Konflik AS-Korut, Adu Keangkuhan Pemimpin Kontroversial.

Konflik AS-Korut, Adu Keangkuhan Pemimpin Kontroversial.

13

Ancaman berulang kali Korea Utara, yang dijawab Amerika dengan ancaman balik, tidak ayal menjadi drama mengerikan, tetapi mungkin bagi sebagian melihatnya hanya gertak sambal. Mereka yang menganggap konflik ini tidak serius, melihat Korut tidak akan gegabah merealisasikan ancamannya, mengingat konsekwensi yang bakal diperolehnya sangatlah beresiko.

Lain halnya dengan negara tetangga sekaligus musuh besarnya, Korea Selatan. Media nasional di sana demikian serius memberitakan konflik Korut-AS ini.

Presiden AS telah berikrar untuk membalas ancaman Korut ‘dengan kekuatan militer sangat dahsyat’. Sementara, Korut telah mengancam untuk meluncurkan rudal ke wilayah Guam AS – tempat tinggal bagi 163.000 penduduk. Dan semua ini terjadi di tengah laporan bahwa Pyongyang akhirnya berhasil membuat miniaturisasi senjata nuklir yang dapat muat di dalam rudal antar benua – sebuah kemungkinan yang sangat ditakuti oleh AS dan sekutu-sekutunya di Asia (detik.com).

Inti permasalahan dari perseteruan ini, karena dua tokoh yang dinilai kontroversial, saling berhadapan secara terbuka, seakan-akan keselamatan dunia hanya tergantung dari tombol yang berada di ujung jari mereka berdua. Lalu pihak manakah yang tampil menengahi ? Karena gelagatnya, tidak ada yang benar-benar menempatkan dirinya netral.

Negara Tiongkok yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Korut, sejauh ini belum berhasil mendinginkan kemurkaan Kim Jong-Un, yang tampaknya kerap terprovokasi oleh pernyataan mengancam dari Presiden Amerika, Donald Trump. Sementara Trump sendiri setali tiga uang, seakan tidak peduli dengan pertaruhan keselamatan dunia.

Korea Utara mengatakan akan siap untuk menembakkan empat rudal ke dekat wilayah Guam AS, pada pertengahan Agustus mendatang. Seiring menajamnya perang kata-kata dengan Washington DC, media pemerintah Korut mengatakan, roket Hwasong-12 akan melewati Jepang dan mendarat di laut sekitar 30 km dari Guam, jika pemimpin mereka, Kim Jong-un menyetujui rencana itu. Peringatan ‘kekuatan militer sangat dahsyat ‘ yang dilontarkan Donald Trump dikecam keras, dan pemimpin AS itu digambarkan ‘tidak memiliki akal sehat.’ (detik.com/BBC-world).

Waktu dan sejarah senantiasa berulang. Lepas beberapa dekade dari perang dingin blok Timur dan blok Barat, ternyata masih menyisakan sempalan potensi permusuhan. Ironisnya, berkali-kali dikenakan sanksi PBB, tidak kunjung menyurutkan ambisi Korea Utara mengembangkan senjata berhulu ledak nuklir, bahkan seolah semakin meningkatkan ambisinya mengancam dunia.

Amerika Serikat menegaskan tidak akan meminta PBB untuk melangsungkan sidang Dewan Keamanan, terkait uji coba rudal Korea Utara. Menurut pemerintah Amerika Serikat, pertemuan seperti itu “tidak ada gunanya”. Rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) disebut malah akan “memberikan pesan kepada Korea Utara bahwa komunitas internasional tidak berniat melawan Korea Utara,” kata Duta Besar Amerika untuk PBB, Nikki Haley (bbc Indonesia).

Dalam sidangnya, dengan suara bulat para anggota DK PBB menyetujui sebuah resolusi yang melarang ekspor Korea Utara dan membatasi investasi di negara tersebut. Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley mengatakan bahwa ini adalah “sanksi paling keras terhadap suatu negara dalam satu generasi.” (BBC-Indonesia)

Bulan Agustus, tepat 72 tahun lalu sejarah mencatat dahsyatnya kehancuran masal di dua kota negara Jepang, Nagasaki dan Hiroshima, akibat serangan bom atom Amerika. Dan sisa-sisa bencana hebat tersebut, bahkan hingga saat ini masih dirasakan masyarakat Jepang. Ditambah dengan contoh insiden pada beberapa instalasi nuklir, yang mengalami kebocoran dan berakibat polusi nuklir yang amat sulit dinetralisir.

Tentu menjadi pertanyaan besar, haruskah peradaban manusia dijadikan umpan, sementara misi yang diusung oleh negara-negara itu sebatas pemberitaan media internasional. Bahwa Korea Utara sudah menunjukkan keberanian luar biasa, dan kubu lainnya tidak ingin pamor sebagai negara adi daya luntur dengan ancaman lawannya yang dianggap tidak sepadan.

Perseteruan yang berpotensi berujung tragis, dengan catatan bahwa teknologi yang demikian maju, digunakan untuk menghancurkan wilayah dan dunia yang sama, yang telah dihuni oleh dirinya, leluhur dan bahkan disediakan untuk keturunan dan generasinya sendiri.

Mungkinkah menggunakan pendekatan emosional untuk meredam konflik Korea-Amerika ini ? Bahwa dunia ini tidak tergantikan, jika dicemari dengan angkara murka hingga menyalah gunakan teknologi nuklir, begitu primitifnya kita yang diperdaya sedemikian mudah.

Artikel lainnya : https://seword.com/author/ruskandi

Share.

About Author

Tempat artikel lainnya : https://seword.com/author/ruskandi/

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage