Mesir dalam Ujian Berat, Kemana akan Melangkah?

Mesir dalam Ujian Berat, Kemana akan Melangkah?

4

Jika kaum Nasrani di Indonesia merayakan misa Paskah pertengahan April ini dengan damai, kaum Kristen Koptik di Mesir merayakannya dalam suasana yang cukup mencengkeram. Misa di banyak gereja dikawal oleh ratusan pasukan keamanan sebagai antisipasi terhadap serangan dari sekelompok orang bersenjata.

Pengamanan cukup ketat ini dilakukan karena pada hari Minggu sebelumnya (9/4) terjadi serangan terhadap dua gereja di Mesir secara bersamaan, yaitu Gereja Saint Mark di kota Alexandria dan Gereja Magirgis di kota Tanta. Serangan itu memakan korban 175 orang, 45 diantaranya tewas.

Dua bulan sebelumnya juga terjadi kasus serupa, namun sasarannya enam warga Kristen Koptik di kota Al-Arish. Serangan ini memaksa 332 warga Kriten Koptik di kota itu mengungsi ke provinsi sebelahnya.

Tidak hanya itu, tiga bulan sebelum peristiwa diatas, persisnya  tanggal 11 Desember 2016, juga terjadi  serangan terhadap dua gereja di kota Kairo, yaitu Gereja St Peter dan St Paul. Jumlah  korban 73 orang, 24 orang diantaranya tewas.

Sungguh malang kaum Kristen Koptik di Mesir, menjadi sasaran tindak kekerasan oleh sekelompok orang. Kaum Kristen Koptik di Mesir berjumlah 9 juta orang, sekitar 10 persen dari total penduduk Mesir, dan merupakan komunitas Kristen terbesar di Timur Tengah. Namun bukan hanya kaum Kristen Koptik yang menjadi sasaran serangan, polisi dan tentara Mesir juga kerap menjadi korban penyerangan bersenjata.

 

Siapa pelakunya?

Adalah kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) cabang Sinai yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan di banyak gereja tersebut [sumber]. Kelompok ini spesial beroperasi di Semenanjung Gurun Sinai Utara. Pada November 2014 Kelompok ini bersumpah kepada Abu Bakar al-Baghdadi untuk membentuk negara khalifah di Mesir.

Kelompok ini juga berusaha melemahkan pemerintahan Presiden El-Sisi, yang menggulingkan Presiden Muhammad Mursi pada 3 Juli 2013.

Belum lama ini pemerintahan El-Sisi berhasil mencapai kesepakatan dengan IMF untuk pinjaman senilai 12 miliar dollar AS (sekitar Rp 150 triliun) guna melakukan reformasi ekonomi. Persyaratan bantuan ini adalah adanya stabilitas politik dan keamanan di Mesir. Serangan di dua gereja baru-baru ini seolah-olah menyatakan bahwa Presiden El-Sisi tidak mampu menjaga keamanan negara. Yang menjadi korban adalah kaum Kristen Koptik.

“Ada kecenderungan bahwa umat Kristen Koptik terus ditekan, sayangnya negara hanya mencoba untuk menghentikan kekerasan yang terjadi tanpa berusaha memecahkan akar permasalahan,” ujar Ishak Ibrahim, peneliti di Egyptian Initiative for Personal Rights.

Mesir saat ini memang sedang mengalami masalah ekonomi. Revolusi tahun 2011 yang menggulingkan Presiden Husni Mubarak ternyata belum bisa membangkitkan perekonomian Mesir. Revolusi 2011 juga memberi kesempatan munculnya gerakan baru yang mencita-citakan terbentuknya negara kekhalifahan dan dengan demikian menolak sistem demokrasi modern.

Gerakan baru ini berkembang subur di negara-negara Arab. Gerakan ini pulalah yang diduga menyerang kelompok minoritas di Mesir, Irak, Suriah, Libya, dan Tunisia. Musim semi di Arab (Arab Spring) yang dulu disambut rakyat di banyak negara itu ternyata hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda kestabilan.

***

Mesir, negara yang dahulu terkenal makmur dan menjadi salah satu pusat pendidikan agama Islam, kini berada di persimpangan jalan: maju terus dengan sistem demokrasi atau berubah menjadi negara berbasis ideologi?

Melalui serangkaian serangan ke kelompok minoritas yang lemah, golongan “pembaharu” itu mencoba mengganggu keamanan nasional. Jika gangguan keamanan tidak bisa diatasi, maka perekonomian akan stagnan. Dengan kemiskinan yang membengkak maka mudah terjadi kerusuhan sosial. Kerusuhan sosial akan mendorong pergantian kekuasaan melalui pemakzulan di parlemen, demonstrasi jalanan, kudeta militer, atau pemilihan umum, atau kombinasi diantaranya.

Pergantian dasar negara secara demokratis dapat dilakukan melalui pemilu nasional dan daerah. Jika pemilu nasional terasa sulit karena kekuatan politik belum besar, maka yang ditempuh adalah memenangkan pilkada.

Satu demi satu pilkada diupayakan menang, dengan demikian penggantian peraturan daerah sesuai ideologi mudah dilakukan. Setelah banyak daerah dikuasai maka perubahan konstitusi nasional sudah tinggal selangkah. Strategi demikian sah adanya dan dapat terjadi di negara demokratis mana saja, rakyatlah yang menentukan. Masalahnya, apakah rakyat sadar kemana angin perubahan akan menuju?

–o0o–

Foto: editor.id

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage