada hidung dari sang rubah. Seketika itu juga, sang rubah segera membuka mulutnya lebar-lebar, dan melahap sang manusia roti jahe.

Cerita anak-anak ini sekalipun sederhana, tetapi mempunyai sebuah pesan yang sangat penting. Hati hati dalam memberikan kesempatan kepada rubah. Karena terkadang kita, seperti manusia roti jahe, berpikir kalau kita bisa memanfaatkan jasa rubah untuk menyeberang ke tepi danau tujuan kita.

Tetapi tanpa kita sadari, kalau ternyata sang rubah punya agenda lain, yaitu untuk memakan kita dan akhirnya gantinya kita mencapai tujuan kita, kita malah habis dimakan oleh rubah tersebut.

Mungkin sebagian dari kita bertanya apa hubungannya cerita ini dengan judul di atas?

Sebagaimana yang kita tahu, salah satu fokus perhatian dunia sekarang ini adalah tentang konflik bersenjata yang sedang terus terjadi di Marawi, Filipina. Sekalipun beberapa sumber berita baik dalam dan luar negeri mengatakan pasukan pemerintah akan segera menguasai kembali kota Marawi, kita semua tahu bahwa serangan militan yang berafiliasi dengan ISIS ini sulit untuk dikatakan akan segera berakhir.

Televisi Filipina bahkan menangkap gambar patroli pesawat pengintai Orion milik Amerika Serikat yang berputar-putar mengelilingi kota Marawi; Dan kehadiran sekelompok orang bule berbadap tegap dan kekar yang sepertinya merupakan bagian dari pasukan khusus Amerika Serikat yang telah diterjunkan ke sekitar Marawi.

Artinya, keadaan Marawi merupakan keadaan yang sangat serius dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

Kita juga tahu bahwa posisi Marawi tidaklah sangat berjauhan dengan Indonesia. Ini berarti, potensi imbas serangan ISIS dari Filipina Selatan pun sangat dimungkinkan.

Ancaman Terbesar Indonesia

Sekitar seminggu yang lalu, saya kebetulan bertemu dengan seorang dosen dari sebuah universitas ternama di Asia. Sangat disayangkan, saya tidak bisa membeberkan nama beliau karena privasi dan kerahasiaan.

Akan tetapi apa yang dapat saya bagikan adalah komentar beliau tentang Indonesia. Beliau kebetulan merupakan salah satu  ahli dalam psikologi kaum radikal dan duduk di dalam panel khusus dalam penanganan anti-teror di salah satu negara di Asia Tenggara.

Kami saling mengenal karena beliau merupakan konsultan kami dalam beberapa proyek kesehatan mental di perusahaan kami. Dari perkenalan itu, beliau banyak bercerita dan bertanya tentang Indonesia. Dan inilah komentarnya yang dapat saya bagikan disini.

Beliau mengatakan, seluruh negara di Asia Tenggara sedang menunggu dan memperhatikan dengan seksama apa yang akan Indonesia lakukan dalam mengantisipasi pengaruh ISIS di Asia Tenggara.

Ketika saya bertanya mengapa demikian, sang dosen ini mengatakan bahwa alasannya sederhana saja. Indonesia adalah negara yang paling berpotensial untuk dapat meredam serangan radikalisme seperti ISIS. Akan tetapi sebaliknya, Indonesia juga berpotensial untuk memiliki problem serius tentang ISIS.

Ini disebabkan berdasarkan analisis banyak ahli yang ia temui, kalau ISIS ingin melancarkan serangan dan memulai ekspansi untuk membangun Khilafah di Asia Tenggara, mereka sedang mencari celah untuk dapat melakukannya. Dan menurut beliau, Indonesia memiliki celah itu.

Menurutnya lagi, Filipina hanyalah dijadikan sebagai batu loncatan bagi ISIS. Akan tetapi sasaran utama ISIS adalah memang Indonesia.

Taktik ini sepertinya cukup mirip dengan apa yang terjadi di Irak dan Siria. Kalau merujuk kepada kejatuhan dua negara timur-tengah itu, wilayah yang signifikan dari kedua negara ini berhasil dikuasai oleh ISIS ketika konflik sektarian berhasil memecah belah kekuatan dalam negeri.

Ketika perpecahan itu terjadi, maka ISIS memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk dan mengambil alih kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh karena perang saudara tersebut. Diawali dengan Irak dan kemudian Siria.

Dalam diskusi kami selanjutnya, ia menyatakan kalau negara-negara tetangga Indonesia sebetulnya tidak meragukan kemampuan militer, kepolisian dan satuan tugas anti-teror Indonesia lainnya. Negara-negara tetangga Indonesia bahkan kagum dengan kemampuan anti-teror Indonesia.

Akan tetapi menurutnya,para ahli anti teror di negara-negara tetangga Indonesia sangat kuatir dengan politikus-politikus oportunis di Indonesia yang sedang memanfaatkan ISIS demi ambisi politik mereka.

Yang lebih mengerikan lagi adalah karena sebagian dari politikus-politikus oportunis ini bahkan merasa bahwa mereka mampu untuk mengendalikan organisasi radikal seperti ISIS dan sekelompoknya.

Rasa percaya diri yang terlalu berlebihan ini yang sangat dikuatirkan oleh negara-negara tetangga kita dalam antisipasi ISIS di Asia-Tenggara.

Dan lihat saja cuitan-cuitan dan komentar-komentar sebagian politikus kita tentang radikalisme dan ISIS. Seakan-akan, mereka sedang tidak menyadari bahwa ISIS merupakan ancaman yang serius. Atau mereka sedang berpikir bahwa ISIS dapat dimainkan sebagai senjata politik untuk mengguncang pemerintahan yang sedang berjalan.

Lihat saja bagaimana radikalisme seperti dijadikan mainan. Mulai yang dari mereka yang berjabat tangan dengan kelompok garis keras seperti FPI, sampai yang mengatakan kalau reaksi pemerintah kepada ISIS terlalu berlebihan. Ada yang mengeluarkan pernyataan bahwa ISIS dipakai sebagai kambing hitam untuk aksi-aksi demonstrasi, bahkan sampai mengatakan kalau pembubaran organisasi seperti Hizbut Tahrir Indonesia sebagai bentuk tindakan pemerintah yang opresif.

Sebagian politikus kita memang sepertinya berpikir kalau ancaman seperti ISIS adalah ancaman yang biasa-biasa saja.

Politikus-politikus inilah yang saya gambarkan seperti si manusia roti jahe diatas. Mereka berpikir bahwa mereka sanggup mengendalikan rubah untuk dapat menyeberangkan mereka, menggapai ambisi politik mereka, tanpa mereka sadari kalau sang rubah tidak ada rencana lain selain memakan mereka.

Apa yang paling dikuatirkan oleh banyak analis, adalah kemungkinan perpecahan kelompok di Indonesia yang dapat kemudian dimanfaatkan oleh ISIS untuk mulai menjejakkan kakinya lebih dalam lagi di Indonesia.

Dan kalau sampai ini terjadi, maka para politikus-politikus oportunis inilah yang patut bertanggung jawab.

Jangan Biarkan Krisis Marawi Terulang

Sampai hari ini pemerintah Filipina masih menghadapi tantangan yang sulit dalam menghadapi konflik di Marawi. Paling tidak 58 anggota pasukan militer dan kepolisian telah gugur di dalam tugas negara mereka. Salah satu dari mereka adalah Kopral Joebert Cofino, seorang Marinir Filipina yang gugur di Marawi hanya beberapa bulan sebelum ia seharusnya melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya.

Politik Filipina bukanlah sesuatu yang akan dibahas disini. Akan tetapi saya seperti tidak rela kalau kejadian yang sama harus dihadapi oleh penegak hukum dan anggota militer Indonesia. Saya tidak rela kalau putra-putri bangsa ini harus gugur hanya karena politikus-politikus yang berpikir mereka bisa mengendalikan kaum-kaum radikal atau lebih parahnya lagi menggunakan isu radikalisme sebagai kendaraan politik mereka.

Foto dari anggota militer dan kepolisian Filipina yang gugur di Marawi (Sumber: Dinas Penerangan Angkatan Darat Filipina)

Tiga hari yang lalu, sebagian saudara-saudara kita di Filipina harus merayakan hari kemerdekaan mereka dalam air mata dan ketidakpastian akan kapankah konflik di Marawi akan berakhir. Sebagian yang lain harus merayakan hari kemerdekaan tahun ini tidak bersama-sama dengan sanak saudara mereka yang gugur atau terbunuh dalam konflik Marawi. Harapan kita semua adalah semoga Filipina sanggup untuk mengalahkan militan ISIS dan mengembalikan kedamaian di Marawi.

Dalam dua bulan kedepan, Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya juga. Jangan jadikan hari itu menjadi hari dimana Indonesia harus berperang untuk membebaskan sebuat kota bahkan propinsi dari kelompok seperti ISIS. Sebaliknya, inilah waktu dimana kita harus merapatkan barisan dan bersatu untuk menghadapi ancaman radikalisme militan ISIS yang sudah di depan pintu.

Saya bersyukur kabar baik telah terdengar hari ini bahwa Indonesia memutuskan untuk berperan aktif dalam krisis Marawi. Indonesia memang tidak bisa menunggu sampai politikus-politikus itu akhirnya sadar bahwa ISIS bukanlah ancaman biasa apalagi sampai dimanfaatkan sebagai alat untuk menyerang pemerintahan yang sedang berjalan ini.

Semoga dengan aktifnya Indonesia dalam memerangi ISIS khususnya di Marawi, maka pengaruh radikalisme ini dapat diredam. Dan akhirnya Indonesia kembali dapat membuktikan kalau bangsa ini mampu untuk memenuhi harapan para pendiri bangsa ini sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan UUD’45 kita yang berbunyi: “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”

Jayalah terus Indonesia.

Share.

About Author

Lahir di hutan rimba, berjuang di hutan beton.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage